|
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Thursday, October 15, 2015
Hidup itu Segan, Tuhan semakin Elegan
Sunday, June 14, 2015
[REVIEW] Zevin Parakeet - Black & Brown
Awalnya, gue emang lagi nyari sepatu bentuk Slip On Loafer, setelah pengalaman make Dr Martens (DM) Barret yang sangat versatile, karena bisa dipakai formal ataupun non formal, mau pake denim, chino even celana pendek, Slip On Loafer itu pas buat gue yang punya tingkat kemalasan akut buat ngiket sepatu.
Nah, singkat cerita, Parakeet dari Zevin ini langsung bikin gue berbinar-binar pas lihat preview-nya via instagram Zevin beberapa waktu lalu.
Meskipun inovasi terdepannya adalah sepatu ini di-warnai dengan teknik yang keren, yaitu hand painting dengan cat khusus (aslinya parakeet ini berwarna tan),
tapi gue emang lebih jatuh cinta sama modelnya.
Sekilas mirip Loafer-nya Adidas Ransom, dengan modifikasi disana-sini, dan belakangan gue baru tau, kalau ada yang versi Parakeet awal yang lebih mirip. Warna ijo pula. Haha.
| Adidas Ransom Slip On, lupa rilisan kapan. Haha. |
Tapi untungnya versi terbaru ini ngilangin "iketan tali sepatu" di depan itu, dan ngasih tassel, lebih keren IMO. hehe.
Setau gue, gak semua cowo pede make bentuk sepatu begini, beberapa orang jauh lebih pede make boatshoes yang lebih "cowo" dibanding loafer pake tassel kaya Zevin Parakeet gini. Padahal, buat gue ini lebih classy dan elegan haha. Selera sih.
Gue lebih gak mau pake slip on yang semacem driving shoe dengan logo LV segede-gede dosa diatas-nya. Haha.
| Parakeet ini sempet lama dirilis di beberapa retailer karena katanya pihak Zevin kehabisan Box. |
Gue lupa bulan apa, tapi seinget gue rilisnya Parakeet ini agak telat, dan pas Pop Up Market 2015, gue semangat karena Zevin akhirnya bawa Parakeet ini.
Sampe sana gue langsung megang-megang dan makin jatuh cinta hehe.
Sayangnya, retail price nya lumayan tinggi, IDR 1.450.000,-,
padahal gue punya plan buat langsung meminang dua warna yang dirilis,
karena emang rencananya sepatu ini bakal jadi andalan gue buat ngantor,
maklum, bosen make sepatu-sepatu formal so called "pantopel" itu haha.
Jujur aja, gue sempet menimbang-nimbang untuk batalin beli dan beralih ke DM Adrian, dengan harga retail yang sama, tapi dengan nama besar dan kayaknya emang lebih "kuat" hehe.
Let's just be honest, gue emang pernah punya Zevin sebelumnya, namanya Buttonquail, dan emang bagus, tapi daya tahan sol eva-nya udah pasti gak bisa dibandingin sama sepatu DM dengan sol khas mereka yang emang buat dihajar.
| Dr Martens Adrian - Ada warna hitam sama cherry setau gue. |
Setelah galau beberapa minggu, dan didorong oleh keinginan untuk lebih mengedepankan dukungan terhadap brand-brand lokal, gue akhirnya ngejebol budget gue untuk langsung ambil langsung dua warna Parakeet yang dirilis Zevin.
Budget yang sebenernya buat ngehajar inceran gue yang lain, Red Wing Boots. Huft.
Saat gue kontak, gak taunya size gue yang available cuma warna coklat, yang hitam masih dalam tahap restock. Makin galau. Haha.
Well, in the end, akhirnya gue mesti ngalah karena udah ngidam banget, yang coklat duluan meluncur, dan yang hitam mesti nunggu jeda 2 (dua) minggu.
Untung pihak Zevin dengan sangat baik hati ngasih gue special price yang amat sangat bersahabat karena niat gue untuk langsung meminang dua warna Parakeet ini. Yeah!
| Setelah dihajar beberapa bulan. |
Setelah beberapa bulan ngehajar mereka berdua secara bergantian, gue sih puas banget.
Seperti yang gue bilang diatas, bentuk sepatu ini bisa dipake di hampir semua occasion,
ngantor, kondangan, atau cuma nongkrong atau maen, kecuali buat lari atau jalan jongkok ya, sayang sepatunya.
Dua sepatu ini juga gue rotasi almost 7 days a week, bikin sepatu gue yang lain hampir gak pernah lagi kepake. Haha.
Dua warna ini juga netral banget, bisa pake celana apa aja, dan gak susah nyocokin baju-nya. Asli simple.
Patina untuk Parakeet yang brown juga seru warnanya, makin coklat dan garang, yang padahal pas nyampe warnanya adem hehe.
Ada kelemahannya kah?
Karena Hand painted, jadi beberapa bagian mid sole nya kena cat,
keliatan kurang rapih aja untuk sepatu harga segitu.
Parakeet gue yang warna coklat bagian sol depan nya mulai agak lemah lem-nya pas dipake beberapa minggu, dan mid sole nya gampang banget berkerut-kerut hehe.
Nilai gue 8/10 sih buat kualitasnya, tapi untuk modelnya gue bisa kasih 9/10.
Almost perfect.
| Dynamic Duo |
Harapannya sih, sepatu ini bisa awet dalam jangka waktu yang lama, dan ya, mudah-mudahan ada jasa free resole dari Zevin, remembering bentuk sol bagian depan nya agak mudah kelepas lem-nya haha.
Image Adidas dipinjam pakai dari
Adidas Originals Ransom - http://dailywhatnot.com/
Image Dr Martens Adrian dipinjam pakai dari
Dr Martens Adrian - http://www.legendfootwear.co.uk/
Monday, April 13, 2015
Homicide : Antara Guilty Pleasure, Aktualisasi Diri, dan Berhala Terkini.
Salah satu dosa terbesar yang harus gue akui adalah telat tahu menahu mengenai Homicide.
Selain memang gue selalu kurang maksimal saat menjadi Poser Zaman, pengetahuan gue soal musik-musik bawah tanah emang sangat amatlah tidak seberapa dibandingan anak gigs medio 90an hingga 2000an yang bersenjatakan nongkrong di setiap gigs dan akses internet menawan.
Lah gue? Internet gak punya, komputer gak punya, temen gak banyak, uang gak seberapa, gak gaul pula. Lengkap.
Hip hop bukan berhala buat gue, meskipun begitu, konsep rap adalah guilty pleasure buat gue yang lebih bangga dikenal sebagai pendengar nomor-nomor melodic punk kekinian ( baca: cemen ), gue pun membaptis diri sebagai penganut Delonge-isme yang terlalu pengecut untuk melangkah lebih jauh bersama kecerdasan Bad Religion, Dead Kennedys dan kawan-kawan.
Inti-nya sih, gue cemen. Haha.
Balik ke hip hop. Album yang gue tau cuma sebatas Iwa K untuk medio lokal, yah kalo pesta rap dkk sih ya mau gimana lah ya, tau gak tau pasti denger via "Delta" atau MTV Ampuh, atau 100% Indonesia.
Luar? Paling cuma Eminem. Haha.
Lalu karena Ucok bilang Hip Metal itu salah satu dosa besar juga, ada baiknya gue gak mengakui dan mengingkari fakta kalo gue pun mengikuti sepak terjang Linkin Park selama beberapa album, dan hafal pula lagu-lagunya. Haha.
As i told you before, that i'm cemen maksimal,
gue pun baru tahu mengenai Homicide ini sekitar tahun 2012-an, pertama kali denger itu "Semiotika Rajatega".
Gue shock. Haha.
On a side note, gue pernah denger sih beberapa rilisan unit hip hop lokal semacam Jahanam yang gue lupa lagunya gimana, atau apa tuh nama grup yang liriknya "Say Kontol" yang sempat jadi jawara ring tone di era Nokia N-Gage.
