Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Sunday, February 28, 2010

Twitter = Hipotesa Insomnia

Sebagai manusia yang seringkali disebut tweets junkie,
saya sendiri sering membaca tweet yang disemburkan beberapa teman saya,
yang akhirnya akan memenuhi timeline di home twitter saya di tengah malam,
biasanya,
mereka hanya akan mengeluh sulit tidur,
dan hal tak penting lainnya,
seperti potongan-potongan keluhan agar terlihat misterius,
atau malah sejelas-jelasnya sekalian,
pacar yang menyebalkan,
atau masalah keluarga.

Tak ada hak saya untuk membenci tweet semacam itu,
toh,
saya pun "membuang sampah" lebih banyak dari mereka,
bedanya,
tweets saya cenderung tak serius,
lusinan omong kosong,
sesekali hanay menimpali dan meledek,
tak ada maksud apa-apa,
seperti mengobrol ngalor ngidul bersama teman-teman sambil layaknya menunggu waktu berbuka puasa,
dan hanya seperti junker bodoh yang tak punya kerjaan,
itu kenyataan,
saya memang pengangguran.

Twitter memang seperti timeline yang sebenarnya,
buat manusia tak punya kesibukan seperti saya,
nge-tweet per menit adalah keharusan,
saya akan menyesal apabila tak mampu melakukannya,
namun,
sekali lagi,
saya hanya membuang sampah membabi buta.

Entah apa yang mau saya tulis disini,
'__________'
emoticon seperti diatas a la ABABIL Jakarta,
sepertinya menjelaskan semuanya.
saya mau tidur.

Monday, February 22, 2010

Adiksi Sirup Anggur

Kemagisan hidup makin terasa beberapa waktu terakhir,
sudah lama sekali saya sok sibuk mereview album,
mengkritik musik,
mencoba-coba berperan bagai reporter,
seperti jurnalis kawakan,
dikritik,dipuji,
diolok-olok,
saya terlihat berlalu dengan langkah mantap,
padahal saya gontai lemas terkulai di tanah,
saya mulai menghirup udara kalah,
saya mulai menyerah.

Lucu sepertinya,
mengingat peran sebenarnya saya adalah pengangguran,
anak laki-laki umur 22 tahun,
yang masih berkutat mencari tujuan hidup,
karena keinginan dan mimpi saya dibunuh realitas.

"Those jobs haunting me,but i running away with my stupid dreams"

Saya menulis dengan harapan bisa berlari dari kenyataan.
saya mulai lelah,
beradu argumen dengan ibu,
bangun siang dengan sakit kepala,
tak berhenti makan akbiat frustasi,
dan adiksi berlebihan terhadap sirup anggur.

tak ada yang bisa saya ajak bicara,
toh,
tak akan ada yang percaya,
dibalik keriangan,
dibalik cara bercanda saya yang murahan,
tersimpan anak laki-laki penakut yang tak tahu ingin jadi apa di masa depan.

Saturday, February 13, 2010

Angels and Airwaves - LOVE




Orgasme.


Ini seperti menahan birahi tak berkesudahan,
buat saya,
menanti dari 6 November 2007,
sejak rilis I-Empire,
dan baru kesampaian di 13 Februari 2010,
sama saja dengan dipenjara secara batin,
sama saja dipisahkan oleh kekasih,
dipisahkan jarak,
hanya bisa melihat foto-fotonya,
mendengar suaranya lewat telepon,
membaca-baca ulang sms lama di cellphone,
dan baru bisa bertemu setelah 2 setengah tahun lebih.


Itu yang saya lakukan selagi menunggu LOVE,
membaca artkel-artikel, lama atau baru tentang LOVE,
melihat foto-foto proses rekaman LOVE,
mendengar preview beberapa lagu dengan kualitas sangat parah,
membaca-baca ulang lirik-lirik dari album sebelumnya,
keterlaluan memang mereka.


Ini gila.


LOVE adalah album AVA yang kita bisa download gratis secara resmi,
dan saya pikir ini hanyalah strategi marketing dari si kreator,
Tom Delonge.
LOVE, yang merupakan album studio ketiga dari Angels and Airwaves, atau yang biasa kita kenal sebagai AVA,
adalah penantian yang tak berujung,
mengingat kita sudah lama dibombardir oleh sablonan LOVE di t-shirt Tom Delonge saat tur dengan Blink 182 di Amerika,
dan tiba-tiba AVA seenaknya membuat kita makin penasaran,
dengan memberikan "Hallucinations" sebagai hadiah natal,
untuk single pertama dari album LOVE.
Ini sama saja kita diberikan rekaman video web-cam oleh kekasih kita yang ada jauh disana,
membuat kita semakin tak mampu menahan gejolak rindu,
terkutuk kau AVA!




Bayangkan rasanya,
ingin sekali menciumnya,
tak akan lepas memeluknya,
dan menggenggam tangannya seharian,
tak ingin berhenti mendengarkannya bercerita.

Inilah LOVE, penantian yang tak berkesudahan,
akhirnya berakhir juga,
dan saya tak bisa berhenti mendengarkannya.

Saya sabar mendownloadnya,
membaca-baca ulang judul-judul lagunya,
meresapi nada dan atmosfirnya,
tak ingin berhenti mendengarkannya.




Lalu,
bagaimana pendapat saya soal LOVE?


Sulit rasanya menilai band favorit,
saya bisa saja menulis secara subyektif,
bilang kalau album ini,
terbaik dari yang terbaik,
namun,
saya mesti menahan diri,
bagaimanapun,
mereka cuma band,
cuma band pop/rock alternatif dari Amerika,
dan Delonge bukan Tuhan,
Kennedy bukan James Dean,
mereka tidak sempurna.


Demi kemaluan Delonge yang berkarat,
saya bersumpah ini akan panjang dan mendetail.




"Et Ducit Mundum Per Luce" membuka petualangan saya dengan LOVE,
dan saya sudah memakai helm, jaket, sepatu Macbeth,
siap sekali mengarungi luar angkasa yang penuh pemikiran seorang Mason dan tiga sahabatnya.


Saya memulai dengan "The Flight of Apollo"
jika menurut beberapa teman saya ini lagu luar biasa,
maka menurut saya,
yang mengagumkan adalah tema dan liriknya,
sebuah nyanyian humming yang lebih menyerupai speech di awal lagu,
itu luar biasa,
terasa sekali suasana penerbangan apollo yang gagal,
namun memasuki intro,
ah, ada sedikit "Tiny Voices" dari Boxcar Racer,
meskipun tak ada salahnya,
toh penulis kedua lagu sama-sama Delonge.
Sedikit membosankan di akhir,
meskipun departemen lirik kembali memegang peranan penting,
dan berhasil menjadi kekuatan tambahan,
"So life doesn’t hurt, doesn’t hurt so badly, so life doesn’t hurt, doesn’t hurt so badly
Please don’t look at life, look at me so sadly. Life shouldn’t hurt, doesn’t hurt so badly

adalah kata-kata terbaik 
yang menggambarkan keseluruhan lagu ini,
dan itu luar biasa.




Tak berhenti, selagi drum menghentak,
saya dihajar langsung oleh "Young London",
yang agak menakjubkan,
lagu tipikal AVA dibalut sebuah,
euhm, typing gitar?
Entah itu pengaruh delay,atau apalah,
yang jelas,
ini menakjubkan.
Keseluruhan, lagu ini lebih bernada optimistis,
dan anthemic,
liriknya sendiri kembali meniupkan sebuah pengharapan,
yang jelas menjadi spesialis AVA.
Sekilas saya membayangkan Delonge 
di masa tua memimpin sebuah gerakan
pemuda pemudi putus asa di utara London, 
yang meneriakan 
"Suit up boys, that’s right 
it’s the weekend 
Get down girls, 
and dance with your best friend...."




"Shove" adalah lagu menarik, 
intro yang agak sedikit,
mirip dengan "The Gift", 
meskipun sound yang digunakan lebih sempurna,
lebih kering dan menusuk telinga.
namun liriknya lebih kepada suntikan semangat untuk terus maju,
luar biasa menyentuh dengan reffrain
"She said “show me the world that’s inside your head,
show me the world that you see yourself, 
you could use some help
cuz sometimes it comes with a shove, 
when you fall in love"
Manis, 
meski jika lebih sering didengarkan,
kalau saya tak salah,
nadanya mirip dengan reffrain "Everything's Magic" 
versi lambat,
entahlah,
namun sangat termaafkan dengan liriknya yang menyentuh.


Track selanjutnya adalah orgasme pertama dari LOVE,
"Epic Holiday",
dan sangat tidak mengecewakan.
Setelah saya cukup merinding, bahkan hanya dengan versi yang dulu saya dapat,
dengan sound luar biasa parah,
kini,
full version nya terasa memuncak tanpa ampun.
Saya seperti naik rollercoaster berisi amunisi mimpi,
dengan reff yang seolah echo dan delay vokal diperlebar,
makin terasa kemegahan liburan yang Delonge tawarkan.
Ini adalah lagu yang mendekati sempurna,
intro, verse, reff,
semuanya berkesinambungan,
lirik?
bagian favorit saya selain reff adalah
"Every single day, every 9 to 5
Every body works it hard, but then we finally die
Pukulan telak kepada rutinitas dan sistem,
ah teman-teman, kalian butuh sedikit liburan.
Satu lagi yang menarik adalah permainan drum Atom di interlude,
mencengangkan.
EPIC!!


Orgasme kedua ada di "Hallucinations",
jika dulu saya agak menganggap enteng lagu ini,
maka saya salah.
Hallucinations, adalah sebuah jembatan,
sebuah sinopsis perjalan LOVE yang menimbulkan pro dan kontra di kepala,
sebuah pertanyaan "Do you believe in Hallucinations?"
akan terus membekas di perjalanan hidup kalian hingga mati,
dan LOVE akan berakhir dengan pertanyaan yang sama,
jika kalian tak berhalusinasi saat mendengarkan lagu ini,
maka lupakan LOVE.


"The Moon-Atomic (Fragment and Fictions)" dimulai dengan sangat biasa namun terasa istimewa, ada sedikit irama yang sangat amerika, dan anthemic.
Delonge seperti sedang berpidato di depan rakyat Amerika di depan gedung putih, menyadarkan mereka,
bahwa "We are all that we are, so terribly sorry"
lagu ini penuh renungan,
menyentuh dengan cerdik dan cermat,
menyadarkan kita hanyalah manusia biasa,
di alam semesta yang indah dan luar biasa.
lagu ini ditutup dengan sebuah encore yang mengantar kita ke pintu darurat sebuah pesawat ulang alik,
dan tabung oksigen seadanya,
hanya untuk menyentuh bulan dan melihat matahari sedikit lebih dekat.

Saya langsung terbayang "Breathe" saat mendengar "Clever Love",
dan jujur,
saya sedikit kurang suka,
ada ekspektasi lebih dengan lagu ini,
tapi yang saya dapat adalah seperti saudara kembar identik yang sulit sekali dibedakan.
Lagu ini cocok bagi pecinta romansa di sisi angkasa,
dimana mereka saling mencintai di dalam helm dan pakaian astronot,
saling berciuman di sisi jendela satelit NASA.

Orgasme itu datang lagi di "Soul Survivor (...2012)",
intro kelam dibalut sound halus dengan nada menggelitik,
dan diawali dengan lirik yang membuat bulu kuduk berdiri dan membeku,
"I am a ghost, this is a dream",
oh Tuhan, darimana Delonge dapat kata-kata seperti itu?
Dengarkan dengan mata tertutup,
bayangkan akhir dari dunia,
dan kita berdiri melihat segalanya dari atas bukit yang tinggi.
Lirik di lagu ini sangat memukau,
seperti mendengar seorang yang baru saja pulang dari perjalanan spiritual ke masa depan,
saat bumi akhirnya hancur,
dan dia kembali untuk menceritakan nya dengan bahasanya sendiri.


"Letters to God, part II" adalah pertanyaan besar buat saya. Mason dan Tuhan? Saya mulai mempertanyakan definisi Mason yang saya baca selama ini, saat membaca lirik lagu ini. Lirik mengarah kepada pembicaraan Delonge dan Tuhan, yang menarik,
pembicaraan ini terkesan pribadi,
dimana Delonge, mulai terkesan menyadari arti sebenarnya hidup,
dan segala kegilaan yang terjadi di dalamnya,
tentang kedewasaan dalam melihat hidup.
Menarik.
Lagunya sendiri dimulai dengan intro yang sangat saya sukai,
seperti membuka tirai gelap,
dan riff gitar diulang-ulang tapi tetap catchy,
dan tentu saja bebunyian yang mengiringi sepanjang verse,
menggelitik dan memberi bumbu penyedap di keseluruhan lagu.
Dan yak, tenang saja, ini beda sekali dengan "Letters to God" bagian pertama milik Boxcar Racer.


Album ini ditutup dengan "Some Origins of Fire" yang pasti akan sangat mengingatkan pada "The Adventure",
baik dari struktur intro ataupun nada verse. Agak mengecewakan, meskipun saya menyukai sound gitar khas AVA disini,
setelah di lagu-lagu sebelumnya di dominasi bebunyian string dan apalah namanya itu. Lagu ini diakhiri dengan permainan solo gitar yang jarang ditemui di lagu-lagu AVA sebelumnya.

Sebelum saya menaruh headphone ini di lantai,
saya penasaran dengan keistimewaan yang saya dapat,
yaitu bisa mendengarkan versi remix dari Mark Hoppus,
untuk "Hallucinations",
tanpa harus mendonasi sejumlah dana ke modlife.
"Hallucinations" a la Mark sama saja dengan menghilangkan,
melenyapkan segala kemegahan,
menggantinya dengan musik digital,
yang bergantung pada piranti lunak.
Seperti ada anak kecil mengganti kuas dan cat minyak,
pada sebuah lukisan modern,
dan dia menggunakan pensil warna.
aneh,sederhana, dan tidak bagus.
Entahlah, sepertinya Mark harus lebih belajar,
pada Tiesto, atau Adam Young?
Yang pasti, saya yakin,
bahkan semua pasti setuju,
bahwa Mark menghilangkan ornamen-ornamen pendukung
suara Delonge yang malah melemahkan "Hallucinations".



Berakhir juga petualangan dengan LOVE,
dan saya pun melepaskan sabuk pengaman,
membuka helm astronot ini,
siap kembali ke dunia nyata.
Sebagai pemuas dahaga,
album ini sangat baik,
yang sebenarnya malah membuat album ini terasa lebih berat,
adalah Delonge terlihat jauh lebih rumit dalam menulis lirik,
dan musik yang belum mendapat sentuhan berbeda selain penambahan string disana-sini.
LOVE adalah album penuh mimpi dan pesan,
ambisius dalam arti sebenar-benarnya.

Do you believe in hallucinations? Let's start a riot!


Special thanks to Jon Goodson,
for the mediafire link and the lyrics.

Monday, February 8, 2010

The Temper Trap - Conditions



Demi saturnus yang agung,
dan cincin nya yang terdiri dari milyaran bebatuan luar angkasa,
saya berterima kasih atas dunia internet,
dan bajakan Mp3 yang menggila.
The Temper Trap adalah salah satu alasan mengapa kita mesti harus bersyukur,
ini namanya untung dua kali,
lagu-lagu bagus dari band berkualitas didapat dengan gratis.

Lagu bagus?
Band Berkualitas?

Anda harus mencoba mendengar "Sweet Disposition" dari The Temper Trap. Siapa mereka?

