Pada akhirnya, kita memang butuh uang.
Prinsip dan mimpi ternyata hanya omongan para pembual,
tak ada yang pernah benar-benar menang.
Omong kosong para bajak laut yang mabuk rum,
mimpi. Khayalan.
Persetan.
Saya ingin memaki keadaan,
ingin sekali mengeluarkan segala umpatan.
Tahu rasanya dieremehkan,
saat kalian datang dengan senyum penuh pengharapan?
Tahu rasanya ditendang dan disingkirkan?
Hanya karena tak punya uang,
dianggap gagal.
Jelas, karena tidak berpenghasilan,
kita selalu dianggap gagal.
Tak usah pura-pura tahu,
berlagak mengerti.
Perduli apa kau, hei masa depan?
Menunggu di balik pohon rindang kenyamanan,
keparat.
Tahukah kau rasanya saat orang bertanya tentang dirimu?
Sedangkan jangankan melihatmu,
aku saja tak tahu bagaimana wujudmu.
Jalang.
Masa depan.
Kata mereka kau cerah,
meskipun lebih banyak dari mereka menyebutmu suram.
Ingin sekali merobek-robek wajahmu.
Aku merasa amat bodoh percaya mimpi,
harapan,
khayalan,
yang menari dan membuatku bersemangat tinggi.
Kau tahu lututku lemas,
saat tahu bahwa aku tak miliki apa-apa,
selain sekotak besar penuh cerita legenda,
tentang indahnya memenangkan kehidupan.
Aku selalu kalah keparat!
Kau tahu rasanya,
ditanya tentang makanan apa yang ingin ku makan?
minuman apa yang ku pesan?
Sedangkan aku terdiam menelan ludah,
menyembunyikan penderitaaan dan air mata di pelipis mata.
Jalang.
Aku lapar! Aku haus!
Air liurku membanjiri usus!
Aku ingin makanan hangat itu,
aku ingin minuman dingin itu,
aku ingin terlibat di pembicaraan santai dan seru,
tapi apa?
Apa yang aku bicarakan?
Selalu soal mimpi!
Haha. Miris ya.
Kita tidak ke pesta orang besar,
dengan bermimpi.
Usaha?
Aku menaruh mimpi sebagai landasannya,
dan lihat?
Kau lihat bagaimana kenyataan membunuhnya,
menikam dan membakarnya tepat di depan mataku.
Aku butuh uang, hai masa depan.
Aku tak ingin menjadi terus-terusan menjadi masyarakat kelas bawah,
diremehkan,
tak dianggap.
Ajak aku duduk di restoran mewah itu,
aku ingin membayar sendiri tagihanku.
Aku ingin merasakan,
melunasi semua makanan termahal,
yang nantinya hanya akan terkirim melalu leher angsa,
berkubang menjadi tinja.
Oh ayolah masa depan,
semua butuh uang.
Aku tak ingin lagi menahan lapar,
menelan ludah,
aku butuh uang.
Aku berjanji,
kutinggalkan semua mimpi.
Aku berjanji,
kubuang semua harapan.
Aku berjanji,
kukubur semua khayalan.
Prinsip hanya milik kaum kaya,
pendapat hanya milik kaum berkuasa.
Aku butuh uang.
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Wednesday, January 19, 2011
Saturday, January 8, 2011
Doa itu tak kunjung selesai..
Mengawali Januari dengan jutaan beban menghimpit sumsum tulang belakang,
jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.
Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.
Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.
"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"
Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.
Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.
Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.
Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.
Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.
Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.
jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.
Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.
Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.
"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"
Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.
Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.
Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.
Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.
Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.
Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.
doa ini tak akan kunjung selesai.
Wednesday, December 29, 2010
Depresi.
"To be on the edge of breaking down, and no one's there to save you.."
Dituntut.
Tuntutan.
Jika depresi itu bisa dilihat,
maka saya yakin dia mengalir dengan lincah di pembuluh darah saya.
jika kita dibebani dengan kecurigaan yang berjalan beriringan dengan rasa tak bersyukur,
maka tak ada kata lain selain keluhan dan penyesalan.
Saya orang yang jarang mengeluhkan keadaan,
karena tak ada gunanya melihat kebelakang,
segala kejayaan masa lalu hanyalah semu,
sejarah adalah omong kosong,
mengingatnya sama saja merendahkan masa depan.
saya percaya kesalahan adalah natural,
kesempurnaan sistem hanya mimpi,
penyesalan adalah hadiah setan.
Berapa kali kita menyesal dan tenggelam dalam kekalahan?
Saya merasa perlu menulis soal ini,
akan sangat sulit menerima kata penyesalan,
jika hal itu dihadapkan pada sebuah rasa bersyukur.
Persetan dengan gelimang harta,
dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Saya hidup mengejar kebahagiaan,
bukan persepsi yang ditekankan.
Uang adalah benda mati yang menjadi dewa,
tak ada uang kita mati.
Maka saya adalah hantu,
yang berkali-kali mati karena tak punya uang.
Meneyebut nama Tuhan,
namun mengukurnya dengan uang,
adalah kesalahan utama.
Berfikir rasionalis dan logis,
adalah sia-sia.
Tuhan tak pernah terbatas,
skenarionya tak pernah terbaca.
Menyesali langkah adalah tindakan menghujat jalan cerita hidup.
Saya percaya,
bahwa inilah kita yang semestinya,
bahwa tak ada yang salah,
tak ada yang benar-benar benar.
Pengalaman orang lain bukan pelajaran,
ia hanyalah buku panduan yang sudah usang,
karena perjalanan ini berbeda,
tiap detiknya,
tiap centimeternya.
saya menulis ini karena tak mampu bicara,
karena lidah adalah pembunuh berbahaya,
dan hati adalah tempat kita menyimpan rahasia.
Menghargai pendapat dibutuhkan hati yang besar,
namun perlu lebih dari sekedar hati yang besar,
saat kita menyimpan pendapat kita demi mengharagai pendapat orang lain.
Saya menyimpan pendapat saya, dan hati saya meledak tak bersisa.
Dituntut.
Tuntutan.
Jika depresi itu bisa dilihat,
maka saya yakin dia mengalir dengan lincah di pembuluh darah saya.
jika kita dibebani dengan kecurigaan yang berjalan beriringan dengan rasa tak bersyukur,
maka tak ada kata lain selain keluhan dan penyesalan.
Saya orang yang jarang mengeluhkan keadaan,
karena tak ada gunanya melihat kebelakang,
segala kejayaan masa lalu hanyalah semu,
sejarah adalah omong kosong,
mengingatnya sama saja merendahkan masa depan.
saya percaya kesalahan adalah natural,
kesempurnaan sistem hanya mimpi,
penyesalan adalah hadiah setan.
Berapa kali kita menyesal dan tenggelam dalam kekalahan?
Saya merasa perlu menulis soal ini,
akan sangat sulit menerima kata penyesalan,
jika hal itu dihadapkan pada sebuah rasa bersyukur.
Persetan dengan gelimang harta,
dan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Saya hidup mengejar kebahagiaan,
bukan persepsi yang ditekankan.
Uang adalah benda mati yang menjadi dewa,
tak ada uang kita mati.
Maka saya adalah hantu,
yang berkali-kali mati karena tak punya uang.
Meneyebut nama Tuhan,
namun mengukurnya dengan uang,
adalah kesalahan utama.
Berfikir rasionalis dan logis,
adalah sia-sia.
Tuhan tak pernah terbatas,
skenarionya tak pernah terbaca.
Menyesali langkah adalah tindakan menghujat jalan cerita hidup.
Saya percaya,
bahwa inilah kita yang semestinya,
bahwa tak ada yang salah,
tak ada yang benar-benar benar.
Pengalaman orang lain bukan pelajaran,
ia hanyalah buku panduan yang sudah usang,
karena perjalanan ini berbeda,
tiap detiknya,
tiap centimeternya.
saya menulis ini karena tak mampu bicara,
karena lidah adalah pembunuh berbahaya,
dan hati adalah tempat kita menyimpan rahasia.
