Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Tuesday, June 1, 2010

Kita Bukan Manusia, Kita Hanyalah Mesin part II

Kembali ke depan layar televisi,
dengan langkah lunglai,
entah karena kurang tidur,
atau karena beberapa tes wawancara,
demi mendapatkan beberapa pekerjaan impian saya,
tak semulus yang saya bayangkan.
Benar kata orang dulu,
hidup itu baru benar-benar terasa,
saat kita mulai mencari kerja.

Ini sudah lebih dari lima bulan saya menganggur,
sebenarnya tak total menganggur,
saya masih mengurus pemasaran web,
mempersiapkan clothing saya yang mandek akibat masih berantakan di sisi manajemen,
dan berbagai hal lain,
yang membuat saya sibuk tak tentu arah.

Tapi tentu saja,
apabila menganggur itu berarti tak memiliki pekerjaan tetap,
maka,
iya,
saya memang pengangguran,
sama seperti nasib jutaan sarjana lain di Indonesia.

Sarjana?
Menganggur?

Dari jaman Ayah saya masih bermain bola telanjang dada di tepi sungai,
hal ini sudah lazim,
Sarjana menganggur.

Meminjam dialog milik film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)",
Pendidikan penting kalau kita punya koneksi

Miris.
Mengingat mengenyam perbekalan selama duduk di bangku sekolah,
sebagai pondasi dasar,
dan mulai menuju satu titik,
dimana pemilihan jurusan di universitas,
itu menghabiskan waktu,
energi,
tenaga,
dan tentu saja,
biaya,
hal terakhir ini seringkali menjadi sebuah batas pemisah,
antara kesempatan dan kemampuan.
Otak anda mampu kuliah,
namun anda tak miliki kesempatan,
karena ketidakmampuan dalam membiayai.

Miris.

Padahal,
tak ada kepastian dalam hidup,
intinya begini,
bisa kuliah belum tentu bisa kerja,
tak kuliah belum tentu tak bisa kerja.


Ada banyak contoh sukses,
ada lebih banyak lagi contoh gagal,
lalu apa yang membedakan?

Koneksi?

Saya letih membicarakan hal ini,
tapi ini seperti "ugly truth",
tanpa koneksi,
mau dibawa kemana karir kita?

sebuah pembuka jaringan sekaligus jalan lurus,
menuju sebuah kepastian posisi.
Membangun koneksi,
sama saja menabung buat hari depan.

Kasihan ya sebenarnya,
mengingat kemampuan seseorang tak lagi diukur,
kaum mediocre,
tak akan dilirik,
mengingat kelebihan yang dimilikinya,
cenderung "biasa saja",
tanpa koneksi berlimpah,
niscaya,
jalan yang dihadapi akan dua kali lebih terjal,
menembus jajaran barikade bernama lingkaran koneksifitas.

Atas nama hak asazi manusia,
inilah pembentukan mesin sebenarnya,
melahirkan sistem baku,
tak kenal maka tak sayang,
tak kenal sama atasan,
maka tak ada alasan untuk kalian disayang.

Majulah dengan prinsip,
membongkar pertahanan gerendel dengan kemampuan biasa,
namun dengan semangat luar biasa,
cuma ada dua pilihan,
sukses dengan menangis darah,
atauh mati dan menyerah kalah.

just like 50 cents said,
"Get Rich or Die Tryin'"

Sudah saya bilang,
Kita bukan manusia,
kita hanyalah mesin.

No comments: