Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Friday, December 9, 2011

Blink-182 - Neighborhoods.

Neighborhoods. Sebuah penantian panjang dan melelahkan, 8 tahun kita bermimpi akan ada kelanjutan dari hangar-bingar album Self-Titled milik dewa, tuhan, berhala dan pahlawan bagi saya, dan setiap loser seumuran saya di sekolah, Blink-182.

Ya, meski sekarang kehadiran Blink-182 bukan hanya mewakili sekumpulan orang aneh dan loser di sekolah yang memakai celana pendek milik ayah mereka yang sedikit kedodoran dan berkaos kaki panjang serta bersepatu gelap dan lusuh, Blink-182 tetaplah Blink-182, segala hal dari mereka menyenangkan, meskipun begitu, kehadiran Blink-182 kini juga menyebalkan dengan munculnya ratusan merch, t-shirt dan hoodie mungkin sudah biasa, kini muncul gelang hingga cincin (ya Tuhan…).

Kembali ke Neighborhoods, yang merupakan album resmi pertama mereka setelah mengalami Indefinite Hiatus, yang bukan saja membuat Tom, Mark, Travis terpecah, namun juga fans mereka, sebagian kecil masih menangis menunggu di sudut kamar sembari mencaci maki di youtube atas semua proyek diluar Blink-182, baik dalam bendera +44 - dimana Mark dan Travis tetap bersikeras bahwa mereka tak ingin dandanan mereka dewasa meskipun lirik dan musik mengalami peningkatan yang lumayan baik.- dan tentu saja, disaat Tom mengenakan skinny jeans, bikers jacket, dan menjual sepatu sembari bercerita tentang mimpinya mengenai perdamaian dunia melalui Angels&Airwaves (AVA).

Sekedar intermezzo, saya sendiri menjadi barisan yang beranjak dewasa dan memuja AVA, -dan tetap menyukai +44- lalu mencoba menikmati tahun demi tahun tanpa album baru Blink-182.

Oke, cukup, kembali ke pembahasan inti.

Track Neighboorhoods dibuka dengan "Ghost On The Dancefloor" dimana Tom memaksimalkan perangkat yang dipelajarinya selama bermeditasi bersama AVA, dimana dia menyentuh sisi sound serba modern dan alienisasi dikawinkan dengan pukulan bergema serba rapat milik Travis. Lagu ini sendiri penuh kepedihan [It's like the universe has left me Without a place to go Without a hint of light To watch the movement glow And our song is slowly starting Your memory felt so real] dan menurut mereka, ini dipersembahkan untuk semua yang terlebih dahulu meninggalkan mereka, DJ AM, dan, menurut saya, tentu saja Jerry Finn.Track yang gelap namun catchy, salah satu lagu dengan kombinasi lirik dan musik terbaik yang ada di album ini.

"Natives" melanjutkan kegelapan dan meniupkan aroma kesuraman dengan lick gitar Delonge a la  M&M's yang lebih modern dan ketukan Travis yang kita rindukan selama ini, ceria dan gelap seketika. Liriknya sendiri serba depresif, berpotensi membuat pendengarnya mencari obat penenang dan bunuh diri saat itu juga sembari menyayat nadi. Tom bernyanyi [I am the prodigal son, a shameful prodigy too] di bagian verse dan Mark memperparah tekanan dengan reff berbunyi [I'm just a bastard child, don't let it go to your head I'm just a waste of your time, maybe I'm better off dead] Entah novel atau koran pinggir jalan apa yang mereka baca, tapi ini begitu depresif dan gelap.

Track selanjutnya adalah "Up All Night" yang berisi riff gitar usang milik Tom yang sudah diperdengarkan saat sesi pembuatan album Self-Titled dan dipoles dengan sentuhan luar angkasa dan suara alien di kanan kiri. Departemen lirik mengalami peningkatan dengan cara bernyanyi sahut-menyahut khas band ini, ah, Tom dan Mark memang duet maut untuk saat seperti ini. Lagu yang bercerita tentang kenyataan dan pencarian arti hidup selama ini -yang merupakan sebuah pendewasaan - yang tiap line-nya diisi calon quote-quote cerdas dan  berisi pedasnya kenyataan. Kecerdasan itu ditutup dengan pertanyaan tegas [Let me get this straight. Do you want me here? As I struggle through each and every year...] Banyak yang langsung membandingkan sound lagu ini dengan AVA, dan hal itu sangat lucu. Tom adalah punggawa dan otak utama dibalik AVA, -dia merasa musik dan sound seperti itulah yang disukainya kini - dan dia adalah bagian dari Blink-182, akan sangat wajar apabila ia memasukan unsur yang disukainya di apapun yang berkenaan dengan Blink-182 karena hal itu tidak terpisahkan. Ia tetap Tom, namun pendengar yang dewasa dan fans yang budiman seharusnya menyadari hal itu, Tom bukan lagi skateboarder culun dari pinggir California yang bercita-cita luhur menjadi lelucon di dunia musik. Dia beranjak dewasa dengan caranya sendiri, terima atau tidak.. Deal with it.

"After Midnight" adalah picisan. Lagu yang jelas-jelas merupakan kelanjutan dari "I Miss You"(Self-Titled) yang selalu jadi jawara di daftar mp3 penjual pulsa pinggir jalan, dan tentu saja, lagu wajib dan kebangsaan galau generasi saya. Lagu ini diawali oleh beat Travis yang menjemukan dan flat, lalu Tom menyanyikan curahan penderitaan hati pujangga gendut yang cinta mati kepada kekasihnya sepanjang verse [A bit of pain will help you suffer when you're hurt, for real Cause you're driving me crazy By your lips, the word's a robbery Do you grin inside? You're killing me] Lalu Mark merengek [We'll stagger home after midnight. Sleep arm in arm in the stairwell. We'll fall apart on the weekend.These nights go on and on and on] mengenai sebuah dua sisi yang saling berlawanan, suka dan duka di reff yang sangat menohok sisi hati kalian yang mulai berfikir untuk siap mati demi mencari belahan hati. Picisan tetap picisan, jauhkan diri kalian benda tajam selama mendengarkan lagu ini.

Banyak yang merasa ”Snake Charmer” tidak cocok dengan blink-182, dan saya tidak sependapat. Memang terdengar sedikit janggal, namun akuilah ini merupakan salah satu lagu dengan eksplorasi kreatif maksimal dan nada yang mudah menempel di kepala meskipun cenderung cheesy dengan hook juara mengisi sepanjang reff [That's how it was to all begin Cause good girls who like to sin Way back at the starting line Where Eve was on Adam's mind And he was the first to go In search of the great unknown And falling yet again Cause good girls, they like to sin] Entah selera saya yang aneh atau memang lagu ini punya racun khusus yang cuma menusuk di kepala saya. Entahlah.

Track “Heart’s All Gone” adalah penumpas rindu bagian kalian pecinta Blink-182 pada era mereka masih lebih sering menjual lelucon jorok ketimbang merchandise. Di lagu ini, kita akan mendegar Mark dengan cerdas melemparkan semua kekesalan dan meludahi kita dengan barisan kata-kata jenius. [Your smoking tongue is the end of us all. But you only care about Fame and fortune, Watching others tortured, Casting your reflection] dan Travis menjaga beat oldshool – yang meski sedikit menurun agresifitasnya, tetap mampu membuat kita bernostalgia – sepanjang lagu. Jangan risaukan mengenai interlude aneh dan sangat sederhana di awal lagu, ini saatnya moshing di atas meja belajar kalian.
Yeah, your heart's all gone!

“Wishing Well” kembali menurunkan tensi dan mendinginkan kepala kalian dengan barisan kata-kata bijak dari Tom yang mencoba menyuntukan aura positif ke dalam otak kalian yang sudah tertalu terkontaminasi bintang film porno. Lagu ini sederhana di departemen musik, namun keindahan alur lirik terukir sepanjang lagu yang bercerita tentang beratnya hidup [Been gone a long time I kinda lost my way, I can't find it] dan memberikan pencerahan di bagian reff [I reached for a shooting star, it burned a hole through my hand Made its way through my heart, had fun in the promised land]. Kalau boleh jujur, ini adalah salah satu masterpiece untuk penulisan liik oleh Tom di album ini.


“Kaleidoscope” dimulai dengan barisan prosa dari Mark a la +44 yang sulit dimengerti maknanya, ia menempatkan banyak kiasan semacam [Stop blocking the driveway with your car Put the butterfly in the bell jar] yang tentu saja bermakna ganda, lalu Tom serta-merta meneriakan kegelisahan-nya secara membabi buta [It's the first time that I worried Of a bad dream, of a journey On the highway, through the valley It's a long road through the night It's a long road]  lagu ini akan menempatkan kita pada situasi penuh tanda tanya dan ketakutan dalam kegelapan persimpangan jalan kehidupan, sepertinya itu yang diiginkan Mark dan Tom untuk kita rasakan.

Oke, kalau boleh jujur, saya benci sekali dengan intro milik “This Is Home” yang dengan brutalnya menyatukan lick gitar standar milik Tom dengan sound string yang terdengar di kuping saya sangat murahan khas organ tunggal pinggir jalan. Liriknya sendiri tidak buruk, bahkan sebenarnya sangat baik,  namun buat saya, sudah tidak lagi relevan Tom menyanyikan [We fuck and fight like vagabonds We dance like fucking animals] Jelas, ini bukan track favorit saya.

Apa yang ada dipikiran Mark saat mengikuti saran Tom untuk tetap menggunakan ”MH 4.18.2011” sebagai judul lagu? Jujur saja, ini judul yang bagus dan unik dan dilihat, namun sukar diucapkan. Mengingat lagu ini berpotensi menjadi lagu terbaik di album Neighborhoods. (Coba  saja saat ditanya mendadak, ”Apa lagu favorit kalian di Neighbohoods?” kalian hanya akan menjawab “Emmhh.. MH, MH...MH apa tuh.. Emmhh... ” karena sulit mengingatnya.) Lagu ini mengingatkan saya akan intensitas milik ”Here’s Your Letter” (Self-Titled)  namun versi lebih baik, dengan lirik reff yang memberikan sisi apatis Mark akan kehidupan [Hold on, the worst is yet to come Save your money for hired guns Hold strong when everything you loved is gone] dan ditutup dengan quote jenaka cerdas yang menampar kita semua… [stop living in the shadow of a helicopter…]

“Love Is Dangerous”! akan membawa anda sebuah atmosfir kegelapan dunia gemerlap luar angkasa yang penuh kegamangan dansa romansa. Tom sekali lagi berperan dalam keluarnya sound-sound aneh yang mengiringi lagu ini. Namun, nilai plus lagu ini adalah verse yang dinyanyikan Tom dan Mark secara bersamaan dan tumpang tindih, mengingatkan kita akan kegelapan ”Violence” (Self-Titled) dalam versi lebih dewasa. Diawali lirik [I have had it with this damn double vision My hands swollen, I can't keep holding on My hearts sinking and stuck in deadly rhythm] dan bisa ditebak, lagu ini mengalun dipenuhi pecahan hati yang menghilang di black hole dan memaksa kita mengerti, betapa bahayanya perasaan bernama Cinta, seperti saat Tom berteriak [Love, love is so dangerous!] dan Mark bergumam [Life's cruel so we all pretend to find]. Yak, cinta itu berbahaya!

Tenggak LSD, karena itu cara satu-satunya mengerti dan memahami lagu berbau experimental Mark berjudul ”Fighting The Gravity” yang seperti berputar-putar dalam balutan hipnotis level tinggi yang sukar dijelaskan arah dan bentuknya. Meski lagunya masih bernyanyi mengenai kegalauan [something swimming in my blood, somethings rotting in my brain I'm smothered from the flood, I can't recognize your face,
I need to leave so just drive,]
yang jauh lebih mudah dicerna daripada musiknya. Bukan lagu yang jelek, namun jelas, tak akan bisa dinikmati dalam keadaan sadar. Benar kata Mark, this make no sense. :p

Lagu ringan menutup Neighborhoods, adalah ”Even If She Falls” yang mengingatkan kita akan era Take Off Your Pants and Jacket dimana Tom melakukan tembak langung dengan menyanyikan anthem baru bagi para pria-pria pecundang yang baru saja ditolak wanita yang dicintainya [When, the night will begin, The pain it won't end Even if she falls in loveBack, you wanna turn back Your heart will attack Even if she falls in love] dan ini mengakhiri penantian 8 tahun penuh darah dan peluh menunggu.

Neighborhoods memang diproyeksikan menjadi album tergelap, mengingat mereka mengalami begitu banyak hal, seperti perpecahan internal yang menyebabkan Tom tak saling bicara dengan Mark dan Travis bertahun-tahun –bahkan saling mengejek- lalu kecelakaan Travis yang berbuntut panjang, meninggalnya DJ AM, meninggalnya Jerry Finn, begitu banyak hal menyedihkan yang terjadi. Secara keseluruhan, Neighborhoods masih menggunakan resep yang mirip dengan Self Tittled yang menabrakan semua influence musik Tom, Mark dan Travis. Patut ditunggu, apakah rumus ini akan digunakan lagi untuk album-album Blink-182 selanjutnya?

But, like once Tom said in AVA, “Everything happens for a reason…”
Blink-182 is back. They’re really back. Dimulai dengan saling menelepon, muncul di Grammy Awards 2009, beberapa tur dadakan, dan kini, Neighborhoods. Enjoy!



















Thursday, December 1, 2011

Angels & Airwaves - LOVE part 2. Petualangan Panjang Itu Akhirnya Berhenti Sementara.

Meninjau pergerakan bulan yang semakin tak beraturan dan cuaca yang semakin hari semakin tidak konsisten, namun sepertinya tidak mempengaruhi Delonge, Kennedy dan Watcher (dan tentu saja, Willard – yang memutuskan mengentikan petualangan setelah 5 tahun berjibaku meniru suara-suara dentuman para malaikat ) untuk menyelesaikan sebuah ambisi tanpa batas.

Lepas landas,

Setelah ekspektasi besar-besaran terhadap double album yang didengungkan – dan ditunda berkali-kali – kini, LOVE part 1 telah bertemu tulang rusuknya, LOVE part 2, dan tentu saja, semesta yang membangun pondasi kedua album tersebut, LOVE The Movie.

Review saya di album LOVE part 1 – album yang bisa diunduh gratis di setiap kesempatan – mungkin cenderung berlebihan dan menunjukan saya itu tak lebih dari maniak yang berwajah tampan di setiap kesempatan, namun, entahlah, Angels&Airwaves telah melakukan banyak hal pada saat-saat paling berat dan paling membahagiakan dalam hidup saya, wajar bila saya berlebihan.

Setelah dihajar dari berbagai sisi eksploitasi sound yang cenderung tumpang tindih, kadang menjemukan dan serba berat dalam LOVE part 1 yang penuh oleh kerumitan puisi Delonge yang cenderung dan berpotensi membuat otak kita terbebani oleh petualangan astronot yang hilang kontak dengan bumi dan tersesat di luar angkasa, kini berlanjut kepada sebuah petualangan lebih lunak dan masuk akal dalam LOVE part 2, departemen lirik yang jauh lebih ringan dari segi pemilihan kata, namun tetap mengingatkan kita akan pentingnya kewarasan otak untuk bersosialisasi dan mencintai kehidupan.

LOVE part 2 dimulai dengan ”Saturday Love”, banyak yang berfikir bahwa jalan cerita di lirik ini terlalu cheesy mengingat kemegahan intro yang begitu orgasmic dan seolah mengantar kita pada sebuah gerbang menuju dunia antah berantah yang megah namun dilapis lirik seakan-akan semua berakhir di klub malam penuh wanita menggoda di atas lantai dansa di hari sabtu yang ceria. Padahal, mereka tak menyelami bagaimana dillema romansa cinta yang tertulis rapih di verse rap a la Delonge yang – menurut saya – jauh lebih baik daripada ”The Flight of Apollo” (LOVE pt 1). Lagu ini menggambarkan bagaimana keresahan hati seseorang yang ingin sekali bercerita tentang segala hal yang ingin dia teriakan sepenuh hati kepada orang yang paling dicintainya, namun tak bisa dilakukannya, dan ia memendamnya dalam hati, terjebak dalam ketidakmampuannya. [I'm sorry but I can't tell you I feel like a pattern Of shapes that will never matter, a color that will never flatter...]  Keresahan yang megah dan menusuk dalam juga bergema dalam ajakan untuk memahami ketidakpastian mimpi. [So I just like to daydream, 'cause dreams only make me happy. Will you come along my love? Will you come along here with me?]

”Surrender” adalah tipikal lagu irama senam Jantung Sehat yang sering dipraktekan ibu-ibu dekat rumah saya, sebuah pelecut semangat untuk tetap bertahan hidup, lagu ringan sahabat dari nomor-nomor kebanggaan para kaum yang masih optimis menjalani hidup peninggalan dari LOVE pt 1 seperti ”Hallucinations” dan ”Epic Holiday”, meskipun Delonge sepakat berkata bahwa lagu ini seharusnya dinikahkan dengan ”Some Origins of Fire” saat ia menggambarkan hari-hari kelam [When God falls fast asleep The kids still dance in city streets From the white house lawn to the middle east And all around I'm just saying that this time I feel it now] dan lagu ini bekerja dengan baik.

”Anxiety” adalah kepingan dari salah satu satelit Saturnus yang jatuh mendarat di Bumi, dan menghujam Good In Bed Music milik Delonge. Nomor indah yang penuh eksploitasi cara bernyanyi dan sound yang diaransemen jauh lebih baik dari lagu-lagu bertema cahaya laser milik mereka sebelumnya. Watcher dan Kennedy bekerja sama dengan apik dengan dentingan synth milik mereka masing-masing sementara Delonge berkhotbah untuk membakar gairah pagi dari umat manusia yang kecewa dari getirnya hidup dan beteriak lantang. Dimulai dengan lirik yang bisa dimasukan dalam kategori galau tingkat tinggi bagi kalian generasi Seven Eleven [Faster, I dream in speeds of ashes My heart it beats and crashes I'm running from the truth Cause it fucks with my mind..] Dan selanjutnya  semakin penuh aroma kekecewaan dan kegelisahan yang disampaikan dalam perang laser dan percikan lampu yang membutakan mata dan mewakili kalian yang putus asa akan tekanan hidup di saat kita menyerah kepada hidup dan berteriak memohon  [Don’t pressure us Anxiety, i’m just a passenger!]  Entahlah, nomor ini begitu depresif sekaligus melegakan. Lengkap.

Intro halus mengawali lagu selanjutnya, sebuah balada berjudul ”My Heroine [It’s Not Over]” - yang terkesan kelanjutan dari “Breathe”(WDNTW) dan “Clever Love” (LOVE pt 1) - lirik manis, reff yang semakin dan terlalu manis dan berbau not-not milik “Start The Machine” (WDNTW), dan sebuah lagu berisi permintaan berlebihan [ She speaks a word to make me grin, Can i please have her... ] rengek Delonge. namun kejutan di bridge yang menyenangkan dan segar diawali roll drum dan akhirnya lebih menghentak, dan ah, saya pribadi suka sekali nada bergema yang digunakan Delonge di  [It’s noot oveer, over, oveer..] di ujung bagian bridge dan ending yang klimaks dengan bombardir drum Willard. Ah Willard. Masih sedih kau tak lagi di band ini.

Petualangan berikutnya dimulai dengan suara-suara aneh yang –lucunya- menenangkan, perlahan mengalun “Moon As My Witness” yang kembali diisi kelembutan dan suara berbunga-bunga penuh rayuan maniak milik Delonge, dan lirik yang menjadi penghujung di hampir setiap paragraf berkata [Oh please, stay a while, God I love your smile..] dijamin akan membuat hati wanita yang sekeras planet Merkurius pun melunak dan segera mengajak anda bercinta di penghujung malam dingin di bawah jembatan San Fransisco. Akhir lagu ini sedikit mengantung, seperti melompat dari ketenangan rotasi Venus menuju kegelapan angkasa luar yang tak bertepi berisi suara transmisi dan denting string mencekam yang ternyata jembatan menuju ”Dry Your Eyes”, lagu dengan distorsi ringan dan ketukan a la ”Everything’s Magic” (WDNTW) – yang ternyata memang kedua lagu ini luar biasa mirip – dengan tema lirik penuh kemarahan tentang transmisi yang gagal, dan melampiaskan segala kesalahan pada keadaan dan ketidakmampuan berkomunikasi seakan menunjukan kefrustasian yang mendalam, sebuah imajinasi yang muncul apabila kalian sudah menonton LOVE The Movie, perasaan seperti itu tergambar jelas berkali-kali di film tersebut. Lick gitar dengan chord miring yang terkesan menjilat nakal di bagian verse adalah salah satu nilai tambah di lagu ini.

