P R O L O G
Semua berawal pada akhir tahun 2010,
sebuah gerakan kecil di sudut Jakarta melahirkan nama Alive and Aloud Co.;
Sebuah proyek nihilis kecil tanpa target.
Intinya hanya menghasilkan sesuatu.
Tanpa pengetahuan yang memadai,
tanpa ada satupun yang tahu bagaimana caranya melanjutkan proyek ini di masa depan.
Nama Alive and Aloud sendiri tidak memiliki arti spesifik, sengaja terinspirasi dari nama band Angels & Airwaves, namun kami mencoba menggantikan kata yang lebih bisa mewakili proyek ini.
“Alive” adalah kata pertama yang muncul, diambil dari salah satu frase lirik band tersebut diatas,
“Do you feel Alive?”, diikuti dengan potongan lirik lain-nya “Can you say it aloud?”. Sesederhana itu.
Saya masih ingat berbalas pesan singkat dengan rekan saya di masa itu,
dengan mimpi-mimpi yang luar biasa naif, dan tekanan luar biasa besar karena budget yang akan kami gunakan untuk memulai proyek ini adalah tabungan nikah milik teman saya itu.
Jangan tanya saya, waktu itu, jangankan uang, bensin sehari-hari saja saya bingung harus dapat darimana.
Awalnya, kami berusaha ikut arus, menghasilkan produk dengan ide-ide memadai, schedule yang tepat tanggap, hingga potongan harga di penghujung tahun, semua guna menghasilkan keuntungan yang dapat memberikan nafas panjang bagi proyek ini. Namun ini cenderung melelahkan.
Setelah berkolaborasi dengan sebuah pihak, rekan saya pun memutuskan untuk meninggalkan proyek ini di tengah jalan, lewat serangkaian kesalahpahaman, dengan segala pertimbangan, dan kami harus rela dan setuju bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Hal biasa untuk proyek sekecil ini, namun ternyata ini teralu besar.
Di tahun-tahun selanjutnya, Alive and Aloud berkembang menjadi proyek ambisius, menghasilkan satu-dua hal yang tidak memiliki ritme, tanpa aturan yang jelas dan cenderung hanya memuaskan ego dan idealism semata. Terkesan mati segan, hidup pun tak mau. Padahal, biasanya saya sudah merumuskan proyek dan rencana kami tiap awal tahun, tapi saya biasanya memang menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk memutuskan mana yang akan dirilis selanjutnya, sejak tanpa deadline, kebebasan ini memang membunuh kami perlahan.
Kadang saya merilis t-shirt dengan slogan menggebu-gebu, kadang hanya merilis buku catatan edisi terbatas. Bahkan kadang saya hanya menyebarkan frase-frase omong kosong. Keterbatasan kuantitas produk pun kadang tidak kami sengaja, seringkali karena modal kami tidak sebesar ego dan idealisme saya, alhasil, saya harus rela memotong anggaran di sana-sini demi akhirnya bisa merilis sesuatu,agar tidak disangka mati di tengah jalan.
Saya melihat Alive and Aloud adalah nama dari perwakilan ego kami, bukan semata-mata nama brand yang menghasilkan produk.
Saya percaya ada hal-hal yang lebih besar dibandingkan nilai penjualan yang besar.
Saya belajar dari nol, dari ketidakmampuan, dari ketidaktahuan, dari kegagalan yang satu hingga kesalahan yang lainnya. Sudah barang tentu, saya bukan ahli, saya hanya mau mencoba membuat sesuatu. Karena rasa penasaran tidak baik bagi kesehatan jantung, dan hidup cuma sekali. Jadi saya coba saja memproduksi semua yang saya mau.
Baik atau buruk, i don’t give a fuck.
Cheers,
Michael Kienzy