"To be on the edge of breaking down, and no one's there to save you.."
Dituntut.
Tuntutan.
Jika depresi itu bisa dilihat,
maka saya yakin dia mengalir dengan lincah di pembuluh darah saya.
jika kita dibebani dengan kecurigaan yang berjalan beriringan dengan rasa tak bersyukur,
maka tak ada kata lain selain keluhan dan penyesalan.
Saya orang yang jarang mengeluhkan keadaan,
karena tak ada gunanya melihat kebelakang,
segala kejayaan masa lalu hanyalah semu,
sejarah adalah omong kosong,
mengingatnya sama saja merendahkan masa depan.
saya percaya kesalahan adalah natural,
kesempurnaan sistem hanya mimpi,
penyesalan adalah hadiah setan.
Berapa kali kita menyesal dan tenggelam dalam kekalahan?
Saya merasa perlu menulis soal ini,
akan sangat sulit menerima kata penyesalan,
jika hal itu dihadapkan pada sebuah rasa bersyukur.
Persetan dengan gelimang harta,
dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Saya hidup mengejar kebahagiaan,
bukan persepsi yang ditekankan.
Uang adalah benda mati yang menjadi dewa,
tak ada uang kita mati.
Maka saya adalah hantu,
yang berkali-kali mati karena tak punya uang.
Meneyebut nama Tuhan,
namun mengukurnya dengan uang,
adalah kesalahan utama.
Berfikir rasionalis dan logis,
adalah sia-sia.
Tuhan tak pernah terbatas,
skenarionya tak pernah terbaca.
Menyesali langkah adalah tindakan menghujat jalan cerita hidup.
Saya percaya,
bahwa inilah kita yang semestinya,
bahwa tak ada yang salah,
tak ada yang benar-benar benar.
Pengalaman orang lain bukan pelajaran,
ia hanyalah buku panduan yang sudah usang,
karena perjalanan ini berbeda,
tiap detiknya,
tiap centimeternya.
saya menulis ini karena tak mampu bicara,
karena lidah adalah pembunuh berbahaya,
dan hati adalah tempat kita menyimpan rahasia.
Menghargai pendapat dibutuhkan hati yang besar,
namun perlu lebih dari sekedar hati yang besar,
saat kita menyimpan pendapat kita demi mengharagai pendapat orang lain.
Saya menyimpan pendapat saya, dan hati saya meledak tak bersisa.
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Wednesday, December 29, 2010
Saturday, December 18, 2010
Berhasil Gagal
Koneksi internet dirumah kacau balau.
Sekacau bulan kemarau,
dan burung kutilang berhenti berkicau.
Desember itu aneh dan lucu,
berjalan sangat cepat,
sampai gw sendiri ga sadar ini udah diujung 2010.
Apa yang udah gw lakuin sepanjang tahun?
Not much.
I'm still blogging using this "bisu" PC,
and curse at the wall, "WHY DID I JOBLESS?"
Sebenernya,
ini lebih dari setahun gw nganggur,
dan belum menemukan apapun yang berarti,
selain pelajaran dan pengalaman hidup.
Mungkin orang bakal ketawa kalau denger gw bicara soal pengalaman hidup,
"PENGANGGURAN PUNYA PENGALAMAN?"
Mungkin itu yang bakal di benak orang-orang itu.
Ga peduli.
i've learned a lot.
Belum saatnya melakukan kaleidoskop atau re-cap sepanjang tahun 2010,
dan gw juga ga bakalan bikin hal itu,
capek jek. soli soli jek.
Tapi,
intinya,
Gw belajar soal dianggap gagal di satu sisi,
dan dianggap berhasil di sisi lain.
Gini ya,
siapa sih yang bakal memandang seorang pengangguran,
yang punya setumpuk sepatu mahal?
Hehe. Tapi ini serius,
people around me already thought i'm failed.
dan kenyataan nya, yep mungkin gw gagal.
Hey, i've been jobless since a year ago,
siapa sih yang ga nganggep itu gagal?
Orang yang otaknya normal bakal nganggep gw cuma bagian lain dari sampah,
kalo kasarnya ya,
nunggu waktu untuk dibuang dan dibakar.
So pathetic and shame on me.
Bahkan banyak sahabat yang mulai "merendahkan", dan gw sama sekali ga kesel,
hey, itu berarti dia normal. :D
Gw ngerasa kok banyak yang suka akan ke"gagal"an gw,
dan mulai menikmati hari-hari penderitaan gw,
mereka menyukai kalau kenyataan nya gw udah salah langkah,
dan gagal.
Di sisi lain.
Gw mencapai sebuah level aneh di hidup gw yang gagal ini.
You know that i already start my own clothing company,
sebuah mimpi kecil yang gw mulai di umur 15 tahun,
dan tepat 8 tahun kemudian,
gw bener-bener punya sebuah usaha clothing.
Jual kaos desain sendiri memang gw mulai pas punya band,
udah pernah ngerasain untung juga,
dan punya nama clothing sendiri (meskipun ga resmi :p),
but now,
i've made a huge step,
building a brand,
bahkan sebentar lagi gw bisa launch website clothing gw.
SUCH A PAIN IN EVERYONE'S ASSES.
Dan yang lebih kerennya,
gw mulai usaha clothing itu dengan sahabat gw dari SMA, yang juga partner di band gw.
kinda dream come true,
make some business with your own best friend.
Meskipun awalnya sulit,
but this is a passion man,
banyak yang mau ngelakuin apa yang gw mau,
tapi mereka ga bisa.
Gagal atau berhasil clothing ini?
God only knows.
Yang pasti, gw jual kaos gw dengan harga lumayan mahal untuk sebuah clothing baru yang berkonsep online store,
dan penjualan nya lumayan,
ya dengan catatan ya,
we're still the new kids on the block ;)
Daaannn, yang kocaknya,
banyak sahabat-sahabat, dan teman-teman baru,
yang paling baru kenal gw 1-6 tahun,
yang malah support banget sama clothing gw itu,
kemana sahabat-sahabat dan teman-teman lama?
Sebagian berada di belakang gw,
ngasih dukungan moral,
sebagian duduk diam mencemooh. oh come on, ngaku aja :D
Then what?
Yep, my band.
Buat yang belum tahu,
gw punya dua band,
Glory of Any Nation yang beraroma Melodic Minor Punk,
dan Astonia, a pop band.
Glory of Any Nation itu berumur hampir 6 tahun,
tapi bukan ini yang mau gw bahas.
Gw malah mau bahas Astonia.
Astonia itu emang baru beneran ada setahun lalu,
tapi sejarahnya lebih panjang dari jarak rumah gw dan pacar gw.
It was started a couple years ago.
Nope,
gw ga bakal ngebahas sejarahnya,
panjang men, males ngetiknya,
ntar aja kalo ketemu,
gw mw deh cerita.
Intinya gini,
i've started writing "pop" stuffs a couple years ago,
with a different style,
and different band name,
and also band member.
Gonta-ganti konsep,
lirik sampai tema band.
You name it,
Curigation, Silouette, Atmosphere, Addictive, sampai akhirnya,
Astonia.
Yang lucu,
gw ga pernah berhasil nyuruh temen gw buat suka sama band pop gw,
hampir semua milih ngedenger Glory of Any Nation,
but with Astonia,
some of them already download the song! :D
Banyak yang suka,
dan menghargai karya gw di Astonia.
Sumpah gw terharu pas banyak yang mau kasih komen,
ngedukung pas manggung,
Man, you don't know i'm talking about,
i feel huge man, HUGE!
Even pacar gw,
yang terkenal bawel soal lagu pop yang gw buat,
suka sama salah satu lagu Astonia.
Horray!
I DID IT!!
HIP HIP HURAAA!!
OKAY, STOP.
Masih inget kan apa yang gw bahas?
Gw gagal di satu sisi,
dan berhasil di sisi lain.
Dua sisi mata uang,
Is it weird?
Kinda. :)
Sekacau bulan kemarau,
dan burung kutilang berhenti berkicau.
Desember itu aneh dan lucu,
berjalan sangat cepat,
sampai gw sendiri ga sadar ini udah diujung 2010.
Apa yang udah gw lakuin sepanjang tahun?
Not much.
I'm still blogging using this "bisu" PC,
and curse at the wall, "WHY DID I JOBLESS?"
Sebenernya,
ini lebih dari setahun gw nganggur,
dan belum menemukan apapun yang berarti,
selain pelajaran dan pengalaman hidup.
Mungkin orang bakal ketawa kalau denger gw bicara soal pengalaman hidup,
"PENGANGGURAN PUNYA PENGALAMAN?"
Mungkin itu yang bakal di benak orang-orang itu.
Ga peduli.
i've learned a lot.
Belum saatnya melakukan kaleidoskop atau re-cap sepanjang tahun 2010,
dan gw juga ga bakalan bikin hal itu,
capek jek. soli soli jek.
Tapi,
intinya,
Gw belajar soal dianggap gagal di satu sisi,
dan dianggap berhasil di sisi lain.
Gini ya,
siapa sih yang bakal memandang seorang pengangguran,
yang punya setumpuk sepatu mahal?
Hehe. Tapi ini serius,
people around me already thought i'm failed.
dan kenyataan nya, yep mungkin gw gagal.
Hey, i've been jobless since a year ago,
siapa sih yang ga nganggep itu gagal?
Orang yang otaknya normal bakal nganggep gw cuma bagian lain dari sampah,
kalo kasarnya ya,
nunggu waktu untuk dibuang dan dibakar.
So pathetic and shame on me.
Bahkan banyak sahabat yang mulai "merendahkan", dan gw sama sekali ga kesel,
hey, itu berarti dia normal. :D
Gw ngerasa kok banyak yang suka akan ke"gagal"an gw,
dan mulai menikmati hari-hari penderitaan gw,
mereka menyukai kalau kenyataan nya gw udah salah langkah,
dan gagal.
Di sisi lain.
Gw mencapai sebuah level aneh di hidup gw yang gagal ini.
You know that i already start my own clothing company,
sebuah mimpi kecil yang gw mulai di umur 15 tahun,
dan tepat 8 tahun kemudian,
gw bener-bener punya sebuah usaha clothing.
Jual kaos desain sendiri memang gw mulai pas punya band,
udah pernah ngerasain untung juga,
dan punya nama clothing sendiri (meskipun ga resmi :p),
but now,
i've made a huge step,
building a brand,
bahkan sebentar lagi gw bisa launch website clothing gw.
SUCH A PAIN IN EVERYONE'S ASSES.
Dan yang lebih kerennya,
gw mulai usaha clothing itu dengan sahabat gw dari SMA, yang juga partner di band gw.
kinda dream come true,
make some business with your own best friend.
Meskipun awalnya sulit,
but this is a passion man,
banyak yang mau ngelakuin apa yang gw mau,
tapi mereka ga bisa.
Gagal atau berhasil clothing ini?
God only knows.
Yang pasti, gw jual kaos gw dengan harga lumayan mahal untuk sebuah clothing baru yang berkonsep online store,
dan penjualan nya lumayan,
ya dengan catatan ya,
we're still the new kids on the block ;)
Daaannn, yang kocaknya,
banyak sahabat-sahabat, dan teman-teman baru,
yang paling baru kenal gw 1-6 tahun,
yang malah support banget sama clothing gw itu,
kemana sahabat-sahabat dan teman-teman lama?
Sebagian berada di belakang gw,
ngasih dukungan moral,
sebagian duduk diam mencemooh. oh come on, ngaku aja :D
Then what?
Yep, my band.
Buat yang belum tahu,
gw punya dua band,
Glory of Any Nation yang beraroma Melodic Minor Punk,
dan Astonia, a pop band.
Glory of Any Nation itu berumur hampir 6 tahun,
tapi bukan ini yang mau gw bahas.
Gw malah mau bahas Astonia.
Astonia itu emang baru beneran ada setahun lalu,
tapi sejarahnya lebih panjang dari jarak rumah gw dan pacar gw.
It was started a couple years ago.
Nope,
gw ga bakal ngebahas sejarahnya,
panjang men, males ngetiknya,
ntar aja kalo ketemu,
gw mw deh cerita.
Intinya gini,
i've started writing "pop" stuffs a couple years ago,
with a different style,
and different band name,
and also band member.
Gonta-ganti konsep,
lirik sampai tema band.
You name it,
Curigation, Silouette, Atmosphere, Addictive, sampai akhirnya,
Astonia.
Yang lucu,
gw ga pernah berhasil nyuruh temen gw buat suka sama band pop gw,
hampir semua milih ngedenger Glory of Any Nation,
but with Astonia,
some of them already download the song! :D
Banyak yang suka,
dan menghargai karya gw di Astonia.
Sumpah gw terharu pas banyak yang mau kasih komen,
ngedukung pas manggung,
Man, you don't know i'm talking about,
i feel huge man, HUGE!
Even pacar gw,
yang terkenal bawel soal lagu pop yang gw buat,
suka sama salah satu lagu Astonia.
Horray!
I DID IT!!
HIP HIP HURAAA!!
OKAY, STOP.
Masih inget kan apa yang gw bahas?
Gw gagal di satu sisi,
dan berhasil di sisi lain.
Dua sisi mata uang,
Is it weird?
Kinda. :)
Friday, November 26, 2010
Catatan Menjelang Akhir November
Kalau diperhatiin,
akhir-akhir ini gw nulis sesuatu secara terselubung,
bukan, bukan terselubung.com,
tapi gw pake bahasa yang diperhalus,
dan bermakna ganda.
Meski intinya lebih ke curhat,
tapi tetep rancu,
karena bentuknya malah kayak orang yang lagi sok bijak.
Apa ya yang kocak soal November?
Kenyataan bahwa gw masih belum dapet kerjaan kayaknya udah ga kocak,
meski sejak Oktober ini gw bertahan hidup dengan memulai bisnis serius di dunia per-clothingan,
yang memang belum ngasih makan secara signifikan,
tapi setidaknya usaha gw muali membuahkan hasil,
dan mulai bisa established.
You may search "Alive&Aloud Clothing Company" on facebook, web-nya belum kelar soalnya. :)
Lalu apa?
Ga mau ngebahas soal Gayus, karena ga banyak ngaruhnya ke hidup gw,
gw jualan kaos, bukan wig soalnya.
November ini bulan yang aneh soal cuaca,
dan lanjutan dari soal bencana beruntun di akhir Oktober.
Tapi, gw juga ga ngebahas gituan,
it's not my type of writing.
Ga mau terlihat perduli dan ngerti,
soalnya ngeri salah ngasih informasi.
Then what?
Selain gagal nonton The Temper Trap,
pacar gw yang kondisi tubuhnya naik turun dan mulai gampang sakit,
dan nyokap gw yang masih pelayanan Gereja di Ambon,
November belum ngasih sesuatu yang signifikan.
Tapi,
bukan berarti ga ngasih apa-apa lho.
Malah,
terlalu banyak kejadian yang gila,
dan diluar akal sehat,
yang kalau mau jujur,
ngasih pukulan telak di dagu gw,
semacam upper cut Holyfield.
Bukan gw doang,
tapi banyak orang di sekitar gw.
November ngasih banyak pelajaran berharga,
yang bikin otak nyerah dan mau ngalah.
FYI,
kalau hidup gw diibaratkan mobil yang mesti di service,
maka November adalah waktunya masuk bengkel,
dan saat itulah montir memberitahu banyak ugly truth,
bagian mana saja yang rusak,
dan mana yang harus diganti.
Bukan waktu yang menyenangkan,
ga semua orang siap,
tapi bukan waktu yang harus dibenci juga,
because sometimes,
truth hurts,
tapi lebih baik kan dikasih tau kebenaran yang menyakitkan?
Daripada bohong demi membahagiakan?
Eh? Sebaliknya?
Yah, relatif sih,
tapi itu sih yang gw rasain soal November.
Tuhan memberi kesempatan untuk berkomunikasi lebih dalam soal gw yang mulai terjebak di antara kenyataan,
dan mimpi-mimpi bodoh yang gw punya.
That's all about November.
Tinggal beberapa hari lagi masuk Desember,
i miss you Mom,
i love you.
Be strong Dad,
i know you'll reach your dream.
I love you my dearest,
thanks for loving me.
Thanks God.
Wednesday, November 3, 2010
Saya Juga Merasa Takut
Gemetar dan gentar,
Entah bagaimana,
rasa takut itu terkadang menjadi adiksi.
Setiap kali kita melangkah,
rasa takutlah yang membuat kita menghindari lengah.
Terkapar oleh masalah,
rasa takut yang membuat kita tetap berdarah.
Manusia itu penakut,
lihat siapa yang menunjuk tangan saat ditanya siapa yang mau ke surga?
dan lihat siapa yang menganggukan kepala saat ditanya siapa yang mau mati pertama?
Gemetar dan gentar,
entah bagaimana,
rasa takut itu memiliki daya tarik tersendiri.
Kita berfikir mampu mengalahkannya,
mengelabuinya,
terlihat tegar namun lutut mu gemetar,
berjalan sangar namun sesungguhnya gentar.
Saya juga merasa takut,
bahkan selama saya masih hidup.
Rasa takut itu indah,
membuat keberhasilan terasa megah.
Entah bagaimana,
rasa takut itu terkadang menjadi adiksi.
Setiap kali kita melangkah,
rasa takutlah yang membuat kita menghindari lengah.
Terkapar oleh masalah,
rasa takut yang membuat kita tetap berdarah.
Manusia itu penakut,
lihat siapa yang menunjuk tangan saat ditanya siapa yang mau ke surga?
dan lihat siapa yang menganggukan kepala saat ditanya siapa yang mau mati pertama?
Gemetar dan gentar,
entah bagaimana,
rasa takut itu memiliki daya tarik tersendiri.
Kita berfikir mampu mengalahkannya,
mengelabuinya,
terlihat tegar namun lutut mu gemetar,
berjalan sangar namun sesungguhnya gentar.
Saya juga merasa takut,
bahkan selama saya masih hidup.
Rasa takut itu indah,
membuat keberhasilan terasa megah.
Wednesday, October 27, 2010
Jika Hidup Itu Masuk akal, Siapa Yang Butuh Tuhan?
Kita dilatih memprediksi,
menghitung,
mengkalkulasikan,
menggunakan akal,
pikiran,
menyusun strategi.
Mereka berkata,
inilah sistemnya,
inilah siklusnya,
kata kunci kata kunci kata kunci,
persetan.
Jika tak ada yang berhasil melawan arus,
jika semua akan mati diterjang ombak,
siapa yang selamat dan memberitakan keajaiban?
Mengapa kita senantiasa dibentuk?
Mengapa kita senantiasa diatur?
Lakukan seperti ini,
jangan sampai kalian seperti itu.
Saya tak pernah percaya rumus sukses,
saya tak percaya ilmu pasti.
Akal manusia,
volume otak,
semuanya semu,
sia-sia.
Lupa kalau kita hanya debu tanah?
Lupa kalau tangan kita -semahal apapun sabun yang kita pakai-,
bau amis dosa masih menempel tak mau hilang?
Lupa kalau hidup dan nyawa ini pinjaman?
Kita terbiasa dijadikan mesin,
membaca buku manual bernama motivasi,
ini hidup,
itu mati.
Saya tak percaya jika hidup sekonyol ini,
tak adakah yang mau berdiri,
dan berkata apa yang sebenarnya ada dalam hati?
Atau kalian benar-benar percaya,
inilah hidup?
Dan itu benar-benar mati?
Uang bukan segalanya.
Terkutuk kalian.
Bukannya kalian yang mengeluh saat pekerjaan kalian tidak dibayar semestinya?
Bukankah angka nominal itu membuat mata kalian berbinar-binar?
Bukankah kalian berhenti mencaci maki saat kalian ditunjukkan harta berlimpah-limpah?
Mungkin uang bukan Tuhan kalian,
mungkin Dewa kalian bukan Mamon,
namun,
uang bukanlah yang kalian cari?
Berlututlah dalam kamar dengan pintu terkunci,
matikan lampu.
Diamlah hingga karakter kalian yang asli muncul.
Siapa kau?
Lepaskan peran dan topeng yang seharian menempel,
ini saatnya berhenti dan bertanya pada hati.
Masih berhargakah mimpi,
jika kita mengejarnya demi gengsi?
Masih indahkah khayalan,
jika kita menggapainya demi pujian?
Saya duduk dan membusuk disni,
berfikir tentang kegagalan demi kegagalan,
usaha demi usaha,
menemui titik terang sesaat,
lalu terjerembab dalam jalan buntu,
tersesat.
Sampai kapan kita mengandalkan darah?
Sampai kapan kita kuat berpeluh keringat?
sepuluh tahun? dua puluh?
Tiga puluh?
Padahal butuh sedetik untuk menghancurkan apa yang kita bangun dari puluhan tahun bekerja memeras tulang.
Sebenarnya apa guna kerja keras?
Usaha manusia?
Hidup itu tak pernah masuk akal,
skenario nya bukan kita penulisnya.
Jika hidup itu misteri,
mengapa membuang waktu memprediksi?
Jika hidup itu penuh rahasia,
lalu kalian merasa pintar saat menyingkapnya?
Buku adalah sampah otak,
mengeluarkan buah pikiran dan memori tak terpakai,
usang.
Jika pengalaman itu cukup berharga,
dan mimpi bisa diaplikasikan ke hidup semua orang,
maka tak ada orang yang menderita,
semua sukses,
semua bahagia.
Percayalah,
hidup tak pernah masuk akal.
Kalian akan takjub melihat apa Sang Maha Tak Terbatas.
Dia bernama TUHAN.
Dia membuat hal yang tak mungkin, menjadi mudah.
Dia membuat hal yang terlihat mudah,
menjadi tak mungkin terjadi.
Hidup, tidak dapat kau prediksi.
Bermimpilah,
berdoalah.
Lakukanlah,
berdoalah.
wujudkanlah,
berdoalah.
Menang atau kalah, hidup itu indah.
Terima kasih, TUHAN.
menghitung,
mengkalkulasikan,
menggunakan akal,
pikiran,
menyusun strategi.
Mereka berkata,
inilah sistemnya,
inilah siklusnya,
kata kunci kata kunci kata kunci,
persetan.
Jika tak ada yang berhasil melawan arus,
jika semua akan mati diterjang ombak,
siapa yang selamat dan memberitakan keajaiban?
Mengapa kita senantiasa dibentuk?
Mengapa kita senantiasa diatur?
Lakukan seperti ini,
jangan sampai kalian seperti itu.
Saya tak pernah percaya rumus sukses,
saya tak percaya ilmu pasti.
Akal manusia,
volume otak,
semuanya semu,
sia-sia.
Lupa kalau kita hanya debu tanah?
Lupa kalau tangan kita -semahal apapun sabun yang kita pakai-,
bau amis dosa masih menempel tak mau hilang?
Lupa kalau hidup dan nyawa ini pinjaman?
Kita terbiasa dijadikan mesin,
membaca buku manual bernama motivasi,
ini hidup,
itu mati.
Saya tak percaya jika hidup sekonyol ini,
tak adakah yang mau berdiri,
dan berkata apa yang sebenarnya ada dalam hati?
Atau kalian benar-benar percaya,
inilah hidup?
Dan itu benar-benar mati?
Uang bukan segalanya.
Terkutuk kalian.
Bukannya kalian yang mengeluh saat pekerjaan kalian tidak dibayar semestinya?
Bukankah angka nominal itu membuat mata kalian berbinar-binar?
Bukankah kalian berhenti mencaci maki saat kalian ditunjukkan harta berlimpah-limpah?
Mungkin uang bukan Tuhan kalian,
mungkin Dewa kalian bukan Mamon,
namun,
uang bukanlah yang kalian cari?
Berlututlah dalam kamar dengan pintu terkunci,
matikan lampu.
Diamlah hingga karakter kalian yang asli muncul.
Siapa kau?
Lepaskan peran dan topeng yang seharian menempel,
ini saatnya berhenti dan bertanya pada hati.
Masih berhargakah mimpi,
jika kita mengejarnya demi gengsi?
Masih indahkah khayalan,
jika kita menggapainya demi pujian?
Saya duduk dan membusuk disni,
berfikir tentang kegagalan demi kegagalan,
usaha demi usaha,
menemui titik terang sesaat,
lalu terjerembab dalam jalan buntu,
tersesat.
Sampai kapan kita mengandalkan darah?
Sampai kapan kita kuat berpeluh keringat?
sepuluh tahun? dua puluh?
Tiga puluh?
Padahal butuh sedetik untuk menghancurkan apa yang kita bangun dari puluhan tahun bekerja memeras tulang.
Sebenarnya apa guna kerja keras?
Usaha manusia?
Hidup itu tak pernah masuk akal,
skenario nya bukan kita penulisnya.
Jika hidup itu misteri,
mengapa membuang waktu memprediksi?
Jika hidup itu penuh rahasia,
lalu kalian merasa pintar saat menyingkapnya?
Buku adalah sampah otak,
mengeluarkan buah pikiran dan memori tak terpakai,
usang.
Jika pengalaman itu cukup berharga,
dan mimpi bisa diaplikasikan ke hidup semua orang,
maka tak ada orang yang menderita,
semua sukses,
semua bahagia.
Percayalah,
hidup tak pernah masuk akal.
Kalian akan takjub melihat apa Sang Maha Tak Terbatas.
Dia bernama TUHAN.
Dia membuat hal yang tak mungkin, menjadi mudah.
Dia membuat hal yang terlihat mudah,
menjadi tak mungkin terjadi.
Hidup, tidak dapat kau prediksi.
Bermimpilah,
berdoalah.
Lakukanlah,
berdoalah.
wujudkanlah,
berdoalah.
Menang atau kalah, hidup itu indah.
Terima kasih, TUHAN.
Tuesday, October 5, 2010
051010
Disaat semua orang tlah melihat masa depan,
aku masih disini, mengasihani diri,
ku memandang harapan, yang menjauh dan menghilang,
tak kutemukan jalan, tak kutemukan harapan.
Mata mereka merendahkan
bibir mereka mencela, mencibir.
Apapun yang aku lakukan,
mereka tetap akan trus menghina.
Demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
tak kan kubuang waktu,
kubuktikan kepadamu,
demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
kukatakan kepadamu,
nyanyikan bersamaku.
Disaat semua teman tlah wujudkan harapan
aku masih disini, menunggu mimpi-mimpi
ku melihat dunia tlah berputar meninggalkan
tak kutemukan cara, tak kutemukan alasan.
aku masih disini, mengasihani diri,
ku memandang harapan, yang menjauh dan menghilang,
tak kutemukan jalan, tak kutemukan harapan.
Mata mereka merendahkan
bibir mereka mencela, mencibir.
Apapun yang aku lakukan,
mereka tetap akan trus menghina.
Demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
tak kan kubuang waktu,
kubuktikan kepadamu,
demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
kukatakan kepadamu,
nyanyikan bersamaku.
Disaat semua teman tlah wujudkan harapan
aku masih disini, menunggu mimpi-mimpi
ku melihat dunia tlah berputar meninggalkan
tak kutemukan cara, tak kutemukan alasan.
Friday, September 24, 2010
Boys of Summers - Brokenheart Can't Be That Bad
Begitu kira-kira jika kita dengan dangkal mengartikan band melodic/ pop punk dari Bandung ini.
Bukan, mereka bukan the next Rocket Rockers,
bahkan akan berlebihan jika kita menyamakan mereka dengan blink-182.
Oke, saya hanya bercanda. Dan oke, itu bukan humor yang bagus.
Band ini beranggotakan duo "Dick" plus satu Arsis,
dan (setahu saya sampai sekarang) tanpa bassis.
Saya tak mengenal mereka satu-persatu secara personal,
namun yang pasti,
Dick pertama adalah Dicka.
Sejarah panjang membawanya ke depan microphone,
menghajar gitar
dan mencoba membius kita dengan vokal khas band melodic punk Bandung pada umumnya.
Dick kedua adalah Dicky.
Drummer ini menaruh empat alamat myspace, dari empat band berbeda di website facebooknya,
dan coba tebak?
Yak, dia adalah drummer dari empat band tersebut,
dengan nama panggung yang (sepertinya) berbeda pula.
Mana yang aktif, kalo menurut penerawangan saya,
hmmm....
Ah, jangan tanya saya, tanya saja Arsis.
Oke, ini dia Arsis.
Gitaris yang mengaku frontman Boys of Summers,
yah secara dia lah yang memegang tonggak sejarah berdirinya band ini,
dari ketidakjelasan Lunatic Luna,
yang akhirnya menggiringnya ke dalam posisi nahkoda Boys Of Summers.
Tidak banyak yang bisa saya jelaskan dari pria yang kadang berkumis kadang tidak ini,
yang pasti dia penganut sistem "mandi itu sudah pernah".
Cukup untuk sedikit sejarah,
saya tahu itu membosankan.
Mari kita beranjak ke materi yang telah mereka lahirkan.
"Brokenheart Can't Be That Bad" sebenarnya adalah demo lama mereka,
tapi tidak ada salahnya kita ulas disini,
padahal (setahu saya) materi baru mereka mereka telah bertambah 6-7 lagu,
setelah demo "Brokenheart Can't Be That Bad" ini.
Dari judulnya, kita tahu bahwa mereka tidak akan menulis soal membakar gedung putih,
atau membom pesawat tempur Amerika,
lagu mereka bertema, yah, Cinta dan kehidupan remaja.
Hentakan dimulai dengan "Akhir Cerita",
dengan sound khas band asal Bandung, Closehead.
Ini bisa dikategorikan lagu yang bertema menyedihkan,
namun dinyanyikan dengan penuh semangat,
bukan dengan langkah lunglai dan tanpa mabuk minuman beralkohol oplosan.
Tidak ada kejutan, kita hanya akan selalu menggoyangkan kepala menikmati,
membiarkan mereka menyanyi memberikan segalanya dengan hati,
itulah arti sebenarnya musik bukan?
Track kedua "Renungan Diri" adalah bentuk lagu melodic punk yang agak oldschool,
hentakan drum monoton,
dan vokal yang bercerita soal pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Lirik mereka mengalami perbaikan dengan mengambil tema yang jauh lebih dalam daripada mencium seorang gadis di kamar mandi sekolah.
Anggap aja kedewasaan itu selalu ada di setiap anak kecil,
yang masih sembunyi-sembunyi menonton film porno.
Interlude dan vokal sahut-sahutan bukan hal yang baru,
namun terasa segar dengan ending yang terkesan main-main.
"Tolong!!!" menghajar kita di track ketiga.
Kegalauan dan kebingungan akan masa remaja tergambar jelas disini,
departemen lirik jelas mendapat perhatian serius,
penulisan kata-kata sepertinya jauh lebih dipikirkan artinya disini,
dan jelas,
para pemuda di usia rawan akan jelas mengalami fase apa yang ditulis di lagu ini.
Musik berkobar semangat namun tanpa amarah,
kurang jelas apalagi?
Yap, semoga para orang tua mendengar lagu ini,
dan akhirnya mengetahui bahwa anak lelaki mereka butuh pertolongan.
Akustik. Tidak banyak band yang berani menaruh lagu akustik di demo awal,
mengingat tingkat kelabilan yang seakan tak akan menaruh kesempatan menunjukan sisi diri yang halus kepada khalayak.
namun yak,
entah apa yang merasuki Boys of Summers,
"I'm Still Running" menghias track keempat.
Yang mengecewakan adalah departemen vokal yang terlalu Indonesia untuk sebuah lagu bahasa Inggris.
Tapi kalau boleh berpendapat,
inilah bentuk kejujuran Boys of Summers,
daripada menjadi band berlafal Inggris yang fake,
lebih baik memasukan atmosfir asli yang sederhana,
dan tentu saja lebih menyentuh jiwa.
Liriknya sendiri bercerita tentang patah hati,
mellow dan cocok dinyanyikan di kamar gelap penuh asap rokok.
Berbaringlah di lantai, ambil gitar kopong yang senarnya mulai karatan,
nyanyikan lagu ini.
Last but not least,
please welcome "I'm What I'm" di track penutup.
Entah kenapa, ketimbang diam dan menerawang,
lalu membayangkan suasana kampus yang ditulis disini,
saya malah berfikir untuk segera moshing,
melepaskan kepenatan di kampus saat intro sebenarnya lagu ini dimulai,
lalu berteriak lantang "I am what i am!"
Lupakan masalah pronounce dan vocabulary di lagu ini,
makna dan tema lagu ini mungkin standar,
namun akuilah ini anthemic.
Jika kalian butuh energi untuk semangat,
saat mencari teman sepenanggungan di awal perkuliahan,
lagu ini akan menjadi soundtracknya.
Ah saya jadi rindu masa kuliah.
Kelima track sudah usai,
tapi saya masih me-repeat nya.
Mungkin sudah saatnya saya melepas skinny jeans saya,
mengambil celana kargo dan kaos kaki panjang.
Mama, saya mau ke acara melodic punk!
ttp://www.myspace.com/boysofsummers
http://www.twitter.com/boysofsummers
http://www.facebook.com/boysofsummer
http://www.twitter.com/boysofsummers
http://www.facebook.com/boysofsummer
Hidup Bahagia Bukanlah Mitos, Saya Berdoa Agar Kalian Hidup Bahagia.
Hai nama saya Michael Kienzy, dan saya percaya kalian akan hidup bahagia.
Tak ada yang tahu rahasia sukses,
tak ada yang tahu rumus menjadi berhasil.
Kerja keras hanya akan menghabiskan waktu.
Usaha adalah kesia-siaan.
Jika kemenangan adalah takdir,
maka tiada guna perjuangan.
Namun benarkah keringat dan darah tidak akan mengubah setitikpun keberuntungan?
Mengapa kita menertawakan mimpi?
Mengapa kita merendahkan keajaiban?
Mengapa kalian tertawa saat seseorang memulai dari bawah,
dan mencemooh kemenangan sang pecundang?
Hidup adalah putaran lubang angin.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setiap detik berikutnya.
Jika kalian percaya doa,
berdoalah.
Jika kalian percaya usaha,
berusahalah.
Dia akan melihat kalian dari sana,
menimbang-nimbang keputusan-Nya.
Kita hanyalah pion catir,
saat lahir,
peran telah ditentukan,
kematian akan menunggu di garis akhir,
mengapa masih saling menjatuhkan?
Hi, nama saya Michael Kienzy, saya bisa melihat masa depan kalian bahagia.
Mengapa kita tak mengucapkan doa?
Saat seseorang berenang dalam kubangan lumpur dan kehabisan nafas.
Yang sering kita lakukan hanyalah menanyakan alasan,
mengapa ia sampai jatuh ke lumpur.
Kita menghabiskan waktu,
menilai,
menimbang,
dan mencari tahu.
Mengapa kita tidak diam,
dan mendoakan semua orang yang terbaik untuk hidup mereka?
Hidup terlalu singkat untuk mencari siapa yang salah.
Hidup terlalu singkat untuk mencari pembenaran.
Untuk kalian,
siapapun kalian,
apapun masalah kalian,
yang sedang terjatuh,
terhempas,
terluka,
kecewa,
butuh dukungan,
menginginkan harapan.
Nama saya Michael Kienzy,
saya berdoa agar hidup kalian bahagia.
Monday, September 20, 2010
Astonia : code name PELURU
"Peluru" adalah lagu yang saya tulis setelah sebelumnya secara tak sengaja,
melihat sebuah sampul novel berisi kumpulan puisi berjudul "Aku Ingin Jadi Peluru",
karangan Wiji Thukul.
Saya memang tidak tahu apa isi novel tersebut,
saya bahkan lupa dimana dan kapan melihatnya,
saya bahkan tak tahu Wiji Thukul adalah salah satu pionir penulis puisi di Indonesia,
saya bahkan tak tahu Alm. Munir adalah salah seorang yang memberi review di novel tersebut.
yang saya tahu,
kata-kata yang menjadi judul di novel tersebut terus membekas.
Menjadi peluru adalah cita-cita saya.
Saya bermimpi menjadi peluru.
Untuk saya, mimpi adalah amunisi.
Mimpi menembus semua dinding,
menyatukan khayalan dan kenyataan.
Membiarkan harapan bertemu dengan realitas.
Mimpi adalah alasan kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Mimpi membuat kita merasa tetap memiliki teman,
meski dunia telah berputar meninggalkan.
Saya menulis ini untuk kalian, semua orang yang terkalahkan realita,
semua orang yang direndahkan kenyataan,
semua yang masih saja mampu berdiri, percaya, dan bermimpi.
Untuk semua yang percaya pada keajaiban,
dan kemegahan mimpi.
Percayalah tak ada dinding yang tidak dapat ditembus.
Tak ada mimpi yang tak mungkin jadi nyata.
Bermimpilah seperti peluru.
"Peluru" adalah bagian pertama dari trilogi "Replika Realita",
bagian dari perjalanan panjang yang melelahkan yang dilakukan Astonia.
Lebih dari satu setengah bulan,
hampir setiap akhir pekan,
kami berada di dalam ruangan sempit kedap suara,
meleburkan semua rasa takut akan masa depan,
percayalah kami semua berada di bawah tekanan,
bahkan menderita stress tingkat akhir yang mengerikan.
Baiklah, itu berlebihan.
Namun semua berakhir dengan menyenangkan.
dan inilah saatnya kami membaginya dengan kalian.
Saya tak pernah bilang lagu "Peluru" ini nyaman didengarkan,
atau menyebut bahwa ini lagu enak.
Tapi saya pastikan,"Peluru" mampu merangkum apa yang ingin kami sampaikan.
Mewakili semua kata-kata, atmosfir, dan gambaran yang kami inginkan.
Jelek atau bagus, keren atau memalukan,
kalianlah hakimnya, kami hanya melakukan apa yang kami inginkan.
Terima kasih untuk tetap perduli dan memberikan segenap dukungan.
"Peluru" is available for download.
Please download it here.
Lyric for "Peluru" is available here
Wednesday, September 8, 2010
Antara Moral, Pornografi dan Kejujuran Eksistensi
Ariel Peterporn.
Jika banyak orang menganggap ini hanyalah lelucon satir dan sarkasme,
dan lebih banyak orang yang menganggap ini sebuah hinaan,
maka saya akan tersenyum miris.
Atas nama mereka,
yang mengatur copy dan narasi yang mencoba semenarik mungkin,
yang mencoba meledakan sensasi atas nama penjualan,
yang mendorong saya menulis semua ini.
Ariel,
seorang popstar,
dengan band yang menjual lebih dari jutaan keping album,
jutaan RBT download,
dan jumlah album kompilasi bajakan yang tak terhitung,
dari layar televisi pun,
saya tahu,
dia pria penuh kharisma.
Terlepas dari selera orang yah,
yang menilai dia secara fisik,
saya pikir Ariel adalah sosok yang tepat menggambarkan
contoh vokalis band tenar di Indonesia,
jangan tanya soal fans,
ataupun yang tidak mengakui fans tapi mengagguminya,
jumlah nya pasti mencapai jutaan orang.
Jangankan Ariel,
bahkan vokalis-vokalis band kacangan pun punya ratusan groupies yang siap ditiduri hanya untuk kesenangan semalam.
Lalu apa yang istimewa dari Ariel?
Berlebihan.
Kalau dilihat dari realitas,
sebenarnya banyak pria yang melakukan lebih buruk ketimbang apa yang dilakukan Ariel,
tapi begitulah orang Indonesia,
selalu melihat debu di mata orang lain,
tapi akan pura-pura buta soal batu bata segede gaban di matanya.
Teman saya pernah berkata
"Ariel emang pantas digituin,
dia itu ga pantes soalnya jadi panutan,
sekarang kan anak kecil ngidolain dia,
siapa tau ntar mereka ikut-ikutan,
bajingan mesti dihukum.."
For Your Info,
teman saya yang ngomong hal itu - dengan tidak mengurangi rasa hormat - adalah seorang bajingan tengik kelas teri terbang.
Serius, dia itu termasuk pemburu wanita dan pecinta kehidupan malam.
Bisa ga kalau saya bilang dia cuma iri melihat "keberhasilan" Ariel meniduri -katanya- banyak artis cantik?
Munafik.
Semua bilang tanggung jawab moral Ariel sudah rusak,
merusak mental remaja pemuja dirinya.
Mereka sadar ga yah,
kalau urusan moral dan akhlak itu urusan pribadi masing-masing,
semua tergantung pribadi,
kalau memang bejat mah bejat aja.
Bahkan secara tiba-tiba,
ada beberapa pemerkosa yang mengaku memperkosa,
akibat menonton video Ariel.
Lucu.
Saya menonton video Ariel berkali-kali,
dan saya tidak memperkosa tuh.
Tergantung orangnya kan?
