Mengurung diri di kamar adalah guilty-pleasure terbaik,
karena tak ada yang pernah benar-benar mengerti kita di luar sana,
di balik pintu,
mereka tak ingin melihat seseorang yang gundah dan hancur,
dunia tak menyukai manusia lemah,
mereka ingin orang yang bersemangat,
ceria dan menyenangkan.
Dunia ingin melihat wanita cantik menari seakan tiada hari esok,
dengan kemewahan busana yang haus perhatian dikelilingi para musang pemuja lekuk tubuh yang berpikiran kotor.
Dunia ingin melihat pria mapan berhasil yang terlihat saleh,
dengan senyum memikat dan tingkah laku sopan,
yang mengikat kucing-kucing betina simpanannya secara rapih di apartemen mewah.
Harta dan hura-hura tak pernah dibawa mati,
namun mereka berani mati demi semua itu.
Haruskah saya berusaha keras menjadi seperti itu?
menyimpan air mata sebagai fashion tahun lalu yang sudah tidak update,
menganggap ragu-ragu hanyalah propaganda iblis,
dan rasa takut adalah negatifitas yang berlarut.
Banyak orang mengaku frustasi,
meski dilengkapi dengan kelimpahan,
dan memiliki pekerjaan.
Bagaimana dengan orang yang tak punya kelimpahan,
dan tak punya pekerjaan,
bisa bayangkan betapa frustasinya mereka?
Coba saya uraikan,
jantung saya berdetak,
mata saya melihat,
nadi saya berdenyut,
lidah saya merasa,
namun saya tak merasa hidup.
Tak ada yang mendengarkan saya,
karena saya pecundang.
Tak ada yang mencerna ucapan saya,
karena saya pun gagal.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang selalu kalah,
pecundang adalah orang yang melakukan cara yang menjijikan untuk menang.
Meskipun,
Pecundang bukanlah orang yang gagal,
pecundang adalah sang pemenang yang menghancurkan dirinya demi eksistensi dan publikasi berlebihan.
Saya berbaring dengan tekanan,
menyelam bersama hentakan dan teriakan dari orang yang mungkin merasakan hal yang sama,
setidaknya dia menuliskan dan menyanyikan lagu tentang keputus-asaan,
bisalah saya anggap sebagai teman.
Disaat itulah saya bisa berteriak,
disaat itulah saya berani berbicara,
melalui kelambu lirik lagu,
dan potongan-potongan kata-kata yang menyakitkan.
Tak ada yang tahu saat saya stress berat,
bahkan Ibu atau pacar saya pun tidak,
saya akan menyimpan jiwa saya yang robek,
di bawah tumpukan baju kotor,
di kolong kulkas hingga berkarat.
Tak ada yang tahu saat saya frustasi,
bahkan ayah atau sahabat saya pun tidak,
saya akan mengubur otak saya yang beku,
di sudut taman kota, tempat anjing mengubur kotoran nya,
di pinggir jalanan bebas hambatan.
Saya berdoa selagi terbakar,
dan berharap Tuhan menghirup asapnya,
sehingga Dia menoleh dan mengingat janji-Nya,
bahwa Dia tak akan meninggalkan saya sendirian.
Jika satu-satunya jalan menjadi disukai,
adalah menjadi bagian dari kalian,
tak ada salahnya menjadi yang dibenci.
No comments:
Post a Comment