
Blue Sky Noise adalah album studio ketiga milik Circa Survive,
dengan ciri fisik yang kurang lebih sama,
dengan dua pendahulunya,
Juturna dan On Letting Go,
yang dihiasi artwork menganggumkan buatan Anthony Green(Vokalis/gitaris/pianis/penulis lagu).
Tapi soal konten,
tunggu dulu,
jangan asal menjudge, dibandingkan artworknya,
yang terlihat rumit dan penuh filosofi,
Blue Sky Noise, malah menghadirkan kesan sederhana dan easy listening,
meskipun barisan not rapat dan melengkung milik Circa Survive,
terdengar jelas di telinga.
Yang menyenangkan adalah,
nada yang dipilih Green untuk dinyanyikan,
jauh lebih catchy dan sing-able dibanding dua album sebelumnya.
Bahkan bila ditilik lebih jauh,
konsep nada Blue Sky Noise lebih mirip album solo Green,
Avalon,
yang sempat di-remix Colin Frangicetto (gitaris/pianis), sang band mate di Circa Suvive.
Dengan produser David Bottrill dan mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Atlantic Records, meninggalkan Equal Vision.
Dengan personil lama, selain Green, dan Colin, Brendan, Nick dan Steve siap menggila kembali.
Single pertama yang dipilih adalah Get Out adalah lagu yang seringkali menghiasi youtube untuk memperlihatkan aksi panggung Circa Survive. Bersemangat dan meledakan crowd. Yang segar dari lagu ini adalah ketukan gantung dan kombinasi gitar-drum yang menabrakan genre.
Geeett Ouuuttt!! Geeeettt Ouuuttttt!!! Orgasmic.
Imaginary Enemy, adalah single berikutnya.
track nomor 5 di Blue Sky Noise,
yang kental unsur Psychedelic emo,
dengan lirik berbau psycho-sarkasme, khas Green.
Sindiran terhadap kegilaan dan halusinasi diri sendiri.
Tapi seperti yang saya bilang, nada yang dipilih Green kali ini,
jauh lebih enak didengar di telinga,
dengan reff tipikal emo, catchy dan tak ada masalah untuk diulang berkali-kali. Dilengkapi lead yang tidak membuat muntah, namun tetap klimaks.
Sebenarnya, ada begitu banyak pilihan lagu kelas tinggi yang ada di Blue Sky Noise,
yang tetap catchy.
Kombinasi not miring milik Strange Terrain yang membuka Blue Sky Noise, akan sangat menyegarkan mengingat keseragaman chord milik band emo kebanyakan, backing vokal a la pop, dan dengan lirik yang mencakup kinerja dan konsep kebersamaan Circa Survive sebagai band yang mendobrak kebiasaan.
"I never learned how to get back to the place where all our confidence kept us behind a shield" tegas Green mendekati akhir lagu.
Lagu ini juga
mencakup emosi naik turun yang diatur sedemikian rupa, cerdas, tak beraturan yang menyenangkan.
Glass Arrows menjadi amunisi berbahan dasar lirik berbau keputus-asaan bikinan Green,
"Disappeared from public places never seen again, How long has it been?" yang dihujani duet petikan gitar Colin dan Brendan.
Kurung diri di kamar, dan ikat pergelangan tangan kalian yang baru saja kalian sayat dengan benda tajam.
lagu ini dihiasi sebuah aksi sing-along yang bagian bridge,
ditutup oleh bombardir drum yang mengisi dahaga akan energi yang harusnya memporak-porandakan rumah kalian.
I Felt Free adalah track kesukaan saya,
sederhana, pendek, tapi mengena, sangat popish,
tapi berkelas dengan lirik puitis Green yang penuh kiasan,
"I’ll never make you stay
because tomorrow always happens yesterday"
sekilas seperti lagu cinta yang membebaskan eksplorasi,
melepaskan imajinasi,
menemukan kembali diri kita di dalam pelukan orang tercinta.
"I will learn to live again for now I’m breaking
all the things I couldn't mend without escaping
I will learn to love again..."
Through The Dessert Alone dimulai dengan intro gelap yang diulang-ulang,
mengantar kita ke ruangan kedap udara berpasir,
Green bercerita soal kesendirian dan ketiadaan hari esok.
"What was stolen from us now is forever lost"
Gelap, indah, berdebu dan kematian.
Menjelang Frozen Creek, matikan mesin mobil kalian,
rebahkan sejenak tubuh yang letih dan nikmati keadaan sekeliling sebelum meledakan pom bensin terdekat dan melarikan diri bersama kekasih tercinta ke Alaska.
"On top the frozen creek, I would love to take you there"
Lagu yang indah untuk dua pasangan yang akan segera menikah di usia muda dan berusaha tidak menyesali saat harus kabur dari rumah.
Fever Dreams seperti mendengar Green mencaci maki diawal lagu dengan balutan gitar akustik yang digesek tanpa ampun. Permainan emosi disini sangat psychedelic, dengan ketukan drum dan bass yang unik.
Spirit of The Stairwell adalah pembuka gerbang menuju ketengangan batin yang akan dihibahkan oleh Circa Survive melalui sesi akustik di akhir Blue Sky Noise. Spirit of The Stairwell sendiri malah mirip lagu-lagu di album solo Green, dengan isian slide sepanjang lagu mengiringi gitar akustik dan string section yang tipis.
Energi kembali dihembuskan dengan tipikal lagu Circa Survive yang panjang dan berliku, The Longest Mile membawa suasana album On Letting Go, rumit dengan daya ledak yang dipendam dan dikeluarkan sedikit demi sedikit. "NEVEEEERRRRR..." cuma itu yang saya ingat dari lagu ini.
Compendium adalah lagu instrumental yang membawa nuansa mistik,
aneh, setingkat di bawah Mars Volta,
kegaiban sound yang masih waras dan wajar dicerna telinga.
Album ini ditutup dengan Dyed In The Wool, sebelum akhirnya kita memasuki sesi akustik Get Out, I Felt Free, Dyed In The Wool, dan Every Way - yang sepertinya bonus track-
Dyed In the Wool versi band hanya lebih penuh dan berwarna,
padahal lirik dan bentuk lagu ini sangat gelap dan menyedihkan.
Benar kata orang, Last but not least,
Dyed In the Wool berhasil menancapkan bentuk psychedelic yang rumit,
dengan nada catchy "I know I know", yang anehnya, anthemic.
Green memasukan semua kesimpulan di lagu ini,
dengan inti cerita bahwa kita semua pasti akan kecewa apabila berharap dengan orang lain, percayalah pada diri sendiri.
Blue Sky Noise adalah bentuk noise sebenarnya untuk musik
seragam jaman sekarang.
Muncul dalam bentuk rumit yang sederhana,
emo namun dengan air mata yang tidak sampai keluar,
karena kekecewaan yang amat dalam,
tidak berlebihan.
I vote Blue Sky Noise as one of the greatest release,
this year. All Hail Circa Survive!
No comments:
Post a Comment