Kering dan gelap. Negatif.
The Dream Walker adalah album yang paling (secara personal) saya anggap remeh.
Karena sepeninggal Willard, disusul Watcher, tidak adanya Kennedy di daftar anggota AVA dan tentu saja sang arsitek Critter yang meninggal dunia,
apa sih yang bisa dilakukan dua astronot tersisa dari reruntuhan media idealisme bernama Angels and Airwaves?
Apa sih yang bisa dilakukan Delonge dan Rubin?
The
Dream Walker menjawab semua keraguan dengan eksekusi konsep paling tidak aman
yang dilakukan Delonge sejak era WDNTW.
Jika
kalian (normalnya) muak (bahkan mau muntah) melayang tanpa arah di luar angkasa
dalam double album LOVE yang penuh riff daur ulang dan intro panjang melelahkan
yang diperparah Delonge meracau tentang beragam makna cinta kasih maka kini
anda ditawarkan sebuah dimensi; Dimensi penuh kegelapan bernama mimpi buruk.
The
Dream Walker memang begitu berbeda, Rubin mengambil alih pesawat dengan
memberikan nafas-nafas industrial versi generik dari NIN ke dalam AVA,
hal ini
pernah dicoba dalam Stomping the Phantom Brake Pedal, yang, begitu sulit
dicerna karena album itu adalah warisan Delonge yang dibuat berkarat oleh
Rubin;
The
Dream Walker dibuat kebalikan dari STPBP;
Rubin
yang kini memegang kemudi, dan Delonge memolesnya dengan memuntahkan sisi
negatif yang dimilikinya dengan tema petualang mimpi yang terjebak oleh
kenangan buruk, rasa muak, kekecewaan, rasa takut, kehilangan hidup, dan tentu
saja, segala pertanyaan akan ketidakpuasan akan arti kehidupan.
Kapal
karam kapten.
Negativitas
ini menelurkan Teenages and Rituals yang
membuka The Dream Walker dengan melody yang akan memberikan Anda tanda bahwa
album ini tidak akan sama seperti beberapa album AVA sebelumnya.
Minor,
gelap, apatis, dan penuh rasa lelah.
Delonge
menyentil keletihan akan perang bagi para pemuda Amerika
"Nothing
to score, joining the war, and proudly...".
Paralyzed melanjutkan petualangan kita di alam mimpi buruk ini, semburan
riff a la Boxcar Racer dan emosi gamang Delonge.
Pernah
terbangun di tengah malam dengan nafas terengah-engah karena mimpi buruk?
Lagu
ini mengingatkan saya pada keadaan itu.
Putar
volume maksimal dari sejak intro dimulai, dan ledakan megah terjadi saat
distorsi gitar Delonge menyambar.
"Push away and go, the stereo
A tear ruled death to part"
A tear ruled death to part"
Megah,
namun gelap.
The
Wolfpack adalah track cerdas, saya sempat kehilangan kepercayaan bahwa AVA
akan bisa membuat hits yang tidak terdengar mirip dengan The Adventure dan
kawan-kawan.
Lagu
ini menjawab keraguan itu dengan ramuan berbeda, keletihan telinga saya akan
layer gitar berlapis dibayar lunas dengan intro elektro easy listening.
Lagu
ini menyimpan banyak teka-teki di liriknya,
dengan
salah satu reff terbaik yang pernah dibuat Delonge,
"It's alright, a bit scathed, a bit lost
I've been played, I ain't that clever
A city boy that can never say never
I got the life but that girl bites like a wolf"
dan makin terasa cerdas saat video klipnya muncul.
I've been played, I ain't that clever
A city boy that can never say never
I got the life but that girl bites like a wolf"
dan makin terasa cerdas saat video klipnya muncul.
Bicara
soal musik, The Wolfpack bisa menghindari kejenuhan dari esensi AVA yang selama
ini kita kenal, sebuah dimensi baru. Thanks Rubin!
Tunnels adalah lagu paling aman. Memberikan sekilas rindu pada penggemar
lama.
Formula
departemen lirik yang dipakai mirip seperti Rite of Spring yang menggunakan
tema kisah nyata yang dialami Delonge, namun kali ini kenangan buruk itu
tentang meninggalnya sang ayah.
