Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Monday, March 7, 2011

Mengerti Waktu

Sekian lama,
rutinitas seperti mesin penghisap debu,
menarik waktu,
membiarkan kita tertatih meraih setiap detik,
menit untuk bertemu,
sampai kapan kau sadar semuanya dilakukan hanya untukmu?

Jika melihat kebelakang,
rentang hidup yang mungkin meregang,
hari-hari sempat menghantuiku seperti angin mati suri,
memebelai sunyi tanpa bekas,
meninggalkan luka yang senantiasa menganga.

Berapa kali aku terlupa,
dan senantiasa diharuskan mengerti?

Berapa kali aku merasa terhina,
mengingat yang kuhadapi adalah dunia yang tak mungkin mengerti?

Beban itu seringkali muncul di matamu.
Beban itu selalu ada di detik hidupku.

Berapa kali aku berada,
di sudut pintu kamar,
dari siang yang menjulang,
hingga malam tak bertahan,
menunggumu pulang,
hanya untuk berkata,
"Hai, sampai jumpa."

Itulah alasan mengapa hati ku pedih,
setiap kali kau memberikan waktu sedetik saja,
untuk kesenangan yang tak bisa kita nikmati bersama.

Kau dan duniamu.

Sedang aku berlari mengejar duniamu.
Aku menunggumu pulang.
Aku tak pernah tertidur.

Berapa kali ku ada saat kau jatuh,
terhempas,
dan tak berdaya?

Berapa kali kita hanya bisa saling mengirim pesan singkat saat ku terluka di dalam jiwa?

Rutinitas merebutmu dariku.

Pernahkah kau dengar aku mengeluh?
Pernahkah kau pergi menjauh?

Yah,
aku melipat segala beban di hati,
tertawa memenuhi imaji,
dan menyembunyikan pedih seperti kado ulang tahun kesebelas.
Indah dan istimewa.

Amarah itu mudah.
Ia terbawa dalam darah.
Emosi itu indah,
ia meledak disaat tercurah.

Muak adalah ujian,
kesendirian itu tak terbalas,
malam penuh kopi,
dimana aku duduk di luar halaman,
menunggu di kursi kayu di tepian jalan,
ini bukan tentang kewajiban,
tapi aroma bahagia dari tubuhmu yang memelukku sepanjang jalan pulang,
artinya lebih besar daripada yang kau pernah bayangkan.

Jangan pernah kau lepaskan pelukanmu lagi,
mengingat enerji yang dia berikan tak bisa terkatakan.

Kini waktu seperti berlian,
tak mungkin terbeli.

Aku memulai apa yang dulu kita minta dalam doa,
dan pengertianmu memegang peran penting dalam skenario hidup yang kita jaga.

Betapa seharusnya kau simpan rasa pedih,
amarah,
emosi,
demi waktu yang seharusnya senantiasa kita hargai,
demi peluk yang bisa membuatku bangkit kembali,
demi api yang kau jaga di dalam tungku hati.
Lelah mungkin hinggap dan tak berhenti bertanya,
namun bisakah kita sedikit menahan egoisme dalam prasangka?

Mengerti itu harta tak ternilai,
dan waktu adalah pelengkap hidup penuh sukacita.

No comments: