Aku selalu percaya, semua ada waktunya.
Hidup itu sungguh segan.
Tuhan terlampau elegan.
Kita yang babak belur memaki dan meludahi hidup.
Ketika kenyataan sudah seperti musuh utama bagi kita yang tak henti berkoar-koar tentang mimpi dan harapan.
Meski kadang kita masih saja tunduk takluk dan takut.
Aku selalu percaya pada perjamuan kudus dan minyak urapan serta baptis selam.
Aku percaya Tuhan selalu elegan.
Tapi akupun pernah tunduk takluk dan takut.
Aku pernah merasakan gagal.
Jatuh terhujam hingga menangis tersamar hujan.
Oh indah juga rasanya kehilangan harapan. Kadang rasa sakitnya menusuk hingga kedalaman tulang.
Aku masih mengingat getir tangisku waktu itu. Perih.
Aku bahkan bergidik tiap kali ingatan itu mampir.
Gagal itu pilu.
Membuatku
tidur dengan lampu menyala. Karena kegelapan malam menyiksa pikiran ku
yang memutar mengingat dan merekam setiap milidetik kegagalanku.
Aku percaya pada Roh Kudus dan Pasukan Malaikat Surgawi.
Yang aku minta menyertai dalam setiap hari.
Perlindungan dari kemalangan.
Dari setiap jurang kegagalan yang tidak ingin pernah lagi aku rasakan.
Berdoa, doa menguatkan hati.