Mengeluh adalah bentuk lain kemarahan,
sebuah bentuk ketidakpuasan,
yang disampaikan dalam bentuk cibiran.
Ah, persetan,
mana ada manusia yang tidak mengeluh?
Perbedannya, ada manusia yang menyampaikan keluhannya secara lantang,
ada yang mengeluh di dalam hati lalu membiarkannya membusuk.
Saya adalah orang yang jarang mengeluh,
tiap kali ingin mengutarakan keluhan,
otak saya yang kecil dan mulai mengkerut ini akan berfikir ratusan kali,
"untuk apa memaki hidup, toh saya belum mau mati"
Meski perjalanan hidup seperti rollercoaster yang tak pernah berhenti,
meliuk-liuk melalui jalur yang naik turun,
yang nantinya akan berhenti, saat kita akhirnya mati.
Kesulitan membuat kita dewasa,
dan kegagalan membuat kita terbiasa.
Tak ada unsur kejutan di dalam keberhasilan bila kita tak pernah gagal.
Tak ada orang yang berhasil di usaha pertama,
semuanya diawali kegagalan,
namun saat nanti akhirnya kita berhasil,
percayalah, kita akan mentertawai kegagalan.
Para motivator ulung cuma bisa bicara,
mendesain hidup seperti merancang gambaran anak TK,
hidup tidak semudah yang kita bayangkan,
tak sesederhana otak udang,
jutaan kesempatan melesat setiap harinya,
milyaran ide melayang membentuk udara,
namun berapa dari kita yang mampu menjaringnya?
Kita diberikan motivasi,
menarik ulur jati diri,
katakan, siapa yang butuh harga diri,
jika akhir dari hidup hanyalah mati?
Menurut saya,
kita semua hanyalah debu tanah,
mengapa saling menyakiti?
Melihat segalanya dari harta dan kedudukan,
dari keberhasilan material,
padahal kita sama-sama diciptakan dari debu dan tanah,
mengapa kalian bermegah diri?
Saya menulis mimpi di kertas kosong,
menulis nama-nama yang saya anggap berjasa,
menulis siapa saja yang berada di belakang saya,
menulis orang-orang yang menganggap keberadaan saya.
Jika kalian di atas,
ingatlah kami yang berada di bawah,
membawa tombak dan perisai,
mencari waktu kalian lengah,
dan menusuk tepat di jantung kalian yang lemah.
Dear diare, saya lemas.
No comments:
Post a Comment