biasanya malah cuma nulis judul postingan doang,
akhirnya juga ga nulis apa-apa.
And where i am now?
Mars masih jauh dari pandangan,
dan Bumi semakin panas.
Seharusnya gue udah mulai membangun pesawat ulang alik,
berkonsentrasi membangun stasiun luar angkasa,
mengkalkulasikan biaya penerbangan antariksa,
pergi dengan kekasih dan bercinta di cincin Saturnus yang menyala.
Gue mulai muak menjadi bagian dari populasi kehidupan,
ingin segera lari dan berhenti basa-basi.
Sampai kapan orang-orang ini tidak menghargai segala bentuk dedikasi?
Sampai kapan orang-orang ini memandang rendah segala jerih payah keajaiban daya otak cecunguk kayak gue ini?
Gue mau jadi orang biasa.
Yang ga perlu pengakuan dan identitas di masyarakat.
Menjalani apa yang pengen gue jalanin.
Bukan malah menyerahkan diri jadi siklus dan sistem,
anak muda harus begini,
anak muda harus begitu.
Timeline twitter mulai mendikte,
bagaimana cara mereka harus berfikir.
Google dan e-book garis keras,
merajai pikiran dan ideologi anti-kemapanan yang menggelikan.
Sedangkan yang kelihatan suci dan menyenangkan jatuh juga akhirnya di altar penyembahan harta.
Petikan lirik berupa ceramah satu pertanyaan yang akan membuat limbung otak untuk sesaat "Untuk apa hidup ini?" yang ada di pembuka lagu "Peluk Diri" KOIL membahana di kuping gue.
Iya untuk apa hidup ini?
Krisis mental dan percaya diri akan selalu menghujam selama adanya standarisasi kehidupan yang membangun stereotype masyarakat,
bagaimana harus bertingkah laku dan diterima di pergaulan.
Yang satu ngomong soal tipis-tips menjadi begini begitu,
hars beli ini biar begitu,
harus pakai ini supaya bisa begitu,
kalau kalian dilahirkan dari keluarga pas-pasan yang untuk beli kopi dan sebatang rokok aja udah masuk dalam kebutuhan tersier,
mau ngomong apa?
Kancut.
Bisa aja sih gue sendiri juga terbakar rasa iri hati,
kesel karena tidak seberuntung itu.
Tidak termasuk golongan dan ikatan pergaulan penuh lampu-lampu gemerlap dan canda tawa ceria yang berpendar hebat layaknya sorot cahaya diskotik yang masih memakai sponsor uang orang tua.
Kosong itu ramai, ramai dengan udara dan angin yang menembus sisi pori-pori terkecil kulit,
menusuk sisi-sisi hidup yang terpinggirkan rutinitas perkotaan agar kita tidak dilupakan populasi sekitar, agar keeksistensi sebagai manusia kita diakui sebagaimana mestinya.
Sepi itu menular, melalu bibir, lidah, luapan emosi otak kecil yang membuat badai internal dalam syaraf dan merubah bentuk pertanyaan yang sejak tadi menghantui.... sedikit memodifikasi..
Untuk apa aku hidup?
No comments:
Post a Comment