Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Thursday, January 28, 2010

Liftorism

Anda tahu rasanya,
eum..
Bagaimana cara mendeskripsikannya,
bahkan saya bingung apa namanya.

Bayangkan anda terjebak di sebuah lift,
dan lift itu macet selama berjam-jam,
padahal anda hanya ingin naik dua lantai,
ada eskalator atau sebuah tangga biasa,
tapi anda memilih lift,
dan lift itu macet.
Anda terkunci di dalamnya.

Menyesal?
Lebih dari itu.
Anda merasa kelaparan,
salah langkah, salah memilih.

Membayangkan,
seharusnya anda naik tangga saja,
meskipun mengeluarkan banyak tenaga,
setidaknya,
anda tak terjebak di ruang sempit seperti lift ini.


Inilah yang saya sedang alami,
penyesalan tiada tara.

Saya "dianggap" membuang waktu,
selama 3 bulan penuh,
terjebak dalam ketidakberdayaan,
ruang sempit bernama kamar,
pengangguran.

Zona nyaman?
Makan,tidur,bangun siang,
internetan,
nonton tv,
menyenangkan?

Anda harus melihat tekanan nya.

Mendengar satu kata tekanan,
dari ayah atau ibu saya,
rasanya remuk layaknya kecoak yang diinjak kaki bersepatu boot.

Mejret.


Lalu pacar?

Saya hanya berharap dia bertahan,
menunggu saya keluar dari jebakan lift macet ini,
dan menunggu lagi di lantai atas,
saat saya tertatih menaiki tangga,
menuju mimpi,
dan janji yang semoga saya tepati.


Jakarta,29 Januari 2010.

Sunday, January 24, 2010

Jakarta

Kita jalani kisah yang penuh drama
menjadi korban magis elektronika
Memuja hujan bintang romantika,
berotasi penuh dan mengelilinginya

Merekam semua dengan cahaya
menjelaskan kosong yang kau rasa sementara

Berjuta lampu-lampu,
dan gemerlap cahaya
selaraskan suasana
malam di kota Jakarta

Jantung yang berdetak,
senandungmu berteriak
lengkapi suasana sesak
di kota jakarta

tempatmu percaya.
lukamu terbuka.

Torn

Jika anda lahir dan tumbuh seperti saya,
mungkin anda akan memaklumi,
jika saya bisa memaafkan,
tapi tak bisa mengampuni.
Bisa meninggalkan,
tapi tak akan melupakan.

Saya ingat setiap kejadian menyakitkan,
sama kuatnya dengan katu memori,
sama megahnya dengan keamanan brangkas.

We can flush away the pain,
but the scar,
stand still,
forever, and after.

Saturday, January 23, 2010

Jika hidup itu mimpi buruk,mengapa kita takut mati?

Hidup.
Berapa kali kalian ingin mengakhirinya?


Hidup adalah buku tebal,
dimana setiap halamannya terdapat cerita.
Siklus yang berputar.
Kita pernah menangis di bawah,
dan tak bersyukur saat sedang diatas.

Pernahkah kalian mengucap nama Tuhan,
saat kalian mendapati kalian masih terbangun pagi hari?

Atau kalian hanya mengeluh,
terbayang tentang jalanan yang penuh,
dan rutinitas yang membunuh?

Kasihan.

Kasihanilah diri kalian.

Ini hidup kawan,
sebuah anugerah dan kutukan,
tergantung darimana kalian melihatnya.

Bahkan nafas kalian terdiri dari sistem,
sistem yang luar biasa,
hidung,kerongkongan,paru-paru,
bekerja sedemikian rupa,
hanya untuk sebuah nafas,
mengganti sebuah zat bernama oksigen,
dan menghadirkan karbon dioksida.

Mewah. Bahkan nafas kalian mewah.
Teknologi tinggi.

Tuhan,
pantas saja Kau disebut Tuhan.
Kau luar biasa.

Hidup,
berjalan dengan siklus.

Tak ada hidup yang statis,
tak ada hidup bahagia.

Manusia memang harusnya dibunuh saja.

Ada orang tua,
kita meminta kebebasan,
kita meminta kemerdekaan.

Ada lauk seadanya,
kita meminta gajah sebagai makan siang,
dan seekor paus untuk makan malam.

Ada tempat berteduh,
kita memohon istana,
kita merengek kubah dipenuhi berlian.

Ada transportasi,
kita ingin sayap agar terbang,
kita ingin berpindah dalam sekejap mata.