”The Revelator” adalah lagu dengan judul terbaik di album ini yang dimulai dengan sound bass yang unik milik Watcher dan intro yang – entah bagaimana - mengingatkan saya akan  ”Snake Charmer” (Blink-182 | Neighborhood - 2011). Lagu ini punya bridge yang sangat baik dan catchy, [ It’s a little late in a little while can we forgot about it? With a little lake of a little fire, We’ll take the fun out of it] sangat menggelitik dan asyik untuk bergoyang bersama gaya dansa Delonge yang memalukan,  namun reff-nya cenderung membosankan dan minim kreatifitas nada. Permasalahan klasik yang diwariskan sejak LOVE pt 1. Sesuatu yang wajar mengingat menulis untuk double album dengan 20 lagu dalam tempo sekitar 4 tahun tentu saja akan mengakibatkan hal semacam ini.

Alunan dansa robotnik luar angkasa mewarnai ”One Last Thing”, ,verse dengan nada bernyanyi yang cerdas yang seperti penyempurnaan dari lagu disko a la 80an, lirik yang bernyanyi tentang kehidupan nyata, Delonge menulis dari keadaan mengenaskan di pinggir jalan hingga istana megah yang dibagun dari peperangan yang diisi kritik mendalam pada negara yang dia cintai bernama Amerika [Out of love and we’ve just begun, livin’ large in America..], dia juga mempertanyaakan bagaimana kita bisa tidur tenang di tengah keresahan yang terjadi [ How does anybody sleep tonight? Out of mind but not out of sight..] spirit Delonge yang mengambil porsi nada yang lebih tinggi di Reff kedua dan seterusnya patut diberi kredit tambahan, menghentak dan membakar semangat. [But i found, one last thing to believe in!] Seperti diberikan pencerahan petuah sejenak oleh si gendut Delonge.

Intro gitar ”Inertia” adalah hal yang – secara pribadi - paling saya benci dari lagu ini, memang kombinasi chord yang miring-miring sering digunakan, namun tidak terdengar megah disini, padahal lirik keseluruhan sangat baik, dimulai dengan [You’re a liar, you wear gun makes you look bigger] dan lagu ini memang penuh sindiran kehidupan sosial yang umum terjadi dan kebencian yang ditorehkan di hati dan diwariskan kepada generasi kita. Kali ini Delonge sangat cerdas mengangkat isu-isu penuh muatan politis semacam ini. Nada yang yang diambil cenderung flat dan cara bernyanyi yang bernuansa apatis dan khidmat, namun di penghujung lagu lirik [We’re still standing.. And we’ve done this before, but we’re standing] berkumandang menunjukkan dia tidak menyerah melawan kemunafikan kehidupan dan percaya akan ada akhir dari kegilaan ini, lagu ini ditutup dengan petikan dialog dari LOVE The Movie.

Oldschool, itu yang terbesit di pikiran saya saat memasuki ”Behold A Pale Horse” - yang entah darimana Delonge bisa dapat judul sejelek ini untuk masuk ke album ini – diisi dengan tempo sedang dan chord-chord berpindah secara rapat a la band rock old shcool yang dibantu drum untuk menjadi semegah mungkin, sementara Delonge bercerita tentang hari kiamat yang disadur dari kitab Wahyu, dan yak, cara bernyanyi Delonge di reff lagu ini sedikit berbau idolanya Bono (U2).

Kennedy yang bertanggung jawab akan piano merdu dan manis yang menyebarkan obat bius berkualitas terbaik di lagu ”All That We Are”,sebuah penutup yang dibalut vokal dan lirik manis Delonge, dan diakhiri interlude panjang berisi raungan gitar yang – lagi-lagi cenderung oldschool – yang dengen segala keterbatasan saya dapat menyebut beraroma Pink Floyd, kasar, egois dan bergema memenuhi angkasa luar.

LOVE part 2 memang lebih sering mengemukakan cinta pada bentuk yang lebih sederhana dan terbayangkan oleh keterbatasan mata kita, meskipun bentuknya beragam, namun tetap saja bukan sebuah album berat, namun apabila diresapi, dan menyerap artinya, dan tentu saja menonton LOVE The Movie, maka kalian akan mudah mengerti seberapa pentingnya Delonge panjang lebar menjelaskan bahwa kesendirian itu menyesakkan, dan berkumpul bersama manusia-manusia yang kita cintai adalah segala-galanya. Petualangan dengan LOVE mungkin selesai disini, dengan jutaan pesan yang ingin ditinggalkan Delonge. Secara musik dan sound, kita mungkin kenyang dan hafal bagaimana bentuk Angels&Airwaves sejak era We Don’t Need To Whisper (WDNTW)  hingga LOVE part 2 mencoba memotivasi kita dan menyisipkan berbagai makna untuk kita lebih mencintai sesama, mencintai sekitar kita, mencintai liingkungan dan udara yang kita hirup, mencintai segala bentuk kehidupan dan kemegahannya.

Petualangan menjelajahi antariksa untuk sementara selesai sampai disini, sudah saatnya kita kembali ke bumi dan menanam pohon.

Saturday, October 22, 2011

Menyederhanakan Kebahagiaan

Sudah sepantasnya,
saya memperjuangkannya,
menembus tembok batas peraturan.

Sudah seharusnya saya melindunginya,
bersamanya adalah kebahagiaan.

Sudah saatnya saya berdiri tak perduli,
bahagia ini kami.

Siapa disini yang merasa wajar?
yang merasa sanggup menilai dan menghakimi?
Bukankah kita semua enggan dinilai?
Bukankah kita semua enggan dihakimi?

Bukankah kami pantas bahagia?
memeluk mesra tanpa perduli sekitar dunia.

Tak ada yang kami langgar.
Tak ada yang kami sakiti.

Hanya saja tuntutan itu kerap menimbulkan benci.

Saya tak mencintai sesama jenis.

Saya mencintai seorang wanita yang begitu menenangkan hati.
Senyum yang akan menghapus bekas luka kenyataan hidup,
tawa yang akan menghajar habis keraguan.

Apa yang kalian risaukan?

Kami yang merasakannya,
diterjang panas hujan asmara,
bukan sekedar menuruti apa yang tertulis,
apa yang digariskan.
Bukan konsep pengalaman,
bukan nasihat bijak atau petuah menghujam,
ini hati kami.
ini perasaan kami.
Lihat kami sebagaimana kami ada.

Kalian tak ada disana,
saat kami membatasi nafsu diri,
kalian tak ada disana,
saat kami berjibaku melawan ego kami sendiri.

Hidup sudah terlalu berat,
mengapa kalian menambahkan beban?

Terang itu terlihat,
saat kami diterima sebagai mana bentuk kami yang ada,
bukan diharuskan menjadi sebagaimana mestinya.
Bukan bersembunyi selalu di balik gelap.

Siapa yang tak mau menjadi normal?

Siapa yang tak mau menjadi manusia sewajarnya?

Siapa yang tidak normal?

Siapa yang tidak wajar?

Mengapa bertahan dengan kata-kata usang,
jutaan rumus kebahagiaan?
Bukankah hidup kami yang menjalani?

Mengapa bertahan dengan jutaan kemungkinan terburuk?
Jika kami percaya selalu ada masa depan bagi yang percaya.

Tak ada yang ingin saling menghancurkan diri,
kami hanya ingin bahagia dengan cara kami sendiri.

Tak ada yang ingin saling mengorbankan perasaan diri,
kami hanya ingin kalian sedikit mengerti.

Seberapa besar dosa untuk saling mencintai?

Harta dan uang bisa terganti,
rasa sesal dan bersalah tak akan pernah mati.

Berdirilah disini,
menyederhanakan kebahagiaan.

Lihat kini,
betapa kami saling mencintai?
Betapa kami mau berkorban hati,
semia tak satupun yang tersakiti?

Melihat kalian akhirnya mengerti,
dengan isak tangis yang kami teriakan,
melihat kalian baru mau memahami,
saat luka itu tergores begitu dalam.

Sudah lihat sebagaimana hebatnya perasaannya?
Sudah lihat sebagaimana ketulusannya?

Ingatlah bahwa kami hanya dua manusia,
pria dan wanita yang saling mencintai setulus hati,
sederhana dan bahagia,
jangan menghujam kami dengan buruk prasangka,
atau pikiran yang menghina.

Lihatlah kami sebagaimana kami ada,
atau..

Sesalkan diri saat saya memutuskan untuk mengakhiri alasan,
untuk hidup di dunia ini,
hanya demi memuaskan hasrat abstrak beserta konsep norma yang usang.

Sunday, October 9, 2011

Kosong Itu Ramai, Sepi Itu Menular

Gue selalu bingung dari mana mau mulai buat nulis sesuatu,
biasanya malah cuma nulis judul postingan doang,
akhirnya juga ga nulis apa-apa.

And where i am now?

Mars masih jauh dari pandangan,
dan Bumi semakin panas.

Seharusnya gue udah mulai membangun pesawat ulang alik,
berkonsentrasi membangun stasiun luar angkasa,
mengkalkulasikan biaya penerbangan antariksa,
pergi dengan kekasih dan bercinta di cincin Saturnus yang menyala.

Gue mulai muak menjadi bagian dari populasi kehidupan,
ingin segera lari dan berhenti basa-basi.
Sampai kapan orang-orang ini tidak menghargai segala bentuk dedikasi?
Sampai kapan orang-orang ini memandang rendah segala jerih payah keajaiban daya otak cecunguk kayak gue ini?

Gue mau jadi orang biasa.
Yang ga perlu pengakuan dan identitas di masyarakat.
Menjalani apa yang pengen gue jalanin.
Bukan malah menyerahkan diri jadi siklus dan sistem,
anak muda harus begini,
anak muda harus begitu.

Timeline twitter mulai mendikte,
bagaimana cara mereka harus berfikir.
Google dan e-book garis keras,
merajai pikiran dan ideologi anti-kemapanan yang menggelikan.
Sedangkan yang kelihatan suci dan menyenangkan jatuh juga akhirnya di altar penyembahan harta.

Petikan lirik berupa ceramah satu pertanyaan yang akan membuat limbung otak untuk sesaat "Untuk apa hidup ini?" yang ada di pembuka lagu "Peluk Diri" KOIL membahana di kuping gue.

Iya untuk apa hidup ini?

Krisis mental dan percaya diri akan selalu menghujam selama adanya standarisasi kehidupan yang membangun stereotype masyarakat,
bagaimana harus bertingkah laku dan diterima di pergaulan.

Yang satu ngomong soal tipis-tips menjadi begini begitu,
hars beli ini biar begitu,
harus pakai ini supaya bisa begitu,
kalau kalian dilahirkan dari keluarga pas-pasan yang untuk beli kopi dan sebatang rokok aja udah masuk dalam kebutuhan tersier,
mau ngomong apa?

Kancut.

Bisa aja sih gue sendiri juga terbakar rasa iri hati,
kesel karena tidak seberuntung itu.
Tidak termasuk golongan dan ikatan pergaulan penuh lampu-lampu gemerlap dan canda tawa ceria yang berpendar hebat layaknya sorot cahaya diskotik yang masih memakai sponsor uang orang tua.

Kosong itu ramai, ramai dengan udara dan angin yang menembus sisi pori-pori terkecil kulit,
menusuk sisi-sisi hidup yang terpinggirkan rutinitas perkotaan agar kita tidak dilupakan populasi sekitar, agar keeksistensi sebagai manusia kita diakui sebagaimana mestinya.

Sepi itu menular, melalu bibir, lidah, luapan emosi otak kecil yang membuat badai internal dalam syaraf dan merubah bentuk pertanyaan yang sejak tadi menghantui.... sedikit memodifikasi..

Untuk apa aku hidup?

Wednesday, August 31, 2011

Sampai Dimana Kita?

Ini adalah judul postingan yang gue tulis puluhan kali,
dengan puluhan tema yang berbeda,
dan ga satupun gue post.

Judulnya tetap sama,
"Sampai dimana kita?"
tapi,
isinya terus-terusan beda.

Gue nulis soal hidup tadinya,
lebih ke arah curhat,
inspired by naik turunnya perekonomian keluarga gue (dan barusan aja gue delete pas gue dengan tanpa kontrol mengeluarkan detail soal itu disini hahaha)
atau soal kritik gue ke institusi agama yang makin harus dipertanyakan,
atau soal,
beberapa orang yang mesti dimaki-maki,
atau,
muaknya gue sama "so called big family" gue yang palsu-palsu itu,
atau apa ya,
No,
i won't wrote about Nazaraudin atau "Putri Yang Ditukar".

Sampai dimana kita?

Entahlah,
yang pasti,
gue kayaknya kembali ke masa-masa lulus SMS, eh SMA,
pencarian arti diri.

Jati diri udah gue temuin pas SMP. Eh itu Jati Pratiwi deng, mantannya Fahrurazi, kakaknya Prasetyo Wibowo, ah ga penting.

Intinya,
gue suka judul postingan ini,
sampai dimana kita.

Meskipun gue ga tau kemana arah tulisan itu nantinya,
dan udah 3 hari ini,
berakhir di Ctrl A Del.

Balik ke pencarian arti diri itu,
ya sama aja sih konsepnya sama nyari jati diri.

Gue suka nyebutnya krisis umur di masa transisi,
dimana hal-hal menyenangkan di umur-umur sebelumnya,
tak lagi menyenangkan di umur segini.

Konsep nya berubah,
apa yang gue cari juga berubah.

Bisa juga disebut lagi labil,
maklum,
gue juga lagi nyari apa sebenernya yang lagi gue suka.

Di saat akhi perkuliahan gue,
gue nemuin semua hal yang melengkapi hidup gue.

Punya role model band bernama Angels&Airwaves,
punya band yang personilnya asik semua, namanya Astonia,
punya pacar bawel yang luar biasa nyebelin, Dinda Verona,
keranjingan brand bernama Macbeth Footwear,
sampai akhirnya bisa menyelesaikan skripsi,
di wisuda dan nganggur 1 tahun 2 bulan.

Di masa nganggur itu juga,
gue masih sempet bikin demo "Replika Realita" sama Astonia,
masih muja-muja Macbeth juga,
masih nganggep Angels&Airwaves itu dewa-dewa,
masih pacaran sama si hidung polkadot Dinda Verona,
puncaknya sih ngebentuk Alive&Aloud,
clothing line sama sahabat gue, Rio Bersalino.

