Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Friday, December 21, 2012
Angels&Airwaves - Stomping the Phantom Brake Pedal (Double EP)
Critter.
Satu-satunya alasan Tom dengan jutaan ide bisnis yang bersliweran diantara foto kucing dan pria bugil di instagram, merilis Double EP berjudul Stomping the Phantom Brake Pedal – judul ini adalah kalimat yang sering dilontarkan Critter semasa hidupnya membangun singgasana kemegahan mimpi dari punggawa AVA, the architect himself -.
Ep pertama, ada lagu baru yang dibuat AVA –lebih tepatnya scoring sih, soalnya namanya The Score Evolved EP- dan LOVE Re-Imagined yang berisi lagu lama yang diremix oleh darah baru, Rubin.
Setelah kecewa berat dengan “Diary” yang dirilis terlebih dahulu, saya memberanikan diri untuk mendengarkan EP ini.
The Score Evolved EP
Dan yak, Reel 1, atau Diary memulai segalanya. Jujur saja, opini saya tidak berubah. Entah apa yang ada dipikiran kalian, tapi kalau tanya saya, ya jelas, menurut saya, ini terdengar seperti David yang sedang tidak tahu mau apa, merekam nada-nada string full elektronik di studio dibantu Matt – yang juga mungkin sedang bosan atau bagaimana- lalu menyuruh Rubin mengisi beat drum, dan Tom – yang mungkin sedang mabuk berat – bernyanyi. Lagu ini memang seolah menyiratkan kekosongan luar biasa, seperti gua hampa. Tidak direkomendasikan kepada yang sedang merasa kehilangan seseorang, ini lagu yang terlalu depresif. Kalian bias melamun dan mencoba terjun dari pesawat luar angkasa karena frustasi. Karena basicnya ini adalah scoring film, yang tugasnya hanya membangun atmosfir, Vocal-nya sendiri baru muncul menjelang akhir lagu, setelah intro super panjang dan hanya bisa dicerna maksudnya kalau sudah dibaca liriknya, karena Tom bernyanyi dengan suara sangat parau. Yang terbaik dari track ini justru video clip-nya, yang ekstra mengharukan karena mengenang sosok Critter. One of the best man that AVA’s ever had.
Reel 5 (New Blood) berputar, dan sebagai b-side yang unreleased dari LOVE part 2, scoring music yang tidak jadi dipakai, maka bunyi-bunyian synth analog digabung dengan sound string yang mulai terasa begitu-begitu saja. Eksperimental standar. Seperti skit yang dipaksakan. Mungkin bagus untuk dipakai merenung sambil buang air mengenai tagihan atau utang menggunung, tapi tidak untuk dicerna atau dijadikan lagu kebangsaan karaoke.
Reel 6 dimulai dengan jantung (atau denyut nadi?) yang berdetak membuka gerbang terakhir EP ini, tidak banyak yang bisa dibahas, kecuali sound yang terdengar kuno dan modern sekaligus. Sekali lagi, jangan banyak berharap dari b-side yang unreleased dari LOVE part 2, karena ya, Reel 1, 5, dan 6 ini karena jelas-jelas scoring music yang tidak jadi dipakai.
LOVE Re-Imagined
Eksperimen Rubin. Perlu diingat, tidak semua yang tidak sesuai selera itu jelek, apalagi, sebuah eksperimen music, yang jelas, bebas.
Nada minor khas Industrial mewarnai track Surrender, dibuat kotor dan kering, jelas akan membuat pecinta AVA modern yang berharap semua terdengar megah dan pop-ish segera mengernyitkan dahi, ini seperti membakar mobil dengan cat siram kualitas berkilau dan menggantinya dengan karat-karat, seperti kiamat, seperti mengganti Bumi yang hangat dengan Pluto yang berisi gas. Tapi buat saya, ini menunjukkan keberanian Rubin merombak zona aman, jelas layak diberi penghargaan, setidaknya patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang.
Epic Holiday dirubah jiwanya disini, dengan bebunyian yang terasa lucu dan ganjil, dan lagi-lagi, Rubin mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin remix-nya ear-friendly – ya kecuali kalian mabuk LSD berat – dia malah membuat nya dengan tempo tanggung dan chorus-nya tidak dibuat megah. Seperti menaruh sebuah pidato Delonge pada perangkat synth analog yang ramai-ramai menyerbu telinga. Yang tidak pusing akan segera pusing, yang sudah pusing akan semakin pusing.
Rubin main aman di Young London yang dibuat sedikit lebih gelap, dan disuntikan nuansa gloomy di sisi piano yang mengiringi remix ini, meski sedikit kurang di sisi drum yang kurang megah, namun pengisian interlude gitar dan beberapa melody lain (dengan atmosfir cowboy antariksa), dan yak, seketika menjadi lagu pengantar tidur yang suram dengan suara triangle dan akustik gitar di tengah dan penghujung lagu.
Pernah membayangkan mantan anak murid Reznor mengobrak-abrik Anxiety? Rubin mengubah basic not menjadi minor dan sangat gelap, dan sangat memusingkan dengan tempo yang juga diperlambat, entah minuman atau pil apa yang dia tenggak, hingga disatu sisi, elektronik berkarat bisa menempel begitu hebat di lagu ini, dan mengubah apa yang selama ini jadi trademark AVA. Mungkin tidak cocok di telinga yang berharap remix ini jadi manis dan megah, karena yang diinginkan Rubin adalah suasana dingin, dan gelap. Anxious.
Tidak ada kejutan dari Saturday Love, masih memakai resep yang sama dan sound yang diulang-ulang dari remix-remix lain dari EP ini, - iya, dibuat gelap dan dingin - kecuali interlude yang ditambahkan sebelum Chorus itu lumayan menenangkan, dan menuju akhir lagu track drum yang dibuat penuh seperti memborbardir telinga bertubi-tubi, seperti hujan meteor.
"Stomping the Phantom Brake Pedal" jelas merupakan proyek senang-senang, dibuat tanpa presisi harus laku atau menggebrak pasar, tapi jelas, AVA adalah sebuah media kreatif, yang akan menelurkan apa saja. Sebut itu film hingga, ehm, remix industrial semacam ini. Mungkin tidak bagus, atau tidak sesuai selera, but yes, on a side note, please respect Rubin, dia jelas menunjukan remix miliknya (sangat jauh) lebih berkarakter daripada remix Hallucinations dari Hoppus yang dibuat bagaikan theme song truk es krim.
Pilihan Saya :
Surrender - Patut jadi hits disko bawah tanah di dataran Mars yang penuh bebatuan merah dan karang. Tenggak sedikit lebih banyak sekian milligram dari dosis Anda agar ada efek melayang.