Percayalah,
tulisan ini,
akan menggelikan,
dan semenjijikan judulnya.
Kesepian membuat saya ingin kembali menulis,
selain tak ada kerjaan tentunya.
Jangan percaya jam blogger yang ngaco ini,
saya mengetik semua ini ketika jam menunjukan setengah 3 pagi.
Saya rindu pacar,
rindu mencumbui bibirnya saat dia mengantuk,
atau memaksanya menyudahi game-nya di cellphone nya,
rindu memeluknya saat dia mencoba tertidur,
dan akhirnya dia mengeluh pusing karena dia kurang tidur,
rindu wangi tubuhnya sesudah mandi,
kami memang sudah lama tak seintim itu.
Saya rindu dipeluknya,
sampai tertidur lima sampai sepuluh menit,
di atas kasur,
di kamar kosnya.
Saya rindu.
rindu berbaring tanpa beban di sampingnya,
mengacak-ngacak kasur di kamar kosnya,
karena saya tak bisa tidur menggunakan seprai,
rindu diajak makan rindu -tempat makan di dekat kosan-,
rindu makan siang bareng sepulang kuliah,
rindu berbicara mendalam dengan dia,
selama ini,
percakapan kami hanya soal-soal kecil,
apa yang terjadi di tivi,
gosip artis,
status sosial,
opini kami terhadap publik,
standar.
Jujur,
saya sama sekali tidak bosan,
satu hal yang saya kagumi dari hubungan saya dengan pacar yang satu ini,
adalah bagaimana saya begitu mencandunya.
Saya tidak pernah bosan mendengar ledekan nya melalui telepon CDMA saya yang mulai sering error,
dia memang sering terdengar tak jelas,
karena kecepatannya berbicara itu luar biasa,
luar biasa kacau.
Pacaran kami memang sangat terbatas skarang,
batas waktu dan ruang,
rutinitasnya mulai terasa sekali,
pagi,
bila tidak lupa,
dia akan mengirimkan pesan pendek kepada saya,
bila dia lupa,
saya marah besar.
Siang, tau sore, kalau dia ada waktu break,
kalau dia tak terlalu buru-buru,
dia akan sekedar mengecek keadaan saya,
melalui pesan pendek tentunya,
karena jaringan telepon murahan bernama CDMA itu,
tak berguna di lockernya, yang ada di basement.
Pulang kerja,
bila tak saya sempatkan jemput,
yang sebenarnya alasan saya adalah,
maksain-quality-time,
maka dia akan menggunakan angkot,
dan sampe rumah jam 8.
jam 9 atau 10 malam kami telponan,
dan jam 11 dia mesti pamit tidur.
Hampir tiap hari seperti itu.
Saya?
akan bangun jam 11 siang,
melihat cell phone saya,
berharap ada sms dari si pacar,
menyalakan komputer,
mencari makanan,
membuka e-mail,
mencari lowongan pekerjaan,
meng-klik "Quick Reply" pada web Job's DB,
mengusir sepi lewat twitter,
menunggu sms,
kadang mandi,kadang nggak,
dan kalo tidak jemput pacar,
ya saya nunggu dia pulang sambil nonton TV,
dan menunggu waktu pacaran atau bisa disebut,
telponan tepat jam 9 atau 10 malam.
Statis?
Bosen?
tidak sama sekali.
Suara nya di telepon,
cukup membuat kecanduan saya cukup terpenuhi,
cukup,
tapi tidak mencapai orgasme total yang biasanya bikin pria dengan obat kuat pun lemas.
hanya cukup.
Entah saya terlalu mencintai wanita ini tau bagaimana,
tapi saya mulai merasa dia itu orbit.
Kalau ada yang mengibaratkan wanita itu bulan,
maka saya berani bilang,
pacar saya yang ini mulai jadi matahari.
Dia tak pintar basa-basi,
tak pintar berkomentar.
Tapi sedikit suntikan semangat dan supportnya,
mampu meruntuhkan ketakutan saya akan hidup.
Sedikit saja keluhan dan ketidak setujuan,
membuat saya berguling-guling di kasur,
meronta-ronta,
mengahancurkan otak demi persetujuannya.
Saya merindukannya,
rindu dia mendengar sambil cengengesan,
saat dia bilang dia lupa hampir segalanya,
saat saya ungkit-ungkit awal pertama kali bertemu,
jatuh cinta,
dan akhirnya pacaran dengan dia.
Rindu memaksanya berkata "I Love You" di telepon,
yang rasanya lebih mudah memasukan gelas ke lubang hidung.
Saya rindu berbicara soal hidup,
mendiskusikan masa kecil,
menertawakan saat pertama kali kami bertemu.
Intinya,
saya mulai percaya kalau ini bukan lagi pacaran,
wanita ini sudah menjadi teman,
sahabat,
partner,
orbit,
bahkan tempat sampah,
dan saya pun mencoba sebaliknya,
mencoba berotasi mengelilinginya.
Demi saturnus yang agung,
dan lapisan ozone yang makin menipis,
demi oksigen yang akan segera terasa sangat mahal,
ini hubungan yang luar biasa.