Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Monday, November 30, 2009

Saya Membuang Semua Mantan Pacar Saya ke Laut

Saya bingung memulai darimana,
serius,
saya benar-benar bingung.
Ingin rasanya seperti tertawa,
lalu detik berikutnya menampar seseorang,
saya merasa benar-benar pintar,
dan luar biasa benar.

Yoghurt pemberian pacar saya,
melembutkan usus,
dan memutar otak saya,
membelahnya menjadi satu bagian,
yang mana,
mengantarkan pada sebuah pertanyaan?
Akankah pacar saya akan selalu ada untuk saya?

Untuk sebuah kata,
rasanya cinta tak akan cukup,
bukan,
saya tidak sedang mengumbar kata-kata gombal,
tapi itulah pacaran,
terkadang luapan rasanya mampu menghancurkan karang.

Saya mencintai pacar saya,
sangat mencintainya.

Pertanyaan nya adalah,
bagaimana dengan pacar saya?

Bagaimana jika kita sedikit menoleh ke belakang?
julurkan lidah anda,
jilat ujung telunjuk anda,
saat nya membalik halaman lama hidup saya.

-Oh,saya harap,tak ada mantan saya yang akan membaca ini-

Saya baru berpacaran tiga kali,
oh okay,
empat.
Tadinya saya pikir hubungan bodoh selama 1 bulan,
dengan sekali ciuman,
dan hanya sekali bertemu tidak dihitung pacaran,
tapi saya peranh bilang mau jadi pacaranya,
jadi ya sudahlah,
empat kali pacaran.

Pacar pertama,
dimulai saat masa SMA,
begitu bodoh,
tanpa pengalaman,
meletup-letup,
dan cenderung amat berlebihan.
Saya tidak berkata ini tidak menyenangkan,
tapi jika harus mengingatnya,
saya lebih baik berguling-guling di tanah basah dan berlumpur.

Mantan saya yang pertama ini,
berasal dari keluarga amat sangat berada,
saya ingat,
Terlalu banyak konflik dan airmata,
terlalu dalam saya dan dia berjalan,
cemburu buta,
perbedaan agama,
dilarang orang tua,
cabut les,
semua yang ingin dilakukan dua remaja yang sedang jatuh cinta,
melawan aturan,
kami lakukan.

Indah?
Dulu mungkin saya rasakan itu,
sebuah telepon,
tepat seminggu setelah perayaan ulang tahun saya,
kami memutuskan berpisah.

Diliputi galau,
yang dulu saya anggap sebagai akhir dari hidup,
saya banyak melakukan hal bodoh selepas dari mantan pertama itu,
banyak memainkan perasaan banyak wanita,
menjalani gaya hidup murahan,
menenggak minuman beralkohol tanpa henti,
hancur.

Kami berdua memang aneh,
berkali-kali kami mencoba mengulang kembali cerita lama,
kembali berciuman,
berpelukan seakan esok tak pernah datang,
tapi esok harus datang,
dan hidup harus dimulai,
dan satu hal yang saya sadari,
bukan kami yang tak mungkin bersatu,
dibalik segala perbedaan itu,
kami hanya tak pernah dewasa,
saat itu,
kami pikir semua yang kami lewati itu indah,
tapi saat saya sadar,
semua hanya sampah,
saya hanya bertindak berlebihan,
karena,
ini alasan yang tak pernah berani saya ungkapkan,
dia adalah orang pertama,
yang mengajak saya pacaran,
saat saya kehilangan arah,
itu karena saya tak punya pengalaman,
meminjam lirik dari Alkaline Trio,
"I was just a stupid kid back then,
i'll take back every word that i said..."

Serius,
perasaan yang dalam dengan dia ternyata tak begitu dalam,
biasa saja,
hanya saja,
di waktu itu,
saya masih bodoh soal cinta remaja,
dan saya bersikap,
amat sangat,
berlebihan.

Huff.. haruskah saya lanjutkan?

Oke,
pacar kedua?

Ini hebat,
begitu hebat,
hal terbaik yang saya dapatkan adalah,
hellow,
for like 9 months,
i've been PUNKED!!

Sekarang sih saya bisa tertawa,
dan tersenyum,
dulu?

Ingin rasanya merobek semua foto yang terlanjur saya buang begitu saja,
tanpa dibakar.

Pacar saya yang kedua,
hebat sekali berkata-kata,
serius,
saya tidak tahu kalau dia perokok hebat,
kalau dia clubbers handal,
padahal kami 9 bulan pacaran.

Dia terlihat baik,
menyenangkan,
dan penurut,
tapi begitu banyak kejutan,
dan saya sebenarnya suka kejutan,
tapi kali ini,
ini kacau.

Saya hampir melalukan banyak hal gila,
untuk dia,
yang ternyataaaaaaaaaaaaa....
semua skenario belaka,
saya dihadapkan kepada sebuah bangkai yang akhrinya tercium,
saat semua kematian itu tak berguna,
untungnya saat saya tahu,
kami berdua tak lagi memiliki ikatan apa-apa,
dan saya rasa,
tak perlu mempermasalahkan apa-apa,
toh,
semua sudah tak berguna.

Saya memang melewati banyak hal,
tangis dan air mata?
sebut saja,
saya pun menangis saat hubungan saya dengan dia berakhir,
tapi saat saya tahu semuanya,
ingin rasanya menjilat-jilat bekas air mata itu,
tak berguna menangisi hal bodoh,
yang saya pikir asli.

Baiklah,sampai ke yang ketiga.

Sebaiknya saya membuat ini cepat,
dibandingkan kedua mantan saya sebelumnya,
sebenarnya,
kalo boleh jujur,
dia masih lebih baik.
Banayk memang kekurangan nya,
tapi dia tidak genit seperti mantan saya yang pertama,
dan tidak pembual seperti yang kedua.

Tapi,
satu hal yang membuat saya muak adalah,
back street.

Hahahaha.
di umur 20an kalo tidak salah,
saya masih harus pacaran back street?

Gosh,
yang menyakitkan adalah,
tak ada alasan yang jelas,
mengenai ke backstreet-an ini.

Kalo kedua mantan saya yang sebelumnya,
sudah jelas,
beda agama,
bahkan kedua orang tua,
dari kedua mantan saya,
teramat sangat membenci saya.

Tapi kalau yang ketiga?
Fuck,
agama kami hampir sama,
bahkan sama-sama memiliki darah jawa,
tapi,
tetap saja,
BACK STREET!

Cuma bisa mengantarkan di ujung gang rumah,
tak bisa menelepon kerumah,
ini sinting.

Tak tahan dengan semua itu,
yang akhirnya malah semakin memperparah keadaan,
karena pacar saya sulit sekali keluar rumah tanpa alasan jelas,
tentu saja,
tak mungkin bilang kalau dia akan pergi dengan saya.


Setelah kejadian demi kejadian,
emosi pun memuncak,
atas nama egoisme,
dan harga diri,
saya menyatakan ingin berpisah,
dan yak,
dipenuhi (lagi-lagi),
air mata,
kata-kata manis,
harapan-harapan kosong,
saya tetap memaksakan diri untuk meninggalkan dia.


Ketiga nya sudah saya bahas,
untuk yang keempat?
anggap saja itu pacaran kecelakaan.

HAHAHA

Lalu,
apa yang sebenarnya saya bahas disini?

Ayo kembali ke masa sekarang,
saya cuma ingin bilang,
di setiap akhir halaman,
yang ditulis ketiga mantan saya -jangan hitung yang keempat-
di hidup saya,
kata-kata nya selalu sama,
mereka seolah masih sangat mencintai saya,
garis bawahi kata sangat,
tapi beberapa bulan,minggu bahkan tahun,
mereka sudah menemukan orang lain,
sebagai...
Mereka boleh sebut pelarian,
sekedar pelampiasan,
apapun itu,
saya anggap itu murahan,
dan inilah alasan saya menulis semua ini,
kesamaan cara,
kata-kata,
dari mantan-mantan saya,
membuat saya luar biasa muak,
dan membuat saya tidak menghargai apa yang pernah saya lewati bersama mereka.

Pernahkah kalian,
tahu kalau mantan anda telah menemukan pasangan baru,
terlihat mesra dimana-mana,
menunjukan mereka bahagia,
tapi,
detik berikutnya,
mantan anda masih berani bilang,
kalau dia masih merindukan anda?

saya pernah,bahkan sering,eh maaf,
SELALU!

Akh,
bisakah mereka diam,
dan tak banayk biacara,
saat mereka merasakan rindu,
atau setidaknya,
katakan itu saat mereka tidak menjalin hubungan dengan orang lain?

sampah,
oh tidak,
saya benar-benar berharap,
bisa membuang semua mantan pacar saya ke laut.

Bagaimana dengan pacar saya yang sekarang?

Saya berani berkata,
lebih baik,
jauh lebih baik.

Semoga kami tak pernah menajadi mantan,
kalaupun berubah status,
harusnya kami lebih serius dari ini.

Wednesday, November 25, 2009

Musik : Magis

Musim hujan selalu berjalan abnormal,
saya tau,pasti kalian semua mencintai beberapa hari terakhir ini,
saya pun begitu,
saya suka hujan!

Tapi,
saya tetap bisa berusaha rileks,
seraya menyeruput teh manis favorit saya,
-merk teh favorit saya adalah PRENDJAK-,
dan memandangi komputer,
oke,saatnya nge-blog!

Saya sering membahas banyak hal,
musik favorit,
band favorit,
lirik favorit,
tapi,
saya tak pernah mendefinisikan apakah arti musik,
bagi diri saya.

