Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Sunday, August 30, 2009

Dunia Itu Berputar,dan Tuhan Ternyata Insomnia


Kita pernah berbicara soal keberadaan diri,
tentang bagaimana kita berhasarat mengulang semua dari awal,
setiap saat kita gagal.

Perasaan bersalah dan menyesal adalah pembunuh yang berpengalaman,
mereka menjatuhkan mental,
menghancurkan logika dan keberadaan diri,
membuat kita masih bisa bernafas,
tanpa mengerti untuk apa kita bernafas.

Kita membicarakan ketidakmampuan,
ketidakberdayaan,
yang membuat kita memohon belas kasih,
dan menempatkan diri,
sebagai bagian dari roda yang sedang berada di bawah,
bagian gelap dari bulan.

Namun,
kita pasti pernah,
tersenyum hingga tidur,
bermimpi mengenai surga,
dan kedamaian mersapi hingga ke relung otak,
menghangatkan hati,
merasakan kenyaman tingkat tinggi..

Dunia berputar kawan,
cepat atau lambat,
teruslah berharap dan bermimpi,
Tuhan tak pernah tertidur,
Ia mendengar dan memahami,
apa yang terbaik,
dan kapan saatnya,
untuk menjawab setiap doa dan ucapan syukur...

Friday, August 28, 2009

Fuck The Future,The Whole Wide World is Mine!!


"I wish i could change the world,for you and i..."
Boxcar Racer - I Feel So

Saya seringkali menulis soal hal ini,
bagaimana besarnya keinginan saya memberikan segalanya untuk kalian,
melihat kalian di sudut ruangan,
meratapi hidup,
berteriak berdoa,
menangis berdarah,
memohon kepada Tuhan,
agar segalanya dipermudah,
di balik kesusahan dan kesulitan.

Saya iri melihat kalian.

Bibir kalian kering berdoa,
lidah kalian lancar bersyukur,
meskipun rasa frustasi memperkosa,
meskipun tekanan hidup membabi buta.

Kalian berdiri,
menantang pagi,
berjibaku di bawah terik siang,
menyanyi riang di gelap malam.

Andai membunuh bukanlah kejahatan,
saya kan membunuh semua orang,
mereka cuma binatang-binatang liar,
tak pantas berdiri berdampingan dengan kalian,
menilai kalian,
dan bercakap-cakap dengan kalian.

memmbelah kepala mereka yang kosong dengan pedang,
dan membuang jantung mereka ke jalan,
biaa mereka rasakan direndahkan,
biar mereka tahu apa artinya diperlakukan seperti binatang,
seperti yang selama ini mereka lakukan.

"I swore ourselves a better life..."
Angels & Airwaves - Rite of Spring


Thursday, August 27, 2009

Egoisme adalah Cara Terbaik Menyalahkan Genetika


Spontanitas.

Kita seringkali memiliki respon yang luar biasa terhadap sesuatu.
Tidak selalu positif,
karena yang keluar hanyalah bentuk lain dari kepanikan.
Cermin egoisme untuk berlari menyelamatkan diri sendiri.

Saya dikelilingi oleh manusia-manusia yang penuh kepanikan,
rasa frustasi yang membumbung tinggi,
dan itu menjangkiti banya orang terdekat saya.

Dimana mereka mencari keamanan bagi hati mereka sendiri,
berkata semena-mena,
mungkin mereka hanya panik,
respon yang secara tidak sadar mereka lakukan.

Melihat mereka mengkhianati puluhan tahun keringat darah,
hanya demi kesejahteraan hati secara sementara.

Sakit?
Perih?

Saya mulai mati rasa,
suara dering telepon yang dipenuhi kemunafikan,
yang keluar dari bibir mereka,
tampaknya akan jadi sebuah rutinitas pengiris hati,
dimana kebohongan duduk manis disana,
menyemburkan sampah otak.

Sebagai selimut dan terpal yang melindungi kelemahan,
berputar dalam penyangkalan diri,
dan bersembunyi di hentakan nada yang berteriak
"Saya sudah lelah... Biarkan saya disini sejenak..."

Bercerminlah,
kita semua egois,
namun tak ada salahnya membunuh diri sendiri,
daripada menusuk jantung orang yang kita cintai.

Berdirilah,
Bertahanlah disana,
di tempat seharusnya
berdirilah sebagai manusia,
lemah dan tak memiliki daya.
Bertahanlah.

Friday, August 21, 2009

untitled


Tak ada yang suka terbangun di tengah malam,
dan menyadari bahwa ia kesepian.
Itu mungkin yang kita semua hindari,
tak ada yang ingin merasakan hal seperti itu,.
Mungkin bukan masalah fisik,
atau keberadaan seseorang di samping kita,
lebih kepada pencarian akan seseorang yang berdiri,
tersenyum dengan hangat di ujung lorong hati kita yang gelap.

Saya tidak berlebihan soal itu,
buktinya pasti kita seringkali merasa kesepian luar biasa di tengah keramaian?

Saya benci hal itu,
teramat benci.

Meskipun saya terbiasa kesepian,
kedua orang tua saya terbiasa kerja hingga larut malam,
bahkan saya harus menghadapi kenyataan bahwa,
mereka tidak bekerja untuk memperbaiki kehidupan,
justru mereka hanya bertahan hidup.
Saya tidak berkelimpahan materi,
bahkan jauh dari itu,
sempat mengalami rasa minder di awal saya beranjak dewasa,
saya lebih sering duduk di kamar sendirian,
mendengarkan lagu-lagu Blink 182 hingga NOFX,
daripada nongkrong berjam-jam dengan teman-teman saya.
Jujurnya, saya memang tidak pernah punya banyak teman.

Seiring waktu berjalan,
saya mulai bisa mengalahkan ego,
saya sempat berulang kali berkata pada diri saya di depan cermin
"Mungkin gw miskin,mungkin gw ga punya apa-apa,tapi gw bukan pecundang....."
Miris.
Tapi itu yang saya hadapi,
perlahan-lahan saya mulai sok percaya diri,
saya bahkan mendongakkan kepala,
meluaskan pandangan,
melihat sisi hidup dari pandangan yang berbeda,
memiliki banyak teman,
tertawa,bercanda,
tapi saya tetap kesepian.

Saya iri melihat teman-teman saya,
duduk manis di mobil mewah hasil jerih payah orang tuanya,
memeluk gadis-gadis bermata jelalatan yang haus perhatian.
Damn, coba saya jadi salah satu dari mereka,
pasti saya akan lebih memilih wanita yang berhati lembut dan tidak genit,
yang akan saya cintai sampai mati,
begitu lamunan saya.

saya bercita-cita untuk tidak kesepian,
itulah kenapa saya senang berada di tengah ibu dan ayah saya,
mencintai mereka dengan ketololan dan kekurangan saya.

saya akan betah duduk berlama-lama hanya untuk diam memandangi kekasih saya,
hanya karena saya tahu,
itulah detik demi detik yang saya idam-idamkan,
dan saya tidak merasa kesepian.

saya akan tahan bercerita hingga bibir kering,
menahan lapar,
sedikit mengantuk,
di tengah-tengah celotehan teman-teman saya,
karena saya tahu,
inilah rasanya tidak kesepian.

Damn,
i wish i could be there every time,
in the middle of my parents,my lover,and my best friends,
forever,
and i'll be happy until the day i die...


Sunday, August 9, 2009

Saosin - Voices

Hey,saya lupa,
hampir lupa,
atau sangat lupa??
Masa blog saya tak pernah memuat lirik-lirik lagu yang saya suka??
yang menggambarkan perasaan hati saya??
GA GAUL kan???
hahaha..
Baik,saya mau mulai sekarang..
hwiwiwi..
Ini lagu-lagu yang lagi saya dengarkan kembali,
alias lagi suka aja skrg,
karena hampir selalu dan pasti,
selera saya mah gitu-gitu aja...
Ga jauh dari AVA,Blink 182,Boxcar Racer...

Tapi,
akhir-akhir ini,
lagi suka mendendangkan lagu ini nih,
Saosin - Voices,
pada dulu pas lagu ini nge-hype,
gw ga suka-suka amat..
Hahaha..
Baca dah liriknya...
Ga bagus-bagus amat sih,
tapi lagi suka aja...
(Ini mah biar keliatan aktif aja nge-blog!)
hahahahahahahahaha


Saosin - Voices

I miss the part, when we were moving forward now
On our way down
But maybe someday, I'll be something more than love
Just know I'll never tell

And when you're on your way down
[Through the clouds]
And you're waiting for your body's re-entry again

We speak in different voices
When fighting with the ones we've loved
We speak in different voices
Why can't we say what we're thinking of

I'm missing parts, now that you've told me everything
On our way down
And I was blessed and I've forgotten how to love
You said you'd never tell

And when you're on your way down
And you're waiting for your body's re-entry again

We speak in different voices
When fighting with the ones we've loved
We speak in different voices
Why can't we say what we're thinking of

Not even I will tell,

We speak in different voices
When fighting with the ones we've loved
We speak in different voices
We say these things to know they're real

We speak in different voices
When fighting with the ones we've loved
We speak in different voices
Why can't we say what we're thinking of

We speak in different voices
when fighting with the one's we've loved
We speak in different voices
We speak in different voices
To know why you're real

Real...
I'll never

J.E.N.U.H


Wew,saya bingung mau menulis apa disini,
terlalu banyak yang harus saya utarakan,
hingga saya tak tahu harus memulai dengan kata apa,
amburadul sekali,
mengalahkan keadaan kamar saya,
kalimat-kalimat itu pecah berhamburan,
bertabrakan dengan sensitifitas yang mulai merepotkan,
ingin sekali berteriak di telinga kalian,
memuntahkan kedalaman prasangka,
tentang semua negatifitas,
getar ketakutan,
rintih tangis dari selubung otak...
akh,harusnya juga kalian merasakan,
atau saya terlalu hebat menyembunyikannya,
lewat lelucon, rajukan, dan tawa saya?

Ingin sekali berbagi dengan kalian,
duduk manis,
mengeluarkan semua sampah-sampah yang tak mampu didaur-ulang oleh hati,
ingin sekali mendengar apa yang kalian pikirkan,
ingin sekali melihat ekspresi wajah kalian,
saat mendengar apa yang sebenarnya saya inginkan selama ini,
ketidakmampuan saya untuk terus melahirkan senyum di wajah kalian,
hati dan otak saya terus berjibaku memikirkan itu,
keadaan ini,harus selalu saya salahkan?
Atau memang saya yang tak berguna?

Sedih melihat kalian tersiram hujan,
terhempas panas,
muak melihat kalian bernafas debu,
berlumur keringat...

Saya berharap memiliki dunia lain,
dan menempatkan kalian sebagai mestinya,
sehingga kalian bisa berdiri bebas,
tidak berlindung dalam gelap,
tidak dinilai dengan mata,
tapi dengan hati....

Saya mulai jenuh berharap,
mungkin saya mampu mengisi hati,
karena hanya itu yang bisa saya beri,
tapi,
semoga kalian perduli,
karena hanya itu yang bisa saya beri,
semoga kalian benar-benar bahagia di dalam hati,
dan akan selalu bertahan disini,
karena hanya itu yang bisa saya beri...

Saya mulai jenuh duduk disini,
terbatasi,
saya ingin mengajak kalian berlari,
membiarkan dunia berputar sendiri..

Saya jenuh,
tak bisa melakukan apa-apa,
untuk kalian,
tiga manusia,
yang begitu saya cintai....



Saturday, August 8, 2009

Tanda Tanya

Menaruh rasa penasaran di otak kecil,
bukanlah yang saya inginkan,
tapi entah,
kadar kepedulian yang terlalu tinggi dan melewati batas normal,
atau kasarnya,
saya serba ingin tahu?
Tukang gosip mungkin juga memiliki kaidah yang sama,
mereka selalu ingin tahu,
mungkin beda tipis dengan saya,
untuk beberapa orang terdekat,
saya selalu ingin tahu,
dengan apa yang terjadi dengan diri mereka,
baik lewat raut muka ataupun sifat atau perilaku mereka yang tiba-tiba berubah,
atau cenderung tidak biasa,
pasti saya mau tahu...
Hahahaha..
Bukan,tak ada maksud ingin mengorek lebih dalam untuk bahan gosip,
tapi ini bentuk kedekatan saya,
saya ingin teman saya,
merasakan bahwa saya perduli terhadap dia,
dan bukankah itu arti teman yang dekat?
perduli dengan sahabatnya?

Well,
entahlah,
sampai sekarang pun,
saya masih dianggap tukang gosip,
kepo,
ataupun apalah,
meskipun,
saya hanya mencoba perduli,
dan seharusnya tak ada yang salah dengan hal itu...