Menghargai pendapat dibutuhkan hati yang besar,
namun perlu lebih dari sekedar hati yang besar,
saat kita menyimpan pendapat kita demi mengharagai pendapat orang lain.
Saya menyimpan pendapat saya, dan hati saya meledak tak bersisa.
Saturday, December 18, 2010
Berhasil Gagal
Koneksi internet dirumah kacau balau.
Sekacau bulan kemarau,
dan burung kutilang berhenti berkicau.
Desember itu aneh dan lucu,
berjalan sangat cepat,
sampai gw sendiri ga sadar ini udah diujung 2010.
Apa yang udah gw lakuin sepanjang tahun?
Not much.
I'm still blogging using this "bisu" PC,
and curse at the wall, "WHY DID I JOBLESS?"
Sebenernya,
ini lebih dari setahun gw nganggur,
dan belum menemukan apapun yang berarti,
selain pelajaran dan pengalaman hidup.
Mungkin orang bakal ketawa kalau denger gw bicara soal pengalaman hidup,
"PENGANGGURAN PUNYA PENGALAMAN?"
Mungkin itu yang bakal di benak orang-orang itu.
Ga peduli.
i've learned a lot.
Belum saatnya melakukan kaleidoskop atau re-cap sepanjang tahun 2010,
dan gw juga ga bakalan bikin hal itu,
capek jek. soli soli jek.
Tapi,
intinya,
Gw belajar soal dianggap gagal di satu sisi,
dan dianggap berhasil di sisi lain.
Gini ya,
siapa sih yang bakal memandang seorang pengangguran,
yang punya setumpuk sepatu mahal?
Hehe. Tapi ini serius,
people around me already thought i'm failed.
dan kenyataan nya, yep mungkin gw gagal.
Hey, i've been jobless since a year ago,
siapa sih yang ga nganggep itu gagal?
Orang yang otaknya normal bakal nganggep gw cuma bagian lain dari sampah,
kalo kasarnya ya,
nunggu waktu untuk dibuang dan dibakar.
So pathetic and shame on me.
Bahkan banyak sahabat yang mulai "merendahkan", dan gw sama sekali ga kesel,
hey, itu berarti dia normal. :D
Gw ngerasa kok banyak yang suka akan ke"gagal"an gw,
dan mulai menikmati hari-hari penderitaan gw,
mereka menyukai kalau kenyataan nya gw udah salah langkah,
dan gagal.
Di sisi lain.
Gw mencapai sebuah level aneh di hidup gw yang gagal ini.
You know that i already start my own clothing company,
sebuah mimpi kecil yang gw mulai di umur 15 tahun,
dan tepat 8 tahun kemudian,
gw bener-bener punya sebuah usaha clothing.
Jual kaos desain sendiri memang gw mulai pas punya band,
udah pernah ngerasain untung juga,
dan punya nama clothing sendiri (meskipun ga resmi :p),
but now,
i've made a huge step,
building a brand,
bahkan sebentar lagi gw bisa launch website clothing gw.
SUCH A PAIN IN EVERYONE'S ASSES.
Dan yang lebih kerennya,
gw mulai usaha clothing itu dengan sahabat gw dari SMA, yang juga partner di band gw.
kinda dream come true,
make some business with your own best friend.
Meskipun awalnya sulit,
but this is a passion man,
banyak yang mau ngelakuin apa yang gw mau,
tapi mereka ga bisa.
Gagal atau berhasil clothing ini?
God only knows.
Yang pasti, gw jual kaos gw dengan harga lumayan mahal untuk sebuah clothing baru yang berkonsep online store,
dan penjualan nya lumayan,
ya dengan catatan ya,
we're still the new kids on the block ;)
Daaannn, yang kocaknya,
banyak sahabat-sahabat, dan teman-teman baru,
yang paling baru kenal gw 1-6 tahun,
yang malah support banget sama clothing gw itu,
kemana sahabat-sahabat dan teman-teman lama?
Sebagian berada di belakang gw,
ngasih dukungan moral,
sebagian duduk diam mencemooh. oh come on, ngaku aja :D
Then what?
Yep, my band.
Buat yang belum tahu,
gw punya dua band,
Glory of Any Nation yang beraroma Melodic Minor Punk,
dan Astonia, a pop band.
Glory of Any Nation itu berumur hampir 6 tahun,
tapi bukan ini yang mau gw bahas.
Gw malah mau bahas Astonia.
Astonia itu emang baru beneran ada setahun lalu,
tapi sejarahnya lebih panjang dari jarak rumah gw dan pacar gw.
It was started a couple years ago.
Nope,
gw ga bakal ngebahas sejarahnya,
panjang men, males ngetiknya,
ntar aja kalo ketemu,
gw mw deh cerita.
Intinya gini,
i've started writing "pop" stuffs a couple years ago,
with a different style,
and different band name,
and also band member.
Gonta-ganti konsep,
lirik sampai tema band.
You name it,
Curigation, Silouette, Atmosphere, Addictive, sampai akhirnya,
Astonia.
Yang lucu,
gw ga pernah berhasil nyuruh temen gw buat suka sama band pop gw,
hampir semua milih ngedenger Glory of Any Nation,
but with Astonia,
some of them already download the song! :D
Banyak yang suka,
dan menghargai karya gw di Astonia.
Sumpah gw terharu pas banyak yang mau kasih komen,
ngedukung pas manggung,
Man, you don't know i'm talking about,
i feel huge man, HUGE!
Even pacar gw,
yang terkenal bawel soal lagu pop yang gw buat,
suka sama salah satu lagu Astonia.
Horray!
I DID IT!!
HIP HIP HURAAA!!
OKAY, STOP.
Masih inget kan apa yang gw bahas?
Gw gagal di satu sisi,
dan berhasil di sisi lain.
Dua sisi mata uang,
Is it weird?
Kinda. :)
Sekacau bulan kemarau,
dan burung kutilang berhenti berkicau.
Desember itu aneh dan lucu,
berjalan sangat cepat,
sampai gw sendiri ga sadar ini udah diujung 2010.
Apa yang udah gw lakuin sepanjang tahun?
Not much.
I'm still blogging using this "bisu" PC,
and curse at the wall, "WHY DID I JOBLESS?"
Sebenernya,
ini lebih dari setahun gw nganggur,
dan belum menemukan apapun yang berarti,
selain pelajaran dan pengalaman hidup.
Mungkin orang bakal ketawa kalau denger gw bicara soal pengalaman hidup,
"PENGANGGURAN PUNYA PENGALAMAN?"
Mungkin itu yang bakal di benak orang-orang itu.
Ga peduli.
i've learned a lot.
Belum saatnya melakukan kaleidoskop atau re-cap sepanjang tahun 2010,
dan gw juga ga bakalan bikin hal itu,
capek jek. soli soli jek.
Tapi,
intinya,
Gw belajar soal dianggap gagal di satu sisi,
dan dianggap berhasil di sisi lain.
Gini ya,
siapa sih yang bakal memandang seorang pengangguran,
yang punya setumpuk sepatu mahal?
Hehe. Tapi ini serius,
people around me already thought i'm failed.
dan kenyataan nya, yep mungkin gw gagal.
Hey, i've been jobless since a year ago,
siapa sih yang ga nganggep itu gagal?
Orang yang otaknya normal bakal nganggep gw cuma bagian lain dari sampah,
kalo kasarnya ya,
nunggu waktu untuk dibuang dan dibakar.
So pathetic and shame on me.
Bahkan banyak sahabat yang mulai "merendahkan", dan gw sama sekali ga kesel,
hey, itu berarti dia normal. :D
Gw ngerasa kok banyak yang suka akan ke"gagal"an gw,
dan mulai menikmati hari-hari penderitaan gw,
mereka menyukai kalau kenyataan nya gw udah salah langkah,
dan gagal.
Di sisi lain.
Gw mencapai sebuah level aneh di hidup gw yang gagal ini.
You know that i already start my own clothing company,
sebuah mimpi kecil yang gw mulai di umur 15 tahun,
dan tepat 8 tahun kemudian,
gw bener-bener punya sebuah usaha clothing.
