jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.
Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.
Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.
"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"
Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.
Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.
Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.
Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.
Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.
Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.
doa ini tak akan kunjung selesai.
No comments:
Post a Comment