Sudah sepantasnya,
saya memperjuangkannya,
menembus tembok batas peraturan.
Sudah seharusnya saya melindunginya,
bersamanya adalah kebahagiaan.
Sudah saatnya saya berdiri tak perduli,
bahagia ini kami.
Siapa disini yang merasa wajar?
yang merasa sanggup menilai dan menghakimi?
Bukankah kita semua enggan dinilai?
Bukankah kita semua enggan dihakimi?
Bukankah kami pantas bahagia?
memeluk mesra tanpa perduli sekitar dunia.
Tak ada yang kami langgar.
Tak ada yang kami sakiti.
Hanya saja tuntutan itu kerap menimbulkan benci.
Saya tak mencintai sesama jenis.
Saya mencintai seorang wanita yang begitu menenangkan hati.
Senyum yang akan menghapus bekas luka kenyataan hidup,
tawa yang akan menghajar habis keraguan.
Apa yang kalian risaukan?
Kami yang merasakannya,
diterjang panas hujan asmara,
bukan sekedar menuruti apa yang tertulis,
apa yang digariskan.
Bukan konsep pengalaman,
bukan nasihat bijak atau petuah menghujam,
ini hati kami.
ini perasaan kami.
Lihat kami sebagaimana kami ada.
Kalian tak ada disana,
saat kami membatasi nafsu diri,
kalian tak ada disana,
saat kami berjibaku melawan ego kami sendiri.
Hidup sudah terlalu berat,
mengapa kalian menambahkan beban?
Terang itu terlihat,
saat kami diterima sebagai mana bentuk kami yang ada,
bukan diharuskan menjadi sebagaimana mestinya.
Bukan bersembunyi selalu di balik gelap.
Siapa yang tak mau menjadi normal?
Siapa yang tak mau menjadi manusia sewajarnya?
Siapa yang tidak normal?
Siapa yang tidak wajar?
Mengapa bertahan dengan kata-kata usang,
jutaan rumus kebahagiaan?
Bukankah hidup kami yang menjalani?
Mengapa bertahan dengan jutaan kemungkinan terburuk?
Jika kami percaya selalu ada masa depan bagi yang percaya.
Tak ada yang ingin saling menghancurkan diri,
kami hanya ingin bahagia dengan cara kami sendiri.
Tak ada yang ingin saling mengorbankan perasaan diri,
kami hanya ingin kalian sedikit mengerti.
Seberapa besar dosa untuk saling mencintai?
Harta dan uang bisa terganti,
rasa sesal dan bersalah tak akan pernah mati.
Berdirilah disini,
menyederhanakan kebahagiaan.
Lihat kini,
betapa kami saling mencintai?
Betapa kami mau berkorban hati,
semia tak satupun yang tersakiti?
Melihat kalian akhirnya mengerti,
dengan isak tangis yang kami teriakan,
melihat kalian baru mau memahami,
saat luka itu tergores begitu dalam.
Sudah lihat sebagaimana hebatnya perasaannya?
Sudah lihat sebagaimana ketulusannya?
Ingatlah bahwa kami hanya dua manusia,
pria dan wanita yang saling mencintai setulus hati,
sederhana dan bahagia,
jangan menghujam kami dengan buruk prasangka,
atau pikiran yang menghina.
Lihatlah kami sebagaimana kami ada,
atau..
Sesalkan diri saat saya memutuskan untuk mengakhiri alasan,
untuk hidup di dunia ini,
hanya demi memuaskan hasrat abstrak beserta konsep norma yang usang.
No comments:
Post a Comment