Buat saya,
Ariel,
bersalah atau tidak,
dia hanya seorang laki-laki biasa,
penyimpangan seks yang -katanya- dideritanya pun bisa dibilang biasa aja,
bukan hal baru,
hellow,
menurut info random di google - gw lupa tepatnya-
ada angka rata-rata yang mencengangkan bahwa,
setiap hari,
ada saja video porno amatir yang dibuat dan beredar di dunia maya dari negeri kita ini,
jauh sebelum kasus Ariel meledak.
Salah Ariel?
Lucu.
Video Ariel sendiri, tidak menampilkan sadomasokis, ataupun perilaku seks yang tidak bisa diterima akal sehat,
just like a private video,
apa yang salah?
Kalau yang bisa disalahkan,
munngkin perihal perilaku Ariel yang tidak setia,
terhadap pacarnya Luna Maya,
dia selingkuh.
tapi siapa kita?
Apa urusan kita?
Hidup Ariel punya kita?
Lucu,
apalagi kalau yang ngomong dan mengutuk Ariel bajingan karena selingkuh,
ternyata adalah orang yang pernah selingkuh pula.
Ngaca woy.
Selingkuh itu memang haram seharam-haramnya,
tapi buat apa kita ngutuk?
Lagipula,
kalau mau dibilang zinah diluar nikah,
ada jutaan kayaknya laki-laki yang melakukan hal yang sama.
Bahkan pepatah dari zaman jebot juga udah bilang,
laki-laki mah selalu tersandung di tiga hal,
Harta, Tahta dan Wanita.
Wajar aja kan?
Standar lah kasus Ariel mah.
Video mesum? banyak juga ah. bertebaran dimana-mana deh itu video mesum amatir yang dibikin olah segelintir orang, bukan cuma Ariel.
Selingkuh?
Setau gw, anak SMP juga pacaran banyak yang udah pake selingkuh.
Korban sinetron.
Terus apa dong?
Salah karena dia itu publik figur?
Publik figur?
Publik yang mana?
Yang cuma mendengarkan lagu Peterpan via TV/Radio?
lalu membajak mp3nya?
lalu berteriak memaki orangnya?
Malahan,
beberapa orang,
yang membeli merch asli peterpan,
yang membeli album original peterpan,
yang secara "tidak" langsung memberi makan Ariel dkk,
malah dengan setia mendukung Ariel.
Lucu kan?
Yang lebih aneh lagi,
Ariel dituntut minta maaf ke publik,
karena perbuatannya membuat video itu,
dan
diminta mengakui perbuatannya.
Sekarang sih gini aja,
udah aib-nya diumbar-umbar,
dicaci maki,
dipenjara,
sekarang suruh minta maaf pula.
Ga kebayang rasanya
Disuruh minta maaf ke khalayak?
Kalo pendapat gw,
cukup minta maaf ke sang Pencipta,
dan ke si pacar,
cukup.
Itupun kita ga berhak tau,
sudahkah Ariel melakukan semua itu.
Itu mah urusan dia.
Jika banyak orang menganggap ini hanyalah lelucon satir dan sarkasme,
dan lebih banyak orang yang menganggap ini sebuah hinaan,
maka saya akan tersenyum miris.
Atas nama mereka,
yang mengatur copy dan narasi yang mencoba semenarik mungkin,
yang mencoba meledakan sensasi atas nama penjualan,
yang mendorong saya menulis semua ini.
Ariel,
seorang popstar,
dengan band yang menjual lebih dari jutaan keping album,
jutaan RBT download,
dan jumlah album kompilasi bajakan yang tak terhitung,
dari layar televisi pun,
saya tahu,
dia pria penuh kharisma.
Terlepas dari selera orang yah,
yang menilai dia secara fisik,
saya pikir Ariel adalah sosok yang tepat menggambarkan
contoh vokalis band tenar di Indonesia,
jangan tanya soal fans,
ataupun yang tidak mengakui fans tapi mengagguminya,
jumlah nya pasti mencapai jutaan orang.
Jangankan Ariel,
bahkan vokalis-vokalis band kacangan pun punya ratusan groupies yang siap ditiduri hanya untuk kesenangan semalam.
Lalu apa yang istimewa dari Ariel?
Berlebihan.
Kalau dilihat dari realitas,
sebenarnya banyak pria yang melakukan lebih buruk ketimbang apa yang dilakukan Ariel,
tapi begitulah orang Indonesia,
selalu melihat debu di mata orang lain,
tapi akan pura-pura buta soal batu bata segede gaban di matanya.
Teman saya pernah berkata
"Ariel emang pantas digituin,
dia itu ga pantes soalnya jadi panutan,
sekarang kan anak kecil ngidolain dia,
siapa tau ntar mereka ikut-ikutan,
bajingan mesti dihukum.."
For Your Info,
teman saya yang ngomong hal itu - dengan tidak mengurangi rasa hormat - adalah seorang bajingan tengik kelas teri terbang.
Serius, dia itu termasuk pemburu wanita dan pecinta kehidupan malam.
Bisa ga kalau saya bilang dia cuma iri melihat "keberhasilan" Ariel meniduri -katanya- banyak artis cantik?
Munafik.
Semua bilang tanggung jawab moral Ariel sudah rusak,
merusak mental remaja pemuja dirinya.
Mereka sadar ga yah,
kalau urusan moral dan akhlak itu urusan pribadi masing-masing,
semua tergantung pribadi,
kalau memang bejat mah bejat aja.
Bahkan secara tiba-tiba,
ada beberapa pemerkosa yang mengaku memperkosa,
akibat menonton video Ariel.
Lucu.
Saya menonton video Ariel berkali-kali,
dan saya tidak memperkosa tuh.
Tergantung orangnya kan?
Buat saya,
Ariel,
bersalah atau tidak,
dia hanya seorang laki-laki biasa,
penyimpangan seks yang -katanya- dideritanya pun bisa dibilang biasa aja,
bukan hal baru,
hellow,
menurut info random di google - gw lupa tepatnya-
ada angka rata-rata yang mencengangkan bahwa,
setiap hari,
ada saja video porno amatir yang dibuat dan beredar di dunia maya dari negeri kita ini,
jauh sebelum kasus Ariel meledak.
Salah Ariel?
Lucu.
Video Ariel sendiri, tidak menampilkan sadomasokis, ataupun perilaku seks yang tidak bisa diterima akal sehat,
just like a private video,
apa yang salah?
Kalau yang bisa disalahkan,
munngkin perihal perilaku Ariel yang tidak setia,
terhadap pacarnya Luna Maya,
dia selingkuh.
tapi siapa kita?
Apa urusan kita?
Hidup Ariel punya kita?
Lucu,
apalagi kalau yang ngomong dan mengutuk Ariel bajingan karena selingkuh,
ternyata adalah orang yang pernah selingkuh pula.
Ngaca woy.
Selingkuh itu memang haram seharam-haramnya,
tapi buat apa kita ngutuk?
Lagipula,
kalau mau dibilang zinah diluar nikah,
ada jutaan kayaknya laki-laki yang melakukan hal yang sama.
Bahkan pepatah dari zaman jebot juga udah bilang,
laki-laki mah selalu tersandung di tiga hal,
Harta, Tahta dan Wanita.
Wajar aja kan?
Standar lah kasus Ariel mah.
Video mesum? banyak juga ah. bertebaran dimana-mana deh itu video mesum amatir yang dibikin olah segelintir orang, bukan cuma Ariel.
Selingkuh?
Setau gw, anak SMP juga pacaran banyak yang udah pake selingkuh.
Korban sinetron.
Terus apa dong?
Salah karena dia itu publik figur?
Publik figur?
Publik yang mana?
Yang cuma mendengarkan lagu Peterpan via TV/Radio?
lalu membajak mp3nya?
lalu berteriak memaki orangnya?
Malahan,
beberapa orang,
yang membeli merch asli peterpan,
yang membeli album original peterpan,
yang secara "tidak" langsung memberi makan Ariel dkk,
malah dengan setia mendukung Ariel.
Lucu kan?
Yang aneh,
setelah digenjot pemberitaan di mana-mana,
pagi, siang, malam,
yang disalahkan itu tetap Ariel,
padahal gara-gara pemberitaan gila-gilaan dimana-mana itulah,
yang "memasyarakatkan" video Ariel.
Yang lucu lagi,
Ariel kayaknya lebih salah,
daripada sang pelaku penyebaran,
yang identitasnya ditutupi sedemikian rupa,
padahal kalau mau ditilik lebih lanjut,
semisal begini,
Kita punya koleksi pribadi,
ada maling yang nyuri,
nah yang ditangkep justru kita,
karir kita hancur lebur,
dibilang tersangka lah,
otak mesum lah,
eh si maling ditangkep tapi ditutupi identitasnya.
Padahal,
kalo mau simple,
Ariel mah cuma buat video untuk dikoleksi,
mau dia kelainan seks kek,
mau dia hyperseks kek,
hak dia buat menutupi hal itu,
siapa sih yang mau dibuka aib-nya?
Yang jahat adalah orang yang membuka aib-nya,
menyebarkannya,
bahkan menjadikan-nya sebagai bahan jualan. ;)
Yang lebih aneh lagi,
Ariel dituntut minta maaf ke publik,
karena perbuatannya membuat video itu,
dan
diminta mengakui perbuatannya.
Sekarang sih gini aja,
udah aib-nya diumbar-umbar,
dicaci maki,
dipenjara,
sekarang suruh minta maaf pula.
Ga kebayang rasanya
Disuruh minta maaf ke khalayak?
Kalo pendapat gw,
cukup minta maaf ke sang Pencipta,
dan ke si pacar,
cukup.
Itupun kita ga berhak tau,
sudahkah Ariel melakukan semua itu.
Itu mah urusan dia.
Andaikan bisa dipikir sesimple itu,
niscaya kita ga bakalan terlihat lebay.
Lagian,
doyan amat sih ngurusin hidup orang,
berasa paling suci dan benar aja.
doyan amat sih ngurusin hidup orang,
berasa paling suci dan benar aja.
Urus hidup sama akhlak diri kalian sendiri lah,
ga perlu urusin hidup sama akhlak orang lain.
Dengerin lagu-lagu Peterpan aja hasil dari mp3 bajakan,
pake sok-sok nge-judge dan berani ngatur hidup Ariel.
Get a life man. Berhenti menilai orang dari kelemahan dan kekurangannya dia,
lihat dari sisi lain.
lihat dari sisi lain.
Lucu.
NB:
Gw bukan fans Ariel,
maupun Peterpan.
Cuma suka beberapa lagu,
itupun ga pernah beli CD/kaset asli mereka,
hasil copy/paste dari hard disk temen,
pernah sekali nonton mereka live,
itupun gratisan.
Intinya,
ga pernah ngasih makan mereka secara langsung (maupun ga langsung),
buat apa gw nge-judge?
Gw bukan fans Ariel,
maupun Peterpan.
Cuma suka beberapa lagu,
itupun ga pernah beli CD/kaset asli mereka,
hasil copy/paste dari hard disk temen,
pernah sekali nonton mereka live,
itupun gratisan.
Intinya,
ga pernah ngasih makan mereka secara langsung (maupun ga langsung),
buat apa gw nge-judge?
Ini ditulis jutaan tahun lalu,
baru berani di-publish sekarang NGAHAHAHAHAHAHA
Tuesday, September 7, 2010
Dia, Sang Penguasa Waktu.
Demi Neptunus,
diguyur hujan seharian bukanlah hal yang buruk,
selain merasakan hypothermia tingkat awal yang tidak berbahaya,
tak ada salahnya meringankan otak yang akan semakin mendidih dipanaskan cuaca.
Percayalah bahwa semua hal yang terjadi memiliki alasan,
dan tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Kita hanyalah hamster yang berlari di dalam roda berputar dalam kandang yang terkadang lelah dan terkulai begitu saja.
Tak tahu kapan,
tak tahu kenapa,
kita hanya menjalani waktu yang berputar.
Saya bukanlah orang yang mudah mengeluh,
dan akhir-akhir ini,
saya pun bukan orang yang mudah untuk bercerita.
Entah kenapa, otak dan hati ini mulai jadi brangkas penuh sampah,
lengkap dengan fasilitas pembakarannya,
jadi semua hal terkunci di dalam,
bahagia senang, menangis sedih,
semuanya saya biarkan membusuk di dalam,
toh waktu akan menyembuhkan luka,
dan waktu akan melupakan bahagia.
Tak ada gunanya memiliki segalanya,
waktu akan membuat kita tak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.
Kita kehabisan waktu saat berusaha meraih segala yang kita inginkan,
dan saat kita bernafas untuk sekedar melihatnya,
semua hilang begitu saja.
Hidup adalah sebuah perputaran waktu,
dan detik yang kita banggakan,
semua hilang begitu saja.
Dia, sang penguasa waktu,
mendengar doa dan harapan, yang hilang begitu saja.
diguyur hujan seharian bukanlah hal yang buruk,
selain merasakan hypothermia tingkat awal yang tidak berbahaya,
tak ada salahnya meringankan otak yang akan semakin mendidih dipanaskan cuaca.
Percayalah bahwa semua hal yang terjadi memiliki alasan,
dan tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Kita hanyalah hamster yang berlari di dalam roda berputar dalam kandang yang terkadang lelah dan terkulai begitu saja.
Tak tahu kapan,
tak tahu kenapa,
kita hanya menjalani waktu yang berputar.
Saya bukanlah orang yang mudah mengeluh,
dan akhir-akhir ini,
saya pun bukan orang yang mudah untuk bercerita.
Entah kenapa, otak dan hati ini mulai jadi brangkas penuh sampah,
lengkap dengan fasilitas pembakarannya,
jadi semua hal terkunci di dalam,
bahagia senang, menangis sedih,
semuanya saya biarkan membusuk di dalam,
toh waktu akan menyembuhkan luka,
dan waktu akan melupakan bahagia.
Tak ada gunanya memiliki segalanya,
waktu akan membuat kita tak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.
Kita kehabisan waktu saat berusaha meraih segala yang kita inginkan,
dan saat kita bernafas untuk sekedar melihatnya,
semua hilang begitu saja.
Hidup adalah sebuah perputaran waktu,
dan detik yang kita banggakan,
semua hilang begitu saja.
Dia, sang penguasa waktu,
mendengar doa dan harapan, yang hilang begitu saja.
Wednesday, September 1, 2010
Percayakan pada peluru..
September.
Cuaca kali ini sama seperti perasaan wanita,
kalian tak bisa menebak apapun,
apa yang mereka mau,
apa yang akan mereka katakan,
jika misteri ilahi itu bernama esok hari,
maka wanita adalah bagian dari ketidakpastian detik berikutnya.
Televisi menjadi daya tarik paling menakjubkan dari apa yang bisa saya bayangkan,
seiring kebebasan media ber-eksplorasi,
yang saya lihat adalah bombardir berita yang tiada henti.
Meminjam lirik dari lagu cerdas berjudul "Coco Papa Lala Dada" dari Andre Harihandoyo and Sonic People (bisa di download gratis di sini)
"coco papa lala dada.. that's what you get from the television, coco papa lala dada.. that's not even real information.."
Cuaca kali ini sama seperti perasaan wanita,
kalian tak bisa menebak apapun,
apa yang mereka mau,
apa yang akan mereka katakan,
jika misteri ilahi itu bernama esok hari,
maka wanita adalah bagian dari ketidakpastian detik berikutnya.
Televisi menjadi daya tarik paling menakjubkan dari apa yang bisa saya bayangkan,
seiring kebebasan media ber-eksplorasi,
yang saya lihat adalah bombardir berita yang tiada henti.
Meminjam lirik dari lagu cerdas berjudul "Coco Papa Lala Dada" dari Andre Harihandoyo and Sonic People (bisa di download gratis di sini)
"coco papa lala dada.. that's what you get from the television, coco papa lala dada.. that's not even real information.."
Tak usah dijelaskan lebih dalam kan?
Yep,
tanpa televisi pun,
negara ini terlihat begitu semerawut, riweuh,
dan kehidupan begitu memuakkan di sekitar kita,
hidup makin sulit bagi sebagian orang,
sementara sebagian lainnya hidup bukan sebagai manusia,
lebih parah dari mesin,
lebih rendah dari binatang.
Saya tidak bicara keadilan,
ataupun menggurui,
saya hanya penonton televisi.
Apa lagi?
Hidup saya ada di titik dimana saya berada di sebuah halte,
menunggu bis jurusan yang saya tunggu,
hujan,
panas,
saya tetap berdiri di sana,
diam.
Lalu apa?
Selain waktu yang berlari terlalu cepat,
sehingga menyulitkan saya mengingat apa yang seharusnya saya lupakan.
September.
Jenuh adalah sebuah batas,
tembok tinggi menjulang yang menghalangi kita,
melihat apa yang seharusnya kita perhatikan.
Bersyukurlah atas revolver yang terisi penuh,
percayakan hidupmu pada peluru.
September.
Semoga hidup kembali memihak pada saya,
dan kepala kalian lah yang tertembus timah panas,
selamat datang September.
dan kepala kalian lah yang tertembus timah panas,
selamat datang September.
Sunday, August 29, 2010
Akhir Agustus, dan Saya Masih Disini.....
"Jika kita berani bermimpi, maka kita juga harus berani membuatnya menjadi nyata.."
Ga kehitung berapa kali gw nulis soal mimpi,
mimpi,
mimpi dan mimpi.
Hidup tanpa mimpi tuh kayak Mas Adam tanpa Inul,
kayak Malih sama Bolot.
Ada, tapi ga berasa ada. Hidup tapi ga berasa hidup.
Banyak yang suka ngomel sama gw,
seakan-akan gw buang-buang waktu hidup gw,
ngeband, nulis-nulis ga jelas,
luntang-lantung,
mimpi suatu saat nanti band gw bisa menghidupi gw,
lagu-lagu yang gw ciptain bisa dinikmati orang banyak,
Cd band gw dibeli,
bisa tur ke kota-kota di Indonesia,
bisa memperbaiki ekonomi keluarga gw,
asik ya mimpi gw?
Dan, orang-orang yang ga kenal gw bakal bilang,
"MIMPI TANPA TINDAKAN ITU PERCUMA!"
fuck you and your fucking family.
Terlalu banyak orang yang merendahkan usaha gw,
mereka ga mau ngeliat proses,
maunya liat gw langsung punya hasil,
ngepet,
lw kira gw Jun yang apa-apa tinggal minta sama Jin?
Kalo ngomong emang gampang,
"lw gini dong",
"lw gitu dong",
"gw liat temen gw gini bisa",
"setau gw temen gw gitu berhasil".
Kalo aja mereka tau jalan hidup orang itu beda-beda,
dan kalo emang resep jadi orang sukses itu beneran ada,
maka semua orang udah sukses semua.
Tau ga sih konsep "easy come easy go"?
Gw percaya,
makin susah jalan yang gw tempuh,
maka,
bakalan makin manis saat gw sukses nanti,
ga usah liat proses nya sekarang,
toh gw juga ga perduli,
waktu yang kita habiskan buat menikmati itu namanya bukan buang-buang waktu,
tapi menikmati hidup.
Mereka juga ga perlu tahu apa yang gw lakuin buat mimpi gw,
i don't give a fuck.
Pertanyaannya sekarang,
apa gw bakal bertahan sama mimpi-mimpi gw,
yang hampir 6 tahun gw usahain,
dan belum menampakan hasil maksimal?
Atau gw nyerah sama keadaan,
jadi robot kayak manuisa-manusia banyak bacot itu?
I don't know,
whatever it takes,
i'll give my fucking best shot.
Ga kehitung berapa kali gw nulis soal mimpi,
mimpi,
mimpi dan mimpi.
Hidup tanpa mimpi tuh kayak Mas Adam tanpa Inul,
kayak Malih sama Bolot.
Ada, tapi ga berasa ada. Hidup tapi ga berasa hidup.
Banyak yang suka ngomel sama gw,
seakan-akan gw buang-buang waktu hidup gw,
ngeband, nulis-nulis ga jelas,
luntang-lantung,
mimpi suatu saat nanti band gw bisa menghidupi gw,
lagu-lagu yang gw ciptain bisa dinikmati orang banyak,
Cd band gw dibeli,
bisa tur ke kota-kota di Indonesia,
bisa memperbaiki ekonomi keluarga gw,
asik ya mimpi gw?
Dan, orang-orang yang ga kenal gw bakal bilang,
"MIMPI TANPA TINDAKAN ITU PERCUMA!"
fuck you and your fucking family.
Terlalu banyak orang yang merendahkan usaha gw,
mereka ga mau ngeliat proses,
maunya liat gw langsung punya hasil,
ngepet,
lw kira gw Jun yang apa-apa tinggal minta sama Jin?
Kalo ngomong emang gampang,
"lw gini dong",
"lw gitu dong",
"gw liat temen gw gini bisa",
"setau gw temen gw gitu berhasil".
Kalo aja mereka tau jalan hidup orang itu beda-beda,
dan kalo emang resep jadi orang sukses itu beneran ada,
maka semua orang udah sukses semua.
Tau ga sih konsep "easy come easy go"?
Gw percaya,
makin susah jalan yang gw tempuh,
maka,
bakalan makin manis saat gw sukses nanti,
ga usah liat proses nya sekarang,
toh gw juga ga perduli,
waktu yang kita habiskan buat menikmati itu namanya bukan buang-buang waktu,
tapi menikmati hidup.
Mereka juga ga perlu tahu apa yang gw lakuin buat mimpi gw,
i don't give a fuck.
Pertanyaannya sekarang,
apa gw bakal bertahan sama mimpi-mimpi gw,
yang hampir 6 tahun gw usahain,
dan belum menampakan hasil maksimal?
Atau gw nyerah sama keadaan,
jadi robot kayak manuisa-manusia banyak bacot itu?
I don't know,
whatever it takes,
i'll give my fucking best shot.
Friday, August 27, 2010
Love your lover, just like you'll die soon...
Udah keseringan gw nulis yang serius-serius,
kebanyakan malah kayak orang mabok tempe orek,
ga jelas arahnya.
Padahal aslinya, gw cuma makan mie instan dan beberapa lauk yang gw anggep anugerah.
Banyak yang aneh akhir-akhir ini,
banyak kejadian di hidup gw,
contoh,
setelah bertahun-tahun ga alergi,
tiba-tiba gw kena alergi lagi,
dan alergi ga jelas,
alergi sama makanan yang dari ayam,
ya sebut aja, dari pecel ayam sampe ayam kentaki (iyee, kentucky, terserah..)
Bahkan baru ketahuan, kalo gw juga alergi bebek,
pas ga sengaja makan bebek goreng yang terkenal itu,
apa sih, binyo? ginyo? eh iya, kaleyo,
iya abis gw makan bebek kaleyo dengan alasan ga bisa makan ayam,
eh ga tau nya sama aja,
pulang-pulang tangan gw gatel-gatel.
Enough said,
kenapa gw jadi ngomongin alergi?
ga nyambung sama judul.
Yang mau gw omongin itu sebenernya hal yang udah lama melekat ( ceilleeehhh, melekaaaattt...) di pikiran gw,
sejak gw pacaran sama pacar gw yang sekarang ini.
Bukan, tulisan gw ga mengarah ke pujian-pujian soal pacar gw yang sekarang koq,
ini cuma soal pendewasaan diri gw.
Okey,
tadinya gw nulis
love your lover, just like you'll die today,
tapi entah kenapa,
kata "today" kayaknya kurang gimanaaaaaa gitu,
dan "soon" terdengar lebih dramatis.
Ga sembarangan lho gw nulis topik ginian,
sekilas sih gombal dan lebay, cenderung alay,
tapi serius deh,
woy seriuuuss,
ini serius banget,
menurut gw,
kita tuh mesti mempersiapkan diri,
dengan apapun yang terjadi,
kemungkinan terburuk.
Agak ngeri ngebayanginnya,
tapi apa boleh buat, menurut gw,
ini beneran.
Gini deh, sebelumnya gw anggep semua tuh ya gitu aja,
easy come easy go,
udah 3 kali, errrr,.... oke, 4 kali pacaran,
gw emang serius ngejalaninnya ya,
cuma gw tau,
everything will come to the end,
ga pernah ngarep banyak,
biasa aja. hehehe.
Tapi pas pacaran sama yang sekarang,
entah karena pengaruh umur,
atau kondisi,
atau.. (males ngemengnya, takutnya pacar gw baca trus besar kepala tuh bocah tengik... ngahahahaha)
Yah intinya, i'll take the first big step with her,
yep, a new fantastic adventure.
Bukan gimana-gimana,
lebih ke arah besarnya harapan yang gw jalanin sama dia.
Kalo selama ini pacaran gw bentuknya lebih ke "ngejalanin" aja,
nah yang sekarang tahapnya lebih ke menatap masa depan.
Azeek yee..
Jadi gini,
ah gimana ya ngejelasinnya,
intinya mah i'll do my best for this relationship.
Yep,
i love her, just like i'll die soon.
Ga usahlah ngasih contoh gimana,
atau apa aja yang gw maksud soal "i'll do my best",
kesannya kan bakal narsis dan minta dihargain banget,
tapi kan yang penting,
menurut gw ya,
gw ngelakuin yang tebaik lah buat pacar gw yang menggemaskan itu. *nonjok tembok*
Ini juga berlaku sama beberapa orang lain yang gw sayang,
just like my mom and dad,
some of my best friend out there,
i'm trying to give my best shot,
ga pernah pengen nge-cewain mereka,
gw juga nyoba berhenti mempersoalkan hal-hal kecil yang bakal ngerusak hubungan baik,
bosen ah kayak anak kecil yang labil,
what if i'll die soon? Or one of them?
Jangan sampe sih, cuma kan kita ga tau ya?
This is the awful truth,
ga enak diomongin,
cuma kan itu faktanya.
Yah, mungkin hampir setahun terakhir,
gw nyoba untuk ngelakuin hal yang terbaik buat siapapun yang gw sayang,
ga mau nyesel nantinya,
kita hidup cuma sekali kan,
sekali nyesel, iya kalo dapet kesempetan lain buat nebus,
kalo ga?
So? Grow up kiddo,
gw juga belum 100% berhasil,
50% juga belum kayaknya,
cuma gw udah mau nyoba lah se-enggaknya.
Love your lover, just like you'll die soon,
give your best shot.
NB : Ini ditulis abis nonton "Dear John" via dvd, setelah gw ga sempet nonton di bioskop. Tidak terinspirasi sama sekali sih nulis ginian sama tuh film, cuma lumayan lah bikin gw ga tau mau ngapain abis nonton, dan akhirnya nulis ginian.
and err.. kenapa bentuk tulisan gw kayak abg labil gini ya? Shoot!
kebanyakan malah kayak orang mabok tempe orek,
ga jelas arahnya.
Padahal aslinya, gw cuma makan mie instan dan beberapa lauk yang gw anggep anugerah.
Banyak yang aneh akhir-akhir ini,
banyak kejadian di hidup gw,
contoh,
setelah bertahun-tahun ga alergi,
tiba-tiba gw kena alergi lagi,
dan alergi ga jelas,
alergi sama makanan yang dari ayam,
ya sebut aja, dari pecel ayam sampe ayam kentaki (iyee, kentucky, terserah..)
Bahkan baru ketahuan, kalo gw juga alergi bebek,
pas ga sengaja makan bebek goreng yang terkenal itu,
apa sih, binyo? ginyo? eh iya, kaleyo,
iya abis gw makan bebek kaleyo dengan alasan ga bisa makan ayam,
eh ga tau nya sama aja,
pulang-pulang tangan gw gatel-gatel.