Everything's Magic.

Then,
gimana sekarang?

Astonia makin dimakan kesibukan masing-masing personil,
mimpi dan keinginan untuk maju sih gue yakin masih ada,
cuma waktu mulai berasa semakin sempit.

Gue mulai meninggalkan brand yang gue puja selama ini,
Macbeth,
i don't know,
it's just.. Overrated.
Meanwhile.. Gue mulai mencoba-coba beberapa brand lokal untuk sepatu.
Selain mendukung pergerakan industri local shoes yang lagi naik daun, gue juga mempertimbangkan untuk menggunakan hampir semua stuff milik lokal.
Dari kemeja,
jaket,
denim,
ya sampai sepatu.

Angels&Airwaves tetep gue dengerin,
tapi gue butuh penyegaran lah ya,
blink-182 masih tetep di hati,
cuma...
Yah,
gue butuh penyegaran lebih.
Think locally,
Gue aktif dengerin Efek Rumah Kaca dan KOIL sejak beberapa tahun lalu,
sekarang, ga ada salahnya menahbiskan diri sebagai fans mereka,
lebih dari sekedar penggemar belaka. hehehe.

Untuk pacar,
Gue masih ngejalanin sama si pemuja Noriyu ini,
Dinda Verona.
Perbedaannya, sekarang keinginan kita untuk lebih serius mulai harus lebih diseriusin.
Jadi yah, doakan saja ya.

Alive&Aloud akhirnya harus gue jalanin sendiri,
sahabat dan partner gue mutusin cabut setelah proses kolaborasi dengan Griffon's Army selesai.

Fiiuuhh.

Ini sih lebih ke curhat yah?

Yah, intinya sekarang gue lagi labil berat.

Mencari jati diri,
nyari gaya baru.

Situasi hidup gue udah banyak yang berubah,
gue juga ga bisa gitu-gitu aja.

Finally, everbody's changing,
and i do feel the same.

Sampai dimana gue?
Depan rumah lu, bukain dong.







Tuesday, August 9, 2011

I (Almost) Never Quit

The art of losing all the excitement.


Been listening to all the motivational songs,
and it doesn't help me at all.
Suddenly,
i'm not just in to it.

Couple times,
hard times come,
being alone at the front line,
i never quit.

Over the edge,
i never quit.

But now,
i'm losing all the excitement,
it's not fun anymore.

I won't give a care.

Friday, August 5, 2011

Mimpi. Usaha. Kerja keras.

Mimpi. Usaha. Kerja keras.

Mulai berfikir mimpi adaalah bagian kecil dari nafsu,
bagian kecil dari hasrat ketidakpuasan,
keinginan daging bukan kebutuhan.

Usaha membuat kita mengeluarkan upaya,
menyalakan daya,
menembus dan mendobrak apapun di depan sana.
Keringat, darah adalah teman setia.

Kerja keras itu luar bisa,
melepaskan segala pekat, menajamkan pedang,
menguatkan baja.

Semua sia-sia.

Jika masih saja yang kita kejar adalah hidup yang lebih baik,
hidup yang lebih mewah,
hidup yang lebih nikmat,
hidup yang lebih indah.

Mengumpulkan uang berjuta-juta,
tapi entah saat mati kita kemana?


Mimpi ku mencium bibir kegagalan,
usaha ku hilang ditelan badai,
kerja keras tak menghasilkan apa-apa.

Hidup itu indah.

Monday, July 25, 2011

Rahasia Itu Terbuka

Berhati-hatilah dengan apa yang kau impikan, tak semua harganya sanggup kau bayar.
Jika engkau dijanjikan surga,
masihkah engkau menolaknya?
Meski bayarannya darah.
Bisakah engkau terlena?

Kita manusia,
kita hanyalah manusia.
Beban itu biasa,
menyerang kita sejak nafas pertama.

Masa depan ku telah terlihat,
Ia telah membuka semua rahasia,
tingkap langit yang menjadi milikNya,
telah diberikannya padaku.

Tapi aku cuma manusia,
aku tak punya daya.
Dagingku masih berupaya,
meminta dipuaskan.
Jiwaku masih terperdaya,
meminta dibakar menyala.
Adrenalin memompa meminta dipuja.

Namun keindahan dan segala kesukaan abadi berada disana,
menunggu aku dengan segala kemegahannya.
Bukan dongeng tentang segala dunia yang fana,
bukan harapan semu hasil berkeringat darah.

Ia menjanjikan aku semua yang bahkan tak sanggup orang lain bayangkan.

berdiri aku disini,
menatap langit,
sendiri.

Aku hanya ingin dia ada disini,
menemani dan berlari bersama aku sampai aku mati,
menikmati janji yang Engkau beri.

Tuesday, July 19, 2011

Where?

Got nothing to do at the office,
since i already finished all my deadline.
Tapi dengan flu dan batuk yang sekacau ini,
ga semangat rasanya mau ngapa-ngapain.

What should i write here?
Ga ada ide sebenernya,
yang ada ingus yang daritadi naik turun.

Anyway,
life was getting any harder day by day,
and i start to losing all my excitement.

Everything's not so fun anymore,
i don't know where i'm going now.

Di satu sisi,
banyak orang yang bilang ini kedewasaan,
kita disuruh belajar memahami hidup lebih dalam,
nyari arti hidup kita di dunia.

Searching. Waiting.


Loading.

Intinya,
ada begitu banyak tuntutan yang menghimpit leher gw,
ada begitu banyak tanggung jawab yang mulai berasa beratnya.

I don't know where i'm going right?

disuruh menjadi lebih baik,
saat kita merasa udah cukup baik itu gimana ya rasanya?

Nobody's perfect,
but everyone needs perfection.


Bingung juga,
gw mau nuntut siapa ya?
Salah sih awalnya gw emang bukan tipe yang suka nuntut,
emang semua salah awalnya,
gw selalu diem aja di dalem,
ngalah sama keadaan.
Gini-gini aja jadinya,
sekalinya nuntut,
malah nuntut sama diri sendiri.

Soalnya kalo nuntut sama orang lain,
satu sisi gw ga enak,
orang lain itu pasti kaget,
since in the beginning,
i'm not that kind of person.

Bingung.
Kita emang diciptain buat bingung kali ya?



Atau orang-orang aja yang bikin hidup riweuh?
Ga simpel.



Hidup emang ga simpel men,
gaya gw aje ga simple.


Pengen rasanya jadi orang yang biasa aja.


So i don't put too many wishes,
and people don't throw me so many hopes.

Sunday, July 17, 2011

Ini Bukan Ujian Hidup, Ini Harga Yang Harus Dibayar

Seperti terjatuh menjelang sampai garis akhir,
tersandung,
jatuh dan hampir kehilangan nafas.
Lelah,
emosi,
penat,
memberangus dan membungkus,
menjadi satu.
Seiring rasa bersalah yang mengalir melalui darah,
meremukan hati sekeras baja.

Baru sesaat ternyata buku kehidupan tidak menulis apa yang selama saya katakan,
tidak ada ujian yang diberikan Sang Khalik,
ini semua adalah siklus yang saya ciptakan sendiri,
berputar,
harga yang harus dibayar.

Setiap mili kesalahan tidak begitu saja luput,
kita mengalami apa yang mereka sebut karma.
Karena hal ini lah terjadilah hal itu.
Karena hal itu lah terjadilah hal ini.

Semua karena kelemahan kita.

Emosi itu mudah.
Amarah itu megah.

Saya pernah menulisnya,
dan kini memecahkannya.

Kita membuka celah,
untuk iblis mengambil langkah,
melemahkan dan menghancurkan setiap sendi,
membuat kita jatuh tak sadarkan diri,
terbakar emosi.
Mencintai materi.
Mencintai harum ekspetasi.


Tulisan ini mengalir begitu saja,
jari tangan saya kembali lincah.
menikmati alunan gundah layaknya gairah nafsu bergejolak,
seakan rasa ini indah.
Seakan darah tak menetes keluar melalui luka.
Seolah saya tak merasakan apa-apa.

Kecewa itu biasa,
menyerang siapa aja,
yang menaruh harapan dan mempercayainya.

Semua memiliki harga yang harus dibayar,
semua memiliki akibat.

Terkadang begitu mahal sampai kita tak mampu melunasi,
terkadang begitu mahal hingga menghabisi.

Menikmatinya tak semudah memberikan saran.
Menerimanya sesulit memberikan motivasi pada terhukum mati.

Mari memulai semua dari sini,
di tempat dimana saya belum mengenali bumi,
dimana berdiri adalah hal yang luar biasa,
mengingat hari-hari kemarin,
membuka mata adalah hal yang mustahil.

Saya tidak gagal dalam ujian,
saya hanya membayar harga.

Saturday, April 23, 2011

Suara Para Pekerja

Belantara pencakar langit, keruh debu bertempur sengit. Dengarlah suara para pekerja, dengarlah kala penat menyiksa.

Tuesday, April 12, 2011

Hello Humans!

Wow,
rutinitas memang gila.

Di balik tumpukan draft layout yang harus saya lahap habis menjadikan hasil keratif melalui aplikasi Photoshop demi mendapatkan Final Approve di kantor,
saya seringkali kesulitan meluangkan waktu mengetik keyboard untuk mengisi postingan disini.

Do you miss me my blog? My blog lagiii aahhh, my blog lagii.
Kutakmauuu aah. My blog lagii.

Well, anyway,
i finally get a job. a real job.
Setahun dua bulan entah berapa hari,
saya jadi pengangguran,
dan sekarang udah resmi jadi orang kantoran.
Sekarang ngerasain tuh stuck di depan kompi,
dan menderitanya badan ini dilapisi kemeja resmi dan celana bahan katun plus sepatu kulit pantovel.
I need my jeans and sneakers!

Tapi menyenangkan kok,
sekarang gw mulai menjiwai,
seenggaknya sekarang status gw membaik,
ekonomi gw (pribadi) membaik.

Dan gw mulai membiasakan diri dengan kemeja dan celana bahan dan yeah,
melupakan sneakers dengan beralih ke leather boots.

Pendewasaan kali yah.

Gw juga menumbuhkan kumis,
dan berencana membeli chino pants (mau ganti gaya ceritanya...)

The job ain't so sucks anyway,
my division is one of the best.
I love the the atmosphere.
Yeah, meskipun ga semuanya menyenangkan,
seenggaknya tiap hari Jumat pagi gw bakal teriak,
"YEAAH GOOOD, THANK YOU SO MUCH IT'S FRIDAY!!"
haha.

Gw juga sangat menghargai weekend sekarang,
mencintai pukul 5 sore,
dan tentu saja, tanggal 25. I love it so much. Another haha.

Pendewasaan juga meliputi keharusan gw untuk cermat mengatur waktu,
even lima belas menit itu sangat berharga sekarang.

Time is money for anyone, but for me,
time is priceless.

Deadline ga usah diceritain ya,
males juga ngingetnya,
tapi yah, Deadline itu bener-bener nyita waktu.
Enerji, serta hati. Deadline menguras bak mandi, eh hati.
Berasa Vidi.

Back to the time thingy,
yeah gila emang si waktu,
gw kayak lagi naik jet tempur sambil sarapan,
susah banget ngaturnya.

Senin sampai jumat udah pasti penuh rutin,
mecet-macetan di jalan mah udah jadi semacam tabung oksigen,
can't live with it. fork.
Senin sampai jumat itu ga cuma kerja yang nyita waktu,
tapi juga kan gw masih merangkai mimpi sama brand clothing dan band gw.
Such a great mess,
meski nge-band jadi agak terbengkalai,
tapi clothing, Puji Tuhan,
masih lancar lah,
bisa buat nabung buat nongkrong di California (Fried Chicken).


Jumat malam itu semacam berhala,
dipersembahkan buat ngabisin waktu sampai maleeeemmmm,
demi ketemu si pacar.
Yeah si bocah ababil yang -sayangnya- gw cinta banget itu emang egois ga ketulungan,
giliran libur dia kabur sama geng kampaknya,
giliran gw libur, mesti berasa lembur demi ketemu tuh si kodok lumpur.
Tapi mau gimana ya,
schedule nya emang kacau,
susah kalo ga dipaksain.
Tapi tenang, gw udah nyiapin bom nuklir kalau sampe dia ga mau gantian susah payah buat nyari waktu ketemu gw,
siap banget nih gw sumpel hidungnya pake paku bumi.
Damn, i love you! Haha.

Sabtu?
Biasanya gw dirumah,
tapi belakangan gw suka ada kesibukan yang dibuat-buat,
haha
yeah sekedar jaga hubungan sama beberapa temen,
atau kolega. Malemnya pun kalo sempet ya jemput si kodok lumpur yang gw cinta itu. Grrr.

Minggu?
Ya gerejalah,
standar. Lagi-lagi sama si kodok lumpur,
kalo lagi "beruntung",
kita bakal pulang bareng,
dan ga diburu-buru waktu.
Kalo lagi "sial" ....
ya mesti balikin dia ke kantornya,
soalnya mesti nyambung shift. haha.

Back to Senin.
Fork.

Back to the routine.

Gituu aja terus nih, hahaha.

Thanks to online store yang punya website pribadi (bukan via social network),
dan beberapa forum yang ga di block di kantor.
You guys made my day!

Monday, March 7, 2011

Mengerti Waktu

Sekian lama,
rutinitas seperti mesin penghisap debu,
menarik waktu,
membiarkan kita tertatih meraih setiap detik,
menit untuk bertemu,
sampai kapan kau sadar semuanya dilakukan hanya untukmu?

Jika melihat kebelakang,
rentang hidup yang mungkin meregang,
hari-hari sempat menghantuiku seperti angin mati suri,
memebelai sunyi tanpa bekas,
meninggalkan luka yang senantiasa menganga.

Berapa kali aku terlupa,
dan senantiasa diharuskan mengerti?

Berapa kali aku merasa terhina,
mengingat yang kuhadapi adalah dunia yang tak mungkin mengerti?

