Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Wednesday, August 31, 2011

Sampai Dimana Kita?

Ini adalah judul postingan yang gue tulis puluhan kali,
dengan puluhan tema yang berbeda,
dan ga satupun gue post.

Judulnya tetap sama,
"Sampai dimana kita?"
tapi,
isinya terus-terusan beda.

Gue nulis soal hidup tadinya,
lebih ke arah curhat,
inspired by naik turunnya perekonomian keluarga gue (dan barusan aja gue delete pas gue dengan tanpa kontrol mengeluarkan detail soal itu disini hahaha)
atau soal kritik gue ke institusi agama yang makin harus dipertanyakan,
atau soal,
beberapa orang yang mesti dimaki-maki,
atau,
muaknya gue sama "so called big family" gue yang palsu-palsu itu,
atau apa ya,
No,
i won't wrote about Nazaraudin atau "Putri Yang Ditukar".

Sampai dimana kita?

Entahlah,
yang pasti,
gue kayaknya kembali ke masa-masa lulus SMS, eh SMA,
pencarian arti diri.

Jati diri udah gue temuin pas SMP. Eh itu Jati Pratiwi deng, mantannya Fahrurazi, kakaknya Prasetyo Wibowo, ah ga penting.

Intinya,
gue suka judul postingan ini,
sampai dimana kita.

Meskipun gue ga tau kemana arah tulisan itu nantinya,
dan udah 3 hari ini,
berakhir di Ctrl A Del.

Balik ke pencarian arti diri itu,
ya sama aja sih konsepnya sama nyari jati diri.

Gue suka nyebutnya krisis umur di masa transisi,
dimana hal-hal menyenangkan di umur-umur sebelumnya,
tak lagi menyenangkan di umur segini.

Konsep nya berubah,
apa yang gue cari juga berubah.

Bisa juga disebut lagi labil,
maklum,
gue juga lagi nyari apa sebenernya yang lagi gue suka.

Di saat akhi perkuliahan gue,
gue nemuin semua hal yang melengkapi hidup gue.

Punya role model band bernama Angels&Airwaves,
punya band yang personilnya asik semua, namanya Astonia,
punya pacar bawel yang luar biasa nyebelin, Dinda Verona,
keranjingan brand bernama Macbeth Footwear,
sampai akhirnya bisa menyelesaikan skripsi,
di wisuda dan nganggur 1 tahun 2 bulan.

Di masa nganggur itu juga,
gue masih sempet bikin demo "Replika Realita" sama Astonia,
masih muja-muja Macbeth juga,
masih nganggep Angels&Airwaves itu dewa-dewa,
masih pacaran sama si hidung polkadot Dinda Verona,
puncaknya sih ngebentuk Alive&Aloud,
clothing line sama sahabat gue, Rio Bersalino.

Everything's Magic.

Then,
gimana sekarang?

Astonia makin dimakan kesibukan masing-masing personil,
mimpi dan keinginan untuk maju sih gue yakin masih ada,
cuma waktu mulai berasa semakin sempit.

Gue mulai meninggalkan brand yang gue puja selama ini,
Macbeth,
i don't know,
it's just.. Overrated.
Meanwhile.. Gue mulai mencoba-coba beberapa brand lokal untuk sepatu.
Selain mendukung pergerakan industri local shoes yang lagi naik daun, gue juga mempertimbangkan untuk menggunakan hampir semua stuff milik lokal.
Dari kemeja,
jaket,
denim,
ya sampai sepatu.

Angels&Airwaves tetep gue dengerin,
tapi gue butuh penyegaran lah ya,
blink-182 masih tetep di hati,
cuma...
Yah,
gue butuh penyegaran lebih.
Think locally,
Gue aktif dengerin Efek Rumah Kaca dan KOIL sejak beberapa tahun lalu,
sekarang, ga ada salahnya menahbiskan diri sebagai fans mereka,
lebih dari sekedar penggemar belaka. hehehe.

Untuk pacar,
Gue masih ngejalanin sama si pemuja Noriyu ini,
Dinda Verona.
Perbedaannya, sekarang keinginan kita untuk lebih serius mulai harus lebih diseriusin.
Jadi yah, doakan saja ya.

Alive&Aloud akhirnya harus gue jalanin sendiri,
sahabat dan partner gue mutusin cabut setelah proses kolaborasi dengan Griffon's Army selesai.

Fiiuuhh.

Ini sih lebih ke curhat yah?

Yah, intinya sekarang gue lagi labil berat.

Mencari jati diri,
nyari gaya baru.

Situasi hidup gue udah banyak yang berubah,
gue juga ga bisa gitu-gitu aja.

Finally, everbody's changing,
and i do feel the same.

Sampai dimana gue?
Depan rumah lu, bukain dong.







No comments: