Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Tuesday, October 4, 2016

Underestimated since 2010 : Alive & Aloud Clothing Co.

P R O L O G

Semua berawal pada akhir tahun 2010, 
sebuah gerakan kecil di sudut Jakarta melahirkan nama Alive and Aloud Co.; 
Sebuah proyek nihilis kecil tanpa target.
Intinya hanya menghasilkan sesuatu.

Tanpa pengetahuan yang memadai, 
tanpa ada satupun yang tahu bagaimana caranya melanjutkan proyek ini di masa depan.

Nama Alive and Aloud sendiri tidak memiliki arti spesifik, sengaja terinspirasi dari nama band Angels & Airwaves, namun kami mencoba menggantikan kata yang lebih bisa mewakili proyek ini.

“Alive” adalah kata pertama yang muncul, diambil dari salah satu frase lirik band tersebut diatas,
 
“Do you feel Alive?”, diikuti dengan potongan lirik lain-nya “Can you say it aloud?”. Sesederhana itu.

Saya masih ingat berbalas pesan singkat dengan rekan saya di masa itu,
dengan mimpi-mimpi yang luar biasa naif, dan tekanan luar biasa besar karena budget yang akan kami gunakan untuk memulai proyek ini adalah tabungan nikah milik teman saya itu.
Jangan tanya saya, waktu itu, jangankan uang, bensin sehari-hari saja saya bingung harus dapat darimana.

Awalnya, kami berusaha ikut arus, menghasilkan produk dengan ide-ide memadai, schedule yang tepat tanggap, hingga potongan harga di penghujung tahun, semua guna menghasilkan keuntungan yang dapat memberikan nafas panjang bagi proyek ini. Namun ini cenderung melelahkan.

Setelah berkolaborasi dengan sebuah pihak, rekan saya pun memutuskan untuk meninggalkan proyek ini di tengah jalan, lewat serangkaian kesalahpahaman, dengan segala pertimbangan, dan kami harus rela dan setuju bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Hal biasa untuk proyek sekecil ini, namun ternyata ini teralu besar.


Di tahun-tahun selanjutnya, Alive and Aloud berkembang menjadi proyek ambisius, menghasilkan satu-dua hal yang tidak memiliki ritme, tanpa aturan yang jelas dan cenderung hanya memuaskan ego dan idealism semata. Terkesan mati segan, hidup pun tak mau. Padahal, biasanya saya sudah merumuskan proyek dan rencana kami tiap awal tahun, tapi saya biasanya memang menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk memutuskan mana yang akan dirilis selanjutnya, sejak tanpa deadline, kebebasan ini memang membunuh kami perlahan.


Kadang saya merilis t-shirt dengan slogan menggebu-gebu, kadang hanya merilis buku catatan edisi terbatas. Bahkan kadang saya hanya menyebarkan frase-frase omong kosong. Keterbatasan kuantitas produk pun kadang tidak kami sengaja, seringkali karena modal kami tidak sebesar ego dan idealisme saya, alhasil, saya harus rela memotong anggaran di sana-sini demi akhirnya bisa merilis sesuatu,agar tidak disangka mati di tengah jalan.

Saya melihat Alive and Aloud adalah nama dari perwakilan ego kami, bukan semata-mata nama brand yang menghasilkan produk.

Saya percaya ada hal-hal yang lebih besar dibandingkan nilai penjualan yang besar.


Saya belajar dari nol, dari ketidakmampuan, dari ketidaktahuan, dari kegagalan yang satu hingga kesalahan yang lainnya. Sudah barang tentu, saya bukan ahli, saya hanya mau mencoba membuat sesuatu. Karena rasa penasaran tidak baik bagi kesehatan jantung, dan hidup cuma sekali. Jadi saya coba saja memproduksi semua yang saya mau.

Baik atau buruk, i don’t give a fuck.


Cheers,
Michael Kienzy

Wednesday, June 22, 2016

THE MACHINE II : REVOKE "FREEDOM IS NEVER FREE"


Encore

Mengulang sejarah mungkin bukan sebuah hal yang menarik untuk setiap kita yang selalu mencari tantangan baru.

Beberapa dari kita berfikir sedemikian rupa untuk mengeksplorasi ide dan mencoba menemukan hal yang baru.

Alive&Aloud juga sebenarnya selalu mencoba hal yang sama. Dibalik keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, saya selalu berusaha melahirkan hal-hal baru, setidaknya buat saya. Haha.

Namun di awal 2016, saya mengingat proyek bernama "THE MACHINE"; 
Sebuah artikel Vintage Work Shirt yang menjadi salah satu proyek ambisius yang cenderung terlampau angkuh bahkan untuk saya sendiri. 

Tanpa pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk pembuatan kemeja, bermodalkan insting dan selera saja, saya memaksakan diri menjalankan proyek ini. 

Sukses? Di sisi penjualan, saya berhasil. THE MACHINE terjual habis dalam waktu kurang dari 2 hari. Jangan berfikir muluk dan merasa saya hebat, karena kuantitas artikel THE MACHINE memang begitu terbatas. Bahkan alokasi untuk salah satu dealer Alive&Aloud di salah satu kota akhirnya saya batasi.

Di sisi kreatifitas, saya juga (merasa) berhasil. Saya sepertinya melahirkan sesuatu yang baru, berinovasi.

Namun di sisi produksi, saya diwajibkan melakukan banyak instropeksi diri. 
THE MACHINE memiliki begitu banyak celah yang seharusnya dapat saya atasi, baik dari kualitas jahitan, pola, hingga detail-detail tertentu.

Proyek ini berhenti begitu saja dengan Euphoria, ya tentu saja, sisi penjualan yang menentukan hal tersebut. 

Butuh waktu 4 tahun untuk saya agar kembali berani mengkaji dan menggali lebih dalam mengenai kualitas yang saya inginkan pada proyek THE MACHINE ini.

Secara personal, saya berharap investasi waktu, usaha, dan kerja tambahan yang saya berikan bisa cukup maksimal. Mengingat ini adalah rilisan pertama semenjak saya resmi menikah, kehidupan pribadi terbelah diantara menjadi karyawan, suami dan bersenang-senang. Haha.
Alih-alih merepotkan, Istri saya bahkan tidak pernah absen menemani saya dari awal proses pemilihan bahan hingga produksi, dia menjadi satu-satunya supporter paling setia dan partner berdebat yang paling sering mengingatkan agar proyek ini tidak terbengkalai dan segera selesai.

THE MACHINE dimulai dengan pemilihan bahan, tema serta beberapa detail yang ingin saya perbaiki.

THE MACHINE pun akhirnya bisa kembali, saya memberikan kode "REVOKE" pada proyek ini, karena THE MACHINE tidak terlahir kembali, namun hanya diperbaiki di beberapa sisi.

Detail-nya pun kurang lebih sama, namun dibuat dengan tehnik yang berbeda. 

Pola yang regular, hidden button down, two chest pocket with flap dan pencil space. Semua saya pertahankan dari rilisan pertama. 

Saya bahkan akhrinya berhasil menemukan rekan yang mau menggunakan teknik konstruksi Single Needle, untuk produksi kali ini. Konstruksi ini menggunakan satu jarum, dengan tingkat kekuatan jahitan yang memungkinkan setiap lipatan dan potongan bahan tidak melalui mesin obras sehingga tampilan bagian dalam dan luar terlihat begitu rapih.

Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan memilih rekan yang bisa menyelesaikan proyek ambisius ini, meski output-nya terbilang sederhana, tapi detail yang saya inginkan ternyata menyulitkan untuk kuantitas produksi sekecil Alive&Aloud.

Untuk detail, saya juga masih menyematkan satin tag di bagian dalam kerah serta woven tag di pojok kanan bawah kemeja.

Saat penentuan tema, proyek THE MACHINE jilid kedua ini mengalami 6 (enam) kali perubahan, dan tema terakhir justru ditentukan di 2 (dua) hari terakhir pra-produksi.

Tema yang akhirnya saya gunakan adalah frase FREEDOM IS NEVER FREE, sebuah idiom yang pernah saya gunakan pada sebuah artikel yang tidak jadi dirilis. Saya tidak akan mencoba menjelaskan lebih dalam, ungkapan tersebut saya rasa sudah cukup eksplisit.

Di kemudian hari, saya malah melihat siluet proyek THE MACHINE jilid kedua ini sekilas menyerupai seragam penjara, dan munculah ide untuk menahbiskan-nya dengan mengeksploitasi frase tersebut. Sedikit berbeda dengan beberapa rilisan sebelumnya, saya memilih untuk memaksimalkan pada sisi produksi ketimbang gimmick yang biasa-nya tersedia.

The Machine II, sepertinya cocok disebut Prison Shirt, akan tersedia tanggal 26 Juni 2016.
Seperti biasa, kuantitas yang tersedia amat sangat terbatas.

Regards,
Mike



THE MACHINE II : REVOKE

Prisoner Shirt Inspired made with Asphalt Color Medium Weight Drill Fabric.
65% Polyester/35% Cotton.

Single Needle Construction
Back Yoke
Hidden Button Down.
Tonal seam stitching.
Two Chest Pocket; with Flap; and Pencil Division on Left Pocket
"FREEDOM IS NEVER FREE" Campaign Embroidery on Right Chest
Alive&Aloud Co. Logo Embroidery on Left Chest.
Signature satin and washing tag. 
Signature woven tab on bottom right.

IDR 275.000,-

Size Available : S-M-L-XL
Limited drop available at 26.06.2016, online exclusive.

Thursday, April 21, 2016

Lamun Pagi ini

Ada begitu banyak hal yang tidak seharusnya kita urusi,
tidak sepatutnya kita campuri,
tidak sedikitpun kita harus beropini,
namun sepertinya kita memang makhluk maha sosial,
apalagi untuk urusan orang lain.

Selalu ada celah untuk kita mencari tahu,
baik untuk sekedar tahu,
untuk terlihat tahu,
ataupun mungkin untuk memberi tahu,
mana yang benar-benar benar.
Mana yang benar-benar salah.

Memangnya kita siapa ya bisa tahu yang mana yang benar-benar benar?
atau mana yang benar-benar salah?

Dari sekedar beropini,
masuk ke ranah argumen,
dari sekedar mengamini,
sampai mulai menghakimi.

Tadi pagi sembari memacu motor di belantara pencakar langit,
saya melamun, yang sebisa mungkin lamun kedap tentara seperti kata simelbi.

Pantas saja banyak manusia mati-matian terlihat sempurna,
baik di dunia nyata atau maya,
karena mereka pun menakar sesamanya sesempurna itu.

Seperti hidup dengan dewa, yang menilai para dewa.
Kita yang maha tahu, dan mereka pasti tidak tahu!