P R O L O G
Semua berawal pada akhir tahun 2010,
sebuah gerakan kecil di sudut Jakarta melahirkan nama Alive and Aloud Co.;
Sebuah proyek nihilis kecil tanpa target.
Intinya hanya menghasilkan sesuatu.
Tanpa pengetahuan yang memadai,
tanpa ada satupun yang tahu bagaimana caranya melanjutkan proyek ini di masa depan.
Nama Alive and Aloud sendiri tidak memiliki arti spesifik, sengaja terinspirasi dari nama band Angels & Airwaves, namun kami mencoba menggantikan kata yang lebih bisa mewakili proyek ini.
“Alive” adalah kata pertama yang muncul, diambil dari salah satu frase lirik band tersebut diatas,
“Do you feel Alive?”, diikuti dengan potongan lirik lain-nya “Can you say it aloud?”. Sesederhana itu.
Saya masih ingat berbalas pesan singkat dengan rekan saya di masa itu,
dengan mimpi-mimpi yang luar biasa naif, dan tekanan luar biasa besar karena budget yang akan kami gunakan untuk memulai proyek ini adalah tabungan nikah milik teman saya itu.
Jangan tanya saya, waktu itu, jangankan uang, bensin sehari-hari saja saya bingung harus dapat darimana.
Awalnya, kami berusaha ikut arus, menghasilkan produk dengan ide-ide memadai, schedule yang tepat tanggap, hingga potongan harga di penghujung tahun, semua guna menghasilkan keuntungan yang dapat memberikan nafas panjang bagi proyek ini. Namun ini cenderung melelahkan.
Setelah berkolaborasi dengan sebuah pihak, rekan saya pun memutuskan untuk meninggalkan proyek ini di tengah jalan, lewat serangkaian kesalahpahaman, dengan segala pertimbangan, dan kami harus rela dan setuju bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Hal biasa untuk proyek sekecil ini, namun ternyata ini teralu besar.
Di tahun-tahun selanjutnya, Alive and Aloud berkembang menjadi proyek ambisius, menghasilkan satu-dua hal yang tidak memiliki ritme, tanpa aturan yang jelas dan cenderung hanya memuaskan ego dan idealism semata. Terkesan mati segan, hidup pun tak mau. Padahal, biasanya saya sudah merumuskan proyek dan rencana kami tiap awal tahun, tapi saya biasanya memang menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk memutuskan mana yang akan dirilis selanjutnya, sejak tanpa deadline, kebebasan ini memang membunuh kami perlahan.
Kadang saya merilis t-shirt dengan slogan menggebu-gebu, kadang hanya merilis buku catatan edisi terbatas. Bahkan kadang saya hanya menyebarkan frase-frase omong kosong. Keterbatasan kuantitas produk pun kadang tidak kami sengaja, seringkali karena modal kami tidak sebesar ego dan idealisme saya, alhasil, saya harus rela memotong anggaran di sana-sini demi akhirnya bisa merilis sesuatu,agar tidak disangka mati di tengah jalan.
Saya melihat Alive and Aloud adalah nama dari perwakilan ego kami, bukan semata-mata nama brand yang menghasilkan produk.
Saya percaya ada hal-hal yang lebih besar dibandingkan nilai penjualan yang besar.
Saya belajar dari nol, dari ketidakmampuan, dari ketidaktahuan, dari kegagalan yang satu hingga kesalahan yang lainnya. Sudah barang tentu, saya bukan ahli, saya hanya mau mencoba membuat sesuatu. Karena rasa penasaran tidak baik bagi kesehatan jantung, dan hidup cuma sekali. Jadi saya coba saja memproduksi semua yang saya mau.
Baik atau buruk, i don’t give a fuck.
Cheers,
Michael Kienzy
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Tuesday, October 4, 2016
Wednesday, June 22, 2016
THE MACHINE II : REVOKE "FREEDOM IS NEVER FREE"
Encore
Mengulang sejarah mungkin bukan sebuah hal yang menarik untuk setiap kita yang selalu mencari tantangan baru.
Beberapa dari kita berfikir sedemikian rupa untuk mengeksplorasi ide dan mencoba menemukan hal yang baru.
Alive&Aloud juga sebenarnya selalu mencoba hal yang sama. Dibalik keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, saya selalu berusaha melahirkan hal-hal baru, setidaknya buat saya. Haha.
Namun di awal 2016, saya mengingat proyek bernama "THE MACHINE";
Sebuah artikel Vintage Work Shirt yang menjadi salah satu proyek ambisius yang cenderung terlampau angkuh bahkan untuk saya sendiri.
Tanpa pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk pembuatan kemeja, bermodalkan insting dan selera saja, saya memaksakan diri menjalankan proyek ini.