Tapi, ini Homicide kak! Kasar sekali kak!
Hahaha.
Pertama denger berasa lagi dimaki-maki, entah kenapa, gue sempet mikir ini grup hip hop ngapa marah-marah gini sih. Fuck. Haha.
Tapi, konsep marah-marah ini bukan meracau tanpa arah. Ada struktur murka yang entah kenapa, man, keren man. Yeah, ngerti juga kagak, tapi keren euy.
Pardon my IQ, tapi emang perlu waktu bagi gue untuk "memahami" Homicide, di satu sisi, gue tidak se-kritis dan se-mengerti itu mengenai politik, anarkisme dan ketidakberdayaan warga sipil.
Tumbuh kembang dari sekolah hingga kuliah hanya upaya mengemban pesan orang tua agar lulus secepatnya agar tidak membebani mereka, gue cukup bahagia bisa jajan kopi gelas pinggir jalan dan baca kutipan stensilan, tanpa berfikir luas mengenai ketidakadilan bagi petani, hutang negara, fasis yang berkedok agama hingga arti sebenarnya dibalik komunisme.
Nah, beda dengan sebagian orang yang sudah lebih dulu cerdas serta taqwa dan memilih Homicide sebagai salah satu karya yang memiliki visi untuk dinikmati,
gue adalah orang yang menjadikan Homicide sebagai buku pedoman utama untuk membuka cakrawala pikiran sempit dan kekanak-kanakan yang gue punya. Yes, kadar kecemenan gue emang segitu akut.
Jujur aja, dulu beberapa lagu Homicide gue gak tau konsep liriknya itu lagi ngebahas apa, gue mesti bolak balik browsing untuk tau maksudnya Sarkasz dan MV itu sebenernya apa, berasa ujian listening di LIA sih kadang-kadang.
Seiring waktu, semakin kesini, dan seringnya gue berkunjung ke gutterspit.com, sebagai satu-satunya jalur pencerahan menuju pengenalan lebih dalam tentang siapa itu Herry Sutresna ( yang ternyata sering gue baca kolom tulisan-nya di trax dan rolling stone pinjeman ) - selepas bubarnya Homicide dan sebelum dirilisnya Grimloc - gue akhirnya bisa dengan mudah menikmati amarah dan murka-nya lirik Homicide, tentu saja dengan bantuan googling sana sini untuk tahu arti-arti kata dan tokoh yang disebut di lagu-lagunya.
Perjalanan Homicide memang sudah berakhir 2007 silam, tapi ternyata karya-karya ( yang bisa disebut "usang" ) ternyata masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.
Entah MV dan Sarkasz yang revolusioner atau emang kehidupan sekarang saja yang berjalan di tempat dan cenderung mengalami kemunduran.
Terlepas dari semua itu, gue pun merasa harus menebus dosa.
Setelah dua kali melewatkan rilisan vynil mereka via kolaborasi mutakhir Grieve Records dan Grimloc Records, hanya karena gue gak punya player-nya, gue pun akhirnya lebih memilih membeli dua rilisan Homicide dalam bentuk kaset yang kali ini dihandle oleh unit bahaya Elevation Records.
Kaset memang lebih lekat di kehidupan gue, dimana membeli kaset sempet jadi memori masa kecil yang ( sebenernya agak kurang ) menyenangkan.
Well at least, just like MV said,
"Merilis kaset dengan harapan format ini akan terus bertahan sebagai salah satu media mengkonsumsi, menikmati, dan mengapresiasi musik dengan cara yang dahulu kami alami".
Sempat tidak kebagian press pertama untuk Godzkilla,
untungnya Elevation Records berbaik hati menghadirkan
re-press nya.
Meskipun pas lihat booklet isi lirik-nya versi kaset bikin agak nyesel gak beli versi vynil-nya.
Selain artwork yang jadi berasa gambar liliput dibanding ukuran cover vynil yang emang segede cobaan hidup.
