Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Tuesday, April 2, 2013
Tampan Tailor : Bertahan Hidup
Terkutuklah mindset dangkal nan sempit saya ini. Prediksi awal saya saat menonton trailer Tampan Tailor adalah film ini hanyalah proses adptasi serupa -tapi mungkin sama- dari film sejenis "Pursuit of Happiness".
Tidak, saya tidak mau memberi spoiler, saya hanya akan membahas sisi terluar dari film ini.
Tampan Tailor ternyata adalah jenis film yang selama ini kemunculannya saya tunggu.
Film dengan konflik sehari-hari yang mencoba merekam kehidupan yang dekat dengan keseharian.
Pernah membayangkan sebuah perjalanan hidup pinggiran kota Jakarta yang ternyata diisi orang-orang dengan bakat luar biasa tapi mati dibunuh kenyataan?
Film dimulai dengan konflik utama yang menghujam langsung ke pikiran saya.
Kegagalan.
Topan sebagai peran utama merelakan mimpinya - dan mendiang istrinya - mencium tepi jurang kekalahan. Menutup pintu usaha dan kehilangan tempat tinggal.
Shit things always happen to good guy, begitu kata pepatah jalanan, dan film ini memang mengumbar hal itu.
Tidak ada kata-kata motivasi picisan, yang mengumbar mimpi untuk menyerang balik, yang ada adalah kenyataan.
Topan - berdua dengan Bintang, anak nya, yang harus putus sekolah - langsung menghadapi hal-hal sulit khas kehidupan nyata. Kehabisan uang, tidak punya lagi penghasilan dan juga tempat tinggal.
Alih-alih berkonsentrasi pada skill menjahit yang dimilikinya, Topan banting stir bekerja serabutan, bersama sepupunya, Darman - sekaligus menumpang dirumahnya.
Konflik nyata kembali tergambar disini.
Darman sudah berkeluarga, rumahnya cm satu petak yg dipisah gorden, anaknya banyak, empat orang, dan kini ditambah Topan dan Bintang. Terbayang intriknya?
Banyak scene memorable di situasi itu, yang kadang terlalu real hingga saya harus menghela nafas panjang tiap mengingatnya. Potret khas kehidupan keluarga menengah ke bawah digambarkan disini, dikala semua berlomba-lomba membuat film dengan tema cucuran darah dan hantu-hantu kacangan, Tampan Tailor hadir dengan scene dimana makan satu kotak martabak manis beramai-ramai dirumah satu petak adalah sebuah kemewahan yang patut dirayakan.
Bumbu percintaan juga bukan resep utama disini, yang saya lihat justru bagaimana, kadang, hidup menyediakan malaikat penolong dan mendampingi sisi kelam dan buruknya keadaan kita.
Tokoh Prita tidak digambarkan sebagai wanita lemah gemulai cantik jelita nan lembut dan anak orang kaya; Ia wanita keras dengan attitude jalanan yang bekerja keras bertahan hidup dari perantauan. Ia menolong Topan bangkit, menemukan kembali semangat, dan membakar hasrat hidup Topan.
Tidak seperti roman cinta telenovela, yang sering saya harapkan untuk saling berciuman penuh nafsu di akhir cerita, Topan dan Prita -serta Bintang - berpelukan saja akan membuat saya bernafas lega (dan ehm, berpura-pura tidak keluar air mata).
Tampan Tailor bukan film yang bercerita hanya sekedar hubungan ayah-anak (meskipun konflik utama berpusat pada Topan dan Bintang), tapi alih-alih melihat film ini bercerita tentang usaha keras mengejar impian, Tampan Tailor malah bercerita tentang bagaimana seorang pria yang pasrah menghadapi hidup, tidak ngotot mengejar mimpi tapi melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup. Bekerja keras.
Memang, bukan tanpa kelemahan, adegan picisan a la sinetron pun kerap hadir menghias di beberapa scene, tapi nikmati saja, toh tidak mengurangi esensi. Intinya, film ini akan sangat inspirasional bagi kalian wahai generasi menye-menye yang terbiasa terpuruk saat gagal mewujudkan mimpi.
Tampan Tailor mengajarkan kita ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar pencapaian tertinggi untuk diri sendiri, yaitu, tidak menyerah dan bertahan hidup.
NB : perhatikan kaos-kaos lusuh yang dipakai Darman, propaganda :)
Photo : IDWikipedia
