PROLOG
Banyak hal yang terjadi dibalik vakum-nya kegiatan
kreatif
di tubuh Alive&Aloud setahun belakangan.
Dari kesibukan dan deadline saya
sebagai in-house
designer yang menggunung,
hingga duit modal yang kemakan kebutuhan kehidupan
urban. Haha.
Sebenarnya, Alive&Aloud sendiri sudah akan menelurkan
beberapa artikel di pertengahan tahun kemarin.
Konsep sudah ada, design juga sudah,
tapi entah kenapa saya urung merilisnya.
Masih ada yang mengganjal di hati - dan malas - Haha.
Maklum, Alive&Aloud adalah satu-satunya media saya
mencurahkan ambisi dan ide bodoh saya tanpa campur tangan orang lain -saat
partner saya memutuskan berhenti di tahun 2011- praktis, saya cuma sendiri
mengurus segala tetek bengek brand ini, yang belakangan cenderung menjadi
pelampiasan ego dan ambisi semata. Haha.
Lalu apa yang saya dan Alive&Aloud lakukan selama akhir 2014?
Bertahan hidup.
Ya. Bertahan hidup.
Itulah mengapa saya kembali duduk di depan laptop -yang
sudah lunas dicicil-, menutup pintu kamar dan menulis ini serta merumuskan
kembali konsep dasar Alive&Aloud.
Bukan perkara mudah menelurkan artikel di tengah gempuran
brand-brand lokal lain yang hadir dengan jutaan ide cemerlang dan terobosan
mutakhir,
serta - hal yang paling berat - tentu saja melawan kemalasan saya.
Mengorbankan sedikit demi sedikit waktu
untuk bolak-balik merumuskan design,
berargumen dengan rekan,
dianggap mengada-ngada,
serta bercengkrama dengan sejawat vendor.
Ini bukan tentang hasil, baik atau buruk, ini tentang
melakukan sesuatu yang saya sukai.
Dari sisi teknis,
saya memuaskan ambisi saya
untuk menggunakan bahan t-shirt yang belum pernah saya pakai sebelumnya,
serta memaksakan diri menggunakan teknik sablon paling menyusahkan,
bahkan hingga akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan material lokal untuk koleksi tahun ini tanpa maksud mengesampingkan rasa nasionalis, hanya saja, namanya juga coba-coba. Haha.
Dari sisi konsep,
Saya terinspirasi dari banyak cerita;
Cerita teman,
sahabat, kenalan hingga obrolan pendek di sudut warung kopi pinggir jalan.
Entah berapa kali, kalian merasa.
Direndahkan.
Dipandang sebelah mata.
Diremehkan.
Dikucilkan.
Diasingkan.
Disingkirkan.
Namun kalian tetap bertahan.
Atas nama jantung kalian yang penuh luka namun tetap
mampu berdetak.
Yang tetap berani berdiri meski diterjang kata
berselubung peluru.
The Bulletproof Generation.
Click Link below if to download the catalog