Sukses? Di sisi penjualan, saya berhasil. THE MACHINE terjual habis dalam waktu kurang dari 2 hari. Jangan berfikir muluk dan merasa saya hebat, karena kuantitas artikel THE MACHINE memang begitu terbatas. Bahkan alokasi untuk salah satu dealer Alive&Aloud di salah satu kota akhirnya saya batasi.
Di sisi kreatifitas, saya juga (merasa) berhasil. Saya sepertinya melahirkan sesuatu yang baru, berinovasi.
Namun di sisi produksi, saya diwajibkan melakukan banyak instropeksi diri.
THE MACHINE memiliki begitu banyak celah yang seharusnya dapat saya atasi, baik dari kualitas jahitan, pola, hingga detail-detail tertentu.
Proyek ini berhenti begitu saja dengan Euphoria, ya tentu saja, sisi penjualan yang menentukan hal tersebut.
Butuh waktu 4 tahun untuk saya agar kembali berani mengkaji dan menggali lebih dalam mengenai kualitas yang saya inginkan pada proyek THE MACHINE ini.
Secara personal, saya berharap investasi waktu, usaha, dan kerja tambahan yang saya berikan bisa cukup maksimal. Mengingat ini adalah rilisan pertama semenjak saya resmi menikah, kehidupan pribadi terbelah diantara menjadi karyawan, suami dan bersenang-senang. Haha.
Alih-alih merepotkan, Istri saya bahkan tidak pernah absen menemani saya dari awal proses pemilihan bahan hingga produksi, dia menjadi satu-satunya supporter paling setia dan partner berdebat yang paling sering mengingatkan agar proyek ini tidak terbengkalai dan segera selesai.
THE MACHINE dimulai dengan pemilihan bahan, tema serta beberapa detail yang ingin saya perbaiki.
THE MACHINE pun akhirnya bisa kembali, saya memberikan kode "REVOKE" pada proyek ini, karena THE MACHINE tidak terlahir kembali, namun hanya diperbaiki di beberapa sisi.
Detail-nya pun kurang lebih sama, namun dibuat dengan tehnik yang berbeda.
Pola yang regular, hidden button down, two chest pocket with flap dan pencil space. Semua saya pertahankan dari rilisan pertama.
Saya bahkan akhrinya berhasil menemukan rekan yang mau menggunakan teknik konstruksi Single Needle, untuk produksi kali ini. Konstruksi ini menggunakan satu jarum, dengan tingkat kekuatan jahitan yang memungkinkan setiap lipatan dan potongan bahan tidak melalui mesin obras sehingga tampilan bagian dalam dan luar terlihat begitu rapih.
Saya menghabiskan waktu berbulan-bulan memilih rekan yang bisa menyelesaikan proyek ambisius ini, meski output-nya terbilang sederhana, tapi detail yang saya inginkan ternyata menyulitkan untuk kuantitas produksi sekecil Alive&Aloud.
Untuk detail, saya juga masih menyematkan satin tag di bagian dalam kerah serta woven tag di pojok kanan bawah kemeja.
Saat penentuan tema, proyek THE MACHINE jilid kedua ini mengalami 6 (enam) kali perubahan, dan tema terakhir justru ditentukan di 2 (dua) hari terakhir pra-produksi.
Tema yang akhirnya saya gunakan adalah frase FREEDOM IS NEVER FREE, sebuah idiom yang pernah saya gunakan pada sebuah artikel yang tidak jadi dirilis. Saya tidak akan mencoba menjelaskan lebih dalam, ungkapan tersebut saya rasa sudah cukup eksplisit.
Di kemudian hari, saya malah melihat siluet proyek THE MACHINE jilid kedua ini sekilas menyerupai seragam penjara, dan munculah ide untuk menahbiskan-nya dengan mengeksploitasi frase tersebut. Sedikit berbeda dengan beberapa rilisan sebelumnya, saya memilih untuk memaksimalkan pada sisi produksi ketimbang gimmick yang biasa-nya tersedia.
The Machine II, sepertinya cocok disebut Prison Shirt, akan tersedia tanggal 26 Juni 2016.
Seperti biasa, kuantitas yang tersedia amat sangat terbatas.
Regards,
Mike
THE MACHINE II : REVOKE
Prisoner Shirt Inspired made with Asphalt Color Medium Weight Drill Fabric.
65% Polyester/35% Cotton.
Single Needle Construction
Back Yoke
Hidden Button Down.
Tonal seam stitching.
Two Chest Pocket; with Flap; and Pencil Division on Left Pocket
"FREEDOM IS NEVER FREE" Campaign Embroidery on Right Chest
Alive&Aloud Co. Logo Embroidery on Left Chest.
Signature satin and washing tag.
Signature woven tab on bottom right.
IDR 275.000,-
Size Available : S-M-L-XL
Limited drop available at 26.06.2016, online exclusive.
Size Available : S-M-L-XL
Limited drop available at 26.06.2016, online exclusive.
