Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Saturday, March 6, 2010

Peter Pan Complex

Jarang sekali saya menulis sebuah tulisan serius,
apalagi berbahasa Inggris,
demi Jupiter yang berisi miliaran galon gas metana,
bukannya tidak bisa,
saya punya trilyunan kemalasan yang menahan saya membuatnya,
ini adalah salah satu tulisan yang baru saja saya buat,
sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan.
ini adalah versi lengkapnya,
dan sebuah copy nya sudah saya masukan amplop dan siap diposkan menuju alamat kantor tempat saya melamar.

I guess, all of you have known Peter Pan, the fiction creature that never grew up. He lives accompany with a dearest fairy called Tinker Bell, doing the adventurous life against the beast pirates, Captain Hook. Enough said, Peter Pan is every boy’s wildest dream, because he’s never being old. For example, me, myself. There’s a lot childish thingy stick to me, even now I’m 23. I like cartoons, love Gundam, I also like to collect some stuffs like a child.
Well, certainly, we’re all have the child side that would never change. We love our child hood, we love our past toys, that’s why some people, like my Dad, he always want to buy me a train miniature, because he always want it since he was a child. Weird, but it’s true.
As a child, we usually grew up with toys, laughing with friends, doing sports, watch cartoons; we’re not busy with adults problem.
Live changes, what do I see now? I saw kids talking on the phone, talking about silly love life, that they learned when they watch on soap opera on TV. They sang songs about broken heart, or an affair, which I guess, they don’t really know all the meanings from the words that contains on that songs. They learned how to gossip their friends, from the way their mother talk with friends, while watching some infotainment on TV.
Kids, nowadays, fulfilled with boring lessons on school, tough environment, especially for those who live in remote areas, and they have to walk several kilometers to reach the school. Parent wants the best for their kids, and their way to make it happen, sometimes, unsuitable for kids. Extra courses filled the rest of their day after school time, kinda weird, when i saw a kid, have tighter schedule than me, a college student.
The world keeps turning, and I’ve become too weak, but one thing for sure, for me, let kids be themselves, let them waste their youth time, let them play with toys, with bunch of friends, and us, as adults, our job is to take care and keep on eye of them, not to take their world. Keep them away from crappy songs, silly shows, and unsuitable words. Let kids loves their childhood, because nobody wants to get old, just like Peter Pan does.

Wednesday, March 3, 2010

Saya Tak Akan Lupakan 3 Desember 2008 hingga 9 Desember 2008

Banyak yang bertanya-tanya, ataupun memanggil saya dengan sebutan, "Lucky Bastard" setelah tanggal 3 Desember 2008. Apa salah saya? Ada apa gerangan? semuanya dimulai pada saat JAVA musikindo menggelar quiz heboh yang salah satunya berhadiah
menjadi kru JAVA menemani Angels and Airwaves selama mereka ada di Jakarta.


Quiznya sendiri dimulai sejak Oktober,dan pengumumannya di tanggal 3 Desember.

Pertanyaannya ada 3 :
- Kenapa atau apa arti huruf V pada AVA
- Sebutkan dua grup band Amrik yang ikutan konser POP ALTERNATIVE FESTVAL nya JAVA tahun 1996 di Parkir Timur Senayan.
- Selebriti siapa yang paling cocok gambarin karakteristik detik and why….(kalau bisa, jangan pilih Adrie Subono yee hehehe)



Dan ini yang jadi misteri bagi beberapa orang,
apa sih jawaban saya.


(langsung gw copy paste dari blog JAVA http://javamusikindo.com/adrie/?p=8#comments)


No. 563.


Sabtu malam, pukul 07:42 itu dah malem kan ya?
Saya mencoba duduk tenang di depan komputer busuk saya,
panggil saya,
Mykel and Airwaves (sesuai stiker yang ada di motor saya… ahahaha)


Ditemani dua album Angels and Airwaves,dua cangkir kopi susu di malam yang sepi karena tak bisa ngapel,
dan demi mimpi masa kecil bertemu Tom Delonge kalau saya bisa dapat meet & greet,
dan demi kebanggaan seumur hidup kalo saya bisa menjadi Java crew selama 48 jam,
saya akan coba menjawab pertanyaan-pertanyaan dari om Adrie.


1. Pertanyaan yang menarik dan memang pertanyaan ini selalu ditanyakan kepada saya yang selalu mengaku sebagai fans berat
Angels and airwaves, bahkan pertanyaan ini juga pernah diajukan oleh pacar saya.
Kenapa AVA? bukan AAA?
Jawaban saya akan terdengar berbeda dari beberapa jawaban yang lain.
Okay, huruf “V” pada AVA memang sebenarnya adalah huruf “A” yang dibalik, dan hal itu terlihat seperti tidak sengaja,padahal
saat saya menonton film START THE MACHINE (film dokumenter tentang Angels and Airwaves),
AVA ternyata sengaja dibuat sebagai sebuah brand design atau lebih tepatnya dibuat sebagai logo atau simbol band.
Yap,AVA sebagai dari logo atau simbol dari Angels and Airwaves.


AVA bukan sebagai nama panggilan band Angels and Airwaves,Ini dibuktikan karena Tom (Delonge)
selalu menyebut band nya secara lengkap di wawancara manapun,yaitu Angels and Airwaves, bukan AVA.
Karena alasan dia menggunakan nama Angels and Airwaves adalah ia ingin nama yang “angelic” dan “atmospheric”,
bukan karena Angels and Airwaves bisa dibaca dan disingkat AVA.


Lagipula setahu saya,Tom itu orang yang selalu memiliki konsep di setiap pemilihan nama.
Ia menggunakan judul album We Don’t Need To Whisper karena ia ingin semua orang berteriak saat mengatakan cinta dan perdamaian,
setelah sebelumnya secara “tidak sengaja” ia mengucapkan “We don’t need to whisper..” berkali-kali di microphone saat memulai merekam lagu “Good Day”.
Ataupun ia telah menyiapkan nama I-Empire (Album kedua Angels and Airwaves) jauh sebelum Angels and Airwaves merekam album pertamanya.
Ia pun selalu menulis Angels and Airwaves dangan simbol gambar bertuliskan AVA diatasnya (lihat di film START THE MACHINE),
jauh sebelum materi album Angels and Airwaves direkam,dan dipublikasikan.
Jadi terbukti kan kalo Tom Delonge adalah orang yang sangat berkonsep?


Pernah di sebuah wawancara majalah,Tom berkata bahwa penulisan singkatan AVA bukan AAA hanya dimaksudkan agar lebih enak dilihat dan didengar.
Dan,dia mengaku frustasi saat membuat logo yang cocok buat Angels And Airwaves,
jadi,saat dia secara tidak sengaja membalik huruf A menjadi V,dan dapat dibaca AVA.
Humm.. unsur typografi belaka atau ini adalah sebuah ekspresi kecintaan terhadap putrinya yang bernama Ava?
Mungkin saja!
Karena jauh sebelum membuat band bernama Angels and Airwaves, ia terlebih dahulu pernah memakai kaos bertuliskan AVA meski pada saat
itu ia masih berada di BLINK 182. Pada saat itu, tulisan AVA itu tidak berkaitan dengan Angels and Airwaves, AVA adalah nama anak perempuannya.
Menurut saya,ini semua hanya Tom yang tau,karena seperti pemilihan nama BLINK 182,kita semua tidak pernah tahu pasti apa arti angka 182 yang bersejarah itu,
baik Tom maupun Mark (Hoppus) selalu memberikan penjelasan yang berbeda tiap kali ditanya wartawan.


2.Hahaha… Ini pertanyaan yang aneh. Kita semua tau siapa saja yang manggung disana.. Itu kan salah satu sejarah musik Indonesia oom…
Sonic Youth,Beastie Boys… They’re like the best s*it that ever happen on that moment


3.Hummm… Agak bingung nih jawabnya.
Tapi ada banyak kandidat sih kalo menurut saya. Ada si cantik Sandra Dewi yang lagi menanjak kariernya,Cinta Laura juga simbol gadis muda gaul jaman sekarang
(meskipun saya kurang suka,tapi saya harus objektif disini.. ahahaha),atau Dian Sastrowardoyo yang meskipun sudah mulai meredup,tapi ia wanita yang cerdas,
lugas dan apa adanya. Cocok dengan image detik. Nirina Zubir juga bagus,dan dy sih udah sering banget jadi brand ambassador,orang nya juga cerdas dan menguasai
banyak bahasa.
Kalo yang cowok, agak susah nih, yang tampang nya lumayan sih banyak, tapi yang melek internet itu masih dikit. Lagipula banyak artis cowok yang ga terlalu keliatan
cerdas. Christian Sugiono atau Tora Sudiro bagus juga,atau Desta Club80’s yang malang melintang di friendster walaupun tampang nya dy amat sangat pas-pasan.
ahahaha.. Kidding Desta.. Kalo yang udah sukses dan sering banget jadi brand Ambassador sih ya si “gaib” Indra Bekti. Dy kayaknya sukses terus tuh kalo
jadi brand ambassador,total banget. Maklum saya bercita-cita jadi orang periklanan,jadi saya sedikit ngerti lah.. ahahaha
Saya sih mau juga masukin Om Adrie sebagai kandidat,tapi karena requestnya kalo bisa bukan oom,ya udah,saya cari yang lain.. ahahaha
Lagipula ini kan masukan dari saya,kandidatnya jadi pasti beragam,tergantung juga image detik mau dibuat seperti apa,jadi calon-calon nya saya sebutin aja semua.


Sekian jawaban saya,
harap maklum ya kalo saya suka berlebihan.
ahahaha..


PS: oiya lupa ni… Oom Adrie,saya cuma mau bilang TERIMA KASIH!!!
Mimpi saya selama 6 tahun,
sejak masa smp,
mau nonton Blink 182 live di Jakarta dah ga mungkin tercapai,
tapi mimpi 3 tahun terakhir mau nonton Angels and Airwaves mungkin bentar lagi tercapai,
makasih bgt buat semua orang yang udah terlibat pada proses kerja keras mendatangkan Angels and Airwaves.
You guys ROOOCCKKKKSS!!!!! ANnnnnnnnnnnnnnjjjjjjjjjjjjjj***********nnnnnnnnggggggggg!!!
ANGELS AND AIRWAVES mau dateeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnggggggggggg!!!!!!!!!!!!!!
YES YES YES!!!!!!!!
MAKASIH… MAKASIH…


Regards,
Mykel and Airwaves


Comment by Mykel And AirwaveS — November 1, 2008 @ 7:43 pm

Apa hasil tulisan ini?

HADIAH UTAMA!!!

Tanggal 3 Desember 2008 adalah awal segalanya,
setelah ke kantor JAVA untuk bertemu om Adrie di tanggal 5 Desember 2008,
akhirnya, tanggal 8-9 Desember 2008,
bersama pemenang hadiah utama lain, bernick name Krazier,
saya resmi menjadi kru AVA selama mereka ada di Jakarta,
mau tau pengalaman lengkapnya?

(Ini juga saya copas dari tulisan saya di blog JAVA http://javamusikindo.com/adrie/?p=11)

Hi there,this is mykel and airwaves..

Janji adalah hutang,
tapi kali ini,
saya tidak berjanji,atau bahkan berhutang.
Tulisan saya kali ini adalah sebuah memorabilia sederhana,
dari sesuatu yang luar biasa.
My priceless experience, 48 jam menjadi JAVA crew,
mendampingi AVA (Angels And Airwaves) selama mereka di Jakarta.

Owkay,
let’s just begin..

Mungkin saya harus mengganti judul 48 jam menjadi kru JAVA,
karena saya hanya aktif di 36 jam terakhir (ini sudah termasuk briefing lho!),
dan hanya bertemu dan ngobrol bareng Tom Delonge,David Kennedy,Matt Watcher,
bahkan Adam Willard (Atom meminta saya memanggil nama aslinya saat bicara dengannya, yaitu Adam)
selama kurang lebih 18 jam saja,
namun saya rasa itu lebih dari cukup untuk membuat semua anak muda di Jakarta iri.
Hahahaha…

Minggu, 7 Desember 2008,

Tepat pukul 19.00 wib, saya datang ke hotel Mulia,
menghadiri briefing pertama tim JAVA,
bertemu dengan mbak Melanie dan mbak Christy Subono,serta mas “Jawa” (kalo mau tau soal mas yang satu ini,
baca bukunya Om Adrie yang judulnya WOW! itu…).
Saya menunggu hingga pukul 20.00, hingga Adi (nama asli dari Krazier) pemenang quiz selain saya,datang.

Naik ke kamar 1718, saya dikenalkan dengan kru JAVA yang lain,
ada mbak Yulie,trus mas Anto (fotografer handal, saya ngiri bgt sama beliau,dia bisa memotret AVA tanpa batas!!),
lalu ada mas Henry.
Ditambah dengan kehadiran,saya bingung manggil dia dengan sapaan
Bang,Om atau Mas yah? Dia itu Ridho “Slank”,
yang juga akan bertindak sebagai fotografer.
Wiwiwiwiwi… Kebayang kan segimana excitednya saya??
Bekerja dengan sederet nama-nama besar.
Hahahaha…

Briefing ditutup jam 21.00 wib,
benar yang ditulis di buku WOW!,
tim JAVA sudah sangat terbiasa dengan hal-hal seperti briefing,
dan rapat yang super cepat,
semua orang dengan seksama telah mengerti tugas-tugasnya masing-masing,
mbak Melanie yang memipin briefing hanya tinggal membacakan rundown,
trus selesai deh.
Tinggal saya sama Adi yang bengong karena masih takjub dengan cara kerja JAVA yang super cepat!

Senin,8 Desember 2008,

Seharusnya hari ini menjadi saat yang menegangkan buat saya,
namun dikarenakan jadwal AVA yang mengharuskan mereka tiba di Jakarta tgl 9 Desember (Hari-H),
jadi hasrat saya bertemu mereka ditunda hingga besok siang.
FYI: David Kennedy,Chris Georggin (Road Manager),dan Rick Devoe (Manager),
ternyata telah ada di Bali sejak tgl 2 Desember,
sedangkan Tom Delonge,Matt Watcher,dan Adam Willard baru tiba di Singapura tgl 7 Desember,
setelah mereka perform di Singapura,lalu mereka bergegas menuju Bali di tanggal 8 Desember.

Saya tiba pukul 10.00 wib di hotel,
dengan jadwal memeriksa venue bersama crew AVA,
dan melihat pekerjaan awak produksi JAVA.
I’m so excited!!
Saat saya tiba,crew dari AVA telah terlebih dahulu di jemput,
dan ternyata para crew dari AVA dengan santainya bilang kalau mereka masih ingin bersenang-senang di hotel,
mereka juga memutuskan untuk tidak mempersiapkan alat di hari ini,
Hal tersebut membuat saya hampir tidak melakukan apa-apa,
bersama Adi, saya hanya duduk tanpa kejelasan di hotel,
bahkan saya sempat menghadiri gathering akbar Angels And Airwaves Indonesian Crowds (AVA I-Crowds)
di Senayan City. Bertemu dengan mereka yang hadir dari seluruh Indonesia. Sinting!!!

Jadi tak banyak yang bisa saya ceritakan ya di hari ini.

Selasa,9 Desember

Kegiatan dimulai dari pukul 10.00 wib,
kamar hotel yang berisi mbak Melanie Subono,
mas Gusti (suami mbak Melanie),mbak Christy,
mas Henry,mbak Christy,mas Anto,mas Robert,
dan mas Dede, sudah disibukan dengan persiapan menjemput AVA.

Saya membagi tugas dengan Adi,
Saya ikut ke airport bersama mas Gusti dan mas Henry, sekaligus mengantar
mbak Melanie terbang ke Bali mempersiapkan konser AVA di Bali,
plus (ini yang membuat saya merinding disko!!!) menjemput AVA di airport.

Sedangkan Adi,
dia bersama mbak Christy mempersiapkan kamar di hotel buat Tom Delonge dkk,
bahkan Adi sempat memotret kamar yang disediakan buat Tom Delonge,
how lucky he is!!

Kembali ke saya,
perjalanan ke Airport menyiksa batin saya,
satu mobil dengan mas Anto,mas Robert dan mas Christian,
saya merasa mual karena menahan histeria ingin bertemu AVA,
apalagi saya tidak boleh meminta foto atau tanda tangan.

Pukul 11.30 wib,
saya tiba di airport,
jantung saya sudah tidak karuan detaknya,
sempat menunggu di McDonald’s beberapa saat,
akhirnya semua tim JAVA masuk ke terminal untuk menjemput AVA,
oh iya,AVA datang ke Jakarta naik pesawat Garuda nomor penerbangan GA430, penerbangan kedua dari Bali.

Tepat pukul 12.00,
satu persatu personil menampakan diri,
Tom Delonge yang pertama muncul di hadapan saya (mau pingsan rasanya!!!!),
dy mengenakan kaos ketat biru,celana jeans abu-abu (merk nya G-star,dy yang ngomomg ma gw),
dan tentu saja sepatu Macbeth (dia pakai eliot hitam polos,padahal gw ngarep bgt dy pake The Matthew),
didampingi Rick DeVoe (tau kan kalo dy ini manajer nya AVA???),
lalu disusul Matt Watcher (Kaos hitam Macbeth polos,celana abu-abu gelap,sepatu Macbeth eliot black/cement),
di belakangnya ada si pemalu Atom Willard (Kaos hitam bertuliskan sebuah klub hotrod,celana hitam Atticus,dan
sepatu Macbeth The Willard,signaturenya dia…),
yang terakhir,
David Kennedy,dia cm pake topi merk AXO (ini clothing motorbike gitu kalo ga salah),kaos abu-abu polos,
celana pendek Dickies (Hahahaha… Ternyata masih ada lho merk ini), dan sepatu Macbeth signature nya
The Schubert “DK” yang langsung gw pelototin (gede banget ukuran kakinya dia!!!).

Tom kayaknya udah kebelet pipis,jadi saya cuma bisa “say Hi” dan memuji tattonya,
trus dia lansung bergegas ke toilet.
Sumpah deg-degan parah!!!!!
yang saya kaget, tiba-tiba saya disapa oleh Matt,dengan suara beratnya,
he ask me “How are you doing dude?”
ANJ**NG!!!! Matt Watcher ngajak ngobrol gw!!!!
Matt dan David itu ramah banget! Ga nyangka mereka se-friendly itu,
Matt cerita soal Bali dan keinginan dia untuk lebih lama belajar surfing di Bali,
bahkan dia juga menyamakan Bali dengan San Diego,
dia juga menanyakan apakah saya suka ke Bali (Mampuslah gw lama-lama ngobrol ma Matt,kayak mimpi!!).
Adegan ini didramatisir dengan gencarnya dua fotografer JAVA (Ridho “Slank” dan Mas Anto),plus satu fotografer HAI,
mengambil dan mengabadikan momen.

Menunggu Tom yang langsung belanja Big Mac di McD airport,
saya duduk bersama David Kennedy yang ternyata masih Straight Edge!!!!
Dia menolak makan McD karena dia itu vegetarian,lalu dia memuji sepatu saya,
Yap,saya memakai Macbeth Jackson Anthony Green’s studio projects,
yang saya balas dengan komentar,
“I can’t buy your shoes David,it’s so expensive here….”
Dia hanya tersenyum dan berkata dia sebenarnya telah berusaha me”murah”kan harga sepatunya,.
Tak lama,Matt pun bergabung dengan kami (saya dan David) dan David pun mengeluhkan soal
design The Schubert signature Hunter Burgan (AFI) yang dinilainya mirip sekali dengan signature miliknya.
(The Schubert signature Hunter Burgan keluar spring 2009).
Matt pun memuji sepatu saya dan berkata “It looks good on you…”
Thanks Matt!!!!
Btw,pembicaraan saya dan David sempat difoto oleh mbak Dian (detik.com),padahal saya tidak diperbolehkan
untuk mengambil gambar bersama AVA,
makasih banyak ya mbak Dian!! God Bless!!

12.30 wib,
Semua tim JAVA telah bersiap meninggalkan airport,
diwarnai dengan perpisahan mbak Melanie yang akan take-off ke Bali,
tak lupa saya mengucapkan terima kasih sebelum berpisah.
Owaky,let’s go to the hotel!!!!

13.30 wib,
AVA dan semua tim JAVA tiba di hotel,
sempat dihadang oleh beberapa fans yang nekat nunggu dari pagi buat ketemu AVA,
Tom dkk yang terlihat sangat lelah,
masih menyempatkan diri untuk foto dan tanda tangan dadakan,
saya sendiri cuma bisa diam dan berharap,mereka ga kesel sama kejadian ini.
Saat masuk lift,Tom sempat memuji sepatu saya (Hahahaha… Muka gw langsung merah!!!),
dan bertanya apa saya suka sepatu itu.
Saya bilang kalu sepatu ini nyaman sekali digunakan, dan lagipula saya juga nge-fans dengan
Anthony Green. Tom terkejut mendengarnya, dan saya pun membahas album solo Anthony Green,
yaitu Avalon dengan Tom, dan terlihat sekali Tom sangat antusias dengan album itu, dia sempat memuji
Anthony Green tapi akhirnya dia menunduk dan berbisik ke pada saya
“I’d prefer listen to Anthony’s voice on Circa Survive…” dengan tampang yang dibuat-buat untuk meyakinkan saya.
Owh,sh*t Tom,your face like a f*cking a** hole!! Hahahahahaha.. Lucu banget mukanya!!

Sesampai di depan kamar,
ada mbak Christy yang sedang memperkenalkan diri,
lalu Tom dan Matt saling ejek,
bahkan Tom mengenalkan Matt ke mbak Christy sebagai “Stupid Son of a B*tch”
Hahahaha… Keliatan kayak Tom yang kekanak-kanakan pas masih di Blink 182 pas ngomong gitu.

13.45
Semua crew standby,
bersiap mengantar AVA menuju venue untuk soundcheck,
kembali dihadang fans,
AVA tiba tepat pukul 14.00 di venue,
saya membagi tugas dengan Adi,
dia mengurus catering, saya mengurus meet and greet,
padahal akhirnya juga Adi banyak bantuin meet and greet juga.
Sempet menunggu lama saat menunggu bangku untuk persiapan interview radio dan majalah,
saya menyempatkan diri melihat venue.
Dan inilah momen tak terlupakan itu!!!!!!!!!!!

AVA IS ON THE STAGE!!!!!
memang sih ini cm soundcheck,
Tom sempet nyanyi soal gimana jauhnya dia sampai ke Jakarta,
dan teriak-teriak “SEX MAGIC” pas tes microphone.
Tapi yang bikin saya merinding,
saya sendirian di venue,
duduk di deket panggung,
berjarak 1 meter dengan AVA,
dan mereka mulai mempersiapkan instrumennya,
Matt terlihat paling siap,dengan cepat sound bass nya telah terdengar mantap,
David sempat kesal karena gitarnya seringkali mati saat dia bergerak,
dan Tom,dengan gitar Gibson signaturenya,sempat memainkan intro call to arms,
lalu giliran Atom yang bertelanjang dada saat soundcheck.
AVA seperti bermain show tunggal untuk saya,saya hanya duduk melamun,
memperhatikan setiap gerakan setiap personil,
tidak ada keinginan mengabadikan momen ini,
karena saya takut mengganggu konsentrasi mereka.

Soundcheck dimulai,
intro “It Hurts” menyalak,saya ga percaya saya ada disana,lalu AVA mulai memainkan keseluruhan lagu
“It Hurts”,disusul “Call To Arms”,lalu saat “Love Like Rockets” berkumandang, om Adrie mendatangi saya,
menanyakan apa saja yang telah saya lakukan dan bertanya bagaimana perasaan saya dan menagih tulisan saya di blog.
Fiuh,saya cuma bisa bilang terima kasih berulang-ulang kali sama om Adrie,speechless!!!
Kembali ke soundcheck, sempat terjadi kesalahpahaman antara Atom dan Matt pada saat “Sirens” dimainkan,
soundcheck ditutup dengan “Heaven”.
Saya masih ga percaya,AVA seperti sedang bermain khusus untuk saya (Hahahahaha… )

Saya sempat keluar sebentar untuk menyapa semua anak AVA I-Crowds,
pengennya sih teriak-teriak,
tapi saya tahan,
karena apa yang terjadi di dalam masih sangat rahasia,
dan saya tak bisa menggembar-gemborkan.

Hehehehehe…Here we go again,
setelah saya menyapa beberapa anak I-crowds,
saya kembali ke backstage,
mempersiapkan keperluan buat wawancara AVA oleh radio dan majalah,
saya sempet ngobrol sama Ayu “Garasi”,
malah dia curhat colongan ke gw gara-gara hp nya rusak,
jadi ga bisa foto-foto AVA,
saya sendiri lebih miris dan pengen teriak,
selalu berada dekat Tom dkk (dekat dalam arti sebenarnya yah.. 10 atau 20 centimeter!!!!),
jangankan minta foto,ngaku kalo saya itu fans berat AVA aja ga boleh.
Kalo boleh diibaratkan,ini seperti selingkuh dengan istri orang.
Saya boleh menyentuh,ngobrol panjang lebar,tertawa dengan semua personil AVA,
namun tidak dapat mengabadikan momen tersebut
lewat lensa apapun…
Hehehehehe….
But anyway,very nice to have a chat and meet you Ayu…..

16.00 wib
Wawancara dimulai,media radio mendapatkan kesempatan pertama,
ada Ardan yang mendapat Tom Delonge,lalu Trax yang kebagian David,
tapi saya lupa radio mana yang kebagian Atom dan Matt.
Yang pasti,si Tom sempet bt gara-gara persiapan radio Ardan kelamaan buat wawancara live,
mukanya bener-bener nunjukin dia bt. Hehehe.. Sabar mas Tom!
Trus ga lama,setelah wawancara,dia gangguin Matt.
Tom emang kacau deh otaknya.
Bahkan sesi wawancara sempet berubah jadi sesi foto sesaat.
Tapi yang konyol justru dateng dari kelakuan road manager AVA,
yaitu si Chris,
kelakuan ni orang sempet bikin gw stress.
Stress juga berlanjut saat beberapa media telat dateng,
padahal sih bukan salah mereka,
ini gara-gara AVA yang soundcheck nya kecepetan,
dan buat mempersingkat waktu,
mereka minta jadwal wawancara dimajuin,
kasian mbak Christy dan mas Gusti plus mbak Novi yang lgsg disibukan sama hal itu.
Saya sama Adi pun jadi sibuk merhatiin dan ngabsen setiap media yang dateng.

Kembali ke kelakuan aneh Chris,
Buat yang dapet jatah meet and greet kan dapet poster yang udah ditandatanganin sama
AVA kan yah??
Nah beberapa poster tersebut dibuat cacat sama Chris,
dia nyorat-nyoret gambar muka Matt di poster,kalo ga ditambahin kumis,disilang mukanya Matt,
sinting kan tuh orang????
Tapi berkat si Chris juga,
dua cover CD saya yang ditandatanganin AVA,
dituliskan “To: Michael” oleh Atom,gara-gara saya nitip sama si Chris.
Thanks Chris!!!

Saya juga punya pengalaman menarik dengan Rick DeVoe,
Manajer AVA yang sempet menangani Blink 182 ini lagi gencar-gencarnya promosi W.R.O.N.G
ada yang tau apa itu W.R.O.N.G?
Saya juga kurang tau,makanya saya nanya aja langsung sama dia,
hasilnya stiker asli W.R.O.N.G dikasih dari dia untuk saya,
bukan cuma 1,tapi 6! (beda sama stiker yang lw dapet kalo beli kaosnya Macbeth di venue,
di stiker yang dikasih ke gw,ada websitenya dibalik stiker itu, yaitu wronginc.com)
Dan ternyata W.R.O.N.G adalah sebuah organisasi skater dunia yang sedang dibentuk Tom.
Wow!

Tiba saat meet and greet,
Tom udah mulai kesel gara-gara kelamaan wawancara,
dia mulai nolak melucu,
tapi untungnya energi dari anak-anak meet and greet melecut AVA
untuk lebih sabar,
keliatan banget muka Tom dkk berubah saat ngeliat anak-anak teriak-teriak saat masuk ruangan meet and greet,
saya inget muka satu persatu anak-anak yang masuk,dan meluk AVA,
saya ga bakal lupa saat Pam (Pammo) dipeluk Atom,
perasaan saya sebagai fans diobati,
bahkan saat Gilang (Pokcay) berteriak-teriak bahwa dia adalah pembuat aplikasi sepatu Macbeth di facebook,
dan Tom mengucapkan terima kasih ke Gilang,
saya terharu,
saya tau rasa dari perasaan itu pada saat saya bertemu Tom di airport,
(bedanya saya ga bisa triak-triak!!),
tapi saya bahagia karena akhirnya banyak orang yang mengalami apa yang saya alami,
karena saya tau fans nya AVA itu bejibun,
dan yang dapet kesempatan buat ketemu langsung sama AVA itu terbatas,
saya senang dapat melihat Modja,Senna yang ga berhenti senyum pas ketemu AVA,
dan mendengar komentar Matt dan Atom yang menyukai Kaos I-crowds,
bahkan Rick DeVoe berkata pada saya kalau dia sangat menyukai desain kaos tersebut.
Saya sempat menunjuk kaos yang dipakai oleh salah seorang anak I-crowds (gw gtw namanya syp),
ke Tom,dan dia cuma bengong dan bertanya “Indonesian crowds??” hahahahaha… Dia ga baca tulisan atasnya..
Harusnya kan bacanya “Angels And Airwaves Indonesian Crowds”.

Fiuh,sebenernya ini seperti mimpi,
saya adalah saksi hidup dari berbagai ekspresi menyenangkan yang ditunjukan setiap peserta meet and greet,
meskipun saya berdiri disana sebagai crew yang harus tegas mengeluarkan anggota meet and greet yang terlalu lama
berada di dalam.
Tak ada kata lain,selamat anda semua telah melihat Tom Delonge,David Kennedy,Matt Watcher,dan Atom Willard
dari dekat!!!
hehehehehe……

18.00 wib
Kelar semua sesi itu,
tim JAVA lengkap dengan AVA,
langsung menuju hotel,
tapi,
terjadi sesuatu yang tidak terduga,
Tom dkk minta turun dan foto sama polisi,
Huah,kacau banget tuh,cuz takutnya jadi chaoz,
untungnya,pas mereka turun,
(gw sempet bilang ke Matt kalo fans yang mw nonton konser udah pada dateng,makanya mereka lari pas
keluar mobil…)
yang serunya,pas mereka lagi foto,
beberapa anak I-crowds ada di gate festival,
dan bisa ngeliat Tom dkk,
jadi semua teriak-teriak,(ada yang manggil-manggil and ngatain gw jg malahan!! hehehehe),
tapi berhubung saya juga anak I-crowds,dan saya kebetulan punya kesempatan buat ngomong sama Tom,
jadi saya bilang ke dia untuk sekedar melambaikan tangan dan menyapa semua fans disana.
Dan,Tom melambaikan tangan,menyapa kalian,dan hasilnya???
Tambah berisik dan kacau!! Malah tambah banyak yang ngatain gw!!
Hahahahahaha…
Tadinya gw mw nyuruh lw semua nyanyi “Secret Crowds” tuh,biar tambah mantap!
Paling lw smua dimaki-maki satpam!
hehehehehe….
Oh iya,saya penasaran sama orang yang ngasih sepeda “ontel” ke Tom,
asal tau aja yah,Tom ga berhenti memainkan sepeda itu,
pas saya bilang kalau di Indonesia,nama sepeda itu “ONTEL”,
dia malah ngejawab kalau dia kangen sama sepeda yang dia pake pas shooting
short film “Everything’s Magic”,
trus saya sama dia ngobrol soal kemungkinan film I-Empire rilis,
jawabannya masih gantung euy!

19.00wib
Semua crew AVA sudah terlebih dahulu diantar ke venue,
saya dan Adi sempat istirahat sebentar di hotel,
mas Gusti sempet keliatan ga enak badan,
tapi semua dah siap buat the big show..
Iyalah,semua crew JAVA mah enak,mereka sudah terbiasa sama hal kayak gini,
beda sama saya dan Adi yang malah bingung mw ngapain.
Bahkan saya sempet nyesel karena harus balik ke hotel,
padahal saya bisa lebih banyak belajar kalau tinggal di venue,
sekedar bantu divisi ticketing,catering ataupun standby di posko JAVA.
Nasi telah menjadi bubur,sekarang tinggal moment of truth,
jadikan bubur itu bubur ayam!

Ada kejadian menarik saat AVA turun dari kamar hotel,
masih banyak fans yang berebut minta foto bareng,
yang saya bingung,jam sudah hampir menunjukan pukul 19.15,
AVA seharusnya sudah di jalan menuju venue,
tapi anak-anak pencinta AVA itu masih betah nungguin foto bareng di hotel,
will they watch the show? Aneh!
David masih sabar dan menerima foto bareng,gitaris ini emang ramah dan baik banget,
Atom sempet menghindar,tapi disergap sama fans,
drummer kurus ini agak kurang nyaman kalo lagi sesi temu fans,
Matt sampai harus ditarik salah satu crew JAVA,gara-gara dia kelamaan menandatangani CD fans,
dan si Tom pun muncul,
tangan kanan nya lagi megang Red Bull,
saya bertugas menjaga dia,jadi saya cuma bilang kalau “We’re late tom,please be hurry…”
Jadi dengan santainya dia jalan,trus dia ngomong ke anak-anak yang nyamperin dia buat minta tanda tangan,
“I’m sorry.. I’m Sorry… I gotta go to the show…” tanpa sedikitpun senyum dan berbasa-basi.
Hehehehe.. Ngambek rupanya Tom gara-gara ga kelar-kelar dimintain tanda tangan tiap mw masuk dan keluar hotel.

19.30wib
We’re at the venue,and we’re ready for the show,
saya sempat mengucapkan “Goodluck” ke Atom dan Matt,
tapi agak males mendekati Tom,
kayaknya tuh orang lagi kurang asoy.
Dia complain soal beberapa makanan di ridernya dia.
Ga lama,kedengeran kalo si Atom lagi pemanasan,dia gebuk2 sesuatu di ruang ganti kenceng bgt!!
Ditambah suara Tom yang juga lagi triak-triak ga jelas buat pemanasan….

20.10wib
CALL TO ARMS!!!!
Intro berbunyi “tinut..tinut..” ini membahana,disambut teriakan oleh semua orang di venue,
padahal sih semua orang di venue itu emang kerjaan nya teriak-teriak mulu. Hahahahahaha.
Okay,saya sih sudah denger bagaimana lagu ini dibawakan pas mereka lagi soundcheck,
tapi penasaran dengan semua teriakan dan atmosfir di depan panggung,
saya langsung cabut dari backstage,
ga seru nonton tanpa berdesak-desakan dan bernyanyi bersama!
Meskipun saya sendirian dan berjanji pada mbak Christy untuk kembali ke backstage sebelum encore,
tetep aja seru!!!!
Kamera digital dan handphone mengiringi setiap lagu,
Saya pun ga mau kalah,
merekam dengan fitur video di hp,
dengan amat susah payah tentunya,
karena ada wanita berkacamata minus dan bermuka kekanak-kanakan,
disamping saya tak berhenti memeluk saya agar menopang badannya,
biar ga jatuh. Hehehehehe
Sempet juga ada yang nanya ke saya,
“Orang JAVA koq nonton disini mas?”
Hahahahaha…..
Dengan lightning yang sangat amat mengganggu, karena tidak bekerja dengan baik,dan seperti amat sangat
asal-asalan,tata panggung minimalis (backdrop sederhana yang sebelumnya sudah saya liat saat soundcheck bikin
saya sedikit kecewa,saya berharap lebih),dan terakhir set drum Atom yang diejek Tom saat soundcheck
(”It’s the first time in my life i see disgusting colours on your drum set Adam!” Said Tom),
ditambah dengan tidak adanya trailer dimana biasanya ditempatkan drum dan “amunisi lain nya”.
Total 13 lagu,dengan selipan “asal-asalan” 2 lagu Boxcar Racer (”There Is” dan “My First Punk Song”),
dan 1 lagu Blink 182 (”Reckless Abandon”),
histeria malam itu ditutup dengan “The Adventure” sebelum encore yang berisi “Heaven” dan “The War”
(Saya menikmati 2 lagu ini sembari senandung di balik backstage… Hehehehe).

21.20 wib
Satu persatu personil AVA turun panggung,
Bis mereka sudah dipersiapkan oleh Chris yang juga telah mengambil banyak handuk,
dan minuman.
Tapi AVA tidak bisa langsung naik bis,
beberapa orang dari Universal telah dijanjikan foto bareng,
David yang terlihat sangat lelah,masih tersenyum,Tom terlihat acuh tak acuh,
Atom malah menghindar dan Matt malah muncul setelah sesi foto itu berakhir.
Momen ini juga membuat sejarah bagi saya,
saya sempat disalami oleh David,
dan tangan saya menyentuh tangan yang baru saja menyihir ribuan penonton dengan sayatan gitarnya,
quite amazing!!!

22.00 wib
Saya sempat punya waktu untuk sekedar keluar venue dan menyapa anak-anak I-crowds,
bercerita dengan mereka,berbagi pengalaman,meskipun saya masih menyimpan banyak yang ingin saya ceritakan,
dan semoga lewat tulisan-tulisan ini,dapat menggambarkan pengalaman saya yah.
Anak-anak I-crowds banyak yang baru saya liat,dan saya cuma sempat berkenalan dengan beberapa orang baru,
bahkan ada seorang wanita yang bilang “Gaya lw mirip Tom deh kel…”,saya cuma bisa senyum aja dengan pujian itu.
habis tempatnya agak terlalu gelap, jadi saya agak kurang mengenali sosok itu. Hehehehehe. Maaf yah!
Setelah itu,saya bergegas kembali ke backstage,menyantap pecel ayam yang harusnya sudah saya makan sebelum konser,
bersama mbak Julie,Adi dan mas Anto plus mas Henry dan mas Dede,
saya juga membereskan ruang ganti Angels And Airwaves,dimana banyak sekali minuman tersisa,
dan tembok-tembok dicorat-coret. Dasar band yang kekanak-kanakan! Hehehehe.
Rencananya,saya akan membereskan panggung,namun panggung malah sudah dibongkar oleh kru produksi,
saya terlambat! Hehehehe.

23.00 wib
Saya ada di lobby hotel untuk menunggu bellboy mengambil beberapa barang,
bersama Adi,agak lama juga saya menunggu disana.
Setelah semua siap,
saya menuju kamar hotel,
membersihkan diri,dan sedikit ngobrol sama mas Gusti,soal song list AVA dan
sound gitarnya.
Saya bergegas tidur,karena besoknya harus bangun pagi sekali,
mengantar AVA.

Rabu 10 Desember 2008,
menjelang kepergian AVA ke Bali,
saya sempat dijanjikan mbak Christy bakal punya waktu buat foto sama AVA,
namun apa daya,kesibukan dia membuat saya gagal foto,
Tom sudah keburu naik mobil,
yang tersisa hanya David,Matt dan Atom,
kesempatan ini saya tidak sia-siakan,
saya dan Adi bergantian foto dengan mereka,
ngobrol sedikit soal kemungkinan mereka kembali ke sini.
Gosh,semoga ada ganti rugi dari pihak JAVA akibat saya ga bisa foto sama TOM!!!!!!
Hwaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Padahal saya sudah se-profesional dan menahan diri sebisa mungkin selama 18 jam lebih untuk kesempatan super berharga itu!!!!
Hwaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Giliran saya yang iri kepada semua anak-anak yang bisa foto dengan Tom,
benar-benar seperti yang saya ibaratkan,
pertemuan saya dengan AVA seperti sedang berselingkuh dengan istri orang!!!
Saya bisa ngobrol seperti teman,bercanda,membahas sesuatu dengan semua anggota AVA,
namun tak ada memorabilia.. Sedih? Parah rasanya……

But afterall,pengalaman berharga sudah saya dapatkan,
mungkin ini pelajaran paling berharga selama 21 tahun umur saya,
bertemu dengan mimpi saya semasa SMP,
berbicara dengan band yang selalu saya idolakan dari kemunculan pertamanya di industri musik,
sudah saya dapatkan,
yang mungkin ini sekali seumur hidup,
ga mungkin saya lupain begitu saja…

“I like your shoes Mike.. It looks good on you..”
Matt Watcher - Angels And Airwaves
(Ia suka dengan sepatu Jackson saya… Ini sewaktu masih di Airport… Hehehehe)

“Have you heard Anthony Green’s solo album? I like it…”
Thomas Matthew Delonge - Angels And Airwaves
(Setelah dia memuji sepatu saya di lift,kami terlibat pembicaraan seru soal Anthony Green)

“Atom,do you hear it? Write down his name on that CD cover…”
David Kennedy - Angels And Airwaves
(Chris menyuruh David menulis nama saya,namun David sedang menandatangani poster milik saya,jadi dia malah menyuruh Atom)

“You can call me Adam…”
Atom Willard - Angels And Airwaves
(Saat saya memanggil dia “Atom” di Airport…..)

Satu hal lagi,
saya merasa sejak tanggal 3 Desember kemarin,
minggu-minggu ini adalah minggu terbaik dalam hidup saya,
saya bertemu dengan teman-teman baru,
berkesempatan bertukar pikiran dengan om Adrie Subono,
(Saya belum foto nih sama om! Kmrn tiba-tiba om ngilang gtu aja…)
berkenalan dengan hampir semua kru JAVA,
bekerja sama dengan mbak Melanie dan mbak Christy Subono,
saya seperti melihat langsung apa yang diceritakan di buku WOW!,
semuanya hampir persis sama!!
Hebat!!!
Last but not least,thanks mbak Yudith yang sudah amat sangat baik sama saya,
bahkan harapan saya untuk bertemu dengan mbak saat konser untuk mengucapkan terima kasih
dan mengucapkan “Happy Birthday” terkabul.
(mbak,saya ga dapet foto bareng sama Tom akibat bertindak terlalu “profesional”,
tolong dong diganti dengan foto-foto hasil jepretan mas Anto.. Hehehehehe
untuk mengobati luka batin saya….. Hahahahahahaaha).

Thanks for everything JAVA family,God bless you all.

NB: Om saya sih pengen nya sih cerita langsung dan mendeatil soal pengalaman,suka duka,
dan lain-lain ke om,
bis kalo lewat blog terbatas oleh kata sih… Hahahahaha

Best regards,

.mykel and airwaves.



SINTING YAH?
NGUAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Jelas kan sekarang kenapa saya tak mungkin melupakan 3 Desember hingga 9 Desember 2008.


Dalam Politik, Semua Hal Bisa Terjadi.

Jika saja mereka bisa mengerti,
atas nama kebodohan saya menulis semua ini.

Percayalah, saya kalah jauh soal dunia politik,
bahkan saya tak tahu pasti ada berapa komisi di DPR,
mengingat keinginan saya untuk tidur di kelas sejarah lebih besar dibanding kesadaran saya sebagai warga negara,
atau memilih cabut kelas tata negara dan memilih untuk bermain sepakbola.

Saya bukannya tidak perduli,
tapi jujur,
saya memalingkan muka dari apa yang saya mengerti,
tapi tak bisa melakukan apa-apa.

Tak ada yang akan mendengar pepesan kosong yang sebenarnya pendapat dari orang bodoh seperti saya.

Politik.
Dimana musuh adalah kawan terdekat,
dan sahabat adalah pembunuh terlatih.

Saya lelah sebenarnya,
tak usah menonton rapat yang sudah seperti konser,
dengan kehidupan sehar-hari saja,
kita mesti berpolitik,
hanya untuk apa?

Bertahan hidup.


Berpolitik adalah seni kehidupan. pertanyaan saya, kehidupan macam apa?

Dari lahir,
saat kita tersenyum kepada saudara yang tak kita sukai,
tapi atas nama keluarga besar,
dan umur yang kelewat kecil untuk berontak,
kita sudah berpolitik,
berpura-pura.
Mengatur strategi agar tak ditegur Ibu karena bertindak kurang sopan.

Kita dilatih menyukai apa yang sebenarnya ingin kita bunuh.

Demi apa? eksistensi semata.

Lihat cara mereka bersalaman,
berangkulan,
melempar senyum,
berbanding terbalik saat menyampaikan pendapat.

Atas nama intelektualitas,
atas nama attitude.

Sampah dan omong kosong.

Saya bukannya membenci etika,
atau tata krama,
tapi saat semua itu berkepentingan dengan hajat hidup orang banyak,
melihat uang milyaran dihabiskan semalam,
demi keinginan pembalasan dendam atas kekalahan di pemungutan suara,
jelaslah keterlaluan.

Bilang saya subjektif atau bodoh secara EQ,
tapi jujur,
akting kalian luar biasa,
luar biasa menyedihkan.

Jika kami dibiasakan menonton pertunjukan semacam itu,
sejak gugurnya rezim bernama orde baru,
kami pasti hafal saat kalian menggunakan tema drama yang sama,
jalur politik yang sama,
karena 1998 bukanlah kemenangan individu,
tapi seharusnya rakyat,
atau berlebihankah saya menyebutnya,
karena,
masih ada kematian rakyat yang tak diusut tuntas,
bukannya merendahkan arti reformasi,
tapi apa artinya kematian mereka,
karena mengecap indahnya reformasi,
tak akan bisa mengganti atau mengembalikan nafas mereka.

2010.

hampir 12 tahun,
dan seakan mereka ingin mengulangi,
menggunakan kekuatan rakyat,
tapi demi apa kali ini?

Muaknya rakyat akan hilangnya 7 triliun,
atau iri hati kalian karena bukan kalian yang mendapat aliran dana?

Saya percaya,
tak ada satupun dari kalian,
yang bisa kami percaya.

Sunday, February 28, 2010

Twitter = Hipotesa Insomnia

Sebagai manusia yang seringkali disebut tweets junkie,
saya sendiri sering membaca tweet yang disemburkan beberapa teman saya,
yang akhirnya akan memenuhi timeline di home twitter saya di tengah malam,
biasanya,
mereka hanya akan mengeluh sulit tidur,
dan hal tak penting lainnya,
seperti potongan-potongan keluhan agar terlihat misterius,
atau malah sejelas-jelasnya sekalian,
pacar yang menyebalkan,
atau masalah keluarga.

Tak ada hak saya untuk membenci tweet semacam itu,
toh,
saya pun "membuang sampah" lebih banyak dari mereka,
bedanya,
tweets saya cenderung tak serius,
lusinan omong kosong,
sesekali hanay menimpali dan meledek,
tak ada maksud apa-apa,
seperti mengobrol ngalor ngidul bersama teman-teman sambil layaknya menunggu waktu berbuka puasa,
dan hanya seperti junker bodoh yang tak punya kerjaan,
itu kenyataan,
saya memang pengangguran.

Twitter memang seperti timeline yang sebenarnya,
buat manusia tak punya kesibukan seperti saya,
nge-tweet per menit adalah keharusan,
saya akan menyesal apabila tak mampu melakukannya,
namun,
sekali lagi,
saya hanya membuang sampah membabi buta.

Entah apa yang mau saya tulis disini,
'__________'
emoticon seperti diatas a la ABABIL Jakarta,
sepertinya menjelaskan semuanya.
saya mau tidur.

Monday, February 22, 2010

Adiksi Sirup Anggur

Kemagisan hidup makin terasa beberapa waktu terakhir,
sudah lama sekali saya sok sibuk mereview album,
mengkritik musik,
mencoba-coba berperan bagai reporter,
seperti jurnalis kawakan,
dikritik,dipuji,
diolok-olok,
saya terlihat berlalu dengan langkah mantap,
padahal saya gontai lemas terkulai di tanah,
saya mulai menghirup udara kalah,
saya mulai menyerah.

Lucu sepertinya,
mengingat peran sebenarnya saya adalah pengangguran,
anak laki-laki umur 22 tahun,
yang masih berkutat mencari tujuan hidup,
karena keinginan dan mimpi saya dibunuh realitas.

"Those jobs haunting me,but i running away with my stupid dreams"

Saya menulis dengan harapan bisa berlari dari kenyataan.
saya mulai lelah,
beradu argumen dengan ibu,
bangun siang dengan sakit kepala,
tak berhenti makan akbiat frustasi,
dan adiksi berlebihan terhadap sirup anggur.

tak ada yang bisa saya ajak bicara,
toh,
tak akan ada yang percaya,
dibalik keriangan,
dibalik cara bercanda saya yang murahan,
tersimpan anak laki-laki penakut yang tak tahu ingin jadi apa di masa depan.

Saturday, February 13, 2010

Angels and Airwaves - LOVE




Orgasme.


Ini seperti menahan birahi tak berkesudahan,
buat saya,
menanti dari 6 November 2007,
sejak rilis I-Empire,
dan baru kesampaian di 13 Februari 2010,
sama saja dengan dipenjara secara batin,
sama saja dipisahkan oleh kekasih,
dipisahkan jarak,
hanya bisa melihat foto-fotonya,
mendengar suaranya lewat telepon,
membaca-baca ulang sms lama di cellphone,
dan baru bisa bertemu setelah 2 setengah tahun lebih.


Itu yang saya lakukan selagi menunggu LOVE,
membaca artkel-artikel, lama atau baru tentang LOVE,
melihat foto-foto proses rekaman LOVE,
mendengar preview beberapa lagu dengan kualitas sangat parah,
membaca-baca ulang lirik-lirik dari album sebelumnya,
keterlaluan memang mereka.


Ini gila.


LOVE adalah album AVA yang kita bisa download gratis secara resmi,
dan saya pikir ini hanyalah strategi marketing dari si kreator,
Tom Delonge.
LOVE, yang merupakan album studio ketiga dari Angels and Airwaves, atau yang biasa kita kenal sebagai AVA,
adalah penantian yang tak berujung,
mengingat kita sudah lama dibombardir oleh sablonan LOVE di t-shirt Tom Delonge saat tur dengan Blink 182 di Amerika,
dan tiba-tiba AVA seenaknya membuat kita makin penasaran,
dengan memberikan "Hallucinations" sebagai hadiah natal,
untuk single pertama dari album LOVE.
Ini sama saja kita diberikan rekaman video web-cam oleh kekasih kita yang ada jauh disana,
membuat kita semakin tak mampu menahan gejolak rindu,
terkutuk kau AVA!




Bayangkan rasanya,
ingin sekali menciumnya,
tak akan lepas memeluknya,
dan menggenggam tangannya seharian,
tak ingin berhenti mendengarkannya bercerita.

Inilah LOVE, penantian yang tak berkesudahan,
akhirnya berakhir juga,
dan saya tak bisa berhenti mendengarkannya.

Saya sabar mendownloadnya,
membaca-baca ulang judul-judul lagunya,
meresapi nada dan atmosfirnya,
tak ingin berhenti mendengarkannya.




Lalu,
bagaimana pendapat saya soal LOVE?


Sulit rasanya menilai band favorit,
saya bisa saja menulis secara subyektif,
bilang kalau album ini,
terbaik dari yang terbaik,
namun,
saya mesti menahan diri,
bagaimanapun,
mereka cuma band,
cuma band pop/rock alternatif dari Amerika,
dan Delonge bukan Tuhan,
Kennedy bukan James Dean,
mereka tidak sempurna.


Demi kemaluan Delonge yang berkarat,
saya bersumpah ini akan panjang dan mendetail.




"Et Ducit Mundum Per Luce" membuka petualangan saya dengan LOVE,
dan saya sudah memakai helm, jaket, sepatu Macbeth,
siap sekali mengarungi luar angkasa yang penuh pemikiran seorang Mason dan tiga sahabatnya.


Saya memulai dengan "The Flight of Apollo"
jika menurut beberapa teman saya ini lagu luar biasa,
maka menurut saya,
yang mengagumkan adalah tema dan liriknya,
sebuah nyanyian humming yang lebih menyerupai speech di awal lagu,
itu luar biasa,
terasa sekali suasana penerbangan apollo yang gagal,
namun memasuki intro,
ah, ada sedikit "Tiny Voices" dari Boxcar Racer,
meskipun tak ada salahnya,
toh penulis kedua lagu sama-sama Delonge.
Sedikit membosankan di akhir,
meskipun departemen lirik kembali memegang peranan penting,
dan berhasil menjadi kekuatan tambahan,
"So life doesn’t hurt, doesn’t hurt so badly, so life doesn’t hurt, doesn’t hurt so badly
Please don’t look at life, look at me so sadly. Life shouldn’t hurt, doesn’t hurt so badly

adalah kata-kata terbaik 
yang menggambarkan keseluruhan lagu ini,
dan itu luar biasa.




Tak berhenti, selagi drum menghentak,
saya dihajar langsung oleh "Young London",
yang agak menakjubkan,
lagu tipikal AVA dibalut sebuah,
euhm, typing gitar?
Entah itu pengaruh delay,atau apalah,
yang jelas,
ini menakjubkan.
Keseluruhan, lagu ini lebih bernada optimistis,
dan anthemic,
liriknya sendiri kembali meniupkan sebuah pengharapan,
yang jelas menjadi spesialis AVA.
Sekilas saya membayangkan Delonge 
di masa tua memimpin sebuah gerakan
pemuda pemudi putus asa di utara London, 
yang meneriakan 
"Suit up boys, that’s right 
it’s the weekend 
Get down girls, 
and dance with your best friend...."




"Shove" adalah lagu menarik, 
intro yang agak sedikit,
mirip dengan "The Gift", 
meskipun sound yang digunakan lebih sempurna,
lebih kering dan menusuk telinga.
namun liriknya lebih kepada suntikan semangat untuk terus maju,
luar biasa menyentuh dengan reffrain
"She said “show me the world that’s inside your head,
show me the world that you see yourself, 
you could use some help
cuz sometimes it comes with a shove, 
when you fall in love"
Manis, 
meski jika lebih sering didengarkan,
kalau saya tak salah,
nadanya mirip dengan reffrain "Everything's Magic" 
versi lambat,
entahlah,
namun sangat termaafkan dengan liriknya yang menyentuh.


Track selanjutnya adalah orgasme pertama dari LOVE,
"Epic Holiday",
dan sangat tidak mengecewakan.
Setelah saya cukup merinding, bahkan hanya dengan versi yang dulu saya dapat,
dengan sound luar biasa parah,
kini,
full version nya terasa memuncak tanpa ampun.
Saya seperti naik rollercoaster berisi amunisi mimpi,
dengan reff yang seolah echo dan delay vokal diperlebar,
makin terasa kemegahan liburan yang Delonge tawarkan.
Ini adalah lagu yang mendekati sempurna,
intro, verse, reff,
semuanya berkesinambungan,
lirik?
bagian favorit saya selain reff adalah
"Every single day, every 9 to 5
Every body works it hard, but then we finally die
Pukulan telak kepada rutinitas dan sistem,
ah teman-teman, kalian butuh sedikit liburan.
Satu lagi yang menarik adalah permainan drum Atom di interlude,
mencengangkan.
EPIC!!


Orgasme kedua ada di "Hallucinations",
jika dulu saya agak menganggap enteng lagu ini,
maka saya salah.
Hallucinations, adalah sebuah jembatan,
sebuah sinopsis perjalan LOVE yang menimbulkan pro dan kontra di kepala,
sebuah pertanyaan "Do you believe in Hallucinations?"
akan terus membekas di perjalanan hidup kalian hingga mati,
dan LOVE akan berakhir dengan pertanyaan yang sama,
jika kalian tak berhalusinasi saat mendengarkan lagu ini,
maka lupakan LOVE.


"The Moon-Atomic (Fragment and Fictions)" dimulai dengan sangat biasa namun terasa istimewa, ada sedikit irama yang sangat amerika, dan anthemic.
Delonge seperti sedang berpidato di depan rakyat Amerika di depan gedung putih, menyadarkan mereka,
bahwa "We are all that we are, so terribly sorry"
lagu ini penuh renungan,
menyentuh dengan cerdik dan cermat,
menyadarkan kita hanyalah manusia biasa,
di alam semesta yang indah dan luar biasa.
lagu ini ditutup dengan sebuah encore yang mengantar kita ke pintu darurat sebuah pesawat ulang alik,
dan tabung oksigen seadanya,
hanya untuk menyentuh bulan dan melihat matahari sedikit lebih dekat.

Saya langsung terbayang "Breathe" saat mendengar "Clever Love",
dan jujur,
saya sedikit kurang suka,
ada ekspektasi lebih dengan lagu ini,
tapi yang saya dapat adalah seperti saudara kembar identik yang sulit sekali dibedakan.
Lagu ini cocok bagi pecinta romansa di sisi angkasa,
dimana mereka saling mencintai di dalam helm dan pakaian astronot,
saling berciuman di sisi jendela satelit NASA.

Orgasme itu datang lagi di "Soul Survivor (...2012)",
intro kelam dibalut sound halus dengan nada menggelitik,
dan diawali dengan lirik yang membuat bulu kuduk berdiri dan membeku,
"I am a ghost, this is a dream",
oh Tuhan, darimana Delonge dapat kata-kata seperti itu?
Dengarkan dengan mata tertutup,
bayangkan akhir dari dunia,
dan kita berdiri melihat segalanya dari atas bukit yang tinggi.
Lirik di lagu ini sangat memukau,
seperti mendengar seorang yang baru saja pulang dari perjalanan spiritual ke masa depan,
saat bumi akhirnya hancur,
dan dia kembali untuk menceritakan nya dengan bahasanya sendiri.


"Letters to God, part II" adalah pertanyaan besar buat saya. Mason dan Tuhan? Saya mulai mempertanyakan definisi Mason yang saya baca selama ini, saat membaca lirik lagu ini. Lirik mengarah kepada pembicaraan Delonge dan Tuhan, yang menarik,
pembicaraan ini terkesan pribadi,
dimana Delonge, mulai terkesan menyadari arti sebenarnya hidup,
dan segala kegilaan yang terjadi di dalamnya,
tentang kedewasaan dalam melihat hidup.
Menarik.
Lagunya sendiri dimulai dengan intro yang sangat saya sukai,
seperti membuka tirai gelap,
dan riff gitar diulang-ulang tapi tetap catchy,
dan tentu saja bebunyian yang mengiringi sepanjang verse,
menggelitik dan memberi bumbu penyedap di keseluruhan lagu.
Dan yak, tenang saja, ini beda sekali dengan "Letters to God" bagian pertama milik Boxcar Racer.


