Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Sunday, January 12, 2014

12 Jan 14





Kupacu motorku, menjauhi hatimu
Menembus hujan dingin hingga jiwaku membeku
Perih ini tersamar dalam pekat gelap malam
Kala engkau terbakar emosi yang membara.

Kau minta aku pergi.
Ku terasing dan tersisih.

Kau tenggelam,
dalam deras amarah, hati terlampau lemah,
lelah menjaga jarak.

Ku terhempas.
Kehilangan kata-kata, tak ingin bicarakan semua.

Monday, December 9, 2013

Alive&Aloud The Last Chapter of A New Beginning : First Package Volume 1

Sudah sejak pertama kali dirilis, Alive&Aloud adalah media representasi dari apa yang ingin kami pakai dan apa yang ingin kami utarakan. Kami akan membuat ini dan itu, apapun yang kami mau dan suka.
Dikala semua berlomba-lomba menjadi yang terbaik, dan menjadi yang terdepan, Alive&Aloud tidak pernah ingin beranjak dewasa dan menjadi besar. Kami tahu, kami bukanlah pilihan utama, tapi setidaknya, kami hanya melakukan apa yang kami mau.
Kami bukan mereka.
Sudah saatnya menyerang balik!


2013 – Stay Strong, Stay True

Kali ini, kami mencoba menggabungkan apa yang kami pikirkan mengenai hidup.
Dikala yang perlu kita lakukan adalah berusaha keras untuk tidak menjadi apapun atau siapapun yang kita benci.

“Opini itu seperti lubang pantat. Sebau apapun, setiap orang punya satu”
Herry Sutresna a.k.a Ucok Homicide

Mental positif itu tidak selalu ada, dan memang, mustahil selalu melihat sisi yang baik dari segala kejadian yang menimpa kita, atau orang sekitar kita, tetapi, berfikir negatif tidak akan membayar cicilanmu.Hidup tak pernah adil kawan,
Dan, semua orang tau itu, atas nama ketidakmampuan kita untuk terus melawan segala kesialan yang dibawakan hidup kepangkuan kita, kita seringkali tahu, mana saat yang tepat untuk berhenti, mana saat yang tepat untuk kembali menyerang.Mental positif seringkali diasosiasikan pada hidup yang sehat, pikiran yang kuat, dan sebagainya, dan sebagainya.Menurut lubang pantat saya, eh maaf, maksudnya menurut pendapat saya, mental positif tidak selalu semewah itu.Mental positif adalah bagaimana kita menjaga diri kita, untuk tidak tertular dan terjangkit apa yang dihembuskan dari semua hal yang kita benci. 
Jika kalian benci penindas, jangan menindas.
Jika kalian benci penjilat, ya jangan menjilat.
Jika kalian benci kepada setiap orang yang menganggap remeh mimpi kalian, ya jangan menganggap remeh mimpi orang lain.
Sesederhana itu. 
Karena percuma, menjelekan orang yang sedang menjelekan sesuatu, atau membunuh seorang pembunuh, itu sama saja meracuni diri kita, mengubah kita menjadi sesuatu yang kita benci.Karena dari semua hal itu, mental kita lah yang paling telak dihajar, saat kita dipaksa bersikap positif, dikala dunia berubah menjadi iblis berwujud hal-hal yang paling kita inginkan.
Uang, birahi, dan kekuasaan.
Mustahil memang menjadi malaikat, tetapi, kerugian menjadi orang baik tidaklah seberapa.



Alive&Aloud 
The Last Chapter of A New Beginning : 
First Package 


THE PASSION

Bukan rahasia bahwa, jangankan memberi tahu orang lain, bahkan begitu sulit untuk menjaga mental kita sendiri agar tetap positif. 
Tetapi, tidak ada salahnya, untuk merepresentasikannya pada sebuah susunan typografi sederhana yang begitu rendah hati, tenang namun tetap arogan dalam cara yang lebih elegan. 
Well, Stay Strong, Stay True!





THE PASSION ini dirilis dalam media basic t-shirt dengan dua kombinasi warna, hitam berlapis abu-abu yang begitu standard nan klasik, dan biru laut – oranye yang tenang dan, ehm menghanyutkan!


THE ADVISOR

Ada begitu banyak nasihat hidup yang diambil dari potongan-potongan kalimat-kalimat cerdas dan memukau, 
tapi buat kami, ini salah satu yang terbaik,
“Threat Others As You Want To Threated” adalah frase yang kurang lebih menilai, bahwa segala dan sesuatu hal dimulai dari diri kita, dan yak, kami pun menganggukan kepala. Kadang kita seringkali lupa, bahwa dunia berputar, dan kita tidak seharusnya berbuat seenaknya, apabila tidak ingin diperlakukan seenaknya pula.

Beberapa menyebutnya Karma, yang lain menyebutnya Tabur Tuai, buat kami, apapun sebutannya,
kami menyukainya.


THE ADVISOR diaplikasikan  pada siluet baseball t-shirt atau basic Raglan, lagi-lagi diberi sentuhan klasik dalam kombinasi putih hitam. Segar!



THE ANGELS

Dibalik Pria yang hebat, selalu ada Malaikat berwujud Wanita luar biasa yang menemani langkah demi langkahnya. Dibuat sebagai tribute kepada para Wanita-wanita yang penuh inspirasi di luar sana, yang dengan semangat penuh mendukung ide-ide bodoh dan cenderung gila dari para Pria demi mewujudkan mimpi yang begitu ambisius.



THE ANGELS direpresentasikan dalam sebuah tank top yang sedikit maskulin namun dengan grafis sayap yang memodifikasi logo typografi kami. Menantang!




Thursday, October 3, 2013

Geram






Geram (New Version)

Versi kedua "Geram" ini lagi-lagi cuma di-record via garageband di iphone gue, dilingkupi skill terbatas dan cenderung memalukan, tapi hal itu gak bisa ngalahin rasa penasaran karena versi pertama-nya butut berat.

Gue meluangkan waktu untuk recording di kamar, sepulang lembur atau sebelum jemput pacar pulang kerja.

"Geram" sendiri di-record dan dibuat pas gue ngalamin apa yang namanya "Writer's block", situasi yang sempet bikin gue, yang kebagian jatah untuk nulis lirik di band gue, Astonia, kehabisan ide.

Gue butuh penyegaran, dan secara freestyle gue coba langsung record versi pertama lagu ini,
bisa dibilang curhat pake gitar dan lirik seputar mencak-mencak yang direkam, liriknya negatif, dan gue gak mikirin nadanya, asal keluar, asal jeplak, yah hasilnya butut dan kusut, haha.

Nah, versi kedua gue rekam lebih siap, lirik gak lagi freestyle, tapi gue tulis dulu biar gak lupa ditengah-tengah, gitar gue beliin senar, dan kamar gue kunci.

 
Geram

Verse 1
Dapatkah kau dengar nada nada dunia?
yang bernyanyi berkilau bersama mereka.
Dapatkan kau mendengar suara yang sumbang?
Yang kadang menjatuhkanmu perlahan.
Dan kau tenggelam, jatuh terkulai.
Tak lagi bisa berdiri menantang.
Kembali melawan, bangkit menjulang,
namun kembali dihancurkan dan tak mungkin berbuat banyak,
semua percuma,
harapan hilang,
mimpi tertahan.
Dan kau inginkan, hari pembalasan,
namun hari itu, tak pernah datang.

Verse 2
Lalu kau kembali dengan langkah lemah,
kembali ke kamar dan merasa kalah.
Menutup diri dari segala kemungkinan,
mencaci maki dunia dengan geram.
Dan kau tenggelam, semakin dalam.
Tak mungkin bisa selalu bertahan.
Kembali melangkah, bangkit menjulang,
namun kembali dijatuhkan dan tak mungkin berbuat banyak,
semua percuma,
harapan hilang,
mimpi melayang.
Dan kau harapkan, sebuah jawaban,
namun hingga kini, tak pernah datang.

Reff:
Remuk tak terbentuk,
Hancur tak tersisa.
Lihatlah hatiku,
dipenuhi luka.
Dipenuhi luka.

Tuesday, April 2, 2013

Tampan Tailor : Bertahan Hidup


Terkutuklah mindset dangkal nan sempit saya ini. Prediksi awal saya saat menonton trailer Tampan Tailor adalah film ini hanyalah proses adptasi serupa -tapi mungkin sama- dari film sejenis "Pursuit of Happiness".

Tidak, saya tidak mau memberi spoiler, saya hanya akan membahas sisi terluar dari film ini.

Tampan Tailor ternyata adalah jenis film yang selama ini kemunculannya saya tunggu.
Film dengan konflik sehari-hari yang mencoba merekam kehidupan yang dekat dengan keseharian.
Pernah membayangkan sebuah perjalanan hidup pinggiran kota Jakarta yang ternyata diisi orang-orang dengan bakat luar biasa tapi mati dibunuh kenyataan?

Film dimulai dengan konflik utama yang menghujam langsung ke pikiran saya.
Kegagalan.
Topan sebagai peran utama merelakan mimpinya - dan mendiang istrinya - mencium tepi jurang kekalahan. Menutup pintu usaha dan kehilangan tempat tinggal.

Shit things always happen to good guy, begitu kata pepatah jalanan, dan film ini memang mengumbar hal itu.
Tidak ada kata-kata motivasi picisan, yang mengumbar mimpi untuk menyerang balik, yang ada adalah kenyataan.
Topan - berdua dengan Bintang, anak nya, yang harus putus sekolah - langsung menghadapi hal-hal sulit khas kehidupan nyata. Kehabisan uang, tidak punya lagi penghasilan dan juga tempat tinggal.
Alih-alih berkonsentrasi pada skill menjahit yang dimilikinya, Topan banting stir bekerja serabutan, bersama sepupunya, Darman - sekaligus menumpang dirumahnya.

Konflik nyata kembali tergambar disini.
Darman sudah berkeluarga, rumahnya cm satu petak yg dipisah gorden, anaknya banyak, empat orang, dan kini ditambah Topan dan Bintang. Terbayang intriknya?

Banyak scene memorable di situasi itu, yang kadang terlalu real hingga saya harus menghela nafas panjang tiap mengingatnya. Potret khas kehidupan keluarga menengah ke bawah digambarkan disini, dikala semua berlomba-lomba membuat film dengan tema cucuran darah dan hantu-hantu kacangan, Tampan Tailor hadir dengan scene dimana makan satu kotak martabak manis beramai-ramai dirumah satu petak adalah sebuah kemewahan yang patut dirayakan.

Bumbu percintaan juga bukan resep utama disini, yang saya lihat justru bagaimana, kadang, hidup menyediakan malaikat penolong dan mendampingi sisi kelam dan buruknya keadaan kita.
Tokoh Prita tidak digambarkan sebagai wanita lemah gemulai cantik jelita nan lembut dan anak orang kaya; Ia wanita keras dengan attitude jalanan yang bekerja keras bertahan hidup dari perantauan. Ia menolong Topan bangkit, menemukan kembali semangat, dan membakar hasrat hidup Topan.

Tidak seperti roman cinta telenovela, yang sering saya harapkan untuk saling berciuman penuh nafsu di akhir cerita, Topan dan Prita -serta Bintang - berpelukan saja akan membuat saya bernafas lega (dan ehm, berpura-pura tidak keluar air mata).

Tampan Tailor bukan film yang bercerita hanya sekedar hubungan ayah-anak (meskipun konflik utama berpusat pada Topan dan Bintang), tapi alih-alih melihat film ini bercerita tentang usaha keras mengejar impian, Tampan Tailor malah bercerita tentang bagaimana seorang pria yang pasrah menghadapi hidup, tidak ngotot mengejar mimpi tapi melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup. Bekerja keras.
Memang, bukan tanpa kelemahan, adegan picisan a la sinetron pun kerap hadir menghias di beberapa scene, tapi nikmati saja, toh tidak mengurangi esensi. Intinya, film ini akan sangat inspirasional bagi kalian wahai generasi menye-menye yang terbiasa terpuruk saat gagal mewujudkan mimpi.
Tampan Tailor mengajarkan kita ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar pencapaian tertinggi untuk diri sendiri, yaitu, tidak menyerah dan bertahan hidup.

NB : perhatikan kaos-kaos lusuh yang dipakai Darman, propaganda :)

Photo : IDWikipedia

Tuesday, January 8, 2013

I'm Going Nowhere

Mimpi itu pedang bermata dua. Kadang ia mengantarmu menjadi pemenang. Kadang ia perlahan menikam dan membunuhmu.




Kadang kita berlarian di sela-sela langit, bermain-main di jendela kota.

Menyusuri detik-detik dinding menjadi debu dan menikmati proses api menjadi asap.



Kadang kita menelusuri rintik hujan, riang gembira menghirup embun.

Mengikuti irama sumbang opini orang, menari indah di sisi gelap.



Tidak mudah merubah pandang.

Tidak mudah menikmati hidup.



Kadang kita bicara

"Mengapa tidak terbang menjadi kupu-kupu? Mengapa tidak gagah seperti Gajah?

Jika memang lelah menjadi anjing. Jika memang muak jadi semut"



Mimpi adalah membiarkan kita menjadi semestinya, tanpa membiarkan diri kita diperkosa kenyataan. Tidak membiarkan tagihan dan cicilan mengatur jiwa kita yang kian terluka.



Tidak semua ingin menjadi prajurit. Tapi memang ada yang terlahir sebagai panglima.



Semua miliki peran. Dari garis depan hingga di belakang dapur.



Mimpi. Passion.



Sampai kapan memperdebatkan hal ini.



Saya bukan orang yang mudah iri.



Namun tidak soal mimpi.



Pagi ini saya membaca begitu banyak percikan-percikan api yang menyilaukan, tentang gemerlap dunia yang tercipta melalui ledakan perjuangan menghasilkan satu hal. Hidup dalam mimpi. Melakukan apa yang kita cinta. Passion.



Menulis-nya saja membuat mata saya berkaca-kaca.



Jantung saya terasa seperti diremas, sakit rasanya. Seperti ditampar.



Jika, "You are what you read", maka setelah saya baca pengalaman manusia-manusia tadi, saya seharusnya bisa jadi seperti mereka.



Tapi cicilan motor menyadarkan saya.



Saya kembali pada kenyataan dimana, saya benci tapi butuh.



Dari sekian banyak cerita mengejar-mimpi-dan-mendapatkannya-bahkan-hidup-didalamnya tadi Saya baca salah satu-nya soal Aditya Sofyan. Saya langsung merasa seperti dia, versi generik dan gagal tentunya.



Dia kuliah di desain grafis ternama di luar negri, dan akhirnya punya proyek solo demi passion (setelah sempat gagal 2 kali. Iya, cuma 2. Oh Aditya, I envy you.) yang mengantarnya ke Jepang. Oh surga. Did I mention that I envy you? Hehehe.



He works in both of my dreams.

Gue (gini-gini juga) kerja di bidang yang sama, desain grafis. Skill boleh pas-pasan, dan bukan lulusan sekolah design, tapi-kan-ya bidangnya sama. Hihihi. Passion gue juga musik, dan berulang-ulang kali gagal. Hahaha. It takes me nowhere. Puluhan lagu dan demo, puluhan nama band, puluhan panggung kecil, I'm still going nowhere.



Mimpi. Passion.



Mau nangis rasanya kalau ngomongin ginian.



Then what? What's now?



Salah satu yang menghantui gue akhir-akhir ini adalah soal target. Kalau boleh jujur, bayangan gue semasa kecil, I have a dream that I'll have everything at my 25.



At 25, in my mind, I will have a small family, a great wife, cool kids, a warm house, a city car, a bad ass motorcycle, and work as a musician. And my parents will have their own house at some cool suburban area with fresh air.



Now I'm 25. I'm going nowhere.



Bukan tidak bersyukur, atau tidak berterima kasih atas kehidupan yang (masih tetap) luar biasa ini.



But yes, saat gue udah umur 25-lebih-berapa-bulan ini belum dapet semua yang diatas itu. I admitted I envy you, yes you, dream catcher.



Because, yes, I'm going nowhere.



Gue jujur aja, gamang in my middle age. I don't know what to expect in my 26, 27 etc.



Pertanyaan gue sekarang adalah, mau terus jadi kayak gini, atau kayak gimana?



Mau jadi kayak gini itu gimana?



Oh dear God, I'm going nowhere.

Friday, December 21, 2012

Angels&Airwaves - Stomping the Phantom Brake Pedal (Double EP)




Critter.
Satu-satunya alasan Tom dengan jutaan ide bisnis yang bersliweran diantara foto kucing dan pria bugil di instagram, merilis Double EP berjudul Stomping the Phantom Brake Pedal – judul ini adalah kalimat yang sering dilontarkan Critter semasa hidupnya membangun singgasana kemegahan mimpi dari punggawa AVA, the architect himself -.
Ep pertama, ada lagu baru yang dibuat AVA –lebih tepatnya scoring sih, soalnya namanya The Score Evolved EP- dan LOVE Re-Imagined yang berisi lagu lama yang diremix oleh darah baru, Rubin.
Setelah kecewa berat dengan “Diary” yang dirilis terlebih dahulu, saya memberanikan diri untuk mendengarkan EP ini.





The Score Evolved EP

Dan yak, Reel 1, atau Diary memulai segalanya. Jujur saja, opini saya tidak berubah. Entah apa yang ada dipikiran kalian, tapi kalau tanya saya, ya jelas, menurut saya, ini terdengar seperti David yang sedang tidak tahu mau apa, merekam nada-nada string full elektronik di studio dibantu Matt – yang juga mungkin sedang bosan atau bagaimana- lalu menyuruh Rubin mengisi beat drum, dan Tom – yang mungkin sedang mabuk berat – bernyanyi. Lagu ini memang seolah menyiratkan kekosongan luar biasa, seperti gua hampa. Tidak direkomendasikan kepada yang sedang merasa kehilangan seseorang, ini lagu yang terlalu depresif. Kalian bias melamun dan mencoba terjun dari pesawat luar angkasa karena frustasi. Karena basicnya ini adalah scoring film, yang tugasnya hanya membangun atmosfir, Vocal-nya sendiri baru muncul menjelang akhir lagu, setelah intro super panjang dan hanya bisa dicerna maksudnya kalau sudah dibaca liriknya, karena Tom bernyanyi dengan suara sangat parau. Yang terbaik dari track ini justru video clip-nya, yang ekstra mengharukan karena mengenang sosok Critter. One of the best man that AVA’s ever had.

Reel 5 (New Blood) berputar, dan sebagai b-side yang unreleased dari LOVE part 2, scoring music yang tidak jadi dipakai, maka bunyi-bunyian synth analog digabung dengan sound string yang mulai terasa begitu-begitu saja. Eksperimental standar. Seperti skit yang dipaksakan. Mungkin bagus untuk dipakai merenung sambil buang air mengenai tagihan atau utang menggunung, tapi tidak untuk dicerna atau dijadikan lagu kebangsaan karaoke.

Reel 6 dimulai dengan jantung (atau denyut nadi?) yang berdetak membuka gerbang terakhir EP ini, tidak banyak yang bisa dibahas, kecuali sound yang terdengar kuno dan modern sekaligus. Sekali lagi, jangan banyak berharap dari b-side yang unreleased dari LOVE part 2, karena ya, Reel 1, 5, dan 6 ini karena jelas-jelas scoring music yang tidak jadi dipakai.

LOVE Re-Imagined

Eksperimen Rubin. Perlu diingat, tidak semua yang tidak sesuai selera itu jelek, apalagi, sebuah eksperimen music, yang jelas, bebas.

Nada minor khas Industrial mewarnai track Surrender, dibuat kotor dan kering, jelas akan membuat pecinta AVA modern yang berharap semua terdengar megah dan pop-ish segera mengernyitkan dahi, ini seperti membakar mobil dengan cat siram kualitas berkilau dan menggantinya dengan karat-karat, seperti kiamat, seperti mengganti Bumi yang hangat dengan Pluto yang berisi gas. Tapi buat saya, ini menunjukkan keberanian Rubin merombak zona aman, jelas layak diberi penghargaan, setidaknya patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang.

Epic Holiday dirubah jiwanya disini, dengan bebunyian yang terasa lucu dan ganjil, dan lagi-lagi, Rubin mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin remix-nya ear-friendly – ya kecuali kalian mabuk LSD berat – dia malah membuat nya dengan tempo tanggung dan chorus-nya tidak dibuat megah. Seperti menaruh sebuah pidato Delonge pada perangkat synth analog yang ramai-ramai menyerbu telinga. Yang tidak pusing akan segera pusing, yang sudah pusing akan semakin pusing.

Rubin main aman di Young London yang dibuat sedikit lebih gelap, dan disuntikan nuansa gloomy di sisi piano yang mengiringi remix ini, meski sedikit kurang di sisi drum yang kurang megah, namun pengisian interlude gitar dan beberapa melody lain (dengan atmosfir cowboy antariksa), dan yak, seketika menjadi lagu pengantar tidur yang suram dengan suara triangle dan akustik gitar di tengah dan penghujung lagu.

Pernah membayangkan mantan anak murid Reznor mengobrak-abrik Anxiety? Rubin mengubah basic not menjadi minor dan sangat gelap, dan sangat memusingkan dengan tempo yang juga diperlambat, entah minuman atau pil apa yang dia tenggak, hingga disatu sisi, elektronik berkarat bisa menempel begitu hebat di lagu ini, dan mengubah apa yang selama ini jadi trademark AVA. Mungkin tidak cocok di telinga yang berharap remix ini jadi manis dan megah, karena yang diinginkan Rubin adalah suasana dingin, dan gelap. Anxious.

Tidak ada kejutan dari Saturday Love, masih memakai resep yang sama dan sound yang diulang-ulang dari remix-remix lain dari EP ini, - iya, dibuat gelap dan dingin - kecuali interlude yang ditambahkan sebelum Chorus itu lumayan menenangkan, dan menuju akhir lagu track drum yang dibuat penuh seperti memborbardir telinga bertubi-tubi, seperti hujan meteor.

"Stomping the Phantom Brake Pedal" jelas merupakan proyek senang-senang, dibuat tanpa presisi harus laku atau menggebrak pasar, tapi jelas, AVA adalah sebuah media kreatif, yang akan menelurkan apa saja. Sebut itu film hingga, ehm, remix industrial semacam ini. Mungkin tidak bagus, atau tidak sesuai selera, but yes, on a side note, please respect Rubin, dia jelas menunjukan remix miliknya (sangat jauh) lebih berkarakter daripada remix Hallucinations dari Hoppus yang dibuat bagaikan theme song truk es krim.


Pilihan Saya :
Surrender - Patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang. Tenggak sedikit lebih banyak sekian milligram dari dosis Anda agar ada efek melayang.

