Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Monday, December 9, 2013

Alive&Aloud The Last Chapter of A New Beginning : First Package Volume 1

Sudah sejak pertama kali dirilis, Alive&Aloud adalah media representasi dari apa yang ingin kami pakai dan apa yang ingin kami utarakan. Kami akan membuat ini dan itu, apapun yang kami mau dan suka.
Dikala semua berlomba-lomba menjadi yang terbaik, dan menjadi yang terdepan, Alive&Aloud tidak pernah ingin beranjak dewasa dan menjadi besar. Kami tahu, kami bukanlah pilihan utama, tapi setidaknya, kami hanya melakukan apa yang kami mau.
Kami bukan mereka.
Sudah saatnya menyerang balik!


2013 – Stay Strong, Stay True

Kali ini, kami mencoba menggabungkan apa yang kami pikirkan mengenai hidup.
Dikala yang perlu kita lakukan adalah berusaha keras untuk tidak menjadi apapun atau siapapun yang kita benci.

“Opini itu seperti lubang pantat. Sebau apapun, setiap orang punya satu”
Herry Sutresna a.k.a Ucok Homicide

Mental positif itu tidak selalu ada, dan memang, mustahil selalu melihat sisi yang baik dari segala kejadian yang menimpa kita, atau orang sekitar kita, tetapi, berfikir negatif tidak akan membayar cicilanmu.Hidup tak pernah adil kawan,
Dan, semua orang tau itu, atas nama ketidakmampuan kita untuk terus melawan segala kesialan yang dibawakan hidup kepangkuan kita, kita seringkali tahu, mana saat yang tepat untuk berhenti, mana saat yang tepat untuk kembali menyerang.Mental positif seringkali diasosiasikan pada hidup yang sehat, pikiran yang kuat, dan sebagainya, dan sebagainya.Menurut lubang pantat saya, eh maaf, maksudnya menurut pendapat saya, mental positif tidak selalu semewah itu.Mental positif adalah bagaimana kita menjaga diri kita, untuk tidak tertular dan terjangkit apa yang dihembuskan dari semua hal yang kita benci. 
Jika kalian benci penindas, jangan menindas.
Jika kalian benci penjilat, ya jangan menjilat.
Jika kalian benci kepada setiap orang yang menganggap remeh mimpi kalian, ya jangan menganggap remeh mimpi orang lain.
Sesederhana itu. 
Karena percuma, menjelekan orang yang sedang menjelekan sesuatu, atau membunuh seorang pembunuh, itu sama saja meracuni diri kita, mengubah kita menjadi sesuatu yang kita benci.Karena dari semua hal itu, mental kita lah yang paling telak dihajar, saat kita dipaksa bersikap positif, dikala dunia berubah menjadi iblis berwujud hal-hal yang paling kita inginkan.
Uang, birahi, dan kekuasaan.
Mustahil memang menjadi malaikat, tetapi, kerugian menjadi orang baik tidaklah seberapa.



Alive&Aloud 
The Last Chapter of A New Beginning : 
First Package 


THE PASSION

Bukan rahasia bahwa, jangankan memberi tahu orang lain, bahkan begitu sulit untuk menjaga mental kita sendiri agar tetap positif. 
Tetapi, tidak ada salahnya, untuk merepresentasikannya pada sebuah susunan typografi sederhana yang begitu rendah hati, tenang namun tetap arogan dalam cara yang lebih elegan. 
Well, Stay Strong, Stay True!





THE PASSION ini dirilis dalam media basic t-shirt dengan dua kombinasi warna, hitam berlapis abu-abu yang begitu standard nan klasik, dan biru laut – oranye yang tenang dan, ehm menghanyutkan!


THE ADVISOR

Ada begitu banyak nasihat hidup yang diambil dari potongan-potongan kalimat-kalimat cerdas dan memukau, 
tapi buat kami, ini salah satu yang terbaik,
“Threat Others As You Want To Threated” adalah frase yang kurang lebih menilai, bahwa segala dan sesuatu hal dimulai dari diri kita, dan yak, kami pun menganggukan kepala. Kadang kita seringkali lupa, bahwa dunia berputar, dan kita tidak seharusnya berbuat seenaknya, apabila tidak ingin diperlakukan seenaknya pula.

Beberapa menyebutnya Karma, yang lain menyebutnya Tabur Tuai, buat kami, apapun sebutannya,
kami menyukainya.


THE ADVISOR diaplikasikan  pada siluet baseball t-shirt atau basic Raglan, lagi-lagi diberi sentuhan klasik dalam kombinasi putih hitam. Segar!



THE ANGELS

Dibalik Pria yang hebat, selalu ada Malaikat berwujud Wanita luar biasa yang menemani langkah demi langkahnya. Dibuat sebagai tribute kepada para Wanita-wanita yang penuh inspirasi di luar sana, yang dengan semangat penuh mendukung ide-ide bodoh dan cenderung gila dari para Pria demi mewujudkan mimpi yang begitu ambisius.



THE ANGELS direpresentasikan dalam sebuah tank top yang sedikit maskulin namun dengan grafis sayap yang memodifikasi logo typografi kami. Menantang!




Thursday, October 3, 2013

Geram






Geram (New Version)

Versi kedua "Geram" ini lagi-lagi cuma di-record via garageband di iphone gue, dilingkupi skill terbatas dan cenderung memalukan, tapi hal itu gak bisa ngalahin rasa penasaran karena versi pertama-nya butut berat.

Gue meluangkan waktu untuk recording di kamar, sepulang lembur atau sebelum jemput pacar pulang kerja.

"Geram" sendiri di-record dan dibuat pas gue ngalamin apa yang namanya "Writer's block", situasi yang sempet bikin gue, yang kebagian jatah untuk nulis lirik di band gue, Astonia, kehabisan ide.

Gue butuh penyegaran, dan secara freestyle gue coba langsung record versi pertama lagu ini,
bisa dibilang curhat pake gitar dan lirik seputar mencak-mencak yang direkam, liriknya negatif, dan gue gak mikirin nadanya, asal keluar, asal jeplak, yah hasilnya butut dan kusut, haha.

Nah, versi kedua gue rekam lebih siap, lirik gak lagi freestyle, tapi gue tulis dulu biar gak lupa ditengah-tengah, gitar gue beliin senar, dan kamar gue kunci.

 
Geram

Verse 1
Dapatkah kau dengar nada nada dunia?
yang bernyanyi berkilau bersama mereka.
Dapatkan kau mendengar suara yang sumbang?
Yang kadang menjatuhkanmu perlahan.
Dan kau tenggelam, jatuh terkulai.
Tak lagi bisa berdiri menantang.
Kembali melawan, bangkit menjulang,
namun kembali dihancurkan dan tak mungkin berbuat banyak,
semua percuma,
harapan hilang,
mimpi tertahan.
Dan kau inginkan, hari pembalasan,
namun hari itu, tak pernah datang.

Verse 2
Lalu kau kembali dengan langkah lemah,
kembali ke kamar dan merasa kalah.
Menutup diri dari segala kemungkinan,
mencaci maki dunia dengan geram.
Dan kau tenggelam, semakin dalam.
Tak mungkin bisa selalu bertahan.
Kembali melangkah, bangkit menjulang,
namun kembali dijatuhkan dan tak mungkin berbuat banyak,
semua percuma,
harapan hilang,
mimpi melayang.
Dan kau harapkan, sebuah jawaban,
namun hingga kini, tak pernah datang.

Reff:
Remuk tak terbentuk,
Hancur tak tersisa.
Lihatlah hatiku,
dipenuhi luka.
Dipenuhi luka.

Tuesday, April 2, 2013

Tampan Tailor : Bertahan Hidup


Terkutuklah mindset dangkal nan sempit saya ini. Prediksi awal saya saat menonton trailer Tampan Tailor adalah film ini hanyalah proses adptasi serupa -tapi mungkin sama- dari film sejenis "Pursuit of Happiness".

Tidak, saya tidak mau memberi spoiler, saya hanya akan membahas sisi terluar dari film ini.