Album ini ditutup dengan "Some Origins of Fire" yang pasti akan sangat mengingatkan pada "The Adventure",
baik dari struktur intro ataupun nada verse. Agak mengecewakan, meskipun saya menyukai sound gitar khas AVA disini,
setelah di lagu-lagu sebelumnya di dominasi bebunyian string dan apalah namanya itu. Lagu ini diakhiri dengan permainan solo gitar yang jarang ditemui di lagu-lagu AVA sebelumnya.

Sebelum saya menaruh headphone ini di lantai,
saya penasaran dengan keistimewaan yang saya dapat,
yaitu bisa mendengarkan versi remix dari Mark Hoppus,
untuk "Hallucinations",
tanpa harus mendonasi sejumlah dana ke modlife.
"Hallucinations" a la Mark sama saja dengan menghilangkan,
melenyapkan segala kemegahan,
menggantinya dengan musik digital,
yang bergantung pada piranti lunak.
Seperti ada anak kecil mengganti kuas dan cat minyak,
pada sebuah lukisan modern,
dan dia menggunakan pensil warna.
aneh,sederhana, dan tidak bagus.
Entahlah, sepertinya Mark harus lebih belajar,
pada Tiesto, atau Adam Young?
Yang pasti, saya yakin,
bahkan semua pasti setuju,
bahwa Mark menghilangkan ornamen-ornamen pendukung
suara Delonge yang malah melemahkan "Hallucinations".



Berakhir juga petualangan dengan LOVE,
dan saya pun melepaskan sabuk pengaman,
membuka helm astronot ini,
siap kembali ke dunia nyata.
Sebagai pemuas dahaga,
album ini sangat baik,
yang sebenarnya malah membuat album ini terasa lebih berat,
adalah Delonge terlihat jauh lebih rumit dalam menulis lirik,
dan musik yang belum mendapat sentuhan berbeda selain penambahan string disana-sini.
LOVE adalah album penuh mimpi dan pesan,
ambisius dalam arti sebenar-benarnya.

Do you believe in hallucinations? Let's start a riot!


Special thanks to Jon Goodson,
for the mediafire link and the lyrics.

Monday, February 8, 2010

The Temper Trap - Conditions



Demi saturnus yang agung,
dan cincin nya yang terdiri dari milyaran bebatuan luar angkasa,
saya berterima kasih atas dunia internet,
dan bajakan Mp3 yang menggila.
The Temper Trap adalah salah satu alasan mengapa kita mesti harus bersyukur,
ini namanya untung dua kali,
lagu-lagu bagus dari band berkualitas didapat dengan gratis.

Lagu bagus?
Band Berkualitas?

Anda harus mencoba mendengar "Sweet Disposition" dari The Temper Trap. Siapa mereka?

Sebelum mereview album nya yang saya download secara brutal dari internet,
"Sweet Disposition" sendiri pertama kali saya dengar di radio,
secara sangat tak sengaja,
saat sebuah radio memutar lagunya,
saya langsung tertarik,
karena intro nya sedikit berbau U2 atau Angels & Airwaves,
tapi vokalnya sangat Coldplay -ah maafkan saya,
mungkin pengetahuan musik saya sangat minim,
jadi saya cuma mampu membandingkan dia dengan beberapa musisi yang saya sedikit tahu, tidak mendalam.-
tapi saat itu saya tak tahu nama band,
dan judul lagunya.


Liriknya absurd, tapi luar biasa catchy.
seperti dibawa terbang ke batas atmosfir dengan pesawat berisi gulali,
manis. Benar-benar disposisi yang manis.

Belakangan,
saya baru tahu, lagu itu milik The Temper Trap. Judulnya "Sweet Disposition" dan terdapat dalam OST (500) Days of Summer,
film drama dengan ide standar dan sederhana,
tapi bernafaskan semangat indie yang luar biasa.

Sebelumnya, saya pun hanya mendengar mereka melalui kaskus tantang sebuah band asal Australia yang memiliki vokalis asal Indonesia.
Namanya Dougie Mandagi.
Dari segi fisik, bukannya merendahkan,
dia kalah jauh dari Indra Brugman yang baru saja merilis album "Saya Ingin Kawin",
tapi soal kualitas vokal dan penulisan lirik?
Anda pasti berpikir dia adalah titisan Chris Martin.

Mereka, meskipun memiliki kesamaan,
dari penampilannya yang anti rockstar dan gaya bernyanyinya,
Tapi dia adalah Dougie Mandagi,
vokalis dari band rock alternatif,
The Temper Trap.
Jika kita terbiasa mendengar Giring Nidji bernyanyi dengan falsetto yang rapih,
atau Ariel Peterpan,
maka Dougie akan membawa kita ke kelas lebih tinggi.
Cukup dengan eksploitasi Dougie yang juga bermain gitar di band (meskipun di live, mereka memilih menggunakan additional gutarist),
ada Jonathan Arhene di departemen bass, Toby Dundass sebagai drummer dan Lorenzo Sillito di gitar dan keyboard.

Kembali ke The Temper Trap,
kesederhanaan yang cerdas, menurut saya,
menyelimuti band ini,
mereka seperti sekumpulan anak kuliahan,
yang menulis dengan hati,
tentang sebuah ruangan hampa,
dimensi lain dari bumi yang kita pijak,
tempat dimana kita bisa melayang bebas,
tak tereksploitasi.


Mereka tak mencari sebuah ketenaran dengan sensasi,
tapi lebih kepada menulis sebuah kejujuran,
hal tersulit sekaligus termudah dalam menulis lagu.


"Sweet Disposition" adalah sebuah hits single terbaik,
semuanya catchy,
lalu ada single kedua "Fader" yang mampu membius anda tanpa jarum suntik, tipikal lagu single kedua, dengan lirik dan cara bernyanyi yang sangat popish,
akuisisi pop rock alternatif menawan.

Bagaimana lagu lain?

"Drum Song" adalah anthem bagi pemilik kendaraan bermotor,
dengarkan lagu ini di jalanan kapan saja,
anda pasti bersemangat. Lagu instrumental pemberi motivasi untuk tidak stress saat macet melanda.

"Love Lost" adalah lagu patah hati yang dibawakan secara dewasa,
lebih optimis,
seperti mengucapkan kata putus tanpa air mata,
meskipun sangat menyedihkan,
dan berharap suatu saat dapat memperbaiki hubungan itu. Outro tepuk tangan dan sound midi nya sangat cathcy.

"Fools" dimulai dengan beat drum seperti di les keyboard murahan,
tapi saat vokal masuk, anda akan merasa siap lepas landas,
membawa bodohnya harapan, lagu yang bagus untuk bersantai di di kamar dikala hujan. Bersiaplah jatuh terjerembab saat lagu ini selesai.

"Down River" adalah lagu favorit saya selain dua single pertama yang dilepas ke pasaran, seperti bangun pagi di samping sungai yang indah,
dengan bau kayu bakar sisa semalam,
dengan selimut tipis yang lapuk,
dan matahari menyapa dengan hangat. lirik "Go.. Don't Stop.. Go"
menguatkan harapan, ini lagu penuh nada optimis.

"Soldier On" mengaggumkan dengan lirik yang mengingatkan kita,
untuk tetap menrauh kepala di bawah, tetap rendah hati. menakjubkan dengan melodi aneh yang dinyanyikan, seperti bermain di pemakaman seseorang, syahdu dan khusyuk. 

"Rest" lebih sebagai lagu yang menjembatani suasana jamming yang indah, saya terbayang bagaimana mereka di studio, merumuskan lagu ini, penuh energi positif.

"Ressurection" adalah lagu pembuka pintu ke dimensi lain,
perhatikan liriknya,
pasti anda berharap ada di bawah pengaruh marijuana kualitas nomer 1,
sedikit berbau Gnarls Barkley,
tapi itu bukannya lebih bagus?

"Science of Fear" terdengar lebih nge-beat, seperti orang muram yang ada di bawah LSD.
lirik yang sangat bagus, dan cara bernyanyi yang sedikit beda,
dengan falsetto minimal.
dan kejutannya, adalah sedikit petikan suara Robert Kennedy tentang kematian Luther King,

“I have some very sad news for all of you, and, I think, sad news for all of our fellow citizens, and people who love peace all over the world; and that is that Martin Luther King was shot and was killed tonight in Memphis, Tennessee.”





Kesimpulannya, this could be, 
or should be the next best damn thing.
Semoga mereka ada di MTV Indonesia.