Blink-182 - Dogs Eating Dogs EP

Perlu diingat review ini saya buat hanya untuk kepuasan pribadi, jadi kalau Anda tidak puas, dan ingin mendapatkan kepuasan, silahkan bikin sendiri.
Dimohon tidak terlalu dianggap serius atau bahkan dijadikan bahan skripsi.




Kali ini, review ini (kayaknya) aman dibaca anak kecil, (diusahakan) tidak mengandung kata-kata cabul.

“Dogs Eating Dogs EP” adalah hadiah Natal. Period. Euphoria fans yang menggila melihat secara tiba-tiba trio Tom, Mark dan Travis sudah berkumpul di studio dan berlatih, dan malah menulis lagu buat EP sukar dibayangkan. Mengingat "Neighborhoods" yang (ternyata) lumayan biasa saja, tentu saja ada ekspektasi berlebihan untuk EP kali ini.

When I Was Young memulai akhir tahun yang terasa begitu cepat ini dengan alunan intro string beat elektronik yang temaram, damai dan tentram, lalu seketika ketukan drum rapat muncul dan Tom bernyanyi tentang kegamangan hidup “The more I go on the less I can face this, And those rotten things that live in our shadow” – kecenderungan tema lirik yang ditulis Tom di hampir semua lagu blink-182 era kekinian- dengan tensi seperti masa-masa suram cerminan khas Boxcar Racer.
Kita akan menemukan bahwa chorus catchy (yang dihajar langsung setelah verse) berbunyi “It’s the worst damn day! ” adalah kebalikan dari optimisme dan keberanian yang biasanya Tom dengungkan melalui Angels&Airwaves. Saya hampir lupa kalau ini blink-182 sampai pada saat Mark mengisi senandung sarkasme “Doesn’t hurt that; much..”. (Oh iya, itu dia Mark!, ini blink-182!)
Lagu yang catchy, Ehm, Boxcar Racer-ish? :p
Dangkal ah.

Lalu, pada Disaster, Mark memulai dengan line bass post-punk monoton dan Tom?
Seperti biasa, dia malah asyik bermain-main dengan seperangkat rak peralatan bekas kesayangan milik Greenwood, sebelum mengisi dengan sound gitar khas, ehm AVA.
Lagu ini mirip dengan resep kebanyakan lagu di "Neighborhoods", Travis masih dengan peran terbaiknya saat ini memberi warna dengan isi drum yang mulai tak terbayangkan, sementara peran Mark mulai kelihatan dengan suara berat dan parau – mungkin dia berharap bisa terdengar seperti Darth Vader - dikala Tom menyanyikan, hmmm.. sebuah cerita cinta getir dan gelap?
Saya menebak kita pun akan sering menemukan lagu-lagu seperti ini di album-album berikutnya. Mencampur aduk semua ego.
Mereka bermain aman, tidak keluar dari zona nyaman masing-masing individu.
Masih terasa gelap, bersahaja, sesuka mereka, dan ya, saya rasa, telinga kita semua masih harus beradaptasi.

Ah, saya rindu balada.
Petikan merdu akustik dan lirik picisan mendayu-dayu.
Elektronik menjemukan sejak era AVA dan +44 akan membuat siapa saja yang menjadi fans blink-182 butuh sebuah lagu renyah untuk bersantai di pinggir pantai dengan rasa patah hati yang berceceran bersama pasir, dan Natal ini, Boxing Day seharusnya hadir layaknya Juruselamat di kandang domba.
Uniknya, alih-alih dibuat seperti lagu anak pinggir pantai California, lagu ini seperti dinyanyikan oleh dua cowboy gay yang saling membuka luka sambil bermain gitar di peternakan. Folk Pop. Dibanding lagu dengan gaya yang hampir terdengar seperti When You Fucked Grandpa (The Grandpa Song)  ini,
Tom malah menulis lirik seindah “We could reignite, like fireflies, Like an atom bomb at all hours” tanpa beban, lalu dengan elegan, Mark mengingatkan pada momentum yang akan membangunkan kenangan paling menyakitkan terbaik pada chorus yang seharusnya diambil Hallmark untuk tulisan dalam “Christmas Card of The Year”, niscaya laris manis. “I’m empty like the day after Christmas, swept beneath the wave of your goodbye, You left me on the day after Christmas, There’s nothing left to say, and so Goodnight..” ,
Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu

Intro menjanjikan dan serba menghentak dalam Dogs Eating Dogs akan membawa kita kepada dogma Oh-inikah-blink-182-yang-kita-nantikan-selama-ini-ism,
dan Mark, (yeah Mark),
dengan lantang membawa tempo rapat nan pintar Travis kedalam nostalgia tembak langsung a la +44,
saya suka lirik “We would always starve and devour our closest friends my beautiful friends, paranoia my paranoia” lagu ini tanpa basa-basi membombardir begitu saja.
Lagu ini meracau secara agresif – in a positive way -, dan Mark menulis sebuah kebingungan dan ketidakberdayaan dengan idiom yang diulang-ulang pada chorus “Dogs eating dogs” sebagai kesimpulan, membombardir kita dengan Tom menyapa lewat bridge dengan gaya khas menimpali seolah merasakan apa yang Mark nyanyikan.
Lupakan melody penuh canda sarkasme menggelitik dan teman khayalan di penjara a la  I won’t Be Home At Christmas – atau bahkan Fuck A Dog yang amat saya harapkan – Apabila kita bicara tentang lagu yang dirilis mendekati Natal dari blink-182, buat para old school fans, mereka menjadikan lagu ini sebagai amunisinya, dengan presisi sedikit lebih serius –ya sebut saja dewasa - tentunya.

Haha. AVA-ish. Pretty Little Girl sebenarnya tidak salah sama sekali, tapi paling tidak, ini akan mengganggu ekspektasi mereka yang tidak setuju Tom terlalu mengekspos sound modern a la U2 kedalam materi blink-182. Sedikit mirip dengan lick gitar Good Day milik AVA di beberapa part dan nada, namun ya, harus dimaafkan karena mau bagaimana pun juga, ini tetap lagu yang catchy – yang sialnya, nada “I’ve got my eye on you, whatca gonna do?” itu gampang stuck di kepala – dan yang menyenangkan adalah tema yang simple, tidak gelap. Apalagi saat Yelawolf maju mengisi baris demi baris barikade lirik dengan nafas rap yang – meski saya tidak mengerti maksudnya - terasa sebagai pidato panjang dinamis yang dilumuri ritme drum Travis. Tidak luar biasa, tapi blink-182 melakukan hal berbeda lagi, ya tapi ya, meski bukan yang terbaik, it’s still a good and catchy song.

Tidak banyak perubahan dari "Neighborhoods", dan tidak memberi pencerahan berarti bagi mereka yang menunggu sebuah masterpiece dari Tom, Mark, dan Travis.
Ini hanyalah EP.
Hanya sebuah langkah kecil yang dibangun ketiga sahabat ini yang kini sudah kembali berjibaku di jalur indie. Setidaknya, kita bisa sedikit bersyukur, blink-182 belum bubar (lagi), malah bahkan menelurkan EP. Terlalu naïf dibilang pendewasaan, karena from their past quality, menurut saya, mereka bisa jauh lebih baik dari ini, kita tinggal menunggu waktu, untuk mereka berlama-lama di studio, menyatukan ide, menjauhkan ego, bukan hanya produktif, tapi bermain sebagai band. Happy Holidays you bastard.



Rekomendasi Saya :
Boxing Day - Pedih, kekinian, segar, renyah dan mudah ditelan. Syahdu. Dengarkan sehari setelah Natal untuk kesan lebih mengena, dan jauhkan segala kemungkinan untuk mendekati benda tajam.