Beban itu seringkali muncul di matamu.
Beban itu selalu ada di detik hidupku.

Berapa kali aku berada,
di sudut pintu kamar,
dari siang yang menjulang,
hingga malam tak bertahan,
menunggumu pulang,
hanya untuk berkata,
"Hai, sampai jumpa."

Itulah alasan mengapa hati ku pedih,
setiap kali kau memberikan waktu sedetik saja,
untuk kesenangan yang tak bisa kita nikmati bersama.

Kau dan duniamu.

Sedang aku berlari mengejar duniamu.
Aku menunggumu pulang.
Aku tak pernah tertidur.

Berapa kali ku ada saat kau jatuh,
terhempas,
dan tak berdaya?

Berapa kali kita hanya bisa saling mengirim pesan singkat saat ku terluka di dalam jiwa?

Rutinitas merebutmu dariku.

Pernahkah kau dengar aku mengeluh?
Pernahkah kau pergi menjauh?

Yah,
aku melipat segala beban di hati,
tertawa memenuhi imaji,
dan menyembunyikan pedih seperti kado ulang tahun kesebelas.
Indah dan istimewa.

Amarah itu mudah.
Ia terbawa dalam darah.
Emosi itu indah,
ia meledak disaat tercurah.

Muak adalah ujian,
kesendirian itu tak terbalas,
malam penuh kopi,
dimana aku duduk di luar halaman,
menunggu di kursi kayu di tepian jalan,
ini bukan tentang kewajiban,
tapi aroma bahagia dari tubuhmu yang memelukku sepanjang jalan pulang,
artinya lebih besar daripada yang kau pernah bayangkan.

Jangan pernah kau lepaskan pelukanmu lagi,
mengingat enerji yang dia berikan tak bisa terkatakan.

Kini waktu seperti berlian,
tak mungkin terbeli.

Aku memulai apa yang dulu kita minta dalam doa,
dan pengertianmu memegang peran penting dalam skenario hidup yang kita jaga.

Betapa seharusnya kau simpan rasa pedih,
amarah,
emosi,
demi waktu yang seharusnya senantiasa kita hargai,
demi peluk yang bisa membuatku bangkit kembali,
demi api yang kau jaga di dalam tungku hati.
Lelah mungkin hinggap dan tak berhenti bertanya,
namun bisakah kita sedikit menahan egoisme dalam prasangka?

Mengerti itu harta tak ternilai,
dan waktu adalah pelengkap hidup penuh sukacita.

Monday, February 14, 2011



"Beda" adalah bagian utama, 
yang diletakan pada kepingan paling akhir,
pada perjalanan melelahkan bernama "Replika Realita"
Konsep yang merangkum sebuah hubungan yang menghabiskan 
jutaan waktu,
jutaan perasaan dan prasangka,
jutaan tangis dan tawa,
dan berakhir pada pusaran lubang hitam bernama perpisahan.

Ditulis lebih dari setahun yang lalu,
dan diaransemen ulang di akhir 2010,
ini adalah saat yang tepat untuk mengunci pintu kamar malam ini,
matikan lampu,
berbaringlah,
pikirkan tentang segala perbedaan yang bergerak memenuhi ruangan.


Dinding itu tak terlihat
namun terasa,
begitu nyata.
Seakan jurang,
telah tercipta,
diantara kita, berdua.

Bila harus menangis,
menangislah.
Karna yang harus terjadi,

Meski kita sempurna,
di dalam inginku,
meski aku merasa hati kita tlah menyatu,
kita berbeda.

Kita berbeda.


"BEDA (NEW VERSION)" download link :

4shared (Blackberry direct download)

Mediafire

Wednesday, January 19, 2011

Membuang Mimpi, Demi Uang, Dimana Masa Depan?

Pada akhirnya, kita memang butuh uang.

Prinsip dan mimpi ternyata hanya omongan para pembual,
tak ada yang pernah benar-benar menang.
Omong kosong para bajak laut yang mabuk rum,
mimpi. Khayalan.
Persetan.
Saya ingin memaki keadaan,
ingin sekali mengeluarkan segala umpatan.

Tahu rasanya dieremehkan,
saat kalian datang dengan senyum penuh pengharapan?
Tahu rasanya ditendang dan disingkirkan?
Hanya karena tak punya uang,
dianggap gagal.
Jelas, karena tidak berpenghasilan,
kita selalu dianggap gagal.

Tak usah pura-pura tahu,
berlagak mengerti.

Perduli apa kau, hei masa depan?
Menunggu di balik pohon rindang kenyamanan,
keparat.
Tahukah kau rasanya saat orang bertanya tentang dirimu?
Sedangkan jangankan melihatmu,
aku saja tak tahu bagaimana wujudmu.
Jalang.

Masa depan.
Kata mereka kau cerah,
meskipun lebih banyak dari mereka menyebutmu suram.
Ingin sekali merobek-robek wajahmu.
Aku merasa amat bodoh percaya mimpi,
harapan,
khayalan,
yang menari dan membuatku bersemangat tinggi.
Kau tahu lututku lemas,
saat tahu bahwa aku tak miliki apa-apa,
selain sekotak besar penuh cerita legenda,
tentang indahnya memenangkan kehidupan.

Aku selalu kalah keparat!

Kau tahu rasanya,
ditanya tentang makanan apa yang ingin ku makan?
minuman apa yang ku pesan?
Sedangkan aku terdiam menelan ludah,
menyembunyikan penderitaaan dan air mata di pelipis mata.

Jalang.

Aku lapar! Aku haus!
Air liurku membanjiri usus!
Aku ingin makanan hangat itu,
aku ingin minuman dingin itu,
aku ingin terlibat di pembicaraan santai dan seru,
tapi apa?

Apa yang aku bicarakan?

Selalu soal mimpi!

Haha. Miris ya.

Kita tidak ke pesta orang besar,
dengan bermimpi.

Usaha?
Aku menaruh mimpi sebagai landasannya,
dan lihat?
Kau lihat bagaimana kenyataan membunuhnya,
menikam dan membakarnya tepat di depan mataku.

Aku butuh uang, hai masa depan.

Aku tak ingin menjadi terus-terusan menjadi masyarakat kelas bawah,
diremehkan,
tak dianggap.

Ajak aku duduk di restoran mewah itu,
aku ingin membayar sendiri tagihanku.
Aku ingin merasakan,
melunasi semua makanan termahal,
yang nantinya hanya akan terkirim melalu leher angsa,
berkubang menjadi tinja.

Oh ayolah masa depan,
semua butuh uang.

Aku tak ingin lagi menahan lapar,
menelan ludah,
aku butuh uang.

Aku berjanji,
kutinggalkan semua mimpi.
Aku berjanji,
kubuang semua harapan.
Aku berjanji,
kukubur semua khayalan.

Prinsip hanya milik kaum kaya,
pendapat hanya milik kaum berkuasa.

Aku butuh uang.

Saturday, January 8, 2011

Doa itu tak kunjung selesai..

Mengawali Januari dengan jutaan beban menghimpit sumsum tulang belakang,
jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.

Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.

Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.

"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"

Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.

Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.

Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.

Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.

Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.

Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.


doa ini tak akan kunjung selesai.