Tampan Tailor ternyata adalah jenis film yang selama ini kemunculannya saya tunggu.
Film dengan konflik sehari-hari yang mencoba merekam kehidupan yang dekat dengan keseharian.
Pernah membayangkan sebuah perjalanan hidup pinggiran kota Jakarta yang ternyata diisi orang-orang dengan bakat luar biasa tapi mati dibunuh kenyataan?

Film dimulai dengan konflik utama yang menghujam langsung ke pikiran saya.
Kegagalan.
Topan sebagai peran utama merelakan mimpinya - dan mendiang istrinya - mencium tepi jurang kekalahan. Menutup pintu usaha dan kehilangan tempat tinggal.

Shit things always happen to good guy, begitu kata pepatah jalanan, dan film ini memang mengumbar hal itu.
Tidak ada kata-kata motivasi picisan, yang mengumbar mimpi untuk menyerang balik, yang ada adalah kenyataan.
Topan - berdua dengan Bintang, anak nya, yang harus putus sekolah - langsung menghadapi hal-hal sulit khas kehidupan nyata. Kehabisan uang, tidak punya lagi penghasilan dan juga tempat tinggal.
Alih-alih berkonsentrasi pada skill menjahit yang dimilikinya, Topan banting stir bekerja serabutan, bersama sepupunya, Darman - sekaligus menumpang dirumahnya.

Konflik nyata kembali tergambar disini.
Darman sudah berkeluarga, rumahnya cm satu petak yg dipisah gorden, anaknya banyak, empat orang, dan kini ditambah Topan dan Bintang. Terbayang intriknya?

Banyak scene memorable di situasi itu, yang kadang terlalu real hingga saya harus menghela nafas panjang tiap mengingatnya. Potret khas kehidupan keluarga menengah ke bawah digambarkan disini, dikala semua berlomba-lomba membuat film dengan tema cucuran darah dan hantu-hantu kacangan, Tampan Tailor hadir dengan scene dimana makan satu kotak martabak manis beramai-ramai dirumah satu petak adalah sebuah kemewahan yang patut dirayakan.

Bumbu percintaan juga bukan resep utama disini, yang saya lihat justru bagaimana, kadang, hidup menyediakan malaikat penolong dan mendampingi sisi kelam dan buruknya keadaan kita.
Tokoh Prita tidak digambarkan sebagai wanita lemah gemulai cantik jelita nan lembut dan anak orang kaya; Ia wanita keras dengan attitude jalanan yang bekerja keras bertahan hidup dari perantauan. Ia menolong Topan bangkit, menemukan kembali semangat, dan membakar hasrat hidup Topan.

Tidak seperti roman cinta telenovela, yang sering saya harapkan untuk saling berciuman penuh nafsu di akhir cerita, Topan dan Prita -serta Bintang - berpelukan saja akan membuat saya bernafas lega (dan ehm, berpura-pura tidak keluar air mata).

Tampan Tailor bukan film yang bercerita hanya sekedar hubungan ayah-anak (meskipun konflik utama berpusat pada Topan dan Bintang), tapi alih-alih melihat film ini bercerita tentang usaha keras mengejar impian, Tampan Tailor malah bercerita tentang bagaimana seorang pria yang pasrah menghadapi hidup, tidak ngotot mengejar mimpi tapi melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup. Bekerja keras.
Memang, bukan tanpa kelemahan, adegan picisan a la sinetron pun kerap hadir menghias di beberapa scene, tapi nikmati saja, toh tidak mengurangi esensi. Intinya, film ini akan sangat inspirasional bagi kalian wahai generasi menye-menye yang terbiasa terpuruk saat gagal mewujudkan mimpi.
Tampan Tailor mengajarkan kita ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar pencapaian tertinggi untuk diri sendiri, yaitu, tidak menyerah dan bertahan hidup.

NB : perhatikan kaos-kaos lusuh yang dipakai Darman, propaganda :)

Photo : IDWikipedia

Tuesday, January 8, 2013

I'm Going Nowhere

Mimpi itu pedang bermata dua. Kadang ia mengantarmu menjadi pemenang. Kadang ia perlahan menikam dan membunuhmu.




