Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Sunday, February 22, 2015

Angels & Airwaves - The Dream Walker











Kering dan gelap. Negatif.

The Dream Walker adalah album yang paling (secara personal) saya anggap remeh.

Karena sepeninggal Willard, disusul Watcher, tidak adanya Kennedy di daftar anggota AVA dan tentu saja sang arsitek Critter yang meninggal dunia, 
apa sih yang bisa dilakukan dua astronot tersisa dari reruntuhan media idealisme bernama Angels and Airwaves? 

Apa sih yang bisa dilakukan Delonge dan Rubin? 





The Dream Walker menjawab semua keraguan dengan eksekusi konsep paling tidak aman yang dilakukan Delonge sejak era WDNTW.

Jika kalian (normalnya) muak (bahkan mau muntah) melayang tanpa arah di luar angkasa dalam double album LOVE yang penuh riff daur ulang dan intro panjang melelahkan yang diperparah Delonge meracau tentang beragam makna cinta kasih maka kini anda ditawarkan sebuah dimensi; Dimensi penuh kegelapan bernama mimpi buruk.

The Dream Walker memang begitu berbeda, Rubin mengambil alih pesawat dengan memberikan nafas-nafas industrial versi generik dari NIN ke dalam AVA,
hal ini pernah dicoba dalam Stomping the Phantom Brake Pedal, yang, begitu sulit dicerna karena album itu adalah warisan Delonge yang dibuat berkarat oleh Rubin;

The Dream Walker dibuat kebalikan dari STPBP;
Rubin yang kini memegang kemudi, dan Delonge memolesnya dengan memuntahkan sisi negatif yang dimilikinya dengan tema petualang mimpi yang terjebak oleh kenangan buruk, rasa muak, kekecewaan, rasa takut, kehilangan hidup, dan tentu saja, segala pertanyaan akan ketidakpuasan akan arti kehidupan.

Kapal karam kapten.

Negativitas ini menelurkan Teenages and Rituals yang membuka The Dream Walker dengan melody yang akan memberikan Anda tanda bahwa album ini tidak akan sama seperti beberapa album AVA sebelumnya.
Minor, gelap, apatis, dan penuh rasa lelah.
Delonge menyentil keletihan akan perang bagi para pemuda Amerika
"Nothing to score, joining the war, and proudly...".

Paralyzed melanjutkan petualangan kita di alam mimpi buruk ini, semburan riff a la Boxcar Racer dan emosi gamang Delonge.
Pernah terbangun di tengah malam dengan nafas terengah-engah karena mimpi buruk?
Lagu ini mengingatkan saya pada keadaan itu. 
Putar volume maksimal dari sejak intro dimulai, dan ledakan megah terjadi saat distorsi gitar Delonge menyambar.
"Push away and go, the stereo
A tear ruled death to part"
Megah, namun gelap.

The Wolfpack adalah track cerdas, saya sempat kehilangan kepercayaan bahwa AVA akan bisa membuat hits yang tidak terdengar mirip dengan The Adventure dan kawan-kawan.
Lagu ini menjawab keraguan itu dengan ramuan berbeda, keletihan telinga saya akan layer gitar berlapis dibayar lunas dengan intro elektro easy listening. 
Lagu ini menyimpan banyak teka-teki di liriknya, 
dengan salah satu reff terbaik yang pernah dibuat Delonge,
"It's alright, a bit scathed, a bit lost
I've been played, I ain't that clever
A city boy that can never say never
I got the life but that girl bites like a wolf"
dan makin terasa cerdas saat video klipnya muncul. 
Bicara soal musik, The Wolfpack bisa menghindari kejenuhan dari esensi AVA yang selama ini kita kenal, sebuah dimensi baru. Thanks Rubin!

Tunnels adalah lagu paling aman. Memberikan sekilas rindu pada penggemar lama.
Formula departemen lirik yang dipakai mirip seperti Rite of Spring yang menggunakan tema kisah nyata yang dialami Delonge, namun kali ini kenangan buruk itu tentang meninggalnya sang ayah.
Delonge mempertanyakan kehidupan dan kematian (On a rope and pulled through the ocean With my heart, I'm lost out at sea And every kind of thought screams misery, So lonely) serta meragukan Tuhan (I'd thank God, but then what is he for?) seakan lagu ini adalah paket kemarahan serba ada.

Lebih mudah dicerna karena dengan sound seperti inilah AVA dikenal. 
Bukan highlight, namun cocok bagi penggemar sound-sound AVA secara umum.

Kiss with a Spell terdengar segar dan lagi-lagi bukan highlighted track di album ini. 
Sekilas terdengar bagaikan bagian tak terpisahkan dari Stomp The Phantom Brake Pedal dengan ekseskusi lebih mumpuni. Delonge seperti kembali menyalakn pesawat ulang aliknya dan melesat pergi untuk menyanyikan hits salah satu klub malam dalam teluk dibelakang gunung di Mars.

Ketukan rapat mengiringi Mercenaries, lucunya, bukan rumus yang dipakai pada double album LOVE yang mendayu-dayu, tidak pula terdengar seperti AVA di I-EMPIRE, alih-alih track ini lebih mirip lagu-lagu blink 182 gubahan Delonge di era Neighborhoods minus Hoppus dan Barker.
"Like a disease, without the tease
Light on the feet, an atom bomb.
As your dying, fall to your knees
Fall in the street and carry on"
Lirik rumit, nada minor, ketukan rapat. AVA? Haha.

Bullets in The Wind dengan indahnya meniupkan nafas New Wave dan merusak kenyamanan sebagaimana otak kita mengingat seberapa megah dan membosankannya album dan musik AVA akhir-akhir ini. 
Tanpa bermaksud mengecilkan peran Delonge, namun nafas baru Rubin terasa berperan besar dalam track yang terdengar begitu segar dan kekinian. 
Anthem bagi kesehatan jasmani, bagaikan jawaban dari segala doa. 

Kegelapan menyelimuti semenanjung Merkurius dikala Delonge mulai membuka The Disease bergema memenuhi bagian-bagian terkelam kehidupan. 
Kemegahan yang gelap dan berkarat dimana-mana memang sepertinya tema album ini, yang merupakan perbedaan terbesar dengan album-album sebelumnya, dengan lirik-lirik berisi kekecewaan dan negatifitas, dan The Disease adalah track berisi rangkuman yang lagi-lagi berbau blink-182 kekinian yang bisa mewakili tema tersebut. 

Tremos adalah lagu dengan semburan kelelahan yang dibawakan dengan begitu santai dan tenang, padahal liriknya penuh kegamangan,
"I'm a ghost, salivating
I crave your soul, like my own"
 yang dengan sempurna menjadi jembatan yang pas 
sebelum melangkah menuju Anomaly. 

Memang kenapa dengan Anomaly? Fuck yeah, AVA goes acoustic!
Delonge menggunakan formula lama (tapi baru) dengan menyanyikan lagu balada cinta yang begitu berbeda dengan nomor-nomor mendayu AVA layaknya Breathe atau Clever Love, kali ini gitar akustik menjadi pemeran utama, 
dan Rubin menambahkan beat sederhana sepanjang lagu dengan begitu apik.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa The Dream Walker begitu gelap, namun segar, dan kekinian, melunturkan kesan bahwa AVA-bisanya-cuma-gitu-gitu-aja. 
Memang tidak se-ikonik WDNTW, ataupun sehebat I-EMPIRE, namun setidaknya Delonge (dan Rubin) akhirnya mampu mempersembahkan sebuah karya yang kaya nada dan sound tanpa terjebak pada stereotype musik AVA sebelumnya.

Higlighted Track? Bullets In The Wind jelas jagoan saya, bersama The Wolfpack yang berhasil mendobrak pakem karya-karya Delonge sebelumnya, namun saya senang pacar saya mulai mau mendengarkan lagu AVA sejak Anomaly bergema.

Foto dipinjam pakai dari :
- Wikipedia.
- Billboard(dot)com