Udah lama mau nulis ini,
cuma kehalang banyak ke-sok-sibuk-an.
Sedikit peringatan,
jangan dianggep serius ya kata-kata dibawah,
efek kebanyakan santen suka ngaco soalnya.
Oke,
berapa kali kita denger orang ngomong atau ngetwit mengeluh soal,
ehm, kondisi musik kita saat ini?
Berapa kali mereka menyemburkan makian kepada pelaku industri musik Indonesia?
Boyband dihina, band pop-rock-komersil berponi lempar dan bercelana ketat dibilang sampah,
dan yah, apapun yang menuju mainstream dan (akhirnya mau) manggung lipsync,
dihujat besar-besaran.
Padahal mereka lupa,
kalau banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan,
dalam menganggapi hal-hal semacam ini.
Sejujurnya,
saya pun muak mendengar dan menyimak hal-hal yang saya sebutkan diatas,
eh-ya-tapi,
saya berfikir ulang berkali-kali, mencaci lagi, menghina lagi, berfikir lagi, mulai mengurangi cacian,
dan berfikir lagi,
dan yak,saya sampai pada satu kesimpulan.
Saya itu cuma bisa mencaci maki, menghina dina, tanpa melakukan hal-hal berarti.
Kondisi ini bikin saya frustasi (caelah..) dan menolak makan makanan mahal yang ga enak.
Hingga pada akhirnya,
saya kok gerah ya,
banyak ternyata yang cuma bisa ngasih komentar dan kritik pedas,
tanpa mau susah-susah ngasih solusi.
Nenek-nenek aja kadang masih bisa salto,
trus masa kita ngasih solusi aja ga bisa?
Pertama kita ambil pokok persoalan mengapa kita merasa musik Indonesia,
(katanya ada) di ambang malapetaka dan kehancuran.
Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya.
Dari ragam pokok persoalan diatas,
pertanyaan-nya adalah "Mengapa"
Ya, mengapa bisa begitu.
Karena mereka dicintai.
Yap, mereka dicintai oleh orang-orang yang bukan seperti kita.
Dear Middle dan High Class yang berbudi pekerti luhur.
Contoh paling up to date,
Boyband dan girlband meroket-entah kenapa disebut meroket, kenapa ga mepesawat atau mekapalterbang, atau mebendaasingterbang tapi kayaknya asik aja, megah gitu-,
karena dukungan tak henti-henti terhadap eksistensi mereka.
Sebagai contoh, merchandise mereka ada yang beli, CD mereka laku dipasaran,
banyak yang dateng pas mereka manggung,
dukungan seperti itu membuat mereka, mebendaterbangasing diatas sana.
Alias melayang bebas menembus awan.
Alias bertahan di industri.
Persetan mau dibilang musiman juga, yang pasti,
mereka berhasil unjuk gigi-dan tarian gemulai tentunya- di hampir setiap acara TV swasta,
ga kayak band kalian, atau band saya.
Jadi persoalannya apa?
Ternyata, alay-alay yang kalian, atau saya suka hina, ludahi atau bahkan pengen memberangus mereka,
adalah sumber penghidupan industri.
Mereka, yang kita sebut alay, malah gemar menabung dan rajin ibadah demi membeli pernak-pernik idola mereka.
Mereka, yang kita sebut alay, menyisihkan uang demi membeli majalah berisi poster, menahan jajan demi punya CD original,
atau rajin menghafal lirik dan siap menembus puluhan kilometer hanya untuk datang di show artis idola.
Mereka, yang kita sebut alay malah sadar, bahwa idola mereka harus didukung penuh oleh keringat darah.
Ya emang sih,
banyak juga yang masih beli bajakan, atau malah ngebuat bajakan,
ya karena mungkin semerta-merta, tak punya uang. Klise, tapi itu tetap alasan utama.
Lalu, dimana posisi kita?
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay?
Bangga memiliki produk merch band luar negri,
dateng ke konser eksklusif yang masyaampun mahalnya,
beli boxset berisi CD-Cd band legenda luar negri re-issue yang keren abis, dan masyaampun kuadrat mahalnya,
pre-order bundle berisi ragam pernak-pernik spesial yang bernomor seri yang menggiurkan, dan kadang harganya,
berjalan selurus seimbang dengan ongkos kirimnya ke negri tercinta kita ini. Cihuy.
Sembari apa?
Mengcopy mp3 band-band dalam negri yang menyisihkan uang mereka demi memproduksi demo,
dan kalau sedikit beruntung, mereka dapet label yang mau bayarin distribusi,
tapi proses produksi tetep nguras uang pribadi anggota band tersebut.
Lalu memuji, atau mencaci kalau jelek, padahal kita ga rugi apa-apa.
lah wong cuma dengerin mp3 bajakannya aja kok. Gratis pula.
Giliran band-band ini cari dana,
dimana kita?
"Bagi sini merch-nya.." atau giliran mereka produksi CD "Sini dong gratisan CD-nya, kan kita temen.."
Hahahaha. Gue brengsek banget ternyata.
Believe me, Gue itu contoh nyata apa yang gue tulis diatas.
Keringet darah masbro, dan kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
malah bermental gratisan.
Maunya dibilang temen, tanpa mau susah-susah ngasih sedikit donasi,
terhadap perkembangan donasi terhadap industri musik dalam negeri yang notabene,
bukan hanya butuh opini, tapi juga support nyata.
Maunya apa-apa dikasih. Even tiket masuk showcase kecil-kecilan aja kita masih minta free pass.
Keren.
Eh ya harusnya yang idealnya sih ya,
Kita dukung band-band dalem negeri yang kita anggap bagus, dan band keren luar negeri, yang kita jadiin panutan.
Band-band dalem negri ini, bahkan sampai pada kenyataan,
udahlah ga apa-apa dibajak, atau digratiskan lagu kita,
demi mendapat perhatian yang lebih luas, dan mencari penghidupan via manggung,
atau jual merchandise.
Yakali, satu dua band masih ga apa-apa. tapi makin banyak band begitu,
bagaimana nasib industri kita nantinya?
Eh, kok masih nanya?
Nih ya gue ulang.
"Boyband malang melintang di TV, Girlband dibilang cuma modal joget-joget dan tampang ciamik,
lalu apa? Band-band menye-menye selalu menghiasi apapun di televisi,
dari klip-klip selintas yang menjual lagu berbasis pulsa, iklan-iklan dari produk rokok hingga makanan,
sampai jadi soundtrack opera sabun yang notabene diputer ampe bosen kuping kita dengernya.
Bahkan diulas kehidupan pribadi mereka dari yang apa yang mereka bawa di tas, sampai apa yang suka
mereka beli kalo lagi belanja di pasar swalayan oleh yang maha sakti, ragam infotainment.
Oh Tuhan, ternyata neraka benar adanya."
Memang, malaikat itu ada, dan Tuhan masih adil,
pahlawan-pahlawan musik kita masih berkreasi,
Gugun Blues Shelter, salah satu juara blues anti-industri melayu menye-menye,
mengharumkan Indonesia ke Inggris, main bersama para dewa-dewi legenda musik dunia,
dengan kenyataan Om Jono juga harus jadi MC acara musik pagi yang penuh artis lipsync, dan bahkan mesti harus mengisi acara sahur tidak lucu. Kita beli CD mereka? Kita beli merch mereka?
Kalo cuma muji di jejaring sosial atau dateng beberapa kali di showcase murah mereka mah nenek-nenek yang jago salto juga bisa kawan-kawan ngehe. ;)
PWG, atau PeeWee Gaskins, atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay, menyebut mereka, "piwigangsing". Band dengan haters gila-gilaan ini malah main di SummerSonic Jepang, dielu-elukan di negri Sakura. kita, yang tanpa malu menyebut Dorks sebagai bagian dari barisan alay, malah tidak segan-segan menabung membuat ludes semua merch, cd, apapun
demi membawa band kebanggaan mereka menuju, mimpi kebanyakan band.
Dimana saat band kita, dilupakan dan ga diajak manggung dimana-mana. Pfftttt.
Ah, maafkan saya band-band diatas,
saya juga dulu haters banyak band dan bahkan ga pernah bantu mereka kok. Hiks.
Tapi percayalah, gue sedikit-sedikit mulai sadar,
mulai memberikan donasi terhadap band-band yang gue suka dan akhirnya menyerah untuk mensupport.
Karena, ada banyak band bagus, di bumi pertiwi kita ini.
Mungkin industri morat-marit,
tapi masih ada bawah tanah. Semangat indie.
The Trees and The Wild menuju Eropa. Polyester Embassy dkk malang melintang di Asia.
Bottlesmoker keliling manasaja boleh,
atau Seringai dan Deadsquad yang sukses merajai penjualan merch,
Arina bela-belain bikin showcase Mocca demi tuntutan die hard fans Mocca,
banyak band yang fans-nya mulai sadar,
band kebanggaan mereka tak akan bisa apa-apa tanpa dukungan luar biasa.
Mari kita,
Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
mulai berhenti memandang rendah lower class,
penampilan mereka mungkin tidak seciamik hipster ibukota,
tapi, semangat mereka mendukung idola mereka harus kita contoh.
Gue ga asal ngomong,
sering banget gue perhatiin,
pembeli CD-CD dan merch band dalem negri itu bukan hipster-hipster Ibukota kok,
atau kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay.
Mulailah malu mendengarkan lagu via Mp3 yang kalian download gratisan,
malu harusnya bisa beli barang dari brand terkemuka dunia,
tapi CD band dalam negri 35rb saja dibajak.
Mulailah menghargai kawan, sejawat, saudara, yang berjuang di industri musik Indonesia.
Band jelek banyak, bukan berarti Band bagus sedikit.
Band juga harus ngasih yang terbaik,
bikin lagu, buat pesan, dan kemasan yang baik.
Bikin konsep dan attitude yang baik, jangan hanya ikut arus dan tren,
mulailah mengamati, meniru sedikit, dan memodifikasi dengan cara kalian sendiri.
Band juga tidak boleh manja,
bikin apapun yang bagus,
jangan setengah-setengah.
Kalo bagus pasti dilirik kok.
Agar kita, kita, Middle class yang merasa pintar cerdas berpendidikan dan tidak alay,
terenyuh dan tergerak membeli produksi kalian.
Masa depan musik Indonesia,
ternyata di tangan kita.
Beli CD, jangan Bra. #Eh
Berteriaklah kepada mereka.
"SAYA NABUNG BELI CD DAN MERCH ORIGINAL KALIAN, MAIN YANG BAGUS YAH!"
Note:
Ehyatapi, band jelek tetap saja jelek, mau indie, major, mainstream,
apa saja, kalo jelek tetap jelek. Yang bagus kita dukung. Yang jelek,
suruh bikin yang bagus, baru kita dukung. :D
Karena, mungkin saja bukan musik yang kalian hasilkan yang jelek,
mungkin saja, attitude, atau ragam lainnya yang kurang asik.
atau sebaliknya. Atau semuanya jelek. Atau belum waktunya jadi bagus.
Selamat berjuang musik Indonesia!
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Sunday, August 19, 2012
Monday, August 6, 2012
Biarkan Hilang
Post kedua di 2012.
menyedihkan.
Selain karena koneksi dirumah yang selambat anak babi yang baru tertembak peluru nyasar,
di kantor pun situs blog-ing kesayangan ini dilarang dibuka, alias di block.
Pffftt.
Apa kabar kehidupan disini?
Sunyi sepertinya,
mengingat tulisan terakhir yang diposting disini tepat di awal Februari,
dimana jari-jari meronta-ronta mengetik setelah dihajar bolak-balik hingga lebam di dalam hati, oleh segala ketidakmungkinan kehidupan.
Kali ini, apa yang mau ditumpahkan ya?
Ah biarkan hilang.
Ya, biarkan hilang, ditelan waktu, dibuang hujan,
disisi-sisi liang kematian jiwa dia berkarat,
menunggu dibuang,
menunggu hilang.
Kalau kalian pernah merasa lebih baik memendam nuklir daripada melepaskan sebuah misil,
maka inilah waktunya berfikir ulang.
Yeah, Mike, berfikir ulang.
Apa yang saya dapat?
Kadang muncul pertanyaan di benak gue,
apa guna gue?
Kegunaan.
Yap, entah apa yang udah gue lakuin sepanjang 25 tahun hidup.
Apa guna gue?
Kalo melihat dari prestasi dan profesi,
gue hampir nol besar.
Setelah nganggur setahun dua bulan dan merasa sangat worthless setiap detik,
Tuhan yang sangat baik ngasih gue kesempatan untuk nyicipin apa itu namanya digaji.
Gaji itu ibarat musuh ekspektasi,
gimana ya jelasinnya,
pernah ga sih, ibarat lu dapet jatah makanan lebih banyak,
tapi malah perut lu ga kenyang-kenyang?
Dasar Manusia.
Mungkin salah gue untuk menentukan alokasi,
tapi setelah dikalkulasi,
i don't even have the budget for doing some fucking fun things!
Ngerasa capek kadang,
kala lu ga ngerasa nikmatin atau foya-foya,
tapi lu selalu ga punya uang,
menguras tabungan,
dan yak, tetep ga senang-senang.
Kalo yang gue maksud foya-foya,
jangan bayangin gue masuk cafe mewah dengan minuman yang datang ga kelar-kelar,
it's not me,
gue memilih untuk berselancar di fjb kaskus dan beli barang 2nd hand inceran karena gue ga sanggup beli dengan harga baru.
Miris. Pas kerja malah lebih sering beli pas diskon atau pas ada yang jual 2nd.
Budget liburan aja megap-megap,
terakhir kali pergi ke Bandung,
pulang-pulang rasanya pengen berantem sama pencipta mesin Anjungan Tunai Mandiri.
Banyak yang bilang gue itu terlalu berfikir akan sesuatu,
apa ya itu istilahnya,
intinya gue kebanyakan mikir.
Ya iyalah,
kalo lu dibesarin sejak kecil dengan deg-degan sepanjang akhir bulan karena takut ga bisa bayar iuran atau biaya semesteran, lu bakal tumbuh jadi anak kayak gue,
kebanyakan mikir.
Jadinya penakut,
takut gagal,
takut kalah,
semua takut,
pengecut.
Haha. Udah dipanggil kayak gitu sejak SD,
trus lu mau apa?
Gue gak suka gambling,
gue ga doyan ngambil keputusan yang gue tau,
ntar pas salah gue yang kena habis-habisan.
Cobain aja rasanya,
ambil keputusan atas dasar keinginan murni dan luhur membantu sesama,
trus pas salah dikit dinyinyirin.
Kodok laut.
What's next?
Tumbuh jadi pribadi pengecut yang selalu disalahkan kalau mengambil keputusan?
Gue itu apatis sejak dini.
Entah kenapa,
mungkin memang penakut dan apatis itu temenan deket,
atau malah sodaraan,
tapi gue ngerasa itu mereka dateng sepaket.
Kalau ada orang yang ngaku pesimis, dan disemangatin jadi optimis,
maka gue, apatis,
akan makin tipis nyalinya saat dikasih kritik,
dan ga percaya sama tepukan tangan penyemangat.
Pffftttt.
Well,
i was born this way,
ini seperangkat kelemahan gue,
dibalik semua, emm.. beberapa, mm.. sebagian kecil, uuh,. sedikit kelebihan gue.
If you guys hate all my weaknesses, then don't you guys wanna know how much i hate myself? ;)
Apa ini menjawab pertanyaan gue,
apa kegunaan gue?
Ah ini cuma pikiran di sore hari nan panas,
sudah,
biarkan hilang.
menyedihkan.
Selain karena koneksi dirumah yang selambat anak babi yang baru tertembak peluru nyasar,
di kantor pun situs blog-ing kesayangan ini dilarang dibuka, alias di block.
Pffftt.
Apa kabar kehidupan disini?
Sunyi sepertinya,
mengingat tulisan terakhir yang diposting disini tepat di awal Februari,
dimana jari-jari meronta-ronta mengetik setelah dihajar bolak-balik hingga lebam di dalam hati, oleh segala ketidakmungkinan kehidupan.
Kali ini, apa yang mau ditumpahkan ya?
Ah biarkan hilang.
Ya, biarkan hilang, ditelan waktu, dibuang hujan,
disisi-sisi liang kematian jiwa dia berkarat,
menunggu dibuang,
menunggu hilang.
Kalau kalian pernah merasa lebih baik memendam nuklir daripada melepaskan sebuah misil,
maka inilah waktunya berfikir ulang.
Yeah, Mike, berfikir ulang.
Apa yang saya dapat?
Kadang muncul pertanyaan di benak gue,
apa guna gue?
Kegunaan.
Yap, entah apa yang udah gue lakuin sepanjang 25 tahun hidup.
Apa guna gue?
Kalo melihat dari prestasi dan profesi,
gue hampir nol besar.
Setelah nganggur setahun dua bulan dan merasa sangat worthless setiap detik,
Tuhan yang sangat baik ngasih gue kesempatan untuk nyicipin apa itu namanya digaji.
Gaji itu ibarat musuh ekspektasi,
gimana ya jelasinnya,
pernah ga sih, ibarat lu dapet jatah makanan lebih banyak,
tapi malah perut lu ga kenyang-kenyang?
Dasar Manusia.
Mungkin salah gue untuk menentukan alokasi,
tapi setelah dikalkulasi,
i don't even have the budget for doing some fucking fun things!
Ngerasa capek kadang,
kala lu ga ngerasa nikmatin atau foya-foya,
tapi lu selalu ga punya uang,
menguras tabungan,
dan yak, tetep ga senang-senang.
Kalo yang gue maksud foya-foya,
jangan bayangin gue masuk cafe mewah dengan minuman yang datang ga kelar-kelar,
it's not me,
gue memilih untuk berselancar di fjb kaskus dan beli barang 2nd hand inceran karena gue ga sanggup beli dengan harga baru.
Miris. Pas kerja malah lebih sering beli pas diskon atau pas ada yang jual 2nd.
Budget liburan aja megap-megap,
terakhir kali pergi ke Bandung,
pulang-pulang rasanya pengen berantem sama pencipta mesin Anjungan Tunai Mandiri.
Banyak yang bilang gue itu terlalu berfikir akan sesuatu,
apa ya itu istilahnya,
intinya gue kebanyakan mikir.
Ya iyalah,
kalo lu dibesarin sejak kecil dengan deg-degan sepanjang akhir bulan karena takut ga bisa bayar iuran atau biaya semesteran, lu bakal tumbuh jadi anak kayak gue,
kebanyakan mikir.
Jadinya penakut,
takut gagal,
takut kalah,
semua takut,
pengecut.
Haha. Udah dipanggil kayak gitu sejak SD,
trus lu mau apa?
Gue gak suka gambling,
gue ga doyan ngambil keputusan yang gue tau,
ntar pas salah gue yang kena habis-habisan.
Cobain aja rasanya,
ambil keputusan atas dasar keinginan murni dan luhur membantu sesama,
trus pas salah dikit dinyinyirin.
Kodok laut.
What's next?
Tumbuh jadi pribadi pengecut yang selalu disalahkan kalau mengambil keputusan?
Gue itu apatis sejak dini.
Entah kenapa,
mungkin memang penakut dan apatis itu temenan deket,
atau malah sodaraan,
tapi gue ngerasa itu mereka dateng sepaket.
Kalau ada orang yang ngaku pesimis, dan disemangatin jadi optimis,
maka gue, apatis,
akan makin tipis nyalinya saat dikasih kritik,
dan ga percaya sama tepukan tangan penyemangat.
Pffftttt.
Well,
i was born this way,
ini seperangkat kelemahan gue,
dibalik semua, emm.. beberapa, mm.. sebagian kecil, uuh,. sedikit kelebihan gue.
If you guys hate all my weaknesses, then don't you guys wanna know how much i hate myself? ;)
Apa ini menjawab pertanyaan gue,
apa kegunaan gue?
Ah ini cuma pikiran di sore hari nan panas,
sudah,
biarkan hilang.
Subscribe to:
Comments (Atom)