Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, January 19, 2011

Membuang Mimpi, Demi Uang, Dimana Masa Depan?

Pada akhirnya, kita memang butuh uang.

Prinsip dan mimpi ternyata hanya omongan para pembual,
tak ada yang pernah benar-benar menang.
Omong kosong para bajak laut yang mabuk rum,
mimpi. Khayalan.
Persetan.
Saya ingin memaki keadaan,
ingin sekali mengeluarkan segala umpatan.

Tahu rasanya dieremehkan,
saat kalian datang dengan senyum penuh pengharapan?
Tahu rasanya ditendang dan disingkirkan?
Hanya karena tak punya uang,
dianggap gagal.
Jelas, karena tidak berpenghasilan,
kita selalu dianggap gagal.

Tak usah pura-pura tahu,
berlagak mengerti.

Perduli apa kau, hei masa depan?
Menunggu di balik pohon rindang kenyamanan,
keparat.
Tahukah kau rasanya saat orang bertanya tentang dirimu?
Sedangkan jangankan melihatmu,
aku saja tak tahu bagaimana wujudmu.
Jalang.

Masa depan.
Kata mereka kau cerah,
meskipun lebih banyak dari mereka menyebutmu suram.
Ingin sekali merobek-robek wajahmu.
Aku merasa amat bodoh percaya mimpi,
harapan,
khayalan,
yang menari dan membuatku bersemangat tinggi.
Kau tahu lututku lemas,
saat tahu bahwa aku tak miliki apa-apa,
selain sekotak besar penuh cerita legenda,
tentang indahnya memenangkan kehidupan.

Aku selalu kalah keparat!

Kau tahu rasanya,
ditanya tentang makanan apa yang ingin ku makan?
minuman apa yang ku pesan?
Sedangkan aku terdiam menelan ludah,
menyembunyikan penderitaaan dan air mata di pelipis mata.

Jalang.

Aku lapar! Aku haus!
Air liurku membanjiri usus!
Aku ingin makanan hangat itu,
aku ingin minuman dingin itu,
aku ingin terlibat di pembicaraan santai dan seru,
tapi apa?

Apa yang aku bicarakan?

Selalu soal mimpi!

Haha. Miris ya.

Kita tidak ke pesta orang besar,
dengan bermimpi.

Usaha?
Aku menaruh mimpi sebagai landasannya,
dan lihat?
Kau lihat bagaimana kenyataan membunuhnya,
menikam dan membakarnya tepat di depan mataku.

Aku butuh uang, hai masa depan.

Aku tak ingin menjadi terus-terusan menjadi masyarakat kelas bawah,
diremehkan,
tak dianggap.

Ajak aku duduk di restoran mewah itu,
aku ingin membayar sendiri tagihanku.
Aku ingin merasakan,
melunasi semua makanan termahal,
yang nantinya hanya akan terkirim melalu leher angsa,
berkubang menjadi tinja.

Oh ayolah masa depan,
semua butuh uang.

Aku tak ingin lagi menahan lapar,
menelan ludah,
aku butuh uang.

Aku berjanji,
kutinggalkan semua mimpi.
Aku berjanji,
kubuang semua harapan.
Aku berjanji,
kukubur semua khayalan.

Prinsip hanya milik kaum kaya,
pendapat hanya milik kaum berkuasa.

Aku butuh uang.

Saturday, January 8, 2011

Doa itu tak kunjung selesai..

Mengawali Januari dengan jutaan beban menghimpit sumsum tulang belakang,
jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.

Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.

Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.

"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"

Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.

Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.

Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.

Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.

Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.

Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.


doa ini tak akan kunjung selesai.