Begitu kira-kira jika kita dengan dangkal mengartikan band melodic/ pop punk dari Bandung ini.
Bukan, mereka bukan the next Rocket Rockers,
bahkan akan berlebihan jika kita menyamakan mereka dengan blink-182.
Oke, saya hanya bercanda. Dan oke, itu bukan humor yang bagus.
Band ini beranggotakan duo "Dick" plus satu Arsis,
dan (setahu saya sampai sekarang) tanpa bassis.
Saya tak mengenal mereka satu-persatu secara personal,
namun yang pasti,
Dick pertama adalah Dicka.
Sejarah panjang membawanya ke depan microphone,
menghajar gitar
dan mencoba membius kita dengan vokal khas band melodic punk Bandung pada umumnya.
Dick kedua adalah Dicky.
Drummer ini menaruh empat alamat myspace, dari empat band berbeda di website facebooknya,
dan coba tebak?
Yak, dia adalah drummer dari empat band tersebut,
dengan nama panggung yang (sepertinya) berbeda pula.
Mana yang aktif, kalo menurut penerawangan saya,
hmmm....
Ah, jangan tanya saya, tanya saja Arsis.
Oke, ini dia Arsis.
Gitaris yang mengaku frontman Boys of Summers,
yah secara dia lah yang memegang tonggak sejarah berdirinya band ini,
dari ketidakjelasan Lunatic Luna,
yang akhirnya menggiringnya ke dalam posisi nahkoda Boys Of Summers.
Tidak banyak yang bisa saya jelaskan dari pria yang kadang berkumis kadang tidak ini,
yang pasti dia penganut sistem "mandi itu sudah pernah".
Cukup untuk sedikit sejarah,
saya tahu itu membosankan.
Mari kita beranjak ke materi yang telah mereka lahirkan.
"Brokenheart Can't Be That Bad" sebenarnya adalah demo lama mereka,
tapi tidak ada salahnya kita ulas disini,
padahal (setahu saya) materi baru mereka mereka telah bertambah 6-7 lagu,
setelah demo "Brokenheart Can't Be That Bad" ini.
Dari judulnya, kita tahu bahwa mereka tidak akan menulis soal membakar gedung putih,
atau membom pesawat tempur Amerika,
lagu mereka bertema, yah, Cinta dan kehidupan remaja.
Hentakan dimulai dengan "Akhir Cerita",
dengan sound khas band asal Bandung, Closehead.
Ini bisa dikategorikan lagu yang bertema menyedihkan,
namun dinyanyikan dengan penuh semangat,
bukan dengan langkah lunglai dan tanpa mabuk minuman beralkohol oplosan.
Tidak ada kejutan, kita hanya akan selalu menggoyangkan kepala menikmati,
membiarkan mereka menyanyi memberikan segalanya dengan hati,
itulah arti sebenarnya musik bukan?
Track kedua "Renungan Diri" adalah bentuk lagu melodic punk yang agak oldschool,
hentakan drum monoton,
dan vokal yang bercerita soal pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Lirik mereka mengalami perbaikan dengan mengambil tema yang jauh lebih dalam daripada mencium seorang gadis di kamar mandi sekolah.
Anggap aja kedewasaan itu selalu ada di setiap anak kecil,
yang masih sembunyi-sembunyi menonton film porno.
Interlude dan vokal sahut-sahutan bukan hal yang baru,
namun terasa segar dengan ending yang terkesan main-main.
"Tolong!!!" menghajar kita di track ketiga.
Kegalauan dan kebingungan akan masa remaja tergambar jelas disini,
departemen lirik jelas mendapat perhatian serius,
penulisan kata-kata sepertinya jauh lebih dipikirkan artinya disini,
dan jelas,
para pemuda di usia rawan akan jelas mengalami fase apa yang ditulis di lagu ini.
Musik berkobar semangat namun tanpa amarah,
kurang jelas apalagi?
Yap, semoga para orang tua mendengar lagu ini,
dan akhirnya mengetahui bahwa anak lelaki mereka butuh pertolongan.
Akustik. Tidak banyak band yang berani menaruh lagu akustik di demo awal,
mengingat tingkat kelabilan yang seakan tak akan menaruh kesempatan menunjukan sisi diri yang halus kepada khalayak.
namun yak,
entah apa yang merasuki Boys of Summers,
"I'm Still Running" menghias track keempat.
Yang mengecewakan adalah departemen vokal yang terlalu Indonesia untuk sebuah lagu bahasa Inggris.
Tapi kalau boleh berpendapat,
inilah bentuk kejujuran Boys of Summers,
daripada menjadi band berlafal Inggris yang fake,
lebih baik memasukan atmosfir asli yang sederhana,
dan tentu saja lebih menyentuh jiwa.
Liriknya sendiri bercerita tentang patah hati,
mellow dan cocok dinyanyikan di kamar gelap penuh asap rokok.
Berbaringlah di lantai, ambil gitar kopong yang senarnya mulai karatan,
nyanyikan lagu ini.
Last but not least,
please welcome "I'm What I'm" di track penutup.
Entah kenapa, ketimbang diam dan menerawang,
lalu membayangkan suasana kampus yang ditulis disini,
saya malah berfikir untuk segera moshing,
melepaskan kepenatan di kampus saat intro sebenarnya lagu ini dimulai,
lalu berteriak lantang "I am what i am!"
Lupakan masalah pronounce dan vocabulary di lagu ini,
makna dan tema lagu ini mungkin standar,
namun akuilah ini anthemic.
Jika kalian butuh energi untuk semangat,
saat mencari teman sepenanggungan di awal perkuliahan,
lagu ini akan menjadi soundtracknya.
Ah saya jadi rindu masa kuliah.
Kelima track sudah usai,
tapi saya masih me-repeat nya.
Mungkin sudah saatnya saya melepas skinny jeans saya,
mengambil celana kargo dan kaos kaki panjang.
Mama, saya mau ke acara melodic punk!
ttp://www.myspace.com/boysofsummers
http://www.twitter.com/boysofsummers
http://www.facebook.com/boysofsummer
http://www.twitter.com/boysofsummers
http://www.facebook.com/boysofsummer

No comments:
Post a Comment