Jika saja mereka bisa mengerti,
atas nama kebodohan saya menulis semua ini.
Percayalah, saya kalah jauh soal dunia politik,
bahkan saya tak tahu pasti ada berapa komisi di DPR,
mengingat keinginan saya untuk tidur di kelas sejarah lebih besar dibanding kesadaran saya sebagai warga negara,
atau memilih cabut kelas tata negara dan memilih untuk bermain sepakbola.
Saya bukannya tidak perduli,
tapi jujur,
saya memalingkan muka dari apa yang saya mengerti,
tapi tak bisa melakukan apa-apa.
Tak ada yang akan mendengar pepesan kosong yang sebenarnya pendapat dari orang bodoh seperti saya.
Politik.
Dimana musuh adalah kawan terdekat,
dan sahabat adalah pembunuh terlatih.
Saya lelah sebenarnya,
tak usah menonton rapat yang sudah seperti konser,
dengan kehidupan sehar-hari saja,
kita mesti berpolitik,
hanya untuk apa?
Bertahan hidup.
Berpolitik adalah seni kehidupan. pertanyaan saya, kehidupan macam apa?
Dari lahir,
saat kita tersenyum kepada saudara yang tak kita sukai,
tapi atas nama keluarga besar,
dan umur yang kelewat kecil untuk berontak,
kita sudah berpolitik,
berpura-pura.
Mengatur strategi agar tak ditegur Ibu karena bertindak kurang sopan.
Kita dilatih menyukai apa yang sebenarnya ingin kita bunuh.
Demi apa? eksistensi semata.
Lihat cara mereka bersalaman,
berangkulan,
melempar senyum,
berbanding terbalik saat menyampaikan pendapat.
Atas nama intelektualitas,
atas nama attitude.
Sampah dan omong kosong.
Saya bukannya membenci etika,
atau tata krama,
tapi saat semua itu berkepentingan dengan hajat hidup orang banyak,
melihat uang milyaran dihabiskan semalam,
demi keinginan pembalasan dendam atas kekalahan di pemungutan suara,
jelaslah keterlaluan.
Bilang saya subjektif atau bodoh secara EQ,
tapi jujur,
akting kalian luar biasa,
luar biasa menyedihkan.
Jika kami dibiasakan menonton pertunjukan semacam itu,
sejak gugurnya rezim bernama orde baru,
kami pasti hafal saat kalian menggunakan tema drama yang sama,
jalur politik yang sama,
karena 1998 bukanlah kemenangan individu,
tapi seharusnya rakyat,
atau berlebihankah saya menyebutnya,
karena,
masih ada kematian rakyat yang tak diusut tuntas,
bukannya merendahkan arti reformasi,
tapi apa artinya kematian mereka,
karena mengecap indahnya reformasi,
tak akan bisa mengganti atau mengembalikan nafas mereka.
2010.
hampir 12 tahun,
dan seakan mereka ingin mengulangi,
menggunakan kekuatan rakyat,
tapi demi apa kali ini?
Muaknya rakyat akan hilangnya 7 triliun,
atau iri hati kalian karena bukan kalian yang mendapat aliran dana?
Saya percaya,
tak ada satupun dari kalian,
yang bisa kami percaya.
No comments:
Post a Comment