Friday, August 7, 2009

Kita Bukan Manusia, Kita Hanyalah Mesin



Sudah hampir seminggu terakhir, saya merubah sendiri jam tidur saya,
sepertinya saya butuh lebih dari 24 jam dalam sehari,
karena waktu seperti melesat bagai peluru,
saya seperti dikejar sebuah pesawat ulang alik yang memeluk roket,
bahkan kadang-kadang saya jadi tahu apa rasanya menjadi pegawai circle K.
Saat semua orang dirumah tertidur pulas, (hahaha... seakan-akan dirumah gw yang sempit ini ada banyak orang.. padahal cuma gw, ma bokap nyokap gw, a.k.a bertiga!!)
saya hanya akan terus berada di depan monitor seharga 3 sepatu Macbeth yang mulai berdebu ini,
menekan tuts-tuts keyboard,
dan sesekali menoleh ke layar televisi busuk,
dengan acara seperti MTV insomnia (ini acara MTV terbaik setelah keabsenan MTV BUJANG) ataupun playlist (yang punya band-band super gaib dan host ga guna...) yang merupakan tayangan ulang tadi siang,
di samping saya,
akan selalu ada segelas teh manis hangat yang akan mengalirkan sedikit kafein ke dalam darah saya,
(yep, teh aja cukup, teh juga ada yang mengandung kafein koq, kalo kopi, saya bisa ga tidur sampe jam 10 esok pagi....),
dan yak,
mengetik dan mengetik apa yang saya sebut sebagai,

"PULUHAN LEMBAR KEBOHONGAN DAN JUTAAN OMONG KOSONG YANG KITA BENTUK SECARA TEKNIS SEBAGAI SYARAT UTAMA MENDAPAT PENGHIDUPAN YANG LAYAK DI DUNIA FANTASI"
Kita belajar menghina,mengintimidasi lawan bicara,
menatap persis di kedalaman mata,
kita belajar menyakiti, bahkan jika perlu,
kita perlu menghabisi.
kita diajarkan benci,
kita hanyalah mesin,
yang dikala tidurpun harus berfikir,
tentang masa depan,
tentang apa yang akan esok hari berikan,
tentang keinginan menjadi kaya,
semua berputar,
seperti siklus hidup mesin,
merontokkan mur dan sekrup,
membuyarkan platina,
meledakkan kompressor,
kita hanyalah mesin,
kita hanyalah mesin...

saya mengerti sistem,dosen asas-asas manajemen saya berulang kali meneriakan,
"In hanyalah kesalahan sistem.."
Persetan. Perduli setan.
Toh kita juga masih bangun pagi,
diperkosa rutinitas,
diperbudak deadline,
jadi apa yang salah?
sistem?
Bahkan anak kecil depan rumah saya bakal berkata,
"Lw aja yang begoo..."
Inilah hidup,
yang semua orang bilang indah,
dan memang indah,
seindah pemandangan roller coaster yang stuck di tengah-tengah lintasan setinggi 20 meter,
dimana adrenalin terpompa luar biasa,
dan jantung sempat terhenti selama beberapa detik,
diperlukan ratusan liter insulin untuk menggantinya,
dan itulah indahnya dunia,
miris,
dan kita hanya dapat melihatnya.
bodoh..
teramat bodoh,
tapi mau tak mau,
suka tak suka,
saya harus menyukainya.
Seperti yang saya bilang,
kita bukan manusia,
kita cuma mesin,
yang berjalan dengan siklus,
dan sistem yang mulai porak poranda.

Wednesday, August 5, 2009

Hati Adalah Gelas Kaca, dan Teori Adalah Asumsi Hati Imitasi


Gerimis adalah hal terbaik yang bisa terjadi di bumi,
kita memang perlu hujan,
buat sekedar membasahi tanah, dan melebur hangat menjadi kelembutan udara lembab,
bukan badai yang mampu meruntuhkan pohon,
ataupun memporak-porandakan atap atau malah seluruh rumah kita,
bukan hujan deras yang mengguyur seperti amarah,
menunjuk dahi seakan kita bersalah.

Saya suka gerimis,
melihatnya ditemani wangi tanah yang basah,
dan segelas teh manis hangat (oke, ini selera saya, bilang saja saya seperti kakek-kakek, saya rela, anti oksidan teh hijau, ataupun teh beraroma vanili, saya cinta teh manis hangat...)
duduk di sebelah jendela lantai dua,
mendengar suara air jatuh bertubi-tubi ke bumi,
namun gerimis tak seperti hujan deras,
gerimis memliki ritmis,
tempo yang dinamis,
seakan-akan ada nyanyian yang indah di dalamnya,
seorang anak kecil tanpa dosa,
meskipun lirik yang dinyanyikan nya akan bergantung pada perasaan kita saat gerimis datang.
Senang dan sedih, menang dan kalah,
nikmatilah,
gerimis itu indah.

Saya,
terkadang muak dengan kata-kata indah,
mereka seperti sindrom yang disuntikan terus menerus,
melalui surat kabar,
quote di internet,
majalah-majalah kekinian,
akhirnya mereka sadar,
bahwa manusia seperti saya tak lagi suka terinspirasi dengan buaian,
realitas membunuh nadi saya yang mencintai mimpi.


Tapi,
apakah arti hidup tanpa bermimpi?
Bahkan logika tak mampu menghalangi syaraf otak untuk menelurkan harapan,
kita memang menjalani apa yang ada,
dan seringkali mengingkari apa yang kita harapkan di langkah kita berikutnya,
mengelak demi menghindari kecewa,
meminimalisasi rasa sakit,
meskipun, kita tahu,
tak ada hal seperti itu,
kita akan tetap kecewa,
kita akan tetap sakit,
tanpa itu semua,
tak akan ada rasa hidup yang sesungguhnya,
tak ada antonim,
tak ada bahagia tanpa kecewa,
tak ada rasa yang nikmat tanpa ada rasa sakit,
hati kita terbuat dari gelas kaca,
mudah pecah berkeping-keping,
dan saat kembali direkatkan bagian per bagian,
bekas luka itu akan masih ada,
sembuh seiring waktu.

Ibaratkan cinta adalah hujan, yang membasahi hati,
cinta bisa datang sebagai badai,
memporak-porandakan hati anda,
ia bisa datang sebagi hujan deras,
meluluhkan pertahanan logika anda yang menggerogoti perasaan anda,
meskipun saya berharap,
ia datang seperti gerimis,
datang perlahan,
menyanjung kita dengan irama yang tenang,
mencuri perhatian melalui desah yang titik air yang menenangkan,
dan menyanyikan suara yang indah di telinga hati.

Indah,
keindahan cinta dalam teori,
batas sadar penciptaan asumsi,
sebuah imitasi.




Lovekills, sebuah harapan untuk terus bermimpi hingga mati.


Lovekills adalah sebuah ambisi yang telah melewati batas normal,
berawal dari mimpi sederhana dalam pemberian nama pada setiap pemikiran kreatif dari Michael Kienzy, yang terus berusaha melupakan harapan masa lalu yang tak pernah menemui kenyataan,
maka,
pada awal tahun 2006 yang penuh dengan pengkhianatan dan omong kosong anak-anak kemarin sore,
Michael, yang pernah berkreasi melalui "blunksuck" dengan Hadi Arif (Art Designer,Alternative Guitarist) berusaha menelurkan sesuatu dari Lovekills,
bukan,
bukan sebuah pameran kesenian ataupun puluhan lukisan bisu yang dipajang memenuhi ruangan,
tapi lebih kepada kelahiran bagi sebuah alter-ego Michael sendiri,
sebuah ambisi dan keegoisan yang dilebur menjadi satu dengan kata-kata penuh kebimbangan.
Lovekills akhirnya memiliki identitas pada sebuah produk t-shirt yang didesain Michael bersama teman seperjuangan semasa SMA, yang juga teman satu band, Rio Bersalino (Glory of Any Nation/Candlelights).
"Decaywords" adalah nama yang dipilih dari t-shirt tersebut yang bersablonkan tulisan Lovekills yang penuh dengan keegoisan, anti-kemapanan, dan nafas punk rock didalamnya.
Sampah egoisme itupun berlanjut,
kerjasama profesional yang didasari idealisme mengalir pada sebuah keputusan membuat merchandise untuk band yang dinaungi Michael dan Rio,
Glory of Any Nation,
melalui sebuah kecintaan yang besar terhadap materi lagu yang mereka buat,
Michael mempersembahkan desain berjudul sama dengan lagu Glory of Any Nation, "As Alone As I Feel Tonight" sebagai merchandise resmi pertama dari band tersebut,
menjadikan Lovekills sebagai penyedia resmi merchandise Glory of Any Nation.
Kerjasama itupun mendulang sukses, dan dilanjutkan dengan produk kedua, alter-ego dari drummer Glory of Any Nation , Adith Chaoz, yang menjelma menjadi "Badjingan Sendiri", melahirkan logo baru Glory of Any Nation dibalut kombinasi warna merah dan kuning yang kontrovesial, diperhalus dengan sentuhan putih diatas t-shirt berwarna coklat.
Penuh keberanian dan ketidakperdulian atas semua batasan.
Lovekills tak berhenti sampai disitu, memutuskan bekerja sama dengan "Detak Jantung", sebuah event organizer, dan sebuah fashion consultant bernama "T.R.U.S.T".
Kini, menunggu adalah masa paling menyakitkan,
menunggu hingga semua ini menjadi besar, sebesar harapan,
sebesar mimpi.

Lovekills telah bernafas dan lahir, menangis dengan hentakan bertempo tinggi,
tertawa tanpa dibatasi,
demi sebuah egoisme dan aggresifitas mimpi.