
Spontanitas.
Kita seringkali memiliki respon yang luar biasa terhadap sesuatu.
Tidak selalu positif,
karena yang keluar hanyalah bentuk lain dari kepanikan.
Cermin egoisme untuk berlari menyelamatkan diri sendiri.
Saya dikelilingi oleh manusia-manusia yang penuh kepanikan,
rasa frustasi yang membumbung tinggi,
dan itu menjangkiti banya orang terdekat saya.
Dimana mereka mencari keamanan bagi hati mereka sendiri,
berkata semena-mena,
mungkin mereka hanya panik,
respon yang secara tidak sadar mereka lakukan.
Melihat mereka mengkhianati puluhan tahun keringat darah,
hanya demi kesejahteraan hati secara sementara.
Sakit?
Perih?
Saya mulai mati rasa,
suara dering telepon yang dipenuhi kemunafikan,
yang keluar dari bibir mereka,
tampaknya akan jadi sebuah rutinitas pengiris hati,
dimana kebohongan duduk manis disana,
menyemburkan sampah otak.
Sebagai selimut dan terpal yang melindungi kelemahan,
berputar dalam penyangkalan diri,
dan bersembunyi di hentakan nada yang berteriak
"Saya sudah lelah... Biarkan saya disini sejenak..."
Bercerminlah,
kita semua egois,
namun tak ada salahnya membunuh diri sendiri,
daripada menusuk jantung orang yang kita cintai.
Berdirilah,
Bertahanlah disana,
di tempat seharusnya
berdirilah sebagai manusia,
lemah dan tak memiliki daya.
Bertahanlah.
No comments:
Post a Comment