Badai otak.
Saya masih tak bisa lupa rasa bir,
menempel di bibir,
menjamu malam tanpa akhir.
Sudah lama sekali,
saya terbangun dari mimpi masa lalu,
membicarakan realitas,
tanpa alkohol tentunya.
Apa yang sebenarnya kita cari?
Mengapa kita malah merendahkan mimpi?
Saya rasa,
kata "realistis",
merendahkan stabilitas otak kita untuk sekedar berharap,
kita melihat dengan logika,
saya pun begitu,
bahkan saya pernah menulis soal ini sebelumnya,
bagaimana dalamnya perasaan kita saat bermimpi,
kita merasa bebas,
terbang ke dunia khayal,
sendirian,
melakukan apa yang kita inginkan,
memimpikan apa yang kita harapkan.
Langkah kita seringkali bergetar,
meragukan kuatnya kemegahan mimpi,
dan kita mati-matian tertekan,
terbebani dengan kenyataan yang hampir selalu,
berjalan tak sesuai harapan.
Tak ada orang yang tahu soal esok hari,
dan tak ada seorang pun yang mampu meramalkan hari,
akan berjalan baik,
semua hanya berharap.
Apa sebenarnya yang kita cari?
mengapa kita selalu merendahkan mimpi?
Satu kampung akan tertawa,
ketika mendengar tetangga mereka,
bermain sepakbola,
dan berkata.
"Suatu hari,saya akan bermain di klub Barcelona,
klub terbaik di Eropa!"
Mengapa kita mematikan mimpinya?
Mengapa kita malah menyodorkan realita?
Tak ada yang tahu soal masa depan,
kita hanya manusia bodoh yang mengikuti alur jaman,
bahkan penemuan-penemuan,
yakinkah anda itu murni hasil sebuah pemikiran?
Atau semua ini hanyalah sesuatu yang digariskan?
Ada yang lahir sehari,
lalu mati.
Ada yang lahir,
merangkak,
berteriak,
baru mati.
Tak ada yang tahu,
tentang rumitnya hidup,
semua hanya menerka,
menganalisa,
merangkumnya dalam buku,
merumuskannya dalam kata-kata,
alur kebiasaan.
Mematikan harapan,
sama aja bunuh diri.
Menghentikan mimpi,
sama saja menikam jantung sendiri.
Lalu apa bedanya dengan mereka,
atau kalian juga salah satu dari mereka?
Meramalkan,
menertawakan.
Kita hanyalah manusia,
dimana siklus hidup ini bagaikan roda berputar,
detik ini diatas,
menit berikutnya terhempas kalah di tanah.
Tak ada yang tahu jalan hidup orang,
detik ini menjadi pemakai obat terlarang,
setahun mendatang menjadi jutawan,
sepuluh tahun kemudian ditemukan tewas dengan luka bacokan.
Tak ada yang mengerti masa depan,
hari ini dikeluarkan dari sekolah,
esoknya diusir dari rumah,
lima tahun berikutnya mendapat berkah,
sebulan kemudian membangun rumah,
dan membeli mobil sport super mewah.
Bermimpilah,
lepaskan harapan bagaikan menembakan peluru,
menuju langit yang penuh misteri,
dan semesta yang tak terpungkiri,
bernafaslah,
tertawalah,
menangislah,
bermimpilah.
No comments:
Post a Comment