Delonge
mempertanyakan kehidupan dan kematian (On a rope and pulled through the ocean With my
heart, I'm lost out at sea And every kind of thought screams
misery, So lonely) serta meragukan Tuhan (I'd
thank God, but then what is he for?) seakan
lagu ini adalah paket kemarahan serba ada.
Lebih
mudah dicerna karena dengan sound seperti inilah AVA dikenal.
Bukan
highlight, namun cocok bagi penggemar sound-sound AVA secara umum.
Kiss
with a Spell terdengar segar dan lagi-lagi
bukan highlighted track di album ini.
Sekilas
terdengar bagaikan bagian tak terpisahkan dari Stomp The Phantom Brake Pedal
dengan ekseskusi lebih mumpuni. Delonge seperti kembali menyalakn pesawat ulang
aliknya dan melesat pergi untuk menyanyikan hits salah satu klub malam dalam
teluk dibelakang gunung di Mars.
Ketukan
rapat mengiringi Mercenaries,
lucunya, bukan rumus yang dipakai pada double album LOVE yang mendayu-dayu,
tidak pula terdengar seperti AVA di I-EMPIRE, alih-alih track ini lebih mirip
lagu-lagu blink 182 gubahan Delonge di era Neighborhoods minus Hoppus dan
Barker.
"Like a disease, without the tease
Light on the feet, an atom bomb.
As your dying, fall to your knees
Fall in the street and carry on"
Light on the feet, an atom bomb.
As your dying, fall to your knees
Fall in the street and carry on"
Lirik
rumit, nada minor, ketukan rapat. AVA? Haha.
Bullets
in The Wind dengan indahnya meniupkan nafas New
Wave dan merusak kenyamanan
sebagaimana otak kita mengingat seberapa megah dan membosankannya album dan
musik AVA akhir-akhir ini.
Tanpa
bermaksud mengecilkan peran Delonge, namun nafas baru Rubin terasa berperan
besar dalam track yang terdengar begitu segar dan kekinian.
Anthem
bagi kesehatan jasmani, bagaikan jawaban dari segala doa.
Kegelapan
menyelimuti semenanjung Merkurius dikala Delonge mulai membuka The Disease bergema memenuhi bagian-bagian
terkelam kehidupan.
Kemegahan
yang gelap dan berkarat dimana-mana memang sepertinya tema album ini, yang
merupakan perbedaan terbesar dengan album-album sebelumnya, dengan lirik-lirik
berisi kekecewaan dan negatifitas, dan The Disease adalah track berisi
rangkuman yang lagi-lagi berbau blink-182 kekinian yang bisa mewakili tema
tersebut.
Tremos adalah lagu dengan semburan kelelahan yang dibawakan dengan begitu
santai dan tenang, padahal liriknya penuh kegamangan,
"I'm
a ghost, salivating
I crave
your soul, like my own"
yang
dengan sempurna menjadi jembatan yang pas
sebelum
melangkah menuju Anomaly.
Memang
kenapa dengan Anomaly?
Fuck yeah, AVA goes acoustic!
Delonge
menggunakan formula lama (tapi baru) dengan menyanyikan lagu balada cinta yang
begitu berbeda dengan nomor-nomor mendayu AVA layaknya Breathe atau Clever
Love, kali ini gitar akustik menjadi pemeran utama,
dan
Rubin menambahkan beat sederhana sepanjang lagu dengan begitu apik.
Saya
sampai pada kesimpulan bahwa The
Dream Walker begitu gelap,
namun segar, dan kekinian, melunturkan kesan bahwa AVA-bisanya-cuma-gitu-gitu-aja.
Memang
tidak se-ikonik WDNTW, ataupun sehebat I-EMPIRE, namun setidaknya Delonge (dan
Rubin) akhirnya mampu mempersembahkan sebuah karya yang kaya nada dan sound
tanpa terjebak pada stereotype musik AVA sebelumnya.
Higlighted
Track? Bullets In The Wind jelas jagoan saya, bersama The Wolfpack yang
berhasil mendobrak pakem karya-karya Delonge sebelumnya, namun saya senang
pacar saya mulai mau mendengarkan lagu AVA sejak Anomaly bergema.
Foto
dipinjam pakai dari :
-
Wikipedia.
-
Billboard(dot)com