Versi kaset-nya "Barisan Nisan" juga minus gimmick seplastik tanah kuburan yang di-bundling sama vynil.
Walopun nyesel disana-sini, dua rilisan ini emang wajib punya buat gue bernostalgia buka packaging kaset, melototin artwork, baca ucapan "thanks to", dan menyiksa booklet lirik sampe lecek.
Anyway, thank you Homicide for pimping my mind! Nuhun.
Tuesday, March 31, 2015
Live Louder Now : Bulletproof Generation!
PROLOG
Banyak hal yang terjadi dibalik vakum-nya kegiatan
kreatif
di tubuh Alive&Aloud setahun belakangan.
Dari kesibukan dan deadline saya
sebagai in-house
designer yang menggunung,
hingga duit modal yang kemakan kebutuhan kehidupan
urban. Haha.
Sebenarnya, Alive&Aloud sendiri sudah akan menelurkan
beberapa artikel di pertengahan tahun kemarin.
Konsep sudah ada, design juga sudah,
tapi entah kenapa saya urung merilisnya.
Masih ada yang mengganjal di hati - dan malas - Haha.
Maklum, Alive&Aloud adalah satu-satunya media saya
mencurahkan ambisi dan ide bodoh saya tanpa campur tangan orang lain -saat
partner saya memutuskan berhenti di tahun 2011- praktis, saya cuma sendiri
mengurus segala tetek bengek brand ini, yang belakangan cenderung menjadi
pelampiasan ego dan ambisi semata. Haha.
Lalu apa yang saya dan Alive&Aloud lakukan selama akhir 2014?
Bertahan hidup.
Ya. Bertahan hidup.
Itulah mengapa saya kembali duduk di depan laptop -yang
sudah lunas dicicil-, menutup pintu kamar dan menulis ini serta merumuskan
kembali konsep dasar Alive&Aloud.
Bukan perkara mudah menelurkan artikel di tengah gempuran
brand-brand lokal lain yang hadir dengan jutaan ide cemerlang dan terobosan
mutakhir,
serta - hal yang paling berat - tentu saja melawan kemalasan saya.
Mengorbankan sedikit demi sedikit waktu
untuk bolak-balik merumuskan design,
berargumen dengan rekan,
dianggap mengada-ngada,
serta bercengkrama dengan sejawat vendor.
Ini bukan tentang hasil, baik atau buruk, ini tentang
melakukan sesuatu yang saya sukai.
Dari sisi teknis,
saya memuaskan ambisi saya
untuk menggunakan bahan t-shirt yang belum pernah saya pakai sebelumnya,
serta memaksakan diri menggunakan teknik sablon paling menyusahkan,
bahkan hingga akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan material lokal untuk koleksi tahun ini tanpa maksud mengesampingkan rasa nasionalis, hanya saja, namanya juga coba-coba. Haha.
Dari sisi konsep,
Saya terinspirasi dari banyak cerita;
Cerita teman,
sahabat, kenalan hingga obrolan pendek di sudut warung kopi pinggir jalan.
Entah berapa kali, kalian merasa.
Direndahkan.
Dipandang sebelah mata.
Diremehkan.
Dikucilkan.
Diasingkan.
Disingkirkan.
Namun kalian tetap bertahan.
Atas nama jantung kalian yang penuh luka namun tetap
mampu berdetak.
Yang tetap berani berdiri meski diterjang kata
berselubung peluru.
The Bulletproof Generation.
Click Link below if to download the catalog
Sunday, February 22, 2015
Angels & Airwaves - The Dream Walker
Kering dan gelap. Negatif.
The Dream Walker adalah album yang paling (secara personal) saya anggap remeh.
Karena sepeninggal Willard, disusul Watcher, tidak adanya Kennedy di daftar anggota AVA dan tentu saja sang arsitek Critter yang meninggal dunia,
apa sih yang bisa dilakukan dua astronot tersisa dari reruntuhan media idealisme bernama Angels and Airwaves?
Apa sih yang bisa dilakukan Delonge dan Rubin?
The
Dream Walker menjawab semua keraguan dengan eksekusi konsep paling tidak aman
yang dilakukan Delonge sejak era WDNTW.
Jika
kalian (normalnya) muak (bahkan mau muntah) melayang tanpa arah di luar angkasa
dalam double album LOVE yang penuh riff daur ulang dan intro panjang melelahkan
yang diperparah Delonge meracau tentang beragam makna cinta kasih maka kini
anda ditawarkan sebuah dimensi; Dimensi penuh kegelapan bernama mimpi buruk.
The
Dream Walker memang begitu berbeda, Rubin mengambil alih pesawat dengan
memberikan nafas-nafas industrial versi generik dari NIN ke dalam AVA,
hal ini
pernah dicoba dalam Stomping the Phantom Brake Pedal, yang, begitu sulit
dicerna karena album itu adalah warisan Delonge yang dibuat berkarat oleh
Rubin;
The
Dream Walker dibuat kebalikan dari STPBP;
Rubin
yang kini memegang kemudi, dan Delonge memolesnya dengan memuntahkan sisi
negatif yang dimilikinya dengan tema petualang mimpi yang terjebak oleh
kenangan buruk, rasa muak, kekecewaan, rasa takut, kehilangan hidup, dan tentu
saja, segala pertanyaan akan ketidakpuasan akan arti kehidupan.
Kapal
karam kapten.
Negativitas
ini menelurkan Teenages and Rituals yang
membuka The Dream Walker dengan melody yang akan memberikan Anda tanda bahwa
album ini tidak akan sama seperti beberapa album AVA sebelumnya.
Minor,
gelap, apatis, dan penuh rasa lelah.
Delonge
menyentil keletihan akan perang bagi para pemuda Amerika
"Nothing
to score, joining the war, and proudly...".
Paralyzed melanjutkan petualangan kita di alam mimpi buruk ini, semburan
riff a la Boxcar Racer dan emosi gamang Delonge.
Pernah
terbangun di tengah malam dengan nafas terengah-engah karena mimpi buruk?
Lagu
ini mengingatkan saya pada keadaan itu.
Putar
volume maksimal dari sejak intro dimulai, dan ledakan megah terjadi saat
distorsi gitar Delonge menyambar.
"Push away and go, the stereo
A tear ruled death to part"
A tear ruled death to part"
Megah,
namun gelap.
The
Wolfpack adalah track cerdas, saya sempat kehilangan kepercayaan bahwa AVA
akan bisa membuat hits yang tidak terdengar mirip dengan The Adventure dan
kawan-kawan.
Lagu
ini menjawab keraguan itu dengan ramuan berbeda, keletihan telinga saya akan
layer gitar berlapis dibayar lunas dengan intro elektro easy listening.
Lagu
ini menyimpan banyak teka-teki di liriknya,
dengan
salah satu reff terbaik yang pernah dibuat Delonge,
"It's alright, a bit scathed, a bit lost
I've been played, I ain't that clever
A city boy that can never say never
I got the life but that girl bites like a wolf"
dan makin terasa cerdas saat video klipnya muncul.
I've been played, I ain't that clever
A city boy that can never say never
I got the life but that girl bites like a wolf"
dan makin terasa cerdas saat video klipnya muncul.
Bicara
soal musik, The Wolfpack bisa menghindari kejenuhan dari esensi AVA yang selama
ini kita kenal, sebuah dimensi baru. Thanks Rubin!
Tunnels adalah lagu paling aman. Memberikan sekilas rindu pada penggemar
lama.
Formula
departemen lirik yang dipakai mirip seperti Rite of Spring yang menggunakan
tema kisah nyata yang dialami Delonge, namun kali ini kenangan buruk itu
tentang meninggalnya sang ayah.
Delonge
mempertanyakan kehidupan dan kematian (On a rope and pulled through the ocean With my
heart, I'm lost out at sea And every kind of thought screams
misery, So lonely) serta meragukan Tuhan (I'd
thank God, but then what is he for?) seakan
lagu ini adalah paket kemarahan serba ada.
Lebih
mudah dicerna karena dengan sound seperti inilah AVA dikenal.
Bukan
highlight, namun cocok bagi penggemar sound-sound AVA secara umum.
Kiss
with a Spell terdengar segar dan lagi-lagi
bukan highlighted track di album ini.
Sekilas
terdengar bagaikan bagian tak terpisahkan dari Stomp The Phantom Brake Pedal
dengan ekseskusi lebih mumpuni. Delonge seperti kembali menyalakn pesawat ulang
aliknya dan melesat pergi untuk menyanyikan hits salah satu klub malam dalam
teluk dibelakang gunung di Mars.
Ketukan
rapat mengiringi Mercenaries,
lucunya, bukan rumus yang dipakai pada double album LOVE yang mendayu-dayu,
tidak pula terdengar seperti AVA di I-EMPIRE, alih-alih track ini lebih mirip
lagu-lagu blink 182 gubahan Delonge di era Neighborhoods minus Hoppus dan
Barker.
"Like a disease, without the tease
Light on the feet, an atom bomb.
As your dying, fall to your knees
Fall in the street and carry on"
Light on the feet, an atom bomb.
As your dying, fall to your knees
Fall in the street and carry on"
Lirik
rumit, nada minor, ketukan rapat. AVA? Haha.
Bullets
in The Wind dengan indahnya meniupkan nafas New
Wave dan merusak kenyamanan
sebagaimana otak kita mengingat seberapa megah dan membosankannya album dan
musik AVA akhir-akhir ini.
Tanpa
bermaksud mengecilkan peran Delonge, namun nafas baru Rubin terasa berperan
besar dalam track yang terdengar begitu segar dan kekinian.
Anthem
bagi kesehatan jasmani, bagaikan jawaban dari segala doa.
Kegelapan
menyelimuti semenanjung Merkurius dikala Delonge mulai membuka The Disease bergema memenuhi bagian-bagian
terkelam kehidupan.
Kemegahan
yang gelap dan berkarat dimana-mana memang sepertinya tema album ini, yang
merupakan perbedaan terbesar dengan album-album sebelumnya, dengan lirik-lirik
berisi kekecewaan dan negatifitas, dan The Disease adalah track berisi
rangkuman yang lagi-lagi berbau blink-182 kekinian yang bisa mewakili tema
tersebut.
Tremos adalah lagu dengan semburan kelelahan yang dibawakan dengan begitu
santai dan tenang, padahal liriknya penuh kegamangan,
"I'm
a ghost, salivating
I crave
your soul, like my own"
yang
dengan sempurna menjadi jembatan yang pas
sebelum
melangkah menuju Anomaly.
Memang
kenapa dengan Anomaly?
Fuck yeah, AVA goes acoustic!
Delonge
menggunakan formula lama (tapi baru) dengan menyanyikan lagu balada cinta yang
begitu berbeda dengan nomor-nomor mendayu AVA layaknya Breathe atau Clever
Love, kali ini gitar akustik menjadi pemeran utama,
dan
Rubin menambahkan beat sederhana sepanjang lagu dengan begitu apik.
Saya
sampai pada kesimpulan bahwa The
Dream Walker begitu gelap,
namun segar, dan kekinian, melunturkan kesan bahwa AVA-bisanya-cuma-gitu-gitu-aja.
Memang
tidak se-ikonik WDNTW, ataupun sehebat I-EMPIRE, namun setidaknya Delonge (dan
Rubin) akhirnya mampu mempersembahkan sebuah karya yang kaya nada dan sound
tanpa terjebak pada stereotype musik AVA sebelumnya.
Higlighted
Track? Bullets In The Wind jelas jagoan saya, bersama The Wolfpack yang
berhasil mendobrak pakem karya-karya Delonge sebelumnya, namun saya senang
pacar saya mulai mau mendengarkan lagu AVA sejak Anomaly bergema.
Foto
dipinjam pakai dari :
-
Wikipedia.
-
Billboard(dot)com
Subscribe to:
Comments (Atom)