Jual kaos desain sendiri memang gw mulai pas punya band,
udah pernah ngerasain untung juga,
dan punya nama clothing sendiri (meskipun ga resmi :p),
but now,
i've made a huge step,
building a brand,
bahkan sebentar lagi gw bisa launch website clothing gw.
SUCH A PAIN IN EVERYONE'S ASSES.
Dan yang lebih kerennya,
gw mulai usaha clothing itu dengan sahabat gw dari SMA, yang juga partner di band gw.
kinda dream come true,
make some business with your own best friend.
Meskipun awalnya sulit,
but this is a passion man,
banyak yang mau ngelakuin apa yang gw mau,
tapi mereka ga bisa.
Gagal atau berhasil clothing ini?
God only knows.
Yang pasti, gw jual kaos gw dengan harga lumayan mahal untuk sebuah clothing baru yang berkonsep online store,
dan penjualan nya lumayan,
ya dengan catatan ya,
we're still the new kids on the block ;)
Daaannn, yang kocaknya,
banyak sahabat-sahabat, dan teman-teman baru,
yang paling baru kenal gw 1-6 tahun,
yang malah support banget sama clothing gw itu,
kemana sahabat-sahabat dan teman-teman lama?
Sebagian berada di belakang gw,
ngasih dukungan moral,
sebagian duduk diam mencemooh. oh come on, ngaku aja :D
Then what?
Yep, my band.
Buat yang belum tahu,
gw punya dua band,
Glory of Any Nation yang beraroma Melodic Minor Punk,
dan Astonia, a pop band.
Glory of Any Nation itu berumur hampir 6 tahun,
tapi bukan ini yang mau gw bahas.
Gw malah mau bahas Astonia.
Astonia itu emang baru beneran ada setahun lalu,
tapi sejarahnya lebih panjang dari jarak rumah gw dan pacar gw.
It was started a couple years ago.
Nope,
gw ga bakal ngebahas sejarahnya,
panjang men, males ngetiknya,
ntar aja kalo ketemu,
gw mw deh cerita.
Intinya gini,
i've started writing "pop" stuffs a couple years ago,
with a different style,
and different band name,
and also band member.
Gonta-ganti konsep,
lirik sampai tema band.
You name it,
Curigation, Silouette, Atmosphere, Addictive, sampai akhirnya,
Astonia.
Yang lucu,
gw ga pernah berhasil nyuruh temen gw buat suka sama band pop gw,
hampir semua milih ngedenger Glory of Any Nation,
but with Astonia,
some of them already download the song! :D
Banyak yang suka,
dan menghargai karya gw di Astonia.
Sumpah gw terharu pas banyak yang mau kasih komen,
ngedukung pas manggung,
Man, you don't know i'm talking about,
i feel huge man, HUGE!
Even pacar gw,
yang terkenal bawel soal lagu pop yang gw buat,
suka sama salah satu lagu Astonia.
Horray!
I DID IT!!
HIP HIP HURAAA!!
OKAY, STOP.
Masih inget kan apa yang gw bahas?
Gw gagal di satu sisi,
dan berhasil di sisi lain.
Dua sisi mata uang,
Is it weird?
Kinda. :)
Friday, November 26, 2010
Catatan Menjelang Akhir November
Kalau diperhatiin,
akhir-akhir ini gw nulis sesuatu secara terselubung,
bukan, bukan terselubung.com,
tapi gw pake bahasa yang diperhalus,
dan bermakna ganda.
Meski intinya lebih ke curhat,
tapi tetep rancu,
karena bentuknya malah kayak orang yang lagi sok bijak.
Apa ya yang kocak soal November?
Kenyataan bahwa gw masih belum dapet kerjaan kayaknya udah ga kocak,
meski sejak Oktober ini gw bertahan hidup dengan memulai bisnis serius di dunia per-clothingan,
yang memang belum ngasih makan secara signifikan,
tapi setidaknya usaha gw muali membuahkan hasil,
dan mulai bisa established.
You may search "Alive&Aloud Clothing Company" on facebook, web-nya belum kelar soalnya. :)
Lalu apa?
Ga mau ngebahas soal Gayus, karena ga banyak ngaruhnya ke hidup gw,
gw jualan kaos, bukan wig soalnya.
November ini bulan yang aneh soal cuaca,
dan lanjutan dari soal bencana beruntun di akhir Oktober.
Tapi, gw juga ga ngebahas gituan,
it's not my type of writing.
Ga mau terlihat perduli dan ngerti,
soalnya ngeri salah ngasih informasi.
Then what?
Selain gagal nonton The Temper Trap,
pacar gw yang kondisi tubuhnya naik turun dan mulai gampang sakit,
dan nyokap gw yang masih pelayanan Gereja di Ambon,
November belum ngasih sesuatu yang signifikan.
Tapi,
bukan berarti ga ngasih apa-apa lho.
Malah,
terlalu banyak kejadian yang gila,
dan diluar akal sehat,
yang kalau mau jujur,
ngasih pukulan telak di dagu gw,
semacam upper cut Holyfield.
Bukan gw doang,
tapi banyak orang di sekitar gw.
November ngasih banyak pelajaran berharga,
yang bikin otak nyerah dan mau ngalah.
FYI,
kalau hidup gw diibaratkan mobil yang mesti di service,
maka November adalah waktunya masuk bengkel,
dan saat itulah montir memberitahu banyak ugly truth,
bagian mana saja yang rusak,
dan mana yang harus diganti.
Bukan waktu yang menyenangkan,
ga semua orang siap,
tapi bukan waktu yang harus dibenci juga,
because sometimes,
truth hurts,
tapi lebih baik kan dikasih tau kebenaran yang menyakitkan?
Daripada bohong demi membahagiakan?
Eh? Sebaliknya?
Yah, relatif sih,
tapi itu sih yang gw rasain soal November.
Tuhan memberi kesempatan untuk berkomunikasi lebih dalam soal gw yang mulai terjebak di antara kenyataan,
dan mimpi-mimpi bodoh yang gw punya.
That's all about November.
Tinggal beberapa hari lagi masuk Desember,
i miss you Mom,
i love you.
Be strong Dad,
i know you'll reach your dream.
I love you my dearest,
thanks for loving me.
Thanks God.
Wednesday, November 3, 2010
Saya Juga Merasa Takut
Gemetar dan gentar,
Entah bagaimana,
rasa takut itu terkadang menjadi adiksi.
Setiap kali kita melangkah,
rasa takutlah yang membuat kita menghindari lengah.
Terkapar oleh masalah,
rasa takut yang membuat kita tetap berdarah.
Manusia itu penakut,
lihat siapa yang menunjuk tangan saat ditanya siapa yang mau ke surga?
dan lihat siapa yang menganggukan kepala saat ditanya siapa yang mau mati pertama?
Gemetar dan gentar,
entah bagaimana,
rasa takut itu memiliki daya tarik tersendiri.
Kita berfikir mampu mengalahkannya,
mengelabuinya,
terlihat tegar namun lutut mu gemetar,
berjalan sangar namun sesungguhnya gentar.
Saya juga merasa takut,
bahkan selama saya masih hidup.
Rasa takut itu indah,
membuat keberhasilan terasa megah.
Entah bagaimana,
rasa takut itu terkadang menjadi adiksi.
Setiap kali kita melangkah,
rasa takutlah yang membuat kita menghindari lengah.
Terkapar oleh masalah,
rasa takut yang membuat kita tetap berdarah.
Manusia itu penakut,
lihat siapa yang menunjuk tangan saat ditanya siapa yang mau ke surga?
dan lihat siapa yang menganggukan kepala saat ditanya siapa yang mau mati pertama?
Gemetar dan gentar,
entah bagaimana,
rasa takut itu memiliki daya tarik tersendiri.
Kita berfikir mampu mengalahkannya,
mengelabuinya,
terlihat tegar namun lutut mu gemetar,
berjalan sangar namun sesungguhnya gentar.
Saya juga merasa takut,
bahkan selama saya masih hidup.
