Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, August 27, 2014

Aku Ada, Tetapi Tidak Hidup.

Atas nama ribuan tagihan yang menyuplai darah menuju otak untuk tetap membuatmu sadar akan setiap deadline yang menumpuk akan menjadi jawaban atas semua kegundahan mesin anjungan tunai mandiri yang hanya terisi di awal bulan.

Atas nama senyum manusia-manusia yang paling kau cintai yang terus membuat jantung mu memompa semangat agar engkau tetap tertunduk diam mengepalkan tangan menelan emosi dendam dan semburan kemarahan sembari menyimpan dan membunuh jutaan ide-ide gila bersemayam dibalik tumpukan tekanan dan tuntutan pekerjaan.

Kau dan aku ada. 

Menjadi bagian dari roda-roda yang mereka sebut sebagai kehidupan, bagaikan rantai penggerak, bagaikan kuda penarik kereta, bagaikan budak yang dibalut Prada atau Versace hingga ujung kepala hanya agar bisa berbangga, bagaikan syaraf setiap ujung-ujung jari yang berdarah, menunggu habis. Menunggu akhir.

Kita ada.

Di balik jerat-jerat mimpi dan cobaan bagi diri kita sendiri. Menjadi wabah demi memuaskan hasrat dan nafsu untuk bersaing membuktikan potensi diri. Mencari sorot lampu dan percikan cahaya blitz atas semua hasil fenomenal yang lahir dari pemikiran, atas dasar usaha, atas hasil kerja keras melacurkan keringat darah dan tulang-tulang mengering bertahan dari reruntuhan harga diri - yang tentu saja tidak seberapa - dibandingkan tepukan hangat penuh senyum dari sang emperor.

Ada, namun benarkah hidup?

Sejak pagi bergeming memanggilmu dari kenyamanan mimpi dan menusuk degup jantungmu dengan bebunyian sengit yang lahir dari kotak pintar berlayar sentuh yang sering kau turuti dibanding kau mematuhi kata-kata ibumu, kemudian berjibaku melupakan indahnya senyum hangat selayaknya malaikat demi mengejar dentuman detik per detik di aspal yang dipenuhi para pejuang - jika kau menganggapnya begitu - yang berhimpit bergantian mencari celah seakan lebah yang melihat setetes madu, berguncang, bergemuruh, dan kau sampai pada tempat yang mereka sebut "pelampiasan kreatifitas dimana setiap jengkal kemampuan otakmu kami bayar lunas".

Demi kau. Demi mereka. Demi Nanti. Nanti. dan Nanti.

Aku ada, tapi tidak hidup.




Monday, March 10, 2014

Hidup Terus Berjalan, Kita Akhirnya Terhilang

Ada kalanya lelah itu teman yang setia.

Dikala siapapun mereka,
yang kita cinta dan sayangi tak mampu lagi mengerti.

Ada beban di pundakku.
Ada beban di tidurku.
Ada beban di nafasku.

Ada mereka di hidupku.

Kadang kita benar-benar lelah.

Dikala kejayaan menanti untuk kita raih,
untuk yang kita cinta dan sayangi yang tak mau lagi mengerti.

Aku tak mau lagi berlari.
Aku tak mau lagi mencari.
Aku tak mau lagi jalani.
Aku tak mau lagi meraih.

Aku cuma ingin diam dan tidur nyenyak di malam hari.

Aku lelah.

Sunday, January 12, 2014

12 Jan 14





Kupacu motorku, menjauhi hatimu
Menembus hujan dingin hingga jiwaku membeku
Perih ini tersamar dalam pekat gelap malam
Kala engkau terbakar emosi yang membara.

Kau minta aku pergi.
Ku terasing dan tersisih.

Kau tenggelam,
dalam deras amarah, hati terlampau lemah,
lelah menjaga jarak.

Ku terhempas.
Kehilangan kata-kata, tak ingin bicarakan semua.