Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Friday, August 21, 2009

untitled


Tak ada yang suka terbangun di tengah malam,
dan menyadari bahwa ia kesepian.
Itu mungkin yang kita semua hindari,
tak ada yang ingin merasakan hal seperti itu,.
Mungkin bukan masalah fisik,
atau keberadaan seseorang di samping kita,
lebih kepada pencarian akan seseorang yang berdiri,
tersenyum dengan hangat di ujung lorong hati kita yang gelap.

Saya tidak berlebihan soal itu,
buktinya pasti kita seringkali merasa kesepian luar biasa di tengah keramaian?

Saya benci hal itu,
teramat benci.

Meskipun saya terbiasa kesepian,
kedua orang tua saya terbiasa kerja hingga larut malam,
bahkan saya harus menghadapi kenyataan bahwa,
mereka tidak bekerja untuk memperbaiki kehidupan,
justru mereka hanya bertahan hidup.
Saya tidak berkelimpahan materi,
bahkan jauh dari itu,
sempat mengalami rasa minder di awal saya beranjak dewasa,
saya lebih sering duduk di kamar sendirian,
mendengarkan lagu-lagu Blink 182 hingga NOFX,
daripada nongkrong berjam-jam dengan teman-teman saya.
Jujurnya, saya memang tidak pernah punya banyak teman.

Seiring waktu berjalan,
saya mulai bisa mengalahkan ego,
saya sempat berulang kali berkata pada diri saya di depan cermin
"Mungkin gw miskin,mungkin gw ga punya apa-apa,tapi gw bukan pecundang....."
Miris.
Tapi itu yang saya hadapi,
perlahan-lahan saya mulai sok percaya diri,
saya bahkan mendongakkan kepala,
meluaskan pandangan,
melihat sisi hidup dari pandangan yang berbeda,
memiliki banyak teman,
tertawa,bercanda,
tapi saya tetap kesepian.

Saya iri melihat teman-teman saya,
duduk manis di mobil mewah hasil jerih payah orang tuanya,
memeluk gadis-gadis bermata jelalatan yang haus perhatian.
Damn, coba saya jadi salah satu dari mereka,
pasti saya akan lebih memilih wanita yang berhati lembut dan tidak genit,
yang akan saya cintai sampai mati,
begitu lamunan saya.

saya bercita-cita untuk tidak kesepian,
itulah kenapa saya senang berada di tengah ibu dan ayah saya,
mencintai mereka dengan ketololan dan kekurangan saya.

saya akan betah duduk berlama-lama hanya untuk diam memandangi kekasih saya,
hanya karena saya tahu,
itulah detik demi detik yang saya idam-idamkan,
dan saya tidak merasa kesepian.

saya akan tahan bercerita hingga bibir kering,
menahan lapar,
sedikit mengantuk,
di tengah-tengah celotehan teman-teman saya,
karena saya tahu,
inilah rasanya tidak kesepian.

Damn,
i wish i could be there every time,
in the middle of my parents,my lover,and my best friends,
forever,
and i'll be happy until the day i die...


No comments: