Ketidakmungkinan,
setiap kali gue dihajar dari segala sisi,
pipi dan rahang gue seperti dihabisi,
memar dan lebam itu kian menjadi-jadi,
tak ada bekas luka,
yang ada hanya darah beku yang terkesima.
Gue menjalani tuntutan,
untuk selalu berlari di jalan yang benar,
untuk tidak sedikitpun melakukan kesalahan,
jelas,
karena gue selalu menjadi yang diharapkan,
dan sayangnya,
gue selalu memberikan apa yang diidamkan.
Sekalinya gue gagal, atau oleng dan setengah pingsan,
ya karena tekanan untuk menjadi selalu bisa itu tidak gampang,
maka semua akan segera runtuh begitu saja.
Gue sering merasa menjadi pondasi,
memikul beban yang penuh berisi,
tahu apa rasanya seperti ini?
Digantungkan harapan,
diperas lebih lagi,
diberikan segala tuntunan,
harus begitu begini.
Gue mulai kehilangan rasa menikmati,
karena semua hal yang gue senangi mulai tidak lagi menyenangkan,
semua hal yang sebelumnya menggembirakan,
menjadi momok menakutkan.
Ketidakmungkinan,
gue cuma menjalankan tuntutan.