Apa itu musik?
Sekumpulan nada-nada?
Oh saya tak berbakat dalam mendefinisikan sesuatu,
secara struktural,
boleh saya menjelaskan panjang lebar dengan kata-kata saya sendiri?
Saya bersumpah ini akan menjadi sampah.

Musik,
buat saya,
adalah misteri. titik.

Tidak,saya bercanda,
saya bukan profesor yang mendefinisikan sesuatu sesederhana mungkin.

Musik,itu magis.
Tak terdefinisi, menurut saya,
musik adalah hal magis,
salah satu hal termagis di dunia.
Lebay?

Begini,
saya suka menyanyi sejak kecil,
bahkan saya hafal lagu-lagu old school kesukaan ibu saya,
tapi saya belum mengerti apa-apa soal musik,
apalagi lagu,
saya hanya suka menyanyi.
Magis.
Bahkan saya ga mengerti lagu itu apa,
saya hanya mengikuti nada,
begitu magis.

Ga seru yah?
Hahahaha.


Oke,saya serius sekarang.
Begini,
kenapa saya bilang musik itu magis.

Musik,
sekarang ini, buat saya,
lebih dari sekedar nada-nada pengisi keseharian.
Musik,mulai menjadi identitas yang ingin saya pilih,
cenderung menjadi ideologi,
gaya hidup,
bahkan buat sebagian orang,
agama.

Magis.

Musik menjalar,
mengalir dalam darah,
menggerakan sayraf-syaraf otak yang mati suri,
bahkan menghidupkan kembali sel darah.

Saya ingat,idola pertama saya bukanlah musisi-musisi besar,
bukan Led Zeppelin, bukan Black Sabbath,
bukan Nirvana,
saya malah kepincut Hanson,
hahaha.
Bahkan saya die hard fans Hanson,
dan hafal semua lagu-lagunya.
Lebih dari itu, saya mengumpulkan kliping-kliping soal Hanson,
berencana menggondrongkan rambut seperti Zac (drummer Hanson),
memakai baju seperti para personil hanson,
memakai kalung tali sepatu,
memakai gelang,
dan kaos lengan pendek yg di dobel lengan panjang.
Hahahaha.
Hanson merubah ideologi dan cara saya berpikir,
lirik-lirik Inggris nya satu persatu saya artikan,
tidak ada yang dalem atau gimana,
tapi identitas mereka sebagai anak baik-baik,
sayang keluarga,
menjadikan saya menjadi mereka.
Hahaha.
Itu jaman SD.

SMP,tadinya saya masuk SMP negeri favorit,
setelah terlibat kasus tidak penting (saya dituduh jadi pencuri,
dan dipermalukan di kelas),
saya pindah sekolah,
SMP negeri yang lebih dekat rumah,
dengan rasa minder luar biasa,
dan tanpa rasa percaya diri,
saya menjadi nerd,
total fucking nerd,
and definitely a loser.

Lalu, lagu apa yang didengarkan loser?
Tentu saja, punk.

Punk menjadi pelarian buat saya,
mulai mencuri-curi dengar lagu-lagu NOFX,
MXPX,
dan yak,
loser mana yang tidak mendengarkan BLINK 182?

Bukannya mengesampingkan greenday sebagai punk hero,
tapi lagu-lagu Mark, Tom, dan Travis,
lebih mengena di hati saya.
Mulailah saya menjadi pemberontak bodoh dengan celana kedodoran,
Entah saya yang memang terlalu berlebihan atau apa,
tapi teman-teman SMP saya memang tak terlalu suka punk,
mereka lebih doyan hip-hop,
atau jedag-jedug sekalian,
(SMP gw emang aneh,terletak di kampung,
tapi doyan nya lagu-lagu RnB,Hip Hop.. hahaha)

Oke,back to music,
hal magis kembali terjadi.
saya tumbuh dengan agresifitas tinggi,
dalam hal meyakinkan diri.

Dalam kebrutalan musik punk,
saya menemukan jawaban.

Saya tahu saya itu pecundang,
dan hidup itu sampah,
tapi saya menemukan semangat,
untuk bertahan hidup dengan cara saya sendiri.

SMA adalah masa transisi,
dimana kedewasaan bertemu dengan idealisme,
dan saya membuka diri kepada kerapuhan-kerapuhan dini,
saya mulai mendengarkan apa yang disebut dengan musik keras,
dan emosi tak terbatas,
sehingga yang saya dengar hampir mirip teriakan,
lebih menyerupai tensi dari kendaraan bermotor yang menabrak orang yang hendak menyeberang jalan yang sepi.

Dan ternyata itu bukan kenyamanan yang saya cari,
tapi lebih menyerupai keadaan untuk lagi-lagi diterima teman.


Dan it's not punk at all.

Awal perkuliahan yang unik,

Saya pun kembali ke track dasar,
dimana kemegahan dan kemapanan hidup bukanlah hal utama,
tapi menjadi diri sendiri adalah jawaban dari segala pertanyaan.

Setelah menyerahkan jiwa kepada alkohol beberapa waktu,
saya memutuskan berhenti,
setelah sebelumnya bersumpah tak akan menindik dan merajam tubuh dengan tatto,
saya kembali menuju jalan yang saya anggap benar.

It's Straight Edge,
Bagaimana kefanatikan terhadap sebuah aliran,
membentuk saya,
menjadi manusia tanpa asap rokok,cairan mengandung alkohol,
dan tanpa ketamakan akan pesta seks.

Well,untuk hal yang terakhir,
saya bukan menolak seks,
tapi untuk melakukannya dengan sembarangan,
saya akan menolaknya,
seks hanya akan menyenangkan untuk dilakukan dengan orang yang spesial,
dengan letupan perasaan,
dan agresifitas nafsu tanpa kontaminasi alkohol..

Music,
making me different,
making me better.

Music,is total fucking magic!

Tuesday, November 3, 2009

Semua Hal yang Terjadi,Memiliki Alasan...

Terlalu banyak prosa dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya,
tak ada maksud menjadi lebih bijaksana,
ataupun merasa tua,
saya hanya sedang kehilangan sentuhan menulis lagu,
dan merasa nyaman dengan menulis sesuatu yang panjang,
dan dipanjang-panjangkan,
dan melebih-lebihkan sesuatu,
dengan saat yang bersamaan,
menyadarkan diri bahwa saya bukan siapa-siapa di dunia ini.
Oke,saya mulai terdengar menjadi sok idealis,
dan memiliki pandangan hidup yang jelas,
padahal,
saya sendiri belum tahu,
saya mau jadi apa.
Atau saya tahu apa yang saya mau,
namun terlalu takut membuatnya menjadi nyata?

Ini adalah bulan yang sebenarnya membuat saya jadi serba salah,
bingung,
takut,yap,luar biasa takut.
Saya memulai fase hidup sebagai pengangguran.
Bukan,saya bukan takut bekerja,
tapi saya takut memilih pekerjaan yang sebenarnya bukan mau saya,
tapi harus saya ambil demi hidup.
Oh Tuhan,
saya tak ingin hanya bertahan hidup,
saya ingin memperbaiki hidup.

Sebenarnya,saya tak pernah keberatan,
dengan satu atau dua jenis pekerjaan,
tapi... Bukankah kita diperbolehkan memilih?

Well,jawabannya selalu dilontarkan Mami saya setiap hari,
"Setiap hari berharga,jangan buang-buang waktu.."

Saya seperti anak bodoh,
bagai pungguk merindukan bulan (wekk,jadul bener idiom gw.. Hahahaha)

Saya menunggu waktu yang tepat,
dan jenis pekerjaan yang tepat.
Klise,
apalagi kenyataannya,
saya dihimpit masalah ekonomi,
atau istilah busuknya,
bokek berat.

Akh,ada yang bilang,
nikmati masa-masa seperti ini,
manjakan diri sendiri,
seharusnya mereka ngerti,
betapa bosennya makan indomie setiap hari!

Tak ada salahnya bermimpi,
meski ada yang bilang,
mimpi tanpa ambisi,
sama saja mati.

Siapa yang tak ingin menjadi kaya?
Memiliki uang berjuta-juta?

Tapi jika belum saatnya,
kerja keraspun sia-sia bukan?

saya menulis dengan seyum,
tapi mata saya berkaca-kaca,
ketakutan ini terlalu dalam,
bagaimana jika kelahiran saya tak berguna?
Atau,
saya memang tak bisa apa-apa?
Ini sama saja merendahkan kebesaran Tuhan,
tapi,
bisa kan kalian lihat dari bagian lain persepktif?

Mungkin,
saya hanya pemimpi yang depresi.

Mungkinkah meraih mimpi tanpa kerja keras?
Tanpa harus berusaha?

Saya hanya butuh lebih banyak waktu beristirahat,
sedikit meregangkan otak,
tapi sepertinya sudah terlambat.

Ini waktunya bangun dari tempat tidur,
dan mengejar mimpi.

Dengan otak lusuh,dan hati yang ketakutan,
ada yang tahu dimana semangat dan motivasi saat dibutuhkan?

Sunday, November 1, 2009

November,dan hujan tak turun seperti biasanya...

Rumah yang kosong,
jendela berembun,
mataku terpejam.

Tak sanggup kulihat,
dan kututup rapat,
kamarku yang hampa.

Aku berada,
di bagian hidup,
dimana sahabat tak ada,
Aku berada,
di bagian hidup,
disaat teman tak berguna.