Rasa takut itu indah,
membuat keberhasilan terasa megah.
Wednesday, October 27, 2010
Jika Hidup Itu Masuk akal, Siapa Yang Butuh Tuhan?
Kita dilatih memprediksi,
menghitung,
mengkalkulasikan,
menggunakan akal,
pikiran,
menyusun strategi.
Mereka berkata,
inilah sistemnya,
inilah siklusnya,
kata kunci kata kunci kata kunci,
persetan.
Jika tak ada yang berhasil melawan arus,
jika semua akan mati diterjang ombak,
siapa yang selamat dan memberitakan keajaiban?
Mengapa kita senantiasa dibentuk?
Mengapa kita senantiasa diatur?
Lakukan seperti ini,
jangan sampai kalian seperti itu.
Saya tak pernah percaya rumus sukses,
saya tak percaya ilmu pasti.
Akal manusia,
volume otak,
semuanya semu,
sia-sia.
Lupa kalau kita hanya debu tanah?
Lupa kalau tangan kita -semahal apapun sabun yang kita pakai-,
bau amis dosa masih menempel tak mau hilang?
Lupa kalau hidup dan nyawa ini pinjaman?
Kita terbiasa dijadikan mesin,
membaca buku manual bernama motivasi,
ini hidup,
itu mati.
Saya tak percaya jika hidup sekonyol ini,
tak adakah yang mau berdiri,
dan berkata apa yang sebenarnya ada dalam hati?
Atau kalian benar-benar percaya,
inilah hidup?
Dan itu benar-benar mati?
Uang bukan segalanya.
Terkutuk kalian.
Bukannya kalian yang mengeluh saat pekerjaan kalian tidak dibayar semestinya?
Bukankah angka nominal itu membuat mata kalian berbinar-binar?
Bukankah kalian berhenti mencaci maki saat kalian ditunjukkan harta berlimpah-limpah?
Mungkin uang bukan Tuhan kalian,
mungkin Dewa kalian bukan Mamon,
namun,
uang bukanlah yang kalian cari?
Berlututlah dalam kamar dengan pintu terkunci,
matikan lampu.
Diamlah hingga karakter kalian yang asli muncul.
Siapa kau?
Lepaskan peran dan topeng yang seharian menempel,
ini saatnya berhenti dan bertanya pada hati.
Masih berhargakah mimpi,
jika kita mengejarnya demi gengsi?
Masih indahkah khayalan,
jika kita menggapainya demi pujian?
Saya duduk dan membusuk disni,
berfikir tentang kegagalan demi kegagalan,
usaha demi usaha,
menemui titik terang sesaat,
lalu terjerembab dalam jalan buntu,
tersesat.
Sampai kapan kita mengandalkan darah?
Sampai kapan kita kuat berpeluh keringat?
sepuluh tahun? dua puluh?
Tiga puluh?
Padahal butuh sedetik untuk menghancurkan apa yang kita bangun dari puluhan tahun bekerja memeras tulang.
Sebenarnya apa guna kerja keras?
Usaha manusia?
Hidup itu tak pernah masuk akal,
skenario nya bukan kita penulisnya.
Jika hidup itu misteri,
mengapa membuang waktu memprediksi?
Jika hidup itu penuh rahasia,
lalu kalian merasa pintar saat menyingkapnya?
Buku adalah sampah otak,
mengeluarkan buah pikiran dan memori tak terpakai,
usang.
Jika pengalaman itu cukup berharga,
dan mimpi bisa diaplikasikan ke hidup semua orang,
maka tak ada orang yang menderita,
semua sukses,
semua bahagia.
Percayalah,
hidup tak pernah masuk akal.
Kalian akan takjub melihat apa Sang Maha Tak Terbatas.
Dia bernama TUHAN.
Dia membuat hal yang tak mungkin, menjadi mudah.
Dia membuat hal yang terlihat mudah,
menjadi tak mungkin terjadi.
Hidup, tidak dapat kau prediksi.
Bermimpilah,
berdoalah.
Lakukanlah,
berdoalah.
wujudkanlah,
berdoalah.
Menang atau kalah, hidup itu indah.
Terima kasih, TUHAN.
menghitung,
mengkalkulasikan,
menggunakan akal,
pikiran,
menyusun strategi.
Mereka berkata,
inilah sistemnya,
inilah siklusnya,
kata kunci kata kunci kata kunci,
persetan.
Jika tak ada yang berhasil melawan arus,
jika semua akan mati diterjang ombak,
siapa yang selamat dan memberitakan keajaiban?
Mengapa kita senantiasa dibentuk?
Mengapa kita senantiasa diatur?
Lakukan seperti ini,
jangan sampai kalian seperti itu.
Saya tak pernah percaya rumus sukses,
saya tak percaya ilmu pasti.
Akal manusia,
volume otak,
semuanya semu,
sia-sia.
Lupa kalau kita hanya debu tanah?
Lupa kalau tangan kita -semahal apapun sabun yang kita pakai-,
bau amis dosa masih menempel tak mau hilang?
Lupa kalau hidup dan nyawa ini pinjaman?
Kita terbiasa dijadikan mesin,
membaca buku manual bernama motivasi,
ini hidup,
itu mati.
Saya tak percaya jika hidup sekonyol ini,
tak adakah yang mau berdiri,
dan berkata apa yang sebenarnya ada dalam hati?
Atau kalian benar-benar percaya,
inilah hidup?
Dan itu benar-benar mati?
Uang bukan segalanya.
Terkutuk kalian.
Bukannya kalian yang mengeluh saat pekerjaan kalian tidak dibayar semestinya?
Bukankah angka nominal itu membuat mata kalian berbinar-binar?
Bukankah kalian berhenti mencaci maki saat kalian ditunjukkan harta berlimpah-limpah?
Mungkin uang bukan Tuhan kalian,
mungkin Dewa kalian bukan Mamon,
namun,
uang bukanlah yang kalian cari?
Berlututlah dalam kamar dengan pintu terkunci,
matikan lampu.
Diamlah hingga karakter kalian yang asli muncul.
Siapa kau?
Lepaskan peran dan topeng yang seharian menempel,
ini saatnya berhenti dan bertanya pada hati.
Masih berhargakah mimpi,
jika kita mengejarnya demi gengsi?
Masih indahkah khayalan,
jika kita menggapainya demi pujian?
Saya duduk dan membusuk disni,
berfikir tentang kegagalan demi kegagalan,
usaha demi usaha,
menemui titik terang sesaat,
lalu terjerembab dalam jalan buntu,
tersesat.
Sampai kapan kita mengandalkan darah?
Sampai kapan kita kuat berpeluh keringat?
sepuluh tahun? dua puluh?
Tiga puluh?
Padahal butuh sedetik untuk menghancurkan apa yang kita bangun dari puluhan tahun bekerja memeras tulang.
Sebenarnya apa guna kerja keras?
Usaha manusia?
Hidup itu tak pernah masuk akal,
skenario nya bukan kita penulisnya.
Jika hidup itu misteri,
mengapa membuang waktu memprediksi?
Jika hidup itu penuh rahasia,
lalu kalian merasa pintar saat menyingkapnya?
Buku adalah sampah otak,
mengeluarkan buah pikiran dan memori tak terpakai,
usang.
Jika pengalaman itu cukup berharga,
dan mimpi bisa diaplikasikan ke hidup semua orang,
maka tak ada orang yang menderita,
semua sukses,
semua bahagia.
Percayalah,
hidup tak pernah masuk akal.
Kalian akan takjub melihat apa Sang Maha Tak Terbatas.
Dia bernama TUHAN.
Dia membuat hal yang tak mungkin, menjadi mudah.
Dia membuat hal yang terlihat mudah,
menjadi tak mungkin terjadi.
Hidup, tidak dapat kau prediksi.
Bermimpilah,
berdoalah.
Lakukanlah,
berdoalah.
wujudkanlah,
berdoalah.
Menang atau kalah, hidup itu indah.
Terima kasih, TUHAN.
Subscribe to:
Posts (Atom)