Thursday, April 21, 2016
Lamun Pagi ini
Ada begitu banyak hal yang tidak seharusnya kita urusi,
tidak sepatutnya kita campuri,
tidak sedikitpun kita harus beropini,
namun sepertinya kita memang makhluk maha sosial,
apalagi untuk urusan orang lain.
Selalu ada celah untuk kita mencari tahu,
baik untuk sekedar tahu,
untuk terlihat tahu,
ataupun mungkin untuk memberi tahu,
mana yang benar-benar benar.
Mana yang benar-benar salah.
Memangnya kita siapa ya bisa tahu yang mana yang benar-benar benar?
atau mana yang benar-benar salah?
Dari sekedar beropini,
masuk ke ranah argumen,
dari sekedar mengamini,
sampai mulai menghakimi.
Tadi pagi sembari memacu motor di belantara pencakar langit,
saya melamun, yang sebisa mungkin lamun kedap tentara seperti kata simelbi.
Pantas saja banyak manusia mati-matian terlihat sempurna,
baik di dunia nyata atau maya,
karena mereka pun menakar sesamanya sesempurna itu.
Seperti hidup dengan dewa, yang menilai para dewa.
Kita yang maha tahu, dan mereka pasti tidak tahu!
tidak sepatutnya kita campuri,
tidak sedikitpun kita harus beropini,
namun sepertinya kita memang makhluk maha sosial,
apalagi untuk urusan orang lain.
Selalu ada celah untuk kita mencari tahu,
baik untuk sekedar tahu,
untuk terlihat tahu,
ataupun mungkin untuk memberi tahu,
mana yang benar-benar benar.
Mana yang benar-benar salah.
Memangnya kita siapa ya bisa tahu yang mana yang benar-benar benar?
atau mana yang benar-benar salah?
Dari sekedar beropini,
masuk ke ranah argumen,
dari sekedar mengamini,
sampai mulai menghakimi.
Tadi pagi sembari memacu motor di belantara pencakar langit,
saya melamun, yang sebisa mungkin lamun kedap tentara seperti kata simelbi.
Pantas saja banyak manusia mati-matian terlihat sempurna,
baik di dunia nyata atau maya,
karena mereka pun menakar sesamanya sesempurna itu.
Seperti hidup dengan dewa, yang menilai para dewa.
Kita yang maha tahu, dan mereka pasti tidak tahu!
Thursday, October 15, 2015
Hidup itu Segan, Tuhan semakin Elegan
|
Sunday, June 14, 2015
[REVIEW] Zevin Parakeet - Black & Brown
Awalnya, gue emang lagi nyari sepatu bentuk Slip On Loafer, setelah pengalaman make Dr Martens (DM) Barret yang sangat versatile, karena bisa dipakai formal ataupun non formal, mau pake denim, chino even celana pendek, Slip On Loafer itu pas buat gue yang punya tingkat kemalasan akut buat ngiket sepatu.
Nah, singkat cerita, Parakeet dari Zevin ini langsung bikin gue berbinar-binar pas lihat preview-nya via instagram Zevin beberapa waktu lalu.
Meskipun inovasi terdepannya adalah sepatu ini di-warnai dengan teknik yang keren, yaitu hand painting dengan cat khusus (aslinya parakeet ini berwarna tan),
tapi gue emang lebih jatuh cinta sama modelnya.
Sekilas mirip Loafer-nya Adidas Ransom, dengan modifikasi disana-sini, dan belakangan gue baru tau, kalau ada yang versi Parakeet awal yang lebih mirip. Warna ijo pula. Haha.
| Adidas Ransom Slip On, lupa rilisan kapan. Haha. |
Tapi untungnya versi terbaru ini ngilangin "iketan tali sepatu" di depan itu, dan ngasih tassel, lebih keren IMO. hehe.
Setau gue, gak semua cowo pede make bentuk sepatu begini, beberapa orang jauh lebih pede make boatshoes yang lebih "cowo" dibanding loafer pake tassel kaya Zevin Parakeet gini. Padahal, buat gue ini lebih classy dan elegan haha. Selera sih.
Gue lebih gak mau pake slip on yang semacem driving shoe dengan logo LV segede-gede dosa diatas-nya. Haha.
| Parakeet ini sempet lama dirilis di beberapa retailer karena katanya pihak Zevin kehabisan Box. |
Gue lupa bulan apa, tapi seinget gue rilisnya Parakeet ini agak telat, dan pas Pop Up Market 2015, gue semangat karena Zevin akhirnya bawa Parakeet ini.
Sampe sana gue langsung megang-megang dan makin jatuh cinta hehe.
Sayangnya, retail price nya lumayan tinggi, IDR 1.450.000,-,
padahal gue punya plan buat langsung meminang dua warna yang dirilis,
karena emang rencananya sepatu ini bakal jadi andalