Salah satu dosa terbesar yang harus gue akui adalah telat tahu menahu mengenai Homicide.
Selain memang gue selalu kurang maksimal saat menjadi Poser Zaman, pengetahuan gue soal musik-musik bawah tanah emang sangat amatlah tidak seberapa dibandingan anak gigs medio 90an hingga 2000an yang bersenjatakan nongkrong di setiap gigs dan akses internet menawan.
Lah gue? Internet gak punya, komputer gak punya, temen gak banyak, uang gak seberapa, gak gaul pula. Lengkap.
Hip hop bukan berhala buat gue, meskipun begitu, konsep rap adalah guilty pleasure buat gue yang lebih bangga dikenal sebagai pendengar nomor-nomor melodic punk kekinian ( baca: cemen ), gue pun membaptis diri sebagai penganut Delonge-isme yang terlalu pengecut untuk melangkah lebih jauh bersama kecerdasan Bad Religion, Dead Kennedys dan kawan-kawan.
Inti-nya sih, gue cemen. Haha.
Balik ke hip hop. Album yang gue tau cuma sebatas Iwa K untuk medio lokal, yah kalo pesta rap dkk sih ya mau gimana lah ya, tau gak tau pasti denger via "Delta" atau MTV Ampuh, atau 100% Indonesia.
Luar? Paling cuma Eminem. Haha.
Lalu karena Ucok bilang Hip Metal itu salah satu dosa besar juga, ada baiknya gue gak mengakui dan mengingkari fakta kalo gue pun mengikuti sepak terjang Linkin Park selama beberapa album, dan hafal pula lagu-lagunya. Haha.
As i told you before, that i'm cemen maksimal,
gue pun baru tahu mengenai Homicide ini sekitar tahun 2012-an, pertama kali denger itu "Semiotika Rajatega".
Gue shock. Haha.
On a side note, gue pernah denger sih beberapa rilisan unit hip hop lokal semacam Jahanam yang gue lupa lagunya gimana, atau apa tuh nama grup yang liriknya "Say Kontol" yang sempat jadi jawara ring tone di era Nokia N-Gage.
Tapi, ini Homicide kak! Kasar sekali kak!
Hahaha.
Pertama denger berasa lagi dimaki-maki, entah kenapa, gue sempet mikir ini grup hip hop ngapa marah-marah gini sih. Fuck. Haha.
Tapi, konsep marah-marah ini bukan meracau tanpa arah. Ada struktur murka yang entah kenapa, man, keren man. Yeah, ngerti juga kagak, tapi keren euy.
Pardon my IQ, tapi emang perlu waktu bagi gue untuk "memahami" Homicide, di satu sisi, gue tidak se-kritis dan se-mengerti itu mengenai politik, anarkisme dan ketidakberdayaan warga sipil.
Tumbuh kembang dari sekolah hingga kuliah hanya upaya mengemban pesan orang tua agar lulus secepatnya agar tidak membebani mereka, gue cukup bahagia bisa jajan kopi gelas pinggir jalan dan baca kutipan stensilan, tanpa berfikir luas mengenai ketidakadilan bagi petani, hutang negara, fasis yang berkedok agama hingga arti sebenarnya dibalik komunisme.
Nah, beda dengan sebagian orang yang sudah lebih dulu cerdas serta taqwa dan memilih Homicide sebagai salah satu karya yang memiliki visi untuk dinikmati,
gue adalah orang yang menjadikan Homicide sebagai buku pedoman utama untuk membuka cakrawala pikiran sempit dan kekanak-kanakan yang gue punya. Yes, kadar kecemenan gue emang segitu akut.
Jujur aja, dulu beberapa lagu Homicide gue gak tau konsep liriknya itu lagi ngebahas apa, gue mesti bolak balik browsing untuk tau maksudnya Sarkasz dan MV itu sebenernya apa, berasa ujian listening di LIA sih kadang-kadang.
Seiring waktu, semakin kesini, dan seringnya gue berkunjung ke gutterspit.com, sebagai satu-satunya jalur pencerahan menuju pengenalan lebih dalam tentang siapa itu Herry Sutresna ( yang ternyata sering gue baca kolom tulisan-nya di trax dan rolling stone pinjeman ) - selepas bubarnya Homicide dan sebelum dirilisnya Grimloc - gue akhirnya bisa dengan mudah menikmati amarah dan murka-nya lirik Homicide, tentu saja dengan bantuan googling sana sini untuk tahu arti-arti kata dan tokoh yang disebut di lagu-lagunya.
Perjalanan Homicide memang sudah berakhir 2007 silam, tapi ternyata karya-karya ( yang bisa disebut "usang" ) ternyata masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.
Entah MV dan Sarkasz yang revolusioner atau emang kehidupan sekarang saja yang berjalan di tempat dan cenderung mengalami kemunduran.
Terlepas dari semua itu, gue pun merasa harus menebus dosa.
Setelah dua kali melewatkan rilisan vynil mereka via kolaborasi mutakhir Grieve Records dan Grimloc Records, hanya karena gue gak punya player-nya, gue pun akhirnya lebih memilih membeli dua rilisan Homicide dalam bentuk kaset yang kali ini dihandle oleh unit bahaya Elevation Records.
Kaset memang lebih lekat di kehidupan gue, dimana membeli kaset sempet jadi memori masa kecil yang ( sebenernya agak kurang ) menyenangkan.
Well at least, just like MV said,
"Merilis kaset dengan harapan format ini akan terus bertahan sebagai salah satu media mengkonsumsi, menikmati, dan mengapresiasi musik dengan cara yang dahulu kami alami".
Sempat tidak kebagian press pertama untuk Godzkilla,
untungnya Elevation Records berbaik hati menghadirkan
re-press nya.
Meskipun pas lihat booklet isi lirik-nya versi kaset bikin agak nyesel gak beli versi vynil-nya.
Selain artwork yang jadi berasa gambar liliput dibanding ukuran cover vynil yang emang segede cobaan hidup.
Versi kaset-nya "Barisan Nisan" juga minus gimmick seplastik tanah kuburan yang di-bundling sama vynil.
Walopun nyesel disana-sini, dua rilisan ini emang wajib punya buat gue bernostalgia buka packaging kaset, melototin artwork, baca ucapan "thanks to", dan menyiksa booklet lirik sampe lecek.
Anyway, thank you Homicide for pimping my mind! Nuhun.