Enough said,
kenapa gw jadi ngomongin alergi?
ga nyambung sama judul.
Yang mau gw omongin itu sebenernya hal yang udah lama melekat ( ceilleeehhh, melekaaaattt...) di pikiran gw,
sejak gw pacaran sama pacar gw yang sekarang ini.
Bukan, tulisan gw ga mengarah ke pujian-pujian soal pacar gw yang sekarang koq,
ini cuma soal pendewasaan diri gw.
Okey,
tadinya gw nulis
love your lover, just like you'll die today,
tapi entah kenapa,
kata "today" kayaknya kurang gimanaaaaaa gitu,
dan "soon" terdengar lebih dramatis.
Ga sembarangan lho gw nulis topik ginian,
sekilas sih gombal dan lebay, cenderung alay,
tapi serius deh,
woy seriuuuss,
ini serius banget,
menurut gw,
kita tuh mesti mempersiapkan diri,
dengan apapun yang terjadi,
kemungkinan terburuk.
Agak ngeri ngebayanginnya,
tapi apa boleh buat, menurut gw,
ini beneran.
Gini deh, sebelumnya gw anggep semua tuh ya gitu aja,
easy come easy go,
udah 3 kali, errrr,.... oke, 4 kali pacaran,
gw emang serius ngejalaninnya ya,
cuma gw tau,
everything will come to the end,
ga pernah ngarep banyak,
biasa aja. hehehe.
Tapi pas pacaran sama yang sekarang,
entah karena pengaruh umur,
atau kondisi,
atau.. (males ngemengnya, takutnya pacar gw baca trus besar kepala tuh bocah tengik... ngahahahaha)
Yah intinya, i'll take the first big step with her,
yep, a new fantastic adventure.
Bukan gimana-gimana,
lebih ke arah besarnya harapan yang gw jalanin sama dia.
Kalo selama ini pacaran gw bentuknya lebih ke "ngejalanin" aja,
nah yang sekarang tahapnya lebih ke menatap masa depan.
Azeek yee..
Jadi gini,
ah gimana ya ngejelasinnya,
intinya mah i'll do my best for this relationship.
Yep,
i love her, just like i'll die soon.
Ga usahlah ngasih contoh gimana,
atau apa aja yang gw maksud soal "i'll do my best",
kesannya kan bakal narsis dan minta dihargain banget,
tapi kan yang penting,
menurut gw ya,
gw ngelakuin yang tebaik lah buat pacar gw yang menggemaskan itu. *nonjok tembok*
Ini juga berlaku sama beberapa orang lain yang gw sayang,
just like my mom and dad,
some of my best friend out there,
i'm trying to give my best shot,
ga pernah pengen nge-cewain mereka,
gw juga nyoba berhenti mempersoalkan hal-hal kecil yang bakal ngerusak hubungan baik,
bosen ah kayak anak kecil yang labil,
what if i'll die soon? Or one of them?
Jangan sampe sih, cuma kan kita ga tau ya?
This is the awful truth,
ga enak diomongin,
cuma kan itu faktanya.
Yah, mungkin hampir setahun terakhir,
gw nyoba untuk ngelakuin hal yang terbaik buat siapapun yang gw sayang,
ga mau nyesel nantinya,
kita hidup cuma sekali kan,
sekali nyesel, iya kalo dapet kesempetan lain buat nebus,
kalo ga?
So? Grow up kiddo,
gw juga belum 100% berhasil,
50% juga belum kayaknya,
cuma gw udah mau nyoba lah se-enggaknya.
Love your lover, just like you'll die soon,
give your best shot.
NB : Ini ditulis abis nonton "Dear John" via dvd, setelah gw ga sempet nonton di bioskop. Tidak terinspirasi sama sekali sih nulis ginian sama tuh film, cuma lumayan lah bikin gw ga tau mau ngapain abis nonton, dan akhirnya nulis ginian.
and err.. kenapa bentuk tulisan gw kayak abg labil gini ya? Shoot!
Dear, diare...
Mengeluh adalah bentuk lain kemarahan,
sebuah bentuk ketidakpuasan,
yang disampaikan dalam bentuk cibiran.
Ah, persetan,
mana ada manusia yang tidak mengeluh?
Perbedannya, ada manusia yang menyampaikan keluhannya secara lantang,
ada yang mengeluh di dalam hati lalu membiarkannya membusuk.
Saya adalah orang yang jarang mengeluh,
tiap kali ingin mengutarakan keluhan,
otak saya yang kecil dan mulai mengkerut ini akan berfikir ratusan kali,
"untuk apa memaki hidup, toh saya belum mau mati"
Meski perjalanan hidup seperti rollercoaster yang tak pernah berhenti,
meliuk-liuk melalui jalur yang naik turun,
yang nantinya akan berhenti, saat kita akhirnya mati.
Kesulitan membuat kita dewasa,
dan kegagalan membuat kita terbiasa.
Tak ada unsur kejutan di dalam keberhasilan bila kita tak pernah gagal.
Tak ada orang yang berhasil di usaha pertama,
semuanya diawali kegagalan,
namun saat nanti akhirnya kita berhasil,
percayalah, kita akan mentertawai kegagalan.
Para motivator ulung cuma bisa bicara,
mendesain hidup seperti merancang gambaran anak TK,
hidup tidak semudah yang kita bayangkan,
tak sesederhana otak udang,
jutaan kesempatan melesat setiap harinya,
milyaran ide melayang membentuk udara,
namun berapa dari kita yang mampu menjaringnya?
Kita diberikan motivasi,
menarik ulur jati diri,
katakan, siapa yang butuh harga diri,
jika akhir dari hidup hanyalah mati?
Menurut saya,
kita semua hanyalah debu tanah,
mengapa saling menyakiti?
Melihat segalanya dari harta dan kedudukan,
dari keberhasilan material,
padahal kita sama-sama diciptakan dari debu dan tanah,
mengapa kalian bermegah diri?
Saya menulis mimpi di kertas kosong,
menulis nama-nama yang saya anggap berjasa,
menulis siapa saja yang berada di belakang saya,
menulis orang-orang yang menganggap keberadaan saya.
Jika kalian di atas,
ingatlah kami yang berada di bawah,
membawa tombak dan perisai,
mencari waktu kalian lengah,
dan menusuk tepat di jantung kalian yang lemah.
Dear diare, saya lemas.
sebuah bentuk ketidakpuasan,
yang disampaikan dalam bentuk cibiran.
Ah, persetan,
mana ada manusia yang tidak mengeluh?
Perbedannya, ada manusia yang menyampaikan keluhannya secara lantang,
ada yang mengeluh di dalam hati lalu membiarkannya membusuk.
Saya adalah orang yang jarang mengeluh,
tiap kali ingin mengutarakan keluhan,
otak saya yang kecil dan mulai mengkerut ini akan berfikir ratusan kali,
"untuk apa memaki hidup, toh saya belum mau mati"
Meski perjalanan hidup seperti rollercoaster yang tak pernah berhenti,
meliuk-liuk melalui jalur yang naik turun,
yang nantinya akan berhenti, saat kita akhirnya mati.
Kesulitan membuat kita dewasa,
dan kegagalan membuat kita terbiasa.
Tak ada unsur kejutan di dalam keberhasilan bila kita tak pernah gagal.
Tak ada orang yang berhasil di usaha pertama,
semuanya diawali kegagalan,
namun saat nanti akhirnya kita berhasil,
percayalah, kita akan mentertawai kegagalan.
Para motivator ulung cuma bisa bicara,
mendesain hidup seperti merancang gambaran anak TK,
hidup tidak semudah yang kita bayangkan,
tak sesederhana otak udang,
jutaan kesempatan melesat setiap harinya,
milyaran ide melayang membentuk udara,
namun berapa dari kita yang mampu menjaringnya?
Kita diberikan motivasi,
menarik ulur jati diri,
katakan, siapa yang butuh harga diri,
jika akhir dari hidup hanyalah mati?
Menurut saya,
kita semua hanyalah debu tanah,
mengapa saling menyakiti?
Melihat segalanya dari harta dan kedudukan,
dari keberhasilan material,
padahal kita sama-sama diciptakan dari debu dan tanah,
mengapa kalian bermegah diri?
Saya menulis mimpi di kertas kosong,
menulis nama-nama yang saya anggap berjasa,
menulis siapa saja yang berada di belakang saya,
menulis orang-orang yang menganggap keberadaan saya.
Jika kalian di atas,
ingatlah kami yang berada di bawah,
membawa tombak dan perisai,
mencari waktu kalian lengah,
dan menusuk tepat di jantung kalian yang lemah.
Dear diare, saya lemas.
Friday, July 23, 2010
Ego
Pengertian adalah kemegahan,
tak semua mendapatkan hikmat untuk membuka lapang halaman,
tak mungkin aura negatif pergi dengan lancang,
dan membiarkan impuls positif menari dengan tenang.
Pernahkah kalian begitu mencintai seseorang,
sehingga sulit sekali bernafas saat dia tak di dekatmu,
seakan rongga hidungmu bersambung pada paru-parunya,
seakan darahmu mengalir ke jantungnya.
Ia bisa berjalan sendiri,
menari,
bernyanyi,
saat anda terbaring tak berdaya,
hancur tak terkira.
Karena ia menyimpanmu di dasar hatinya,
sedangkan luka di wajahmu menganga.
Lihatlah ia tersenyum,
dan jantungmu berhenti berdetak.
Lihatlah ia tertawa,
dan ketakutanmu memeluk jiwa.
Perasaan bukanlah pemaksaan kehendak,
tapi pengorbanan tanpa akhir, tanpa pamrih.
Perasaan tak pernah membiarkan diri sendiri tersenyum,
tapi menangis dengan darah demi memunculkan gelak tawa.
Ingat aku di setiap satu detik dalam satu jam yang kau habiskan,
ingat aku.
Ia ada disana,
duduk dan tampak biasa saja,
menyembunyikan rasa rindu tergeletak tak berdaya.
Ego.
tak semua mendapatkan hikmat untuk membuka lapang halaman,
tak mungkin aura negatif pergi dengan lancang,
dan membiarkan impuls positif menari dengan tenang.
Pernahkah kalian begitu mencintai seseorang,
sehingga sulit sekali bernafas saat dia tak di dekatmu,
seakan rongga hidungmu bersambung pada paru-parunya,
seakan darahmu mengalir ke jantungnya.
Ia bisa berjalan sendiri,
menari,
bernyanyi,
saat anda terbaring tak berdaya,
hancur tak terkira.
Karena ia menyimpanmu di dasar hatinya,
sedangkan luka di wajahmu menganga.
Lihatlah ia tersenyum,
dan jantungmu berhenti berdetak.
Lihatlah ia tertawa,
dan ketakutanmu memeluk jiwa.
Perasaan bukanlah pemaksaan kehendak,
tapi pengorbanan tanpa akhir, tanpa pamrih.
Perasaan tak pernah membiarkan diri sendiri tersenyum,
tapi menangis dengan darah demi memunculkan gelak tawa.
Ingat aku di setiap satu detik dalam satu jam yang kau habiskan,
ingat aku.
Ia ada disana,
duduk dan tampak biasa saja,
menyembunyikan rasa rindu tergeletak tak berdaya.
Ego.
Thursday, July 15, 2010
Between Spaceship and Turbulence
Do you feel light shine in the darkest of nights, or does the pain stack up from the skin to the core
Do you find everytime that you cover your eyes to keep the tears held up, dripping down even more
Let the words come down, every line in sight and put the young flames up and make you cower and cower
If the sun breaks in instead of sparkin the sight, I promise you I’ll be here to let the light in
Do you find everytime that you cover your eyes to keep the tears held up, dripping down even more
Let the words come down, every line in sight and put the young flames up and make you cower and cower
If the sun breaks in instead of sparkin the sight, I promise you I’ll be here to let the light in
Seperti hari yang biasa,
dan dimalam yang biasa pula,
Saya duduk diam menonton televisi,
dan sesekali memposting lelucon dan guyonan,
soal apapun yang ada di di televisi saat itu,
melalui situs jejaring sosial bernama twitter.
Saya memang aktif sekali di situ,
twitter adalah bagian diri saya yang lain,
yang menghubungkan dunia maya dengan kepribadian saya yang lain.
enough said,
sebenarnya mah saya lakukan semua itu cuma karena bosan,
tak ada yang saya kerjakan,
bosan pol.
Mengingat saya bisa dibilang memang tak melakukan apa-apa selain itu,
berselancar di dunia maya,
merasa bosan hingga tak tahu lagi mau browsing apa.
Hingga saya sadar,
saya kehilangan hal-hal menyenangkan dan sekaligus menyebalkan,
bernama rutinitas.
Yep,
ini bukan soal tak miliki pekerjaan,
tapi saya memang tak punya lagi rutinitas,
dulu,
saya terbiasa bercengkrama di Nadot,
warnet milik teman saya,
mau ada yang nongkrong atau tidak,
saya pasti kesana setiap malam.
sekedar bengong, atau ngobrol ga jelas,
entah sama yang jaga warnet, atau sama beberapa customer warnet,
yang kebetulan saya kenal.
Di masa kuliah,
rutinitas saya selain,
tentu saja nongkrong di Nadot dan nge-band,
ya ngumpul sama segelintir teman kuliah,
entah cuma di rumah salah satu temen,
di kosan,
di mall,
entahlah,
yang penting ngumpul.
rutinitas itu yang saya tak miliki sekarang,
dan tebak apa,
bosan nya minta ampun.
Teman saya terbatas di dunia maya,
komunitas pecinta sepatu,
ditambah dengan padatnya jadwal pekerjaan dan kuliah
para personil band saya,
makin parahlah hilangnya rutinitas saya.
Terbesit keinginan untuk segera memiliki pekerjaan,
apapun itu dan melupakan mimpi-mimpi besar yang saya simpan,
namun apa daya,
saya masih disini, menulis semua ini,
dan merasakan hal yang saya tulis diatas.
Sampai jumpa di terwujudnya mimpi-mimpi saya.
NB :Saya menulis ini ditemani 3 album Angels and Airwaves.
Monday, June 21, 2010
Impuls Negatif
Mengurung diri di kamar adalah guilty-pleasure terbaik,
karena tak ada yang pernah benar-benar mengerti kita di luar sana,
di balik pintu,
mereka tak ingin melihat seseorang yang gundah dan hancur,
dunia tak menyukai manusia lemah,
mereka ingin orang yang bersemangat,
ceria dan menyenangkan.
Dunia ingin melihat wanita cantik menari seakan tiada hari esok,
dengan kemewahan busana yang haus perhatian dikelilingi para musang pemuja lekuk tubuh yang berpikiran kotor.
Dunia ingin melihat pria mapan berhasil yang terlihat saleh,
dengan senyum memikat dan tingkah laku sopan,
yang mengikat kucing-kucing betina simpanannya secara rapih di apartemen mewah.
Harta dan hura-hura tak pernah dibawa mati,
namun mereka berani mati demi semua itu.
Haruskah saya berusaha keras menjadi seperti itu?
menyimpan air mata sebagai fashion tahun lalu yang sudah tidak update,
menganggap ragu-ragu hanyalah propaganda iblis,
dan rasa takut adalah negatifitas yang berlarut.
Banyak orang mengaku frustasi,
meski dilengkapi dengan kelimpahan,
dan memiliki pekerjaan.
Bagaimana dengan orang yang tak punya kelimpahan,
dan tak punya pekerjaan,
bisa bayangkan betapa frustasinya mereka?
Coba saya uraikan,
jantung saya berdetak,
mata saya melihat,
nadi saya berdenyut,
lidah saya merasa,
namun saya tak merasa hidup.
Tak ada yang mendengarkan saya,
karena saya pecundang.
Tak ada yang mencerna ucapan saya,
karena saya pun gagal.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang selalu kalah,
pecundang adalah orang yang melakukan cara yang menjijikan untuk menang.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang gagal,
pecundang adalah sang pemenang yang menghancurkan dirinya demi eksistensi dan publikasi berlebihan.
Saya berbaring dengan tekanan,
menyelam bersama hentakan dan teriakan dari orang yang mungkin merasakan hal yang sama,
setidaknya dia menuliskan dan menyanyikan lagu tentang keputus-asaan,
bisalah saya anggap sebagai teman.
Disaat itulah saya bisa berteriak,
disaat itulah saya berani berbicara,
melalui kelambu lirik lagu,
dan potongan-potongan kata-kata yang menyakitkan.
Tak ada yang tahu saat saya stress berat,
bahkan Ibu atau pacar saya pun tidak,
saya akan menyimpan jiwa saya yang robek,
di bawah tumpukan baju kotor,
di kolong kulkas hingga berkarat.
Tak ada yang tahu saat saya frustasi,
bahkan ayah atau sahabat saya pun tidak,
saya akan mengubur otak saya yang beku,
di sudut taman kota, tempat anjing mengubur kotoran nya,
di pinggir jalanan bebas hambatan.
Saya berdoa selagi terbakar,
dan berharap Tuhan menghirup asapnya,
sehingga Dia menoleh dan mengingat janji-Nya,
bahwa Dia tak akan meninggalkan saya sendirian.
Jika satu-satunya jalan menjadi disukai,
adalah menjadi bagian dari kalian,
tak ada salahnya menjadi yang dibenci.
karena tak ada yang pernah benar-benar mengerti kita di luar sana,
di balik pintu,
mereka tak ingin melihat seseorang yang gundah dan hancur,
dunia tak menyukai manusia lemah,
mereka ingin orang yang bersemangat,
ceria dan menyenangkan.
Dunia ingin melihat wanita cantik menari seakan tiada hari esok,
dengan kemewahan busana yang haus perhatian dikelilingi para musang pemuja lekuk tubuh yang berpikiran kotor.
Dunia ingin melihat pria mapan berhasil yang terlihat saleh,
dengan senyum memikat dan tingkah laku sopan,
yang mengikat kucing-kucing betina simpanannya secara rapih di apartemen mewah.
Harta dan hura-hura tak pernah dibawa mati,
namun mereka berani mati demi semua itu.
Haruskah saya berusaha keras menjadi seperti itu?
menyimpan air mata sebagai fashion tahun lalu yang sudah tidak update,
menganggap ragu-ragu hanyalah propaganda iblis,
dan rasa takut adalah negatifitas yang berlarut.
Banyak orang mengaku frustasi,
meski dilengkapi dengan kelimpahan,
dan memiliki pekerjaan.
Bagaimana dengan orang yang tak punya kelimpahan,
dan tak punya pekerjaan,
bisa bayangkan betapa frustasinya mereka?
Coba saya uraikan,
jantung saya berdetak,
mata saya melihat,
nadi saya berdenyut,
lidah saya merasa,
namun saya tak merasa hidup.
Tak ada yang mendengarkan saya,
karena saya pecundang.
Tak ada yang mencerna ucapan saya,
karena saya pun gagal.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang selalu kalah,
pecundang adalah orang yang melakukan cara yang menjijikan untuk menang.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang gagal,
pecundang adalah sang pemenang yang menghancurkan dirinya demi eksistensi dan publikasi berlebihan.
Saya berbaring dengan tekanan,
menyelam bersama hentakan dan teriakan dari orang yang mungkin merasakan hal yang sama,
setidaknya dia menuliskan dan menyanyikan lagu tentang keputus-asaan,
bisalah saya anggap sebagai teman.
Disaat itulah saya bisa berteriak,
disaat itulah saya berani berbicara,
melalui kelambu lirik lagu,
dan potongan-potongan kata-kata yang menyakitkan.
Tak ada yang tahu saat saya stress berat,
bahkan Ibu atau pacar saya pun tidak,
saya akan menyimpan jiwa saya yang robek,
di bawah tumpukan baju kotor,
di kolong kulkas hingga berkarat.
Tak ada yang tahu saat saya frustasi,
bahkan ayah atau sahabat saya pun tidak,
saya akan mengubur otak saya yang beku,
di sudut taman kota, tempat anjing mengubur kotoran nya,
di pinggir jalanan bebas hambatan.
Saya berdoa selagi terbakar,
dan berharap Tuhan menghirup asapnya,
sehingga Dia menoleh dan mengingat janji-Nya,
bahwa Dia tak akan meninggalkan saya sendirian.
Jika satu-satunya jalan menjadi disukai,
adalah menjadi bagian dari kalian,
tak ada salahnya menjadi yang dibenci.
Thursday, June 17, 2010
Circa Survive - Blue Sky Noise

Blue Sky Noise adalah album studio ketiga milik Circa Survive,
dengan ciri fisik yang kurang lebih sama,
dengan dua pendahulunya,
Juturna dan On Letting Go,
yang dihiasi artwork menganggumkan buatan Anthony Green(Vokalis/gitaris/pianis/penulis lagu).
Tapi soal konten,
tunggu dulu,
jangan asal menjudge, dibandingkan artworknya,
yang terlihat rumit dan penuh filosofi,
Blue Sky Noise, malah menghadirkan kesan sederhana dan easy listening,
meskipun barisan not rapat dan melengkung milik Circa Survive,
terdengar jelas di telinga.
Yang menyenangkan adalah,
nada yang dipilih Green untuk dinyanyikan,
jauh lebih catchy dan sing-able dibanding dua album sebelumnya.
Bahkan bila ditilik lebih jauh,
konsep nada Blue Sky Noise lebih mirip album solo Green,
Avalon,
yang sempat di-remix Colin Frangicetto (gitaris/pianis), sang band mate di Circa Suvive.
Dengan produser David Bottrill dan mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Atlantic Records, meninggalkan Equal Vision.
Dengan personil lama, selain Green, dan Colin, Brendan, Nick dan Steve siap menggila kembali.
Single pertama yang dipilih adalah Get Out adalah lagu yang seringkali menghiasi youtube untuk memperlihatkan aksi panggung Circa Survive. Bersemangat dan meledakan crowd. Yang segar dari lagu ini adalah ketukan gantung dan kombinasi gitar-drum yang menabrakan genre.
Geeett Ouuuttt!! Geeeettt Ouuuttttt!!! Orgasmic.
Imaginary Enemy, adalah single berikutnya.
track nomor 5 di Blue Sky Noise,
yang kental unsur Psychedelic emo,
dengan lirik berbau psycho-sarkasme, khas Green.
Sindiran terhadap kegilaan dan halusinasi diri sendiri.
Tapi seperti yang saya bilang, nada yang dipilih Green kali ini,
jauh lebih enak didengar di telinga,
dengan reff tipikal emo, catchy dan tak ada masalah untuk diulang berkali-kali. Dilengkapi lead yang tidak membuat muntah, namun tetap klimaks.
Sebenarnya, ada begitu banyak pilihan lagu kelas tinggi yang ada di Blue Sky Noise,
yang tetap catchy.
Kombinasi not miring milik Strange Terrain yang membuka Blue Sky Noise, akan sangat menyegarkan mengingat keseragaman chord milik band emo kebanyakan, backing vokal a la pop, dan dengan lirik yang mencakup kinerja dan konsep kebersamaan Circa Survive sebagai band yang mendobrak kebiasaan.
"I never learned how to get back to the place where all our confidence kept us behind a shield" tegas Green mendekati akhir lagu.
Lagu ini juga
mencakup emosi naik turun yang diatur sedemikian rupa, cerdas, tak beraturan yang menyenangkan.
Glass Arrows menjadi amunisi berbahan dasar lirik berbau keputus-asaan bikinan Green,
"Disappeared from public places never seen again, How long has it been?" yang dihujani duet petikan gitar Colin dan Brendan.
Kurung diri di kamar, dan ikat pergelangan tangan kalian yang baru saja kalian sayat dengan benda tajam.
lagu ini dihiasi sebuah aksi sing-along yang bagian bridge,
ditutup oleh bombardir drum yang mengisi dahaga akan energi yang harusnya memporak-porandakan rumah kalian.
I Felt Free adalah track kesukaan saya,
sederhana, pendek, tapi mengena, sangat popish,
tapi berkelas dengan lirik puitis Green yang penuh kiasan,
"I’ll never make you stay
because tomorrow always happens yesterday"
sekilas seperti lagu cinta yang membebaskan eksplorasi,
melepaskan imajinasi,
menemukan kembali diri kita di dalam pelukan orang tercinta.
"I will learn to live again for now I’m breaking
all the things I couldn't mend without escaping
I will learn to love again..."
Through The Dessert Alone dimulai dengan intro gelap yang diulang-ulang,
mengantar kita ke ruangan kedap udara berpasir,
Green bercerita soal kesendirian dan ketiadaan hari esok.
"What was stolen from us now is forever lost"
Gelap, indah, berdebu dan kematian.
Menjelang Frozen Creek, matikan mesin mobil kalian,
rebahkan sejenak tubuh yang letih dan nikmati keadaan sekeliling sebelum meledakan pom bensin terdekat dan melarikan diri bersama kekasih tercinta ke Alaska.
"On top the frozen creek, I would love to take you there"
Lagu yang indah untuk dua pasangan yang akan segera menikah di usia muda dan berusaha tidak menyesali saat harus kabur dari rumah.
Fever Dreams seperti mendengar Green mencaci maki diawal lagu dengan balutan gitar akustik yang digesek tanpa ampun. Permainan emosi disini sangat psychedelic, dengan ketukan drum dan bass yang unik.
Spirit of The Stairwell adalah pembuka gerbang menuju ketengangan batin yang akan dihibahkan oleh Circa Survive melalui sesi akustik di akhir Blue Sky Noise. Spirit of The Stairwell sendiri malah mirip lagu-lagu di album solo Green, dengan isian slide sepanjang lagu mengiringi gitar akustik dan string section yang tipis.
Energi kembali dihembuskan dengan tipikal lagu Circa Survive yang panjang dan berliku, The Longest Mile membawa suasana album On Letting Go, rumit dengan daya ledak yang dipendam dan dikeluarkan sedikit demi sedikit. "NEVEEEERRRRR..." cuma itu yang saya ingat dari lagu ini.
Compendium adalah lagu instrumental yang membawa nuansa mistik,
aneh, setingkat di bawah Mars Volta,
kegaiban sound yang masih waras dan wajar dicerna telinga.
Album ini ditutup dengan Dyed In The Wool, sebelum akhirnya kita memasuki sesi akustik Get Out, I Felt Free, Dyed In The Wool, dan Every Way - yang sepertinya bonus track-
Dyed In the Wool versi band hanya lebih penuh dan berwarna,
padahal lirik dan bentuk lagu ini sangat gelap dan menyedihkan.
Benar kata orang, Last but not least,
Dyed In the Wool berhasil menancapkan bentuk psychedelic yang rumit,
dengan nada catchy "I know I know", yang anehnya, anthemic.
Green memasukan semua kesimpulan di lagu ini,
dengan inti cerita bahwa kita semua pasti akan kecewa apabila berharap dengan orang lain, percayalah pada diri sendiri.
Blue Sky Noise adalah bentuk noise sebenarnya untuk musik
seragam jaman sekarang.
Muncul dalam bentuk rumit yang sederhana,
emo namun dengan air mata yang tidak sampai keluar,
karena kekecewaan yang amat dalam,
tidak berlebihan.
I vote Blue Sky Noise as one of the greatest release,
this year. All Hail Circa Survive!
Thursday, June 10, 2010
Review : The Schubert David Kennedy Studio Project (Fall 2008)
Menyenangkan membuat review,
apalagi untuk sesuatu yang saya suka. :)
diminta untuk mewakili regional Jakarta,
untuk menulis bagi Griffon's Army,
komunitas pecinta Macbeth di Indonesia,
dan inilah review pertama saya,
soal Macbeth, The DK :) enjoy!
Review oleh: Michael Kienzy
Macbeth bekerja sama dengan David untuk membuat sepatu yang sesuai dengan gaya dan kebutuhannya, sepatu yang bisa dipakai di atas panggung atau sepeda motornya.
David selalu terlibat dengan musik. Tinggal di San Diego(tempat berkembangnya hardcore punk scene) seakan sudah menjadi takdirnya untuk bermain gitar di salah satu
band hardcore terbaik di San Diego, Over My Dead Body. David kemudian bekerja sama dengan teman lama, Tom DeLonge, untuk membentuk Box Car Racer.
Setelah Box Car Racer vakum dan akhirnya bubar, David melanjutkan untuk membentuk Hazen St dengan anggota Madball, H2O, Cro-Mags dan New Found Glory.
Setelah rekaman album dengan Hazen St pada tahun 2004, David kembali bergabung dengan
DeLonge untuk menciptakan Angels and Airwaves (AVA) di tahun 2005.
Schubert adalah model sepatu Macbeth hi-top yang low profile, yang merupakan pendahulu versi pendeknya, yaitu The Matthew yang keluar di tahun 2009.
Macbeth Schubert David Kennedy Studio Project, atau lebih dikenal dengan sebutan "The DK", rilisnya juga dibarengi oleh kemunculan T-shirt Studio Project milik David Kennedy, yang didesain dengan artwork yang dikombinasikan dengan tahun kelahiran David (1976), dan inisial "The DK" di belakang T-shirt.
"The DK" merupakan jenis sepatu Studio Project dengan harga termahal saat itu, yaitu IDR 965.000,-.
Sekilas sneakers ini tampak sederhana dengan line warna klasik hitam dan putih, yang terdiri dari material kombinasi Nubuck dan Canvas hitam, dengan outsole putih.
"The DK" diberi sedikit sentuhan emas, yaitu pada logo Macbeth di bagian lidah luar sepatu, lubang tali sepatu, logo pennant di bagian atas tumit, serta logo Macbeth yang ada sisi samping luar sepatu. Kesan yg didapat adalah sederhana dan mewah sekaligus.
Pada bagian dalam sepatu, kita akan menemukan artwork bergambar motor balap,
yang menunjukan hobi David Kennedy menguji adrenaline dengan motornya di jalanan,
ataupun di sirkuit.
Dengan sentuhan latar oranye memenuhi shoe lining, dan insole yang jelas kontras dengan warna luar sepatu.
"The DK" menjanjikan tingkat kenyamanan yang tinggi, meskipun berbentuk hi-top sneakers, kelenturan di sisi ankle memudahkan untuk bergerak, serta busa yang tebal namun empuk di dalam sepatu, -baik di shoe lining, maupun di bagian lidah-
menjamin rasa nyaman yg mampu diberikan pada kaki pemakainya.
Bagi kalian yang menyukai tampilan yang low-profile, tapi tetap mengedepankan kenyamanan dan gengsi tinggi, serta membawa kultur California saat membelah jalanan dengan sepeda motor berkecepatan tinggi, di cuaca yang sepanas intensitas musiknya, dan tentu saja, semangat juang straight edge hardcore yang melatar belakangi sisi lain hidup David Kennedy, maka "The DK" adalah Macbeth Studio Project yang wajib anda miliki.
Diambil dari Blog Resmi Griffon's Army
apalagi untuk sesuatu yang saya suka. :)
diminta untuk mewakili regional Jakarta,
untuk menulis bagi Griffon's Army,
komunitas pecinta Macbeth di Indonesia,
dan inilah review pertama saya,
soal Macbeth, The DK :) enjoy!
Review oleh: Michael Kienzy
Macbeth bekerja sama dengan David untuk membuat sepatu yang sesuai dengan gaya dan kebutuhannya, sepatu yang bisa dipakai di atas panggung atau sepeda motornya.
David selalu terlibat dengan musik. Tinggal di San Diego(tempat berkembangnya hardcore punk scene) seakan sudah menjadi takdirnya untuk bermain gitar di salah satu
band hardcore terbaik di San Diego, Over My Dead Body. David kemudian bekerja sama dengan teman lama, Tom DeLonge, untuk membentuk Box Car Racer.
Setelah Box Car Racer vakum dan akhirnya bubar, David melanjutkan untuk membentuk Hazen St dengan anggota Madball, H2O, Cro-Mags dan New Found Glory.
Setelah rekaman album dengan Hazen St pada tahun 2004, David kembali bergabung dengan
DeLonge untuk menciptakan Angels and Airwaves (AVA) di tahun 2005.
Schubert adalah model sepatu Macbeth hi-top yang low profile, yang merupakan pendahulu versi pendeknya, yaitu The Matthew yang keluar di tahun 2009.
Macbeth Schubert David Kennedy Studio Project, atau lebih dikenal dengan sebutan "The DK", rilisnya juga dibarengi oleh kemunculan T-shirt Studio Project milik David Kennedy, yang didesain dengan artwork yang dikombinasikan dengan tahun kelahiran David (1976), dan inisial "The DK" di belakang T-shirt.
"The DK" merupakan jenis sepatu Studio Project dengan harga termahal saat itu, yaitu IDR 965.000,-.
Sekilas sneakers ini tampak sederhana dengan line warna klasik hitam dan putih, yang terdiri dari material kombinasi Nubuck dan Canvas hitam, dengan outsole putih.
"The DK" diberi sedikit sentuhan emas, yaitu pada logo Macbeth di bagian lidah luar sepatu, lubang tali sepatu, logo pennant di bagian atas tumit, serta logo Macbeth yang ada sisi samping luar sepatu. Kesan yg didapat adalah sederhana dan mewah sekaligus.
Pada bagian dalam sepatu, kita akan menemukan artwork bergambar motor balap,
yang menunjukan hobi David Kennedy menguji adrenaline dengan motornya di jalanan,
ataupun di sirkuit.
Dengan sentuhan latar oranye memenuhi shoe lining, dan insole yang jelas kontras dengan warna luar sepatu.
"The DK" menjanjikan tingkat kenyamanan yang tinggi, meskipun berbentuk hi-top sneakers, kelenturan di sisi ankle memudahkan untuk bergerak, serta busa yang tebal namun empuk di dalam sepatu, -baik di shoe lining, maupun di bagian lidah-
menjamin rasa nyaman yg mampu diberikan pada kaki pemakainya.
Bagi kalian yang menyukai tampilan yang low-profile, tapi tetap mengedepankan kenyamanan dan gengsi tinggi, serta membawa kultur California saat membelah jalanan dengan sepeda motor berkecepatan tinggi, di cuaca yang sepanas intensitas musiknya, dan tentu saja, semangat juang straight edge hardcore yang melatar belakangi sisi lain hidup David Kennedy, maka "The DK" adalah Macbeth Studio Project yang wajib anda miliki.
Diambil dari Blog Resmi Griffon's Army
Tuesday, June 1, 2010
Kita Bukan Manusia, Kita Hanyalah Mesin part II
Kembali ke depan layar televisi,
dengan langkah lunglai,
entah karena kurang tidur,
atau karena beberapa tes wawancara,
demi mendapatkan beberapa pekerjaan impian saya,
tak semulus yang saya bayangkan.
Benar kata orang dulu,
hidup itu baru benar-benar terasa,
saat kita mulai mencari kerja.
Ini sudah lebih dari lima bulan saya menganggur,
sebenarnya tak total menganggur,
saya masih mengurus pemasaran web,
mempersiapkan clothing saya yang mandek akibat masih berantakan di sisi manajemen,
dan berbagai hal lain,
yang membuat saya sibuk tak tentu arah.
Tapi tentu saja,
apabila menganggur itu berarti tak memiliki pekerjaan tetap,
maka,
iya,
saya memang pengangguran,
sama seperti nasib jutaan sarjana lain di Indonesia.
Sarjana?
Menganggur?
Dari jaman Ayah saya masih bermain bola telanjang dada di tepi sungai,
hal ini sudah lazim,
Sarjana menganggur.
Meminjam dialog milik film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)",
Pendidikan penting kalau kita punya koneksi
Miris.
Mengingat mengenyam perbekalan selama duduk di bangku sekolah,
sebagai pondasi dasar,
dan mulai menuju satu titik,
dimana pemilihan jurusan di universitas,
itu menghabiskan waktu,
energi,
tenaga,
dan tentu saja,
biaya,
hal terakhir ini seringkali menjadi sebuah batas pemisah,
antara kesempatan dan kemampuan.
Otak anda mampu kuliah,
namun anda tak miliki kesempatan,
karena ketidakmampuan dalam membiayai.
Miris.
Padahal,
tak ada kepastian dalam hidup,
intinya begini,
bisa kuliah belum tentu bisa kerja,
tak kuliah belum tentu tak bisa kerja.
Ada banyak contoh sukses,
ada lebih banyak lagi contoh gagal,
lalu apa yang membedakan?
Koneksi?
Saya letih membicarakan hal ini,
tapi ini seperti "ugly truth",
tanpa koneksi,
mau dibawa kemana karir kita?
sebuah pembuka jaringan sekaligus jalan lurus,
menuju sebuah kepastian posisi.
Membangun koneksi,
sama saja menabung buat hari depan.
Kasihan ya sebenarnya,
mengingat kemampuan seseorang tak lagi diukur,
kaum mediocre,
tak akan dilirik,
mengingat kelebihan yang dimilikinya,
cenderung "biasa saja",
tanpa koneksi berlimpah,
niscaya,
jalan yang dihadapi akan dua kali lebih terjal,
menembus jajaran barikade bernama lingkaran koneksifitas.
Atas nama hak asazi manusia,
inilah pembentukan mesin sebenarnya,
melahirkan sistem baku,
tak kenal maka tak sayang,
tak kenal sama atasan,
maka tak ada alasan untuk kalian disayang.
Majulah dengan prinsip,
membongkar pertahanan gerendel dengan kemampuan biasa,
namun dengan semangat luar biasa,
cuma ada dua pilihan,
sukses dengan menangis darah,
atauh mati dan menyerah kalah.
just like 50 cents said,
"Get Rich or Die Tryin'"
Sudah saya bilang,
Kita bukan manusia,
kita hanyalah mesin.
dengan langkah lunglai,
entah karena kurang tidur,
atau karena beberapa tes wawancara,
demi mendapatkan beberapa pekerjaan impian saya,
tak semulus yang saya bayangkan.
Benar kata orang dulu,
hidup itu baru benar-benar terasa,
saat kita mulai mencari kerja.
Ini sudah lebih dari lima bulan saya menganggur,
sebenarnya tak total menganggur,
saya masih mengurus pemasaran web,
mempersiapkan clothing saya yang mandek akibat masih berantakan di sisi manajemen,
dan berbagai hal lain,
yang membuat saya sibuk tak tentu arah.
Tapi tentu saja,
apabila menganggur itu berarti tak memiliki pekerjaan tetap,
maka,
iya,
saya memang pengangguran,
sama seperti nasib jutaan sarjana lain di Indonesia.
Sarjana?
Menganggur?
Dari jaman Ayah saya masih bermain bola telanjang dada di tepi sungai,
hal ini sudah lazim,
Sarjana menganggur.
Meminjam dialog milik film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)",
Pendidikan penting kalau kita punya koneksi
Miris.
Mengingat mengenyam perbekalan selama duduk di bangku sekolah,
sebagai pondasi dasar,
dan mulai menuju satu titik,
dimana pemilihan jurusan di universitas,
itu menghabiskan waktu,
energi,
tenaga,
dan tentu saja,
biaya,
hal terakhir ini seringkali menjadi sebuah batas pemisah,
antara kesempatan dan kemampuan.
Otak anda mampu kuliah,
namun anda tak miliki kesempatan,
karena ketidakmampuan dalam membiayai.
Miris.
Padahal,
tak ada kepastian dalam hidup,
intinya begini,
bisa kuliah belum tentu bisa kerja,
tak kuliah belum tentu tak bisa kerja.
Ada banyak contoh sukses,
ada lebih banyak lagi contoh gagal,
lalu apa yang membedakan?
Koneksi?
Saya letih membicarakan hal ini,
tapi ini seperti "ugly truth",
tanpa koneksi,
mau dibawa kemana karir kita?
sebuah pembuka jaringan sekaligus jalan lurus,
menuju sebuah kepastian posisi.
Membangun koneksi,
sama saja menabung buat hari depan.
Kasihan ya sebenarnya,
mengingat kemampuan seseorang tak lagi diukur,
kaum mediocre,
tak akan dilirik,
mengingat kelebihan yang dimilikinya,
cenderung "biasa saja",
tanpa koneksi berlimpah,
niscaya,
jalan yang dihadapi akan dua kali lebih terjal,
menembus jajaran barikade bernama lingkaran koneksifitas.
Atas nama hak asazi manusia,
inilah pembentukan mesin sebenarnya,
melahirkan sistem baku,
tak kenal maka tak sayang,
tak kenal sama atasan,
maka tak ada alasan untuk kalian disayang.
Majulah dengan prinsip,
membongkar pertahanan gerendel dengan kemampuan biasa,
namun dengan semangat luar biasa,
cuma ada dua pilihan,
sukses dengan menangis darah,
atauh mati dan menyerah kalah.
just like 50 cents said,
"Get Rich or Die Tryin'"
Sudah saya bilang,
Kita bukan manusia,
kita hanyalah mesin.
Subscribe to:
Comments (Atom)



