"To be on the edge of breaking down, and no one's there to save you.."
Dituntut.
Tuntutan.
Jika depresi itu bisa dilihat,
maka saya yakin dia mengalir dengan lincah di pembuluh darah saya.
jika kita dibebani dengan kecurigaan yang berjalan beriringan dengan rasa tak bersyukur,
maka tak ada kata lain selain keluhan dan penyesalan.
Saya orang yang jarang mengeluhkan keadaan,
karena tak ada gunanya melihat kebelakang,
segala kejayaan masa lalu hanyalah semu,
sejarah adalah omong kosong,
mengingatnya sama saja merendahkan masa depan.
saya percaya kesalahan adalah natural,
kesempurnaan sistem hanya mimpi,
penyesalan adalah hadiah setan.
Berapa kali kita menyesal dan tenggelam dalam kekalahan?
Saya merasa perlu menulis soal ini,
akan sangat sulit menerima kata penyesalan,
jika hal itu dihadapkan pada sebuah rasa bersyukur.
Persetan dengan gelimang harta,
dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Saya hidup mengejar kebahagiaan,
bukan persepsi yang ditekankan.
Uang adalah benda mati yang menjadi dewa,
tak ada uang kita mati.
Maka saya adalah hantu,
yang berkali-kali mati karena tak punya uang.
Meneyebut nama Tuhan,
namun mengukurnya dengan uang,
adalah kesalahan utama.
Berfikir rasionalis dan logis,
adalah sia-sia.
Tuhan tak pernah terbatas,
skenarionya tak pernah terbaca.
Menyesali langkah adalah tindakan menghujat jalan cerita hidup.
Saya percaya,
bahwa inilah kita yang semestinya,
bahwa tak ada yang salah,
tak ada yang benar-benar benar.
Pengalaman orang lain bukan pelajaran,
ia hanyalah buku panduan yang sudah usang,
karena perjalanan ini berbeda,
tiap detiknya,
tiap centimeternya.
saya menulis ini karena tak mampu bicara,
karena lidah adalah pembunuh berbahaya,
dan hati adalah tempat kita menyimpan rahasia.
Menghargai pendapat dibutuhkan hati yang besar,
namun perlu lebih dari sekedar hati yang besar,
saat kita menyimpan pendapat kita demi mengharagai pendapat orang lain.
Saya menyimpan pendapat saya, dan hati saya meledak tak bersisa.
No comments:
Post a Comment