Hidup adalah mimpi buruk?
Mimpi yang biasa saja dan berharap yang terburuk?
Bersyukurlah kalian masih hidup.

Kenapa hidup begitu sulit?
Bahkan kita harus bekerja untuk makan.
Pernahkah kalian bekerja,
tapi mulut kalian tak bisa makan?

Kenapa hidup saya begitu menyedihkan?
Orang tua saya memperlakukan saya seperti binatang.
Coba kalian lahir di selokan,
dan orang tua kalian terbunuh sebelum kalian mengenalnya.

Lihatlah dari bagian terburuk,
dan bersyukurlah kalian masih hidup.


Bersyukurlah demi mata yang indah,
yang melihat melalui cahaya yang dipantulkan,
lagi-lagi teknologi dan sistem yang luar biasa.

Kalian bisa melihat ketidak adilan,
agar kalian bisa berlaku adil.

Hidup adalah mimpi buruk?

Cobalah mati,
mungkin kalian bisa berpikir dua kali.

Thursday, January 21, 2010

Rindu Pacar

Percayalah,
tulisan ini,
akan menggelikan,
dan semenjijikan judulnya.
Kesepian membuat saya ingin kembali menulis,
selain tak ada kerjaan tentunya.
Jangan percaya jam blogger yang ngaco ini,
saya mengetik semua ini ketika jam menunjukan setengah 3 pagi.

Saya rindu pacar,
rindu mencumbui bibirnya saat dia mengantuk,
atau memaksanya menyudahi game-nya di cellphone nya,
rindu memeluknya saat dia mencoba tertidur,
dan akhirnya dia mengeluh pusing karena dia kurang tidur,
rindu wangi tubuhnya sesudah mandi,
kami memang sudah lama tak seintim itu.
Saya rindu dipeluknya,
sampai tertidur lima sampai sepuluh menit,
di atas kasur,
di kamar kosnya.

Saya rindu.
rindu berbaring tanpa beban di sampingnya,
mengacak-ngacak kasur di kamar kosnya,
karena saya tak bisa tidur menggunakan seprai,
rindu diajak makan rindu -tempat makan di dekat kosan-,
rindu makan siang bareng sepulang kuliah,
rindu berbicara mendalam dengan dia,
selama ini,
percakapan kami hanya soal-soal kecil,
apa yang terjadi di tivi,
gosip artis,
status sosial,
opini kami terhadap publik,
standar.

Jujur,
saya sama sekali tidak bosan,
satu hal yang saya kagumi dari hubungan saya dengan pacar yang satu ini,
adalah bagaimana saya begitu mencandunya.
Saya tidak pernah bosan mendengar ledekan nya melalui telepon CDMA saya yang mulai sering error,
dia memang sering terdengar tak jelas,
karena kecepatannya berbicara itu luar biasa,
luar biasa kacau.

Pacaran kami memang sangat terbatas skarang,
batas waktu dan ruang,
rutinitasnya mulai terasa sekali,
pagi,
bila tidak lupa,
dia akan mengirimkan pesan pendek kepada saya,
bila dia lupa,
saya marah besar.
Siang, tau sore, kalau dia ada waktu break,
kalau dia tak terlalu buru-buru,
dia akan sekedar mengecek keadaan saya,
melalui pesan pendek tentunya,
karena jaringan telepon murahan bernama CDMA itu,
tak berguna di lockernya, yang ada di basement.
Pulang kerja,
bila tak saya sempatkan jemput,
yang sebenarnya alasan saya adalah,
maksain-quality-time,
maka dia akan menggunakan angkot,
dan sampe rumah jam 8.
jam 9 atau 10 malam kami telponan,
dan jam 11 dia mesti pamit tidur.
Hampir tiap hari seperti itu.

Saya?
akan bangun jam 11 siang,
melihat cell phone saya,
berharap ada sms dari si pacar,
menyalakan komputer,
mencari makanan,
membuka e-mail,
mencari lowongan pekerjaan,
meng-klik "Quick Reply" pada web Job's DB,
mengusir sepi lewat twitter,
menunggu sms,
kadang mandi,kadang nggak,
dan kalo tidak jemput pacar,
ya saya nunggu dia pulang sambil nonton TV,
dan menunggu waktu pacaran atau bisa disebut,
telponan tepat jam 9 atau 10 malam.

Statis?
Bosen?
tidak sama sekali.

Suara nya di telepon,
cukup membuat kecanduan saya cukup terpenuhi,
cukup,
tapi tidak mencapai orgasme total yang biasanya bikin pria dengan obat kuat pun lemas.
hanya cukup.

Entah saya terlalu mencintai wanita ini tau bagaimana,
tapi saya mulai merasa dia itu orbit.
Kalau ada yang mengibaratkan wanita itu bulan,
maka saya berani bilang,
pacar saya yang ini mulai jadi matahari.

Dia tak pintar basa-basi,
tak pintar berkomentar.
Tapi sedikit suntikan semangat dan supportnya,
mampu meruntuhkan ketakutan saya akan hidup.
Sedikit saja keluhan dan ketidak setujuan,
membuat saya berguling-guling di kasur,
meronta-ronta,
mengahancurkan otak demi persetujuannya.


Saya merindukannya,
rindu dia mendengar sambil cengengesan,
saat dia bilang dia lupa hampir segalanya,
saat saya ungkit-ungkit awal pertama kali bertemu,
jatuh cinta,
dan akhirnya pacaran dengan dia.
Rindu memaksanya berkata "I Love You" di telepon,
yang rasanya lebih mudah memasukan gelas ke lubang hidung.
Saya rindu berbicara soal hidup,
mendiskusikan masa kecil,
menertawakan saat pertama kali kami bertemu.

Intinya,
saya mulai percaya kalau ini bukan lagi pacaran,
wanita ini sudah menjadi teman,
sahabat,
partner,
orbit,
bahkan tempat sampah,
dan saya pun mencoba sebaliknya,
mencoba berotasi mengelilinginya.

Demi saturnus yang agung,
dan lapisan ozone yang makin menipis,
demi oksigen yang akan segera terasa sangat mahal,
ini hubungan yang luar biasa.

Saturday, January 9, 2010

Lovekills Black and White Season,2010


PERSIAPKAN HATI UNTUK KEMBALI
TERLUKA HINGGA KAU TAK LAGI
MERASAKAN APA-APA
2010
WAKTU YANG TEPAT UNTUK
MENYERANG BALIK!


THE ADVENTURE



The Adventure adalah sebuah desain yang penuh obsesi, keadaan dimana saya menginginkan sebuah petualangan yang sering saya rasakan.
Coba bayangkan saat anda menggunakan t-shirt hitam dan desain ini melekat sebagai perisai dari segala terjangan hidup.
Gunakan t-shirt ini disaat anda diterpa angin,
di atas motor yang melaju kencang,
memburu waktu,
mengejar kekasih yang setia menunggu.
Banggakan t-shirt ini,
setiap anda mengahajar jalanan,
kedinginan saat malam hujan,
demi perasaan cinta,
dalam misi menaklukan masa depan.
Semoga James Dean mengampuni anda karena telah meniru gayanya.


THE BELIEVER



Kesalahan adalah kesalahan, bahkan jutaan kali meminta maaf pun akan terhempas percuma. Dan itulah yang akhirnya saya rasakan, setelah saya menggunakan kata-kata yang tak seharusnya saya gunakan, meskipun hal itu hanya untuk sebuah kepentingan bisnis belaka. Ingat kasus Tom Delonge yang dimusuhi istrinya saat menulis lirik "I need a girl that i can train.." di lagu "Dumpweed"? Nah, itulah yang saya rasakan.
Terkadang kita tak sadar melakukan kesalahan, demi sebuah humor murahan demi bisnis yang menggiurkan.
Tanpa kesadaran,kurang sensitif, apalah, intinya ini memang kesalahan, dan it was one of the greatest mistake i've ever made.
So, i've changed the phrase of this t-shirt,
because, i also believe that love, no matter what,it kills, anytime, anywhere, anyone.


THE REVOLVER



Ini adalah favorit saya untuk tahun ini, tak ada yang lebih menyenangkan daripada menaruh kata-kata bijak dalam sebuah desain T-shirt. The Revolver adalah sebuah konsep, dimana mimpi dan realitas yang bertarung di atas meja roulette,
bertaruh kepala mereka yang akan ditembus oleh peluru yang akan diledakan oleh sebuah revolver.
Dilatari salah satu untaian kata-kata mutiara dari Marcel Pagnol, seorang berkebangsaan Perancis,
"La raison pour laquelle les gens trouvent qu'il est si difficile d'être heureux, c'est qu'ils voient toujours le passé meilleur qu'il ne l'était, le présent pire qu'il est, et l'avenir moins résolus que ce sera" 
atau dapat diartikan, 
"Alasan orang merasa begitu sulit untuk menjadi bahagia adalah bahwa mereka selalu melihat masa lalu lebih baik, yang sekarang lebih buruk, dan masa depan tidak akan sebaik yang pernah terjadi."
Sebuah konflik batin, antara mimpi dan realitas, otak yang dibunuh oleh logika. Andaikan cinta hanyalah mimpi, maka realitas adalah hal pertama yang akan membunuhnya, The Revolver.


THE AUTOMATIC

Sudah sejak lama, Otong "KOIL" mengatakan, bahwa semua ini hanyalah fashion,
bahkan perasaan kita sendiri,
jantung yang bedetak,
itu adalah fashion.
Assesoris kehidupan.
Menyenangkan melihat hati kita mengikuti sistem, siklus yang berputar otomatis,
melihat,jatuh hati,mencintai seakan esok kita akan mati,patah hati,mati rasa,lalu kembali jatuh cinta. Otomatis. Berputar dalam sistem. Siklus terarah. Inilah The Automatic, when love, has becoming our fashion statement, and trust me, it kills.



Tuesday, January 5, 2010

The Color Fred - Bend To Break



THE COLOR FRED - BEND TO BREAK

1. Get Out
2. If I Surrender
3. Hate To See You Go
4. It Isn't Me
5. Complaintor
6. The Tragedy
7. I Didn't See
8. Empty House
9. Minnesota
10. I'll Never Know
11. Don't Pretend


Baiklah,
anda tahu Fred Mascherino?
Dia itu seorang gitaris/vokalis handal yang dulunya menggawangi band emo kelas tinggi,Taking Back sunday,
salah satu masterpiecenya adalah lagu "A Decade Under The Influence",
dimana lirik "I gotta a bad feeling about this.." yang diteriakan Fred mengiringi nyanyian Adam Lazzara di lagu itu,
akan meracuni otak anda,setiap kali anda dihadapkan pada sebuah perasaan yang tidak enak dan gelisah.

Saya tidak akan membahas lebih panjang soal Fred dan Taking Back Sunday,
tapi tiap mendengarkan album ini,
pasti anda akan membayangkan Fred masih bergabung di grup lamanya itu.

Single pertama dari "Bend To Break" berjudul "If I Surrender",
sebuah pop enerjik,atau boleh saya sebut,
inlah bentuk sebenarnya dari power-pop?
memasukan unsur optimis dan pesimis sekaligus,
nada-nada manis, tapi lirik depresif sepanjang verse.
Lagu yang bagus untuk mengawali hari anda di rutinitas kota yang biasa mendendangkan lagu mendayu-dayu.
Ciri khas dari vokal dan permain Fred di Taking Back Sunday tidak hilang sedikitpun.

Di album,
"If I Surrender" ada setelah "Get Out" yang mengawali track di album, tapi dijadikan single kedua,"Get Out" sebuah lagu dengan tema sangat chessy, dan nada nya luar biasa pop! Tapi reffnya -yang artinya tidak begitu penting- sangat catchy, kalau tidak salah, lagu ini muncul di OST Cinderella's Story. Lalu "Hate To See You Go", yang merupakan single ketiga, lagu yang bagus, dan lagi-lagi, reff yang catchy, tapi liriknya jauh lebih emo disini.

Setelah tiga lagu middle tempo, saatnya berakustik ria,
dan sepertinya, Fred menunjukan kelasnya di "It Isn't Me",
liriknya memukau, dan temanya bagus sekali,
sebuah lagu cinta yang bertepuk sebelah tangan,
tapi disampaikan dengan sangat baik, dan tidak cengeng,
tapi saya tidak bertanggung jawab kalau ada meneteskan air mata saat lagu ini selesai.

Track berikut, adalah "Complaintor",
track favorit saya di album ini,
soalnya, ini lagu yang masih sangat berbau Taking Back Sunday,
dan yang terbaik - selain versenya- adalah bagian bridge, dimana Fred meneriakan "This will end,if you choose, to do nothing...",
memukau! it's so fucking emo!

Tidak ada yang menarik dari "The Tragedy","I Didn't See", ataupun "Empty House", lagu-lagu yang lumayan, tapi bukan lagu pilihan untuk didengarkan, hal ini berlanjut sampai "Minnesota", dan akhirnya,
satu lagi lagu yang membuat saya kembali duduk mendekati speaker PC saya,
"I'll Never Know" dan "Don't Pretend"  adalah dua lagu ballad,
dan sangat cantik!
Jangan bayangkan Bon Jovi kalau saya bilang ballad,
"I'll Never Know" sangat manis dan cantik, liriknya mengisyaratkan hal yang dilematis, dengan tema mencintai seorang sahabat,
lalu album ini ditutup oleh sebuah lagu akustik terbaik,
"Don't Pretend" sama saja meng-akustikan kemarahan,
liriknya seperti memaki dalam balutan depresif yang kental,
seakan mengumpat di balik bantal,
di dalam kamar tidur yang terkunci rapat, dan lampu dimatikan.
"Don't pretend to care,don't apologize, don't tell me i'm right, i know what's not mine..." Seandainya ini ditulis dan dibawakan oleh Arian13 dari Seringai, saya tak tahu akan jadi bagaimana tensi lagu ini.

Saya merekomendasikan penuh labum ini,
untuk mereka para pencinta Taking Back Sunday,
yang merindukan suara Fred Mascherino,
menyanyikan lagu patah hati yang luar biasa.

Saturday, January 2, 2010

Degradasi Hati, Pemimpi Yang Depresi

Badai otak.


Saya masih tak bisa lupa rasa bir,
menempel di bibir,
menjamu malam tanpa akhir.


Sudah lama sekali,
saya terbangun dari mimpi masa lalu,
membicarakan realitas,
tanpa alkohol tentunya.

Apa yang sebenarnya kita cari?
Mengapa kita malah merendahkan mimpi?

Saya rasa,
kata "realistis",
merendahkan stabilitas otak kita untuk sekedar berharap,
kita melihat dengan logika,
saya pun begitu,
bahkan saya pernah menulis soal ini sebelumnya,
bagaimana dalamnya perasaan kita saat bermimpi,
kita merasa bebas,
terbang ke dunia khayal,
sendirian,
melakukan apa yang kita inginkan,
memimpikan apa yang kita harapkan.

Langkah kita seringkali bergetar,
meragukan kuatnya kemegahan mimpi,
dan kita mati-matian tertekan,
terbebani dengan kenyataan yang hampir selalu,
berjalan tak sesuai harapan.

Tak ada orang yang tahu soal esok hari,
dan tak ada seorang pun yang mampu meramalkan hari,
akan berjalan baik,
semua hanya berharap.

Apa sebenarnya yang kita cari?
mengapa kita selalu merendahkan mimpi?

Satu kampung akan tertawa,
ketika mendengar tetangga mereka,
bermain sepakbola,
dan berkata.
"Suatu hari,saya akan bermain di klub Barcelona,
klub terbaik di Eropa!"

Mengapa kita mematikan mimpinya?
Mengapa kita malah menyodorkan realita?

Tak ada yang tahu soal masa depan,
kita hanya manusia bodoh yang mengikuti alur jaman,
bahkan penemuan-penemuan,
yakinkah anda itu murni hasil sebuah pemikiran?
Atau semua ini hanyalah sesuatu yang digariskan?

Ada yang lahir sehari,
lalu mati.
Ada yang lahir,
merangkak,
berteriak,
baru mati.

Tak ada yang tahu,
tentang rumitnya hidup,
semua hanya menerka,
menganalisa,
merangkumnya dalam buku,
merumuskannya dalam kata-kata,
alur kebiasaan.


Mematikan harapan,
sama aja bunuh diri.
Menghentikan mimpi,
sama saja menikam jantung sendiri.

Lalu apa bedanya dengan mereka,
atau kalian juga salah satu dari mereka?

Meramalkan,
menertawakan.

Kita hanyalah manusia,
dimana siklus hidup ini bagaikan roda berputar,
detik ini diatas,
menit berikutnya terhempas kalah di tanah.


Tak ada yang tahu jalan hidup orang,
detik ini menjadi pemakai obat terlarang,
setahun mendatang menjadi jutawan,
sepuluh tahun kemudian ditemukan tewas dengan luka bacokan.

Tak ada yang mengerti masa depan,
hari ini dikeluarkan dari sekolah,
esoknya diusir dari rumah,
lima tahun berikutnya mendapat berkah,
sebulan kemudian membangun rumah,
dan membeli mobil sport super mewah.

Bermimpilah,
lepaskan harapan bagaikan menembakan peluru,
menuju langit yang penuh misteri,
dan semesta yang tak terpungkiri,
bernafaslah,
tertawalah,
menangislah,
bermimpilah.