Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Tuesday, January 8, 2013

I'm Going Nowhere

Mimpi itu pedang bermata dua. Kadang ia mengantarmu menjadi pemenang. Kadang ia perlahan menikam dan membunuhmu.




Kadang kita berlarian di sela-sela langit, bermain-main di jendela kota.

Menyusuri detik-detik dinding menjadi debu dan menikmati proses api menjadi asap.



Kadang kita menelusuri rintik hujan, riang gembira menghirup embun.

Mengikuti irama sumbang opini orang, menari indah di sisi gelap.



Tidak mudah merubah pandang.

Tidak mudah menikmati hidup.



Kadang kita bicara

"Mengapa tidak terbang menjadi kupu-kupu? Mengapa tidak gagah seperti Gajah?

Jika memang lelah menjadi anjing. Jika memang muak jadi semut"



Mimpi adalah membiarkan kita menjadi semestinya, tanpa membiarkan diri kita diperkosa kenyataan. Tidak membiarkan tagihan dan cicilan mengatur jiwa kita yang kian terluka.



Tidak semua ingin menjadi prajurit. Tapi memang ada yang terlahir sebagai panglima.



Semua miliki peran. Dari garis depan hingga di belakang dapur.



Mimpi. Passion.



Sampai kapan memperdebatkan hal ini.



Saya bukan orang yang mudah iri.



Namun tidak soal mimpi.



Pagi ini saya membaca begitu banyak percikan-percikan api yang menyilaukan, tentang gemerlap dunia yang tercipta melalui ledakan perjuangan menghasilkan satu hal. Hidup dalam mimpi. Melakukan apa yang kita cinta. Passion.



Menulis-nya saja membuat mata saya berkaca-kaca.



Jantung saya terasa seperti diremas, sakit rasanya. Seperti ditampar.



Jika, "You are what you read", maka setelah saya baca pengalaman manusia-manusia tadi, saya seharusnya bisa jadi seperti mereka.



Tapi cicilan motor menyadarkan saya.



Saya kembali pada kenyataan dimana, saya benci tapi butuh.



Dari sekian banyak cerita mengejar-mimpi-dan-mendapatkannya-bahkan-hidup-didalamnya tadi Saya baca salah satu-nya soal Aditya Sofyan. Saya langsung merasa seperti dia, versi generik dan gagal tentunya.



Dia kuliah di desain grafis ternama di luar negri, dan akhirnya punya proyek solo demi passion (setelah sempat gagal 2 kali. Iya, cuma 2. Oh Aditya, I envy you.) yang mengantarnya ke Jepang. Oh surga. Did I mention that I envy you? Hehehe.



He works in both of my dreams.

Gue (gini-gini juga) kerja di bidang yang sama, desain grafis. Skill boleh pas-pasan, dan bukan lulusan sekolah design, tapi-kan-ya bidangnya sama. Hihihi. Passion gue juga musik, dan berulang-ulang kali gagal. Hahaha. It takes me nowhere. Puluhan lagu dan demo, puluhan nama band, puluhan panggung kecil, I'm still going nowhere.



Mimpi. Passion.



Mau nangis rasanya kalau ngomongin ginian.



Then what? What's now?



Salah satu yang menghantui gue akhir-akhir ini adalah soal target. Kalau boleh jujur, bayangan gue semasa kecil, I have a dream that I'll have everything at my 25.



At 25, in my mind, I will have a small family, a great wife, cool kids, a warm house, a city car, a bad ass motorcycle, and work as a musician. And my parents will have their own house at some cool suburban area with fresh air.



Now I'm 25. I'm going nowhere.



Bukan tidak bersyukur, atau tidak berterima kasih atas kehidupan yang (masih tetap) luar biasa ini.



But yes, saat gue udah umur 25-lebih-berapa-bulan ini belum dapet semua yang diatas itu. I admitted I envy you, yes you, dream catcher.



Because, yes, I'm going nowhere.



Gue jujur aja, gamang in my middle age. I don't know what to expect in my 26, 27 etc.



Pertanyaan gue sekarang adalah, mau terus jadi kayak gini, atau kayak gimana?



Mau jadi kayak gini itu gimana?



Oh dear God, I'm going nowhere.