Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Saturday, October 22, 2011

Menyederhanakan Kebahagiaan

Sudah sepantasnya,
saya memperjuangkannya,
menembus tembok batas peraturan.

Sudah seharusnya saya melindunginya,
bersamanya adalah kebahagiaan.

Sudah saatnya saya berdiri tak perduli,
bahagia ini kami.

Siapa disini yang merasa wajar?
yang merasa sanggup menilai dan menghakimi?
Bukankah kita semua enggan dinilai?
Bukankah kita semua enggan dihakimi?

Bukankah kami pantas bahagia?
memeluk mesra tanpa perduli sekitar dunia.

Tak ada yang kami langgar.
Tak ada yang kami sakiti.

Hanya saja tuntutan itu kerap menimbulkan benci.

Saya tak mencintai sesama jenis.

Saya mencintai seorang wanita yang begitu menenangkan hati.
Senyum yang akan menghapus bekas luka kenyataan hidup,
tawa yang akan menghajar habis keraguan.

Apa yang kalian risaukan?

Kami yang merasakannya,
diterjang panas hujan asmara,
bukan sekedar menuruti apa yang tertulis,
apa yang digariskan.
Bukan konsep pengalaman,
bukan nasihat bijak atau petuah menghujam,
ini hati kami.
ini perasaan kami.
Lihat kami sebagaimana kami ada.

Kalian tak ada disana,
saat kami membatasi nafsu diri,
kalian tak ada disana,
saat kami berjibaku melawan ego kami sendiri.

Hidup sudah terlalu berat,
mengapa kalian menambahkan beban?

Terang itu terlihat,
saat kami diterima sebagai mana bentuk kami yang ada,
bukan diharuskan menjadi sebagaimana mestinya.
Bukan bersembunyi selalu di balik gelap.

Siapa yang tak mau menjadi normal?

Siapa yang tak mau menjadi manusia sewajarnya?

Siapa yang tidak normal?

Siapa yang tidak wajar?

Mengapa bertahan dengan kata-kata usang,
jutaan rumus kebahagiaan?
Bukankah hidup kami yang menjalani?

Mengapa bertahan dengan jutaan kemungkinan terburuk?
Jika kami percaya selalu ada masa depan bagi yang percaya.

Tak ada yang ingin saling menghancurkan diri,
kami hanya ingin bahagia dengan cara kami sendiri.

Tak ada yang ingin saling mengorbankan perasaan diri,
kami hanya ingin kalian sedikit mengerti.

Seberapa besar dosa untuk saling mencintai?

Harta dan uang bisa terganti,
rasa sesal dan bersalah tak akan pernah mati.

Berdirilah disini,
menyederhanakan kebahagiaan.

Lihat kini,
betapa kami saling mencintai?
Betapa kami mau berkorban hati,
semia tak satupun yang tersakiti?

Melihat kalian akhirnya mengerti,
dengan isak tangis yang kami teriakan,
melihat kalian baru mau memahami,
saat luka itu tergores begitu dalam.

Sudah lihat sebagaimana hebatnya perasaannya?
Sudah lihat sebagaimana ketulusannya?

Ingatlah bahwa kami hanya dua manusia,
pria dan wanita yang saling mencintai setulus hati,
sederhana dan bahagia,
jangan menghujam kami dengan buruk prasangka,
atau pikiran yang menghina.

Lihatlah kami sebagaimana kami ada,
atau..

Sesalkan diri saat saya memutuskan untuk mengakhiri alasan,
untuk hidup di dunia ini,
hanya demi memuaskan hasrat abstrak beserta konsep norma yang usang.

Sunday, October 9, 2011

Kosong Itu Ramai, Sepi Itu Menular

Gue selalu bingung dari mana mau mulai buat nulis sesuatu,
biasanya malah cuma nulis judul postingan doang,
akhirnya juga ga nulis apa-apa.

And where i am now?

Mars masih jauh dari pandangan,
dan Bumi semakin panas.

Seharusnya gue udah mulai membangun pesawat ulang alik,
berkonsentrasi membangun stasiun luar angkasa,
mengkalkulasikan biaya penerbangan antariksa,
pergi dengan kekasih dan bercinta di cincin Saturnus yang menyala.

Gue mulai muak menjadi bagian dari populasi kehidupan,
ingin segera lari dan berhenti basa-basi.
Sampai kapan orang-orang ini tidak menghargai segala bentuk dedikasi?
Sampai kapan orang-orang ini memandang rendah segala jerih payah keajaiban daya otak cecunguk kayak gue ini?

Gue mau jadi orang biasa.
Yang ga perlu pengakuan dan identitas di masyarakat.
Menjalani apa yang pengen gue jalanin.
Bukan malah menyerahkan diri jadi siklus dan sistem,
anak muda harus begini,
anak muda harus begitu.

Timeline twitter mulai mendikte,
bagaimana cara mereka harus berfikir.
Google dan e-book garis keras,
merajai pikiran dan ideologi anti-kemapanan yang menggelikan.
Sedangkan yang kelihatan suci dan menyenangkan jatuh juga akhirnya di altar penyembahan harta.

Petikan lirik berupa ceramah satu pertanyaan yang akan membuat limbung otak untuk sesaat "Untuk apa hidup ini?" yang ada di pembuka lagu "Peluk Diri" KOIL membahana di kuping gue.

Iya untuk apa hidup ini?

Krisis mental dan percaya diri akan selalu menghujam selama adanya standarisasi kehidupan yang membangun stereotype masyarakat,
bagaimana harus bertingkah laku dan diterima di pergaulan.

Yang satu ngomong soal tipis-tips menjadi begini begitu,
hars beli ini biar begitu,
harus pakai ini supaya bisa begitu,
kalau kalian dilahirkan dari keluarga pas-pasan yang untuk beli kopi dan sebatang rokok aja udah masuk dalam kebutuhan tersier,
mau ngomong apa?

Kancut.

Bisa aja sih gue sendiri juga terbakar rasa iri hati,
kesel karena tidak seberuntung itu.
Tidak termasuk golongan dan ikatan pergaulan penuh lampu-lampu gemerlap dan canda tawa ceria yang berpendar hebat layaknya sorot cahaya diskotik yang masih memakai sponsor uang orang tua.

Kosong itu ramai, ramai dengan udara dan angin yang menembus sisi pori-pori terkecil kulit,
menusuk sisi-sisi hidup yang terpinggirkan rutinitas perkotaan agar kita tidak dilupakan populasi sekitar, agar keeksistensi sebagai manusia kita diakui sebagaimana mestinya.

Sepi itu menular, melalu bibir, lidah, luapan emosi otak kecil yang membuat badai internal dalam syaraf dan merubah bentuk pertanyaan yang sejak tadi menghantui.... sedikit memodifikasi..

Untuk apa aku hidup?