Kadang kita berlarian di sela-sela langit, bermain-main di jendela kota.

Menyusuri detik-detik dinding menjadi debu dan menikmati proses api menjadi asap.



Kadang kita menelusuri rintik hujan, riang gembira menghirup embun.

Mengikuti irama sumbang opini orang, menari indah di sisi gelap.



Tidak mudah merubah pandang.

Tidak mudah menikmati hidup.



Kadang kita bicara

"Mengapa tidak terbang menjadi kupu-kupu? Mengapa tidak gagah seperti Gajah?

Jika memang lelah menjadi anjing. Jika memang muak jadi semut"



Mimpi adalah membiarkan kita menjadi semestinya, tanpa membiarkan diri kita diperkosa kenyataan. Tidak membiarkan tagihan dan cicilan mengatur jiwa kita yang kian terluka.



Tidak semua ingin menjadi prajurit. Tapi memang ada yang terlahir sebagai panglima.



Semua miliki peran. Dari garis depan hingga di belakang dapur.



Mimpi. Passion.



Sampai kapan memperdebatkan hal ini.



Saya bukan orang yang mudah iri.



Namun tidak soal mimpi.



Pagi ini saya membaca begitu banyak percikan-percikan api yang menyilaukan, tentang gemerlap dunia yang tercipta melalui ledakan perjuangan menghasilkan satu hal. Hidup dalam mimpi. Melakukan apa yang kita cinta. Passion.



Menulis-nya saja membuat mata saya berkaca-kaca.



Jantung saya terasa seperti diremas, sakit rasanya. Seperti ditampar.



Jika, "You are what you read", maka setelah saya baca pengalaman manusia-manusia tadi, saya seharusnya bisa jadi seperti mereka.



Tapi cicilan motor menyadarkan saya.



Saya kembali pada kenyataan dimana, saya benci tapi butuh.



Dari sekian banyak cerita mengejar-mimpi-dan-mendapatkannya-bahkan-hidup-didalamnya tadi Saya baca salah satu-nya soal Aditya Sofyan. Saya langsung merasa seperti dia, versi generik dan gagal tentunya.



Dia kuliah di desain grafis ternama di luar negri, dan akhirnya punya proyek solo demi passion (setelah sempat gagal 2 kali. Iya, cuma 2. Oh Aditya, I envy you.) yang mengantarnya ke Jepang. Oh surga. Did I mention that I envy you? Hehehe.



He works in both of my dreams.

Gue (gini-gini juga) kerja di bidang yang sama, desain grafis. Skill boleh pas-pasan, dan bukan lulusan sekolah design, tapi-kan-ya bidangnya sama. Hihihi. Passion gue juga musik, dan berulang-ulang kali gagal. Hahaha. It takes me nowhere. Puluhan lagu dan demo, puluhan nama band, puluhan panggung kecil, I'm still going nowhere.



Mimpi. Passion.



Mau nangis rasanya kalau ngomongin ginian.



Then what? What's now?



Salah satu yang menghantui gue akhir-akhir ini adalah soal target. Kalau boleh jujur, bayangan gue semasa kecil, I have a dream that I'll have everything at my 25.



At 25, in my mind, I will have a small family, a great wife, cool kids, a warm house, a city car, a bad ass motorcycle, and work as a musician. And my parents will have their own house at some cool suburban area with fresh air.



Now I'm 25. I'm going nowhere.



Bukan tidak bersyukur, atau tidak berterima kasih atas kehidupan yang (masih tetap) luar biasa ini.



But yes, saat gue udah umur 25-lebih-berapa-bulan ini belum dapet semua yang diatas itu. I admitted I envy you, yes you, dream catcher.



Because, yes, I'm going nowhere.



Gue jujur aja, gamang in my middle age. I don't know what to expect in my 26, 27 etc.



Pertanyaan gue sekarang adalah, mau terus jadi kayak gini, atau kayak gimana?



Mau jadi kayak gini itu gimana?



Oh dear God, I'm going nowhere.