Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, October 27, 2010

Jika Hidup Itu Masuk akal, Siapa Yang Butuh Tuhan?

Kita dilatih memprediksi,
menghitung,
mengkalkulasikan,
menggunakan akal,
pikiran,
menyusun strategi.

Mereka berkata,
inilah sistemnya,
inilah siklusnya,
kata kunci kata kunci kata kunci,
persetan.

Jika tak ada yang berhasil melawan arus,
jika semua akan mati diterjang ombak,
siapa yang selamat dan memberitakan keajaiban?

Mengapa kita senantiasa dibentuk?
Mengapa kita senantiasa diatur?
Lakukan seperti ini,
jangan sampai kalian seperti itu.

Saya tak pernah percaya rumus sukses,
saya tak percaya ilmu pasti.

Akal manusia,
volume otak,
semuanya semu,
sia-sia.

Lupa kalau kita hanya debu tanah?
Lupa kalau tangan kita -semahal apapun sabun yang kita pakai-,
bau amis dosa masih menempel tak mau hilang?
Lupa kalau hidup dan nyawa ini pinjaman?

Kita terbiasa dijadikan mesin,
membaca buku manual bernama motivasi,
ini hidup,
itu mati.

Saya tak percaya jika hidup sekonyol ini,
tak adakah yang mau berdiri,
dan berkata apa yang sebenarnya ada dalam hati?

Atau kalian benar-benar percaya,
inilah hidup?
Dan itu benar-benar mati?

Uang bukan segalanya.
Terkutuk kalian.

Bukannya kalian yang mengeluh saat pekerjaan kalian tidak dibayar semestinya?
Bukankah angka nominal itu membuat mata kalian berbinar-binar?
Bukankah kalian berhenti mencaci maki saat kalian ditunjukkan harta berlimpah-limpah?

Mungkin uang bukan Tuhan kalian,
mungkin Dewa kalian bukan Mamon,
namun,
uang bukanlah yang kalian cari?

Berlututlah dalam kamar dengan pintu terkunci,
matikan lampu.
Diamlah hingga karakter kalian yang asli muncul.
Siapa kau?

Lepaskan peran dan topeng yang seharian menempel,
ini saatnya berhenti dan bertanya pada hati.

Masih berhargakah mimpi,
jika kita mengejarnya demi gengsi?
Masih indahkah khayalan,
jika kita menggapainya demi pujian?


Saya duduk dan membusuk disni,
berfikir tentang kegagalan demi kegagalan,
usaha demi usaha,
menemui titik terang sesaat,
lalu terjerembab dalam jalan buntu,
tersesat.

Sampai kapan kita mengandalkan darah?
Sampai kapan kita kuat berpeluh keringat?
sepuluh tahun? dua puluh?
Tiga puluh?

Padahal butuh sedetik untuk menghancurkan apa yang kita bangun dari puluhan tahun bekerja memeras tulang.

Sebenarnya apa guna kerja keras?
Usaha manusia?
Hidup itu tak pernah masuk akal,
skenario nya bukan kita penulisnya.

Jika hidup itu misteri,
mengapa membuang waktu memprediksi?

Jika hidup itu penuh rahasia,
lalu kalian merasa pintar saat menyingkapnya?

Buku adalah sampah otak,
mengeluarkan buah pikiran dan memori tak terpakai,
usang.

Jika pengalaman itu cukup berharga,
dan mimpi bisa diaplikasikan ke hidup semua orang,
maka tak ada orang yang menderita,
semua sukses,
semua bahagia.

Percayalah,
hidup tak pernah masuk akal.
Kalian akan takjub melihat apa Sang Maha Tak Terbatas.

Dia bernama TUHAN.

Dia membuat hal yang tak mungkin, menjadi mudah.

Dia membuat hal yang terlihat mudah,
menjadi tak mungkin terjadi.

Hidup, tidak dapat kau prediksi.

Bermimpilah,
berdoalah.

Lakukanlah,
berdoalah.

wujudkanlah,
berdoalah.

Menang atau kalah, hidup itu indah.

Terima kasih, TUHAN.

Tuesday, October 5, 2010

051010

Disaat semua orang tlah melihat masa depan,
aku masih disini, mengasihani diri,
ku memandang harapan, yang menjauh dan menghilang,
tak kutemukan jalan, tak kutemukan harapan.

Mata mereka merendahkan
bibir mereka mencela, mencibir.
Apapun yang aku lakukan,
mereka tetap akan trus menghina.

Demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
tak kan kubuang waktu,
kubuktikan kepadamu,
demi hidup yang baru,
demi semangat maju,
kukatakan kepadamu,
nyanyikan bersamaku.

Disaat semua teman tlah wujudkan harapan
aku masih disini, menunggu mimpi-mimpi
ku melihat dunia tlah berputar meninggalkan
tak kutemukan cara, tak kutemukan alasan.