Gerimis adalah hal terbaik yang bisa terjadi di bumi,kita memang perlu hujan,buat sekedar membasahi tanah, dan melebur hangat menjadi kelembutan udara lembab,bukan badai yang mampu meruntuhkan pohon,ataupun memporak-porandakan atap atau malah seluruh rumah kita,bukan hujan deras yang mengguyur seperti amarah,menunjuk dahi seakan kita bersalah.
Saya suka gerimis,
melihatnya ditemani wangi tanah yang basah,
dan segelas teh manis hangat (oke, ini selera saya, bilang saja saya seperti kakek-kakek, saya rela, anti oksidan teh hijau, ataupun teh beraroma vanili, saya cinta teh manis hangat...)
duduk di sebelah jendela lantai dua,
mendengar suara air jatuh bertubi-tubi ke bumi,
namun gerimis tak seperti hujan deras,
gerimis memliki ritmis,
tempo yang dinamis,
seakan-akan ada nyanyian yang indah di dalamnya,
seorang anak kecil tanpa dosa,
meskipun lirik yang dinyanyikan nya akan bergantung pada perasaan kita saat gerimis datang.
Senang dan sedih, menang dan kalah,
nikmatilah,
gerimis itu indah.
Saya,
terkadang muak dengan kata-kata indah,
mereka seperti sindrom yang disuntikan terus menerus,
melalui surat kabar,
quote di internet,
majalah-majalah kekinian,
akhirnya mereka sadar,
bahwa manusia seperti saya tak lagi suka terinspirasi dengan buaian,
realitas membunuh nadi saya yang mencintai mimpi.
Tapi,
apakah arti hidup tanpa bermimpi?
Bahkan logika tak mampu menghalangi syaraf otak untuk menelurkan harapan,
kita memang menjalani apa yang ada,
dan seringkali mengingkari apa yang kita harapkan di langkah kita berikutnya,
mengelak demi menghindari kecewa,
meminimalisasi rasa sakit,
meskipun, kita tahu,
tak ada hal seperti itu,
kita akan tetap kecewa,
kita akan tetap sakit,
tanpa itu semua,
tak akan ada rasa hidup yang sesungguhnya,
tak ada antonim,
tak ada bahagia tanpa kecewa,
tak ada rasa yang nikmat tanpa ada rasa sakit,
hati kita terbuat dari gelas kaca,
mudah pecah berkeping-keping,
dan saat kembali direkatkan bagian per bagian,
bekas luka itu akan masih ada,
sembuh seiring waktu.
Ibaratkan cinta adalah hujan, yang membasahi hati,
cinta bisa datang sebagai badai,
memporak-porandakan hati anda,
ia bisa datang sebagi hujan deras,
meluluhkan pertahanan logika anda yang menggerogoti perasaan anda,
meskipun saya berharap,
ia datang seperti gerimis,
datang perlahan,
menyanjung kita dengan irama yang tenang,
mencuri perhatian melalui desah yang titik air yang menenangkan,
dan menyanyikan suara yang indah di telinga hati.
Indah,
keindahan cinta dalam teori,
batas sadar penciptaan asumsi,
sebuah imitasi.

No comments:
Post a Comment