Sebelum mereview album nya yang saya download secara brutal dari internet,
"Sweet Disposition" sendiri pertama kali saya dengar di radio,
secara sangat tak sengaja,
saat sebuah radio memutar lagunya,
saya langsung tertarik,
karena intro nya sedikit berbau U2 atau Angels & Airwaves,
tapi vokalnya sangat Coldplay -ah maafkan saya,
mungkin pengetahuan musik saya sangat minim,
jadi saya cuma mampu membandingkan dia dengan beberapa musisi yang saya sedikit tahu, tidak mendalam.-
tapi saat itu saya tak tahu nama band,
dan judul lagunya.


Liriknya absurd, tapi luar biasa catchy.
seperti dibawa terbang ke batas atmosfir dengan pesawat berisi gulali,
manis. Benar-benar disposisi yang manis.

Belakangan,
saya baru tahu, lagu itu milik The Temper Trap. Judulnya "Sweet Disposition" dan terdapat dalam OST (500) Days of Summer,
film drama dengan ide standar dan sederhana,
tapi bernafaskan semangat indie yang luar biasa.

Sebelumnya, saya pun hanya mendengar mereka melalui kaskus tantang sebuah band asal Australia yang memiliki vokalis asal Indonesia.
Namanya Dougie Mandagi.
Dari segi fisik, bukannya merendahkan,
dia kalah jauh dari Indra Brugman yang baru saja merilis album "Saya Ingin Kawin",
tapi soal kualitas vokal dan penulisan lirik?
Anda pasti berpikir dia adalah titisan Chris Martin.

Mereka, meskipun memiliki kesamaan,
dari penampilannya yang anti rockstar dan gaya bernyanyinya,
Tapi dia adalah Dougie Mandagi,
vokalis dari band rock alternatif,
The Temper Trap.
Jika kita terbiasa mendengar Giring Nidji bernyanyi dengan falsetto yang rapih,
atau Ariel Peterpan,
maka Dougie akan membawa kita ke kelas lebih tinggi.
Cukup dengan eksploitasi Dougie yang juga bermain gitar di band (meskipun di live, mereka memilih menggunakan additional gutarist),
ada Jonathan Arhene di departemen bass, Toby Dundass sebagai drummer dan Lorenzo Sillito di gitar dan keyboard.

Kembali ke The Temper Trap,
kesederhanaan yang cerdas, menurut saya,
menyelimuti band ini,
mereka seperti sekumpulan anak kuliahan,
yang menulis dengan hati,
tentang sebuah ruangan hampa,
dimensi lain dari bumi yang kita pijak,
tempat dimana kita bisa melayang bebas,
tak tereksploitasi.


Mereka tak mencari sebuah ketenaran dengan sensasi,
tapi lebih kepada menulis sebuah kejujuran,
hal tersulit sekaligus termudah dalam menulis lagu.


"Sweet Disposition" adalah sebuah hits single terbaik,
semuanya catchy,
lalu ada single kedua "Fader" yang mampu membius anda tanpa jarum suntik, tipikal lagu single kedua, dengan lirik dan cara bernyanyi yang sangat popish,
akuisisi pop rock alternatif menawan.

Bagaimana lagu lain?

"Drum Song" adalah anthem bagi pemilik kendaraan bermotor,
dengarkan lagu ini di jalanan kapan saja,
anda pasti bersemangat. Lagu instrumental pemberi motivasi untuk tidak stress saat macet melanda.

"Love Lost" adalah lagu patah hati yang dibawakan secara dewasa,
lebih optimis,
seperti mengucapkan kata putus tanpa air mata,
meskipun sangat menyedihkan,
dan berharap suatu saat dapat memperbaiki hubungan itu. Outro tepuk tangan dan sound midi nya sangat cathcy.

"Fools" dimulai dengan beat drum seperti di les keyboard murahan,
tapi saat vokal masuk, anda akan merasa siap lepas landas,
membawa bodohnya harapan, lagu yang bagus untuk bersantai di di kamar dikala hujan. Bersiaplah jatuh terjerembab saat lagu ini selesai.

