Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, September 1, 2010

Percayakan pada peluru..

September.

Cuaca kali ini sama seperti perasaan wanita,
kalian tak bisa menebak apapun,
apa yang mereka mau,
apa yang akan mereka katakan,
jika misteri ilahi itu bernama esok hari,
maka wanita adalah bagian dari ketidakpastian detik berikutnya.

Televisi menjadi daya tarik paling menakjubkan dari apa yang bisa saya bayangkan,
seiring kebebasan media ber-eksplorasi,
yang saya lihat adalah bombardir berita yang tiada henti.
Meminjam lirik dari lagu cerdas berjudul "Coco Papa Lala Dada" dari Andre Harihandoyo and Sonic People (bisa di download gratis di sini)

"coco papa lala dada.. that's what you get from the television, coco papa lala dada.. that's not even real information.."

Tak usah dijelaskan lebih dalam kan?
Yep,
tanpa televisi pun,
negara ini terlihat begitu semerawut, riweuh,
dan kehidupan begitu memuakkan di sekitar kita,
hidup makin sulit bagi sebagian orang,
sementara sebagian lainnya hidup bukan sebagai manusia,
lebih parah dari mesin,
lebih rendah dari binatang.

Saya tidak bicara keadilan,
ataupun menggurui,
saya hanya penonton televisi.

Apa lagi?

Hidup saya ada di titik dimana saya berada di sebuah halte,
menunggu bis jurusan yang saya tunggu,
hujan,
panas,
saya tetap berdiri di sana,
diam.

Lalu apa?

Selain waktu yang berlari terlalu cepat,
sehingga menyulitkan saya mengingat apa yang seharusnya saya lupakan.


September.

Jenuh adalah sebuah batas,
tembok tinggi menjulang yang menghalangi kita,
melihat apa yang seharusnya kita perhatikan.

Bersyukurlah atas revolver yang terisi penuh,
percayakan hidupmu pada peluru.

September.

Semoga hidup kembali memihak pada saya,
dan kepala kalian lah yang tertembus timah panas,
selamat datang September.

No comments: