Seperti terjatuh menjelang sampai garis akhir,
tersandung,
jatuh dan hampir kehilangan nafas.
Lelah,
emosi,
penat,
memberangus dan membungkus,
menjadi satu.
Seiring rasa bersalah yang mengalir melalui darah,
meremukan hati sekeras baja.
Baru sesaat ternyata buku kehidupan tidak menulis apa yang selama saya katakan,
tidak ada ujian yang diberikan Sang Khalik,
ini semua adalah siklus yang saya ciptakan sendiri,
berputar,
harga yang harus dibayar.
Setiap mili kesalahan tidak begitu saja luput,
kita mengalami apa yang mereka sebut karma.
Karena hal ini lah terjadilah hal itu.
Karena hal itu lah terjadilah hal ini.
Semua karena kelemahan kita.
Emosi itu mudah.
Amarah itu megah.
Saya pernah menulisnya,
dan kini memecahkannya.
Kita membuka celah,
untuk iblis mengambil langkah,
melemahkan dan menghancurkan setiap sendi,
membuat kita jatuh tak sadarkan diri,
terbakar emosi.
Mencintai materi.
Mencintai harum ekspetasi.
Tulisan ini mengalir begitu saja,
jari tangan saya kembali lincah.
menikmati alunan gundah layaknya gairah nafsu bergejolak,
seakan rasa ini indah.
Seakan darah tak menetes keluar melalui luka.
Seolah saya tak merasakan apa-apa.
Kecewa itu biasa,
menyerang siapa aja,
yang menaruh harapan dan mempercayainya.
Semua memiliki harga yang harus dibayar,
semua memiliki akibat.
Terkadang begitu mahal sampai kita tak mampu melunasi,
terkadang begitu mahal hingga menghabisi.
Menikmatinya tak semudah memberikan saran.
Menerimanya sesulit memberikan motivasi pada terhukum mati.
Mari memulai semua dari sini,
di tempat dimana saya belum mengenali bumi,
dimana berdiri adalah hal yang luar biasa,
mengingat hari-hari kemarin,
membuka mata adalah hal yang mustahil.
Saya tidak gagal dalam ujian,
saya hanya membayar harga.
No comments:
Post a Comment