Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Friday, September 24, 2010

Boys of Summers - Brokenheart Can't Be That Bad






Bocah-bocah di musim-musim panas. 
Begitu kira-kira jika kita dengan dangkal mengartikan band melodic/ pop punk dari Bandung ini.
Bukan, mereka bukan the next Rocket Rockers,
bahkan akan berlebihan jika kita menyamakan mereka dengan blink-182.
Oke, saya hanya bercanda. Dan oke, itu bukan humor yang bagus.

Band ini beranggotakan duo "Dick" plus satu Arsis, 
dan (setahu saya sampai sekarang) tanpa bassis.

Saya tak mengenal mereka satu-persatu secara personal,
namun yang pasti,
Dick pertama adalah Dicka. 
Sejarah panjang membawanya ke depan microphone, 
menghajar gitar
dan mencoba membius kita dengan vokal khas band melodic punk Bandung pada umumnya. 

Dick kedua adalah Dicky.
Drummer ini menaruh empat alamat myspace, dari empat band berbeda di website facebooknya,
dan coba tebak?
Yak, dia adalah drummer dari empat band tersebut,
dengan nama panggung yang (sepertinya) berbeda pula.
Mana yang aktif, kalo menurut penerawangan saya,
hmmm....
Ah, jangan tanya saya, tanya saja Arsis.

Oke, ini dia Arsis.
Gitaris yang mengaku frontman Boys of Summers,
yah secara dia lah yang memegang tonggak sejarah berdirinya band ini,
dari ketidakjelasan Lunatic Luna,
yang akhirnya menggiringnya ke dalam posisi nahkoda Boys Of Summers.
Tidak banyak yang bisa saya jelaskan dari pria yang kadang berkumis kadang tidak ini,
yang pasti dia penganut sistem "mandi itu sudah pernah".


Cukup untuk sedikit sejarah,
saya tahu itu membosankan.

Mari kita beranjak ke materi yang telah mereka lahirkan.
"Brokenheart Can't Be That Bad" sebenarnya adalah demo lama mereka,
tapi tidak ada salahnya kita ulas disini,
padahal (setahu saya) materi baru mereka mereka telah bertambah 6-7 lagu,
setelah demo "Brokenheart Can't Be That Bad" ini.

Dari judulnya, kita tahu bahwa mereka tidak akan menulis soal membakar gedung putih,
atau membom pesawat tempur Amerika,
lagu mereka bertema, yah, Cinta dan kehidupan remaja.

Hentakan dimulai dengan "Akhir Cerita",
dengan sound khas band asal Bandung, Closehead.
Ini bisa dikategorikan lagu yang bertema menyedihkan,
namun dinyanyikan dengan penuh semangat,
bukan dengan langkah lunglai dan tanpa mabuk minuman beralkohol oplosan.
Tidak ada kejutan, kita hanya akan selalu menggoyangkan kepala menikmati,
membiarkan mereka menyanyi memberikan segalanya dengan hati,
itulah arti sebenarnya musik bukan?


Track kedua "Renungan Diri" adalah bentuk lagu melodic punk yang agak oldschool,
hentakan drum monoton,
dan vokal yang bercerita soal pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Lirik mereka mengalami perbaikan dengan mengambil tema yang jauh lebih dalam daripada mencium seorang gadis di kamar mandi sekolah.
Anggap aja kedewasaan itu selalu ada di setiap anak kecil,
yang masih sembunyi-sembunyi menonton film porno.
Interlude dan vokal sahut-sahutan bukan hal yang baru,
namun terasa segar dengan ending yang terkesan main-main.

"Tolong!!!" menghajar kita di track ketiga.
Kegalauan dan kebingungan akan masa remaja tergambar jelas disini,
departemen lirik jelas mendapat perhatian serius,
penulisan kata-kata sepertinya jauh lebih dipikirkan artinya disini,
dan jelas,
para pemuda di usia rawan akan jelas mengalami fase apa yang ditulis di lagu ini.
Musik berkobar semangat  namun tanpa amarah,
kurang jelas apalagi? 
Yap, semoga para orang tua mendengar lagu ini,
dan akhirnya mengetahui bahwa anak lelaki mereka butuh pertolongan.

Akustik. Tidak banyak band yang berani menaruh lagu akustik di demo awal,
mengingat tingkat kelabilan yang seakan tak akan menaruh kesempatan menunjukan sisi diri yang halus kepada khalayak.
namun yak,
entah apa yang merasuki Boys of Summers,
"I'm Still Running" menghias track keempat.
Yang mengecewakan adalah departemen vokal yang terlalu Indonesia untuk sebuah lagu bahasa Inggris.
Tapi kalau boleh berpendapat,
inilah bentuk kejujuran Boys of Summers,
daripada menjadi band berlafal Inggris yang fake,
lebih baik memasukan atmosfir asli yang sederhana,
dan tentu saja lebih menyentuh jiwa.
Liriknya sendiri bercerita tentang patah hati,
mellow dan cocok dinyanyikan di kamar gelap penuh asap rokok.
Berbaringlah di lantai, ambil gitar kopong yang senarnya mulai karatan,
nyanyikan lagu ini.

Last but not least,
please welcome "I'm What I'm" di track penutup.
Entah kenapa, ketimbang diam dan menerawang,
lalu membayangkan suasana kampus yang ditulis disini,
saya malah berfikir untuk segera moshing,
melepaskan kepenatan di kampus saat intro sebenarnya lagu ini dimulai,
lalu berteriak lantang "I am what i am!"
Lupakan masalah pronounce dan vocabulary di lagu ini,
makna dan tema lagu ini mungkin standar,
namun akuilah ini anthemic.
Jika kalian butuh energi untuk semangat,
saat mencari teman sepenanggungan di awal perkuliahan,
lagu ini akan menjadi soundtracknya.
Ah saya jadi rindu masa kuliah.

Kelima track sudah usai,
tapi saya masih me-repeat nya.
Mungkin sudah saatnya saya melepas skinny jeans saya,
mengambil celana kargo dan kaos kaki panjang.

Mama, saya mau ke acara melodic punk!




Hidup Bahagia Bukanlah Mitos, Saya Berdoa Agar Kalian Hidup Bahagia.

Hai nama saya Michael Kienzy, dan saya percaya kalian akan hidup bahagia.

Tak ada yang tahu rahasia sukses,
tak ada yang tahu rumus menjadi berhasil.
Kerja keras hanya akan menghabiskan waktu.
Usaha adalah kesia-siaan.

Jika kemenangan adalah takdir,
maka tiada guna perjuangan.
Namun benarkah keringat dan darah tidak akan mengubah setitikpun keberuntungan?

Mengapa kita menertawakan mimpi?
Mengapa kita merendahkan keajaiban?

Mengapa kalian tertawa saat seseorang memulai dari bawah,
dan mencemooh kemenangan sang pecundang?

Hidup adalah putaran lubang angin.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setiap detik berikutnya.

Jika kalian percaya doa,
berdoalah.
Jika kalian percaya usaha,
berusahalah.

Dia akan melihat kalian dari sana,
menimbang-nimbang keputusan-Nya.

Kita hanyalah pion catir,
saat lahir,
peran telah ditentukan,
kematian akan menunggu di garis akhir,
mengapa masih saling menjatuhkan?

Hi, nama saya Michael Kienzy, saya bisa melihat masa depan kalian bahagia.

Mengapa kita tak mengucapkan doa?
Saat seseorang berenang dalam kubangan lumpur dan kehabisan nafas.
Yang sering kita lakukan hanyalah menanyakan alasan,
mengapa ia sampai jatuh ke lumpur.

Kita menghabiskan waktu,
menilai,
menimbang,
dan mencari tahu.

Mengapa kita tidak diam,
dan mendoakan semua orang yang terbaik untuk hidup mereka?

Hidup terlalu singkat untuk mencari siapa yang salah.
Hidup terlalu singkat untuk mencari pembenaran.

Untuk kalian,
siapapun kalian,
apapun masalah kalian,
yang sedang terjatuh,
terhempas,
terluka,
kecewa,
butuh dukungan,
menginginkan harapan.

Nama saya Michael Kienzy,
saya berdoa agar hidup kalian bahagia.

Monday, September 20, 2010

Astonia : code name PELURU



"Peluru" adalah lagu yang saya tulis setelah sebelumnya secara tak sengaja,
melihat sebuah sampul novel berisi kumpulan puisi berjudul "Aku Ingin Jadi Peluru",
karangan Wiji Thukul.

Saya memang tidak tahu apa isi novel tersebut,
saya bahkan lupa dimana dan kapan melihatnya,
saya bahkan tak tahu Wiji Thukul adalah salah satu pionir penulis puisi di Indonesia,
saya bahkan tak tahu Alm. Munir adalah salah seorang yang memberi review di novel tersebut.
yang saya tahu,
kata-kata yang menjadi judul di novel tersebut terus membekas.

Menjadi peluru adalah cita-cita saya.
Saya bermimpi menjadi peluru.

Untuk saya, mimpi adalah amunisi.
Mimpi menembus semua dinding,
menyatukan khayalan dan kenyataan.
Membiarkan harapan bertemu dengan realitas.
Mimpi adalah alasan kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Mimpi membuat kita merasa tetap memiliki teman,
meski dunia telah berputar meninggalkan.

Saya menulis ini untuk kalian, semua orang yang terkalahkan realita,
semua orang yang direndahkan kenyataan,
semua yang masih saja mampu berdiri, percaya, dan bermimpi.

Untuk semua yang percaya pada keajaiban,
dan kemegahan mimpi.

Percayalah tak ada dinding yang tidak dapat ditembus.
Tak ada mimpi yang tak mungkin jadi nyata.
Bermimpilah seperti peluru.

"Peluru" adalah bagian pertama dari trilogi "Replika Realita",
bagian dari perjalanan panjang yang melelahkan yang dilakukan Astonia.
Lebih dari satu setengah bulan,
hampir setiap akhir pekan,
kami berada di dalam ruangan sempit kedap suara,
meleburkan semua rasa takut akan masa depan,
percayalah kami semua berada di bawah tekanan,
bahkan menderita stress tingkat akhir yang mengerikan.
Baiklah, itu berlebihan.
Namun semua berakhir dengan menyenangkan.
dan inilah saatnya kami membaginya dengan kalian.

Saya tak pernah bilang lagu "Peluru" ini nyaman didengarkan,
atau menyebut bahwa ini lagu enak.
Tapi saya pastikan,"Peluru" mampu merangkum apa yang ingin kami sampaikan.
Mewakili semua kata-kata, atmosfir, dan gambaran yang kami inginkan.

Jelek atau bagus, keren atau memalukan,
kalianlah hakimnya, kami hanya melakukan apa yang kami inginkan.

Terima kasih untuk tetap perduli dan memberikan segenap dukungan.

"Peluru" is available for download.
Please download it here.
Lyric for "Peluru" is available here

Wednesday, September 8, 2010

Antara Moral, Pornografi dan Kejujuran Eksistensi

Ariel Peterporn.

Jika banyak orang menganggap ini hanyalah lelucon satir dan sarkasme,
dan lebih banyak orang yang menganggap ini sebuah hinaan,
maka saya akan tersenyum miris.

Atas nama mereka,
yang mengatur copy dan narasi yang mencoba semenarik mungkin,
yang mencoba meledakan sensasi atas nama penjualan,
yang mendorong saya menulis semua ini.

Ariel,
seorang popstar,
dengan band yang menjual lebih dari jutaan keping album,
jutaan RBT download,
dan jumlah album kompilasi bajakan yang tak terhitung,
dari layar televisi pun,
saya tahu,
dia pria penuh kharisma.

Terlepas dari selera orang yah,
yang menilai dia secara fisik,
saya pikir Ariel adalah sosok yang tepat menggambarkan
contoh vokalis band tenar di Indonesia,
jangan tanya soal fans,
ataupun yang tidak mengakui fans tapi mengagguminya,
jumlah nya pasti mencapai jutaan orang.

Jangankan Ariel,
bahkan vokalis-vokalis band kacangan pun punya ratusan groupies yang siap ditiduri hanya untuk kesenangan semalam.

Lalu apa yang istimewa dari Ariel?

Berlebihan.

Kalau dilihat dari realitas,
sebenarnya banyak pria yang melakukan lebih buruk ketimbang apa yang dilakukan Ariel,
tapi begitulah orang Indonesia,
selalu melihat debu di mata orang lain,
tapi akan pura-pura buta soal batu bata segede gaban di matanya.

Teman saya pernah berkata
"Ariel emang pantas digituin,
dia itu ga pantes soalnya jadi panutan,
sekarang kan anak kecil ngidolain dia,
siapa tau ntar mereka ikut-ikutan,
bajingan mesti dihukum.."

For Your Info,
teman saya yang ngomong hal itu - dengan tidak mengurangi rasa hormat - adalah seorang bajingan tengik kelas teri terbang.
Serius, dia itu termasuk pemburu wanita dan pecinta kehidupan malam.
Bisa ga kalau saya bilang dia cuma iri melihat "keberhasilan" Ariel meniduri -katanya- banyak artis cantik?
Munafik.

Semua bilang tanggung jawab moral Ariel sudah rusak,
merusak mental remaja pemuja dirinya.
Mereka sadar ga yah,
kalau urusan moral dan akhlak itu urusan pribadi masing-masing,
semua tergantung pribadi,
kalau memang bejat mah bejat aja.

Bahkan secara tiba-tiba,
ada beberapa pemerkosa yang mengaku memperkosa,
akibat menonton video Ariel.
Lucu.
Saya menonton video Ariel berkali-kali,
dan saya tidak memperkosa tuh.
Tergantung orangnya kan?

Buat saya,
Ariel,
bersalah atau tidak,
dia hanya seorang laki-laki biasa,
penyimpangan seks yang -katanya- dideritanya pun bisa dibilang biasa aja,
bukan hal baru,
hellow,
menurut info random di google - gw lupa tepatnya-
ada angka rata-rata yang mencengangkan bahwa,
setiap hari,
ada saja video porno amatir yang dibuat dan beredar di dunia maya dari negeri kita ini,
jauh sebelum kasus Ariel meledak.
Salah Ariel?
Lucu.

Video Ariel sendiri, tidak menampilkan sadomasokis, ataupun perilaku seks yang tidak bisa diterima akal sehat,
just like a private video,
apa yang salah?

Kalau yang bisa disalahkan,
munngkin perihal perilaku Ariel yang tidak setia,
terhadap pacarnya Luna Maya,
dia selingkuh.

tapi siapa kita?
Apa urusan kita?
Hidup Ariel punya kita?

Lucu,
apalagi kalau yang ngomong dan mengutuk Ariel bajingan karena selingkuh,
ternyata adalah orang yang pernah selingkuh pula.
Ngaca woy.

Selingkuh itu memang haram seharam-haramnya,
tapi buat apa kita ngutuk?

Lagipula,
kalau mau dibilang zinah diluar nikah,
ada jutaan kayaknya laki-laki yang melakukan hal yang sama.

Bahkan pepatah dari zaman jebot juga udah bilang,
laki-laki mah selalu tersandung di tiga hal,
Harta, Tahta dan Wanita.

Wajar aja kan?
Standar lah kasus Ariel mah.

Video mesum? banyak juga ah. bertebaran dimana-mana deh itu video mesum amatir yang dibikin olah segelintir orang, bukan cuma Ariel.

Selingkuh?
Setau gw, anak SMP juga pacaran banyak yang udah pake selingkuh.
Korban sinetron.

Terus apa dong?

Salah karena dia itu publik figur?
Publik figur?
Publik yang mana?

Yang cuma mendengarkan lagu Peterpan via TV/Radio?
lalu membajak mp3nya?
lalu berteriak memaki orangnya?

Malahan,
beberapa orang,
yang membeli merch asli peterpan,
yang membeli album original peterpan,
yang secara "tidak" langsung memberi makan Ariel dkk,
malah dengan setia mendukung Ariel.

Lucu kan?

Yang aneh,
setelah digenjot pemberitaan di mana-mana,
pagi, siang, malam,
yang disalahkan itu tetap Ariel,
padahal gara-gara pemberitaan gila-gilaan dimana-mana itulah,
yang "memasyarakatkan" video Ariel.

Yang lucu lagi,
Ariel kayaknya lebih salah,
daripada sang pelaku penyebaran,
yang identitasnya ditutupi sedemikian rupa,
padahal kalau mau ditilik lebih lanjut,
semisal begini,
Kita punya koleksi pribadi,
ada maling yang nyuri,
nah yang ditangkep justru kita,
karir kita hancur lebur,
dibilang tersangka lah,
otak mesum lah,
eh si maling ditangkep tapi ditutupi identitasnya.

Padahal,
kalo mau simple,
Ariel mah cuma buat video untuk dikoleksi,
mau dia kelainan seks kek,
mau dia hyperseks kek,
hak dia buat menutupi hal itu,
siapa sih yang mau dibuka aib-nya?

Yang jahat adalah orang yang membuka aib-nya,
menyebarkannya,
bahkan menjadikan-nya sebagai bahan jualan. ;)

Yang lebih aneh lagi,
Ariel dituntut minta maaf ke publik,
karena perbuatannya membuat video itu,
dan
diminta mengakui perbuatannya.

Sekarang sih gini aja,
udah aib-nya diumbar-umbar,
dicaci maki,
dipenjara,
sekarang suruh minta maaf pula.
Ga kebayang rasanya

Disuruh minta maaf ke khalayak?
Kalo pendapat gw,
cukup minta maaf ke sang Pencipta,
dan ke si pacar,
cukup.

Itupun kita ga berhak tau,
sudahkah Ariel melakukan semua itu.
Itu mah urusan dia.

Andaikan bisa dipikir sesimple itu,
niscaya kita ga bakalan terlihat lebay.
Lagian,
doyan amat sih ngurusin hidup orang,
berasa paling suci dan benar aja.

Urus hidup sama akhlak diri kalian sendiri lah,
ga perlu urusin hidup sama akhlak orang lain.

Dengerin lagu-lagu Peterpan aja hasil dari mp3 bajakan,
pake sok-sok nge-judge dan berani ngatur hidup Ariel.

Get a life man. Berhenti menilai orang dari kelemahan dan kekurangannya dia,
lihat dari sisi lain.

Lucu.

NB:
Gw bukan fans Ariel,
maupun Peterpan.
Cuma suka beberapa lagu,
itupun ga pernah beli CD/kaset asli mereka,
hasil copy/paste dari hard disk temen,
pernah sekali nonton mereka live,
itupun gratisan.
Intinya,
ga pernah ngasih makan mereka secara langsung (maupun ga langsung),
buat apa gw nge-judge?

Ini ditulis jutaan tahun lalu,
baru berani di-publish sekarang NGAHAHAHAHAHAHA


Tuesday, September 7, 2010

Dia, Sang Penguasa Waktu.

Demi Neptunus,
diguyur hujan seharian bukanlah hal yang buruk,
selain merasakan hypothermia tingkat awal yang tidak berbahaya,
tak ada salahnya meringankan otak yang akan semakin mendidih dipanaskan cuaca.

Percayalah bahwa semua hal yang terjadi memiliki alasan,
dan tak seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Kita hanyalah hamster yang berlari di dalam roda berputar dalam kandang yang terkadang lelah dan terkulai begitu saja.

Tak tahu kapan,
tak tahu kenapa,
kita hanya menjalani waktu yang berputar.

Saya bukanlah orang yang mudah mengeluh,
dan akhir-akhir ini,
saya pun bukan orang yang mudah untuk bercerita.

Entah kenapa, otak dan hati ini mulai jadi brangkas penuh sampah,
lengkap dengan fasilitas pembakarannya,
jadi semua hal terkunci di dalam,
bahagia senang, menangis sedih,
semuanya saya biarkan membusuk di dalam,
toh waktu akan menyembuhkan luka,
dan waktu akan melupakan bahagia.

Tak ada gunanya memiliki segalanya,
waktu akan membuat kita tak memiliki kesempatan untuk menikmatinya.

Kita kehabisan waktu saat berusaha meraih segala yang kita inginkan,
dan saat kita bernafas untuk sekedar melihatnya,
semua hilang begitu saja.

Hidup adalah sebuah perputaran waktu,
dan detik yang kita banggakan,
semua hilang begitu saja.

Dia, sang penguasa waktu,
mendengar doa dan harapan, yang hilang begitu saja.

Wednesday, September 1, 2010

Percayakan pada peluru..

September.

Cuaca kali ini sama seperti perasaan wanita,
kalian tak bisa menebak apapun,
apa yang mereka mau,
apa yang akan mereka katakan,
jika misteri ilahi itu bernama esok hari,
maka wanita adalah bagian dari ketidakpastian detik berikutnya.

Televisi menjadi daya tarik paling menakjubkan dari apa yang bisa saya bayangkan,
seiring kebebasan media ber-eksplorasi,
yang saya lihat adalah bombardir berita yang tiada henti.
Meminjam lirik dari lagu cerdas berjudul "Coco Papa Lala Dada" dari Andre Harihandoyo and Sonic People (bisa di download gratis di sini)

"coco papa lala dada.. that's what you get from the television, coco papa lala dada.. that's not even real information.."

Tak usah dijelaskan lebih dalam kan?
Yep,
tanpa televisi pun,
negara ini terlihat begitu semerawut, riweuh,
dan kehidupan begitu memuakkan di sekitar kita,
hidup makin sulit bagi sebagian orang,
sementara sebagian lainnya hidup bukan sebagai manusia,
lebih parah dari mesin,
lebih rendah dari binatang.

Saya tidak bicara keadilan,
ataupun menggurui,
saya hanya penonton televisi.

Apa lagi?

Hidup saya ada di titik dimana saya berada di sebuah halte,
menunggu bis jurusan yang saya tunggu,
hujan,
panas,
saya tetap berdiri di sana,
diam.

Lalu apa?

Selain waktu yang berlari terlalu cepat,
sehingga menyulitkan saya mengingat apa yang seharusnya saya lupakan.


September.

Jenuh adalah sebuah batas,
tembok tinggi menjulang yang menghalangi kita,
melihat apa yang seharusnya kita perhatikan.

Bersyukurlah atas revolver yang terisi penuh,
percayakan hidupmu pada peluru.

September.

Semoga hidup kembali memihak pada saya,
dan kepala kalian lah yang tertembus timah panas,
selamat datang September.