"Down River" adalah lagu favorit saya selain dua single pertama yang dilepas ke pasaran, seperti bangun pagi di samping sungai yang indah,
dengan bau kayu bakar sisa semalam,
dengan selimut tipis yang lapuk,
dan matahari menyapa dengan hangat. lirik "Go.. Don't Stop.. Go"
menguatkan harapan, ini lagu penuh nada optimis.

"Soldier On" mengaggumkan dengan lirik yang mengingatkan kita,
untuk tetap menrauh kepala di bawah, tetap rendah hati. menakjubkan dengan melodi aneh yang dinyanyikan, seperti bermain di pemakaman seseorang, syahdu dan khusyuk. 

"Rest" lebih sebagai lagu yang menjembatani suasana jamming yang indah, saya terbayang bagaimana mereka di studio, merumuskan lagu ini, penuh energi positif.

"Ressurection" adalah lagu pembuka pintu ke dimensi lain,
perhatikan liriknya,
pasti anda berharap ada di bawah pengaruh marijuana kualitas nomer 1,
sedikit berbau Gnarls Barkley,
tapi itu bukannya lebih bagus?

"Science of Fear" terdengar lebih nge-beat, seperti orang muram yang ada di bawah LSD.
lirik yang sangat bagus, dan cara bernyanyi yang sedikit beda,
dengan falsetto minimal.
dan kejutannya, adalah sedikit petikan suara Robert Kennedy tentang kematian Luther King,

“I have some very sad news for all of you, and, I think, sad news for all of our fellow citizens, and people who love peace all over the world; and that is that Martin Luther King was shot and was killed tonight in Memphis, Tennessee.”





Kesimpulannya, this could be, 
or should be the next best damn thing.
Semoga mereka ada di MTV Indonesia.



Friday, February 5, 2010

Roda Kehidupan Adalah Lubang Hitam

Apa yang kalian tahu soal hidup?
Jika kita menelitinya dengan mata,
maka yang kita tahu,
hidup adalah sebuah perjalanan panjang,
menuju sebuah tujuan.
Apa tujuannya? Bertahan hidup.

Kita berjibaku dengan luka yang tak kunjung sembuh,
dengan memar di sekujur tubuh,
demi bertahan hidup.

Kita memohon kelayakan dengan berteriak,
merangkak dengan jutaan ton berat di pundak,
demi bertahan hidup.

Saya tak akan mengatakan,
bahwa ini semua kesalahan,
namun,
apa yang kita dapat dari bertahan hidup?

Benarkah kita bahagia?

Bukankah itu tujuan kita?

Pernahkah melangkah di pikiran,
bahwa apa yang sebenarnya kita cari di hidup ini?

Apa yang kita kejar?
Apa yang ingin kita ceritakan?
Keberhasilan yang hampa?
Keberhasilan yang kita raih dengan pedih,
dengan menikam jalur hidup seseorang?

Kekayaan?
Berkelimpahan?
Bersenang-senang?

Percayalah,
semuanya hanya sebuah lubang hitam,
menarikmu tanpa batas,
tanpa kepuasan.

Kita berpesta,
mabuk minuman,
terbangun dengan kebodohan yang sama,
apa yang kita kejar?

Bahagia?

Kita tertawa tanpa batas,
menghina wanita berpenampilan kurang menarik,
mengejek pria-pria pemuja hubungan semalam,

Bahagia?
,
Saya memilih untuk menikmati hidup,
dengan segelas teh manis hangat,
nasi putih dan tempe goreng,
dan sambal buatan ibu saya tercinta,
tanpa beban,
bercakap-cakap tentang kehidupan dengan sahabat akrab,
bernyanyi dengan gitar kopong,
bermimpi akan hidup dari nyanyian dan lagu-lagu bodoh yang kami nyanyikan,
mengarungi jalanan dengan motor satu-satunya,
dihajar panas,
dicumbu hujan,
sibuk mencari pekerjaan,
mengunakan kaos buatan sendiri,
sepatu-sepatu terbaik kesukaan saya,
tertidur di sandaran kekasih saya,
terbangun pagi dengan senyum,
tanpa seringai jahat,
tanpa dendam.
Saya bahagia.