Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Monday, February 8, 2010

The Temper Trap - Conditions



Demi saturnus yang agung,
dan cincin nya yang terdiri dari milyaran bebatuan luar angkasa,
saya berterima kasih atas dunia internet,
dan bajakan Mp3 yang menggila.
The Temper Trap adalah salah satu alasan mengapa kita mesti harus bersyukur,
ini namanya untung dua kali,
lagu-lagu bagus dari band berkualitas didapat dengan gratis.

Lagu bagus?
Band Berkualitas?

Anda harus mencoba mendengar "Sweet Disposition" dari The Temper Trap. Siapa mereka?

Sebelum mereview album nya yang saya download secara brutal dari internet,
"Sweet Disposition" sendiri pertama kali saya dengar di radio,
secara sangat tak sengaja,
saat sebuah radio memutar lagunya,
saya langsung tertarik,
karena intro nya sedikit berbau U2 atau Angels & Airwaves,
tapi vokalnya sangat Coldplay -ah maafkan saya,
mungkin pengetahuan musik saya sangat minim,
jadi saya cuma mampu membandingkan dia dengan beberapa musisi yang saya sedikit tahu, tidak mendalam.-
tapi saat itu saya tak tahu nama band,
dan judul lagunya.


Liriknya absurd, tapi luar biasa catchy.
seperti dibawa terbang ke batas atmosfir dengan pesawat berisi gulali,
manis. Benar-benar disposisi yang manis.

Belakangan,
saya baru tahu, lagu itu milik The Temper Trap. Judulnya "Sweet Disposition" dan terdapat dalam OST (500) Days of Summer,
film drama dengan ide standar dan sederhana,
tapi bernafaskan semangat indie yang luar biasa.

Sebelumnya, saya pun hanya mendengar mereka melalui kaskus tantang sebuah band asal Australia yang memiliki vokalis asal Indonesia.
Namanya Dougie Mandagi.
Dari segi fisik, bukannya merendahkan,
dia kalah jauh dari Indra Brugman yang baru saja merilis album "Saya Ingin Kawin",
tapi soal kualitas vokal dan penulisan lirik?
Anda pasti berpikir dia adalah titisan Chris Martin.

Mereka, meskipun memiliki kesamaan,
dari penampilannya yang anti rockstar dan gaya bernyanyinya,
Tapi dia adalah Dougie Mandagi,
vokalis dari band rock alternatif,
The Temper Trap.
Jika kita terbiasa mendengar Giring Nidji bernyanyi dengan falsetto yang rapih,
atau Ariel Peterpan,
maka Dougie akan membawa kita ke kelas lebih tinggi.
Cukup dengan eksploitasi Dougie yang juga bermain gitar di band (meskipun di live, mereka memilih menggunakan additional gutarist),
ada Jonathan Arhene di departemen bass, Toby Dundass sebagai drummer dan Lorenzo Sillito di gitar dan keyboard.

Kembali ke The Temper Trap,
kesederhanaan yang cerdas, menurut saya,
menyelimuti band ini,
mereka seperti sekumpulan anak kuliahan,
yang menulis dengan hati,
tentang sebuah ruangan hampa,
dimensi lain dari bumi yang kita pijak,
tempat dimana kita bisa melayang bebas,
tak tereksploitasi.


Mereka tak mencari sebuah ketenaran dengan sensasi,
tapi lebih kepada menulis sebuah kejujuran,
hal tersulit sekaligus termudah dalam menulis lagu.


"Sweet Disposition" adalah sebuah hits single terbaik,
semuanya catchy,
lalu ada single kedua "Fader" yang mampu membius anda tanpa jarum suntik, tipikal lagu single kedua, dengan lirik dan cara bernyanyi yang sangat popish,
akuisisi pop rock alternatif menawan.

Bagaimana lagu lain?

"Drum Song" adalah anthem bagi pemilik kendaraan bermotor,
dengarkan lagu ini di jalanan kapan saja,
anda pasti bersemangat. Lagu instrumental pemberi motivasi untuk tidak stress saat macet melanda.

"Love Lost" adalah lagu patah hati yang dibawakan secara dewasa,
lebih optimis,
seperti mengucapkan kata putus tanpa air mata,
meskipun sangat menyedihkan,
dan berharap suatu saat dapat memperbaiki hubungan itu. Outro tepuk tangan dan sound midi nya sangat cathcy.

"Fools" dimulai dengan beat drum seperti di les keyboard murahan,
tapi saat vokal masuk, anda akan merasa siap lepas landas,
membawa bodohnya harapan, lagu yang bagus untuk bersantai di di kamar dikala hujan. Bersiaplah jatuh terjerembab saat lagu ini selesai.

"Down River" adalah lagu favorit saya selain dua single pertama yang dilepas ke pasaran, seperti bangun pagi di samping sungai yang indah,
dengan bau kayu bakar sisa semalam,
dengan selimut tipis yang lapuk,
dan matahari menyapa dengan hangat. lirik "Go.. Don't Stop.. Go"
menguatkan harapan, ini lagu penuh nada optimis.

"Soldier On" mengaggumkan dengan lirik yang mengingatkan kita,
untuk tetap menrauh kepala di bawah, tetap rendah hati. menakjubkan dengan melodi aneh yang dinyanyikan, seperti bermain di pemakaman seseorang, syahdu dan khusyuk. 

"Rest" lebih sebagai lagu yang menjembatani suasana jamming yang indah, saya terbayang bagaimana mereka di studio, merumuskan lagu ini, penuh energi positif.

"Ressurection" adalah lagu pembuka pintu ke dimensi lain,
perhatikan liriknya,
pasti anda berharap ada di bawah pengaruh marijuana kualitas nomer 1,
sedikit berbau Gnarls Barkley,
tapi itu bukannya lebih bagus?

"Science of Fear" terdengar lebih nge-beat, seperti orang muram yang ada di bawah LSD.
lirik yang sangat bagus, dan cara bernyanyi yang sedikit beda,
dengan falsetto minimal.
dan kejutannya, adalah sedikit petikan suara Robert Kennedy tentang kematian Luther King,

“I have some very sad news for all of you, and, I think, sad news for all of our fellow citizens, and people who love peace all over the world; and that is that Martin Luther King was shot and was killed tonight in Memphis, Tennessee.”





Kesimpulannya, this could be, 
or should be the next best damn thing.
Semoga mereka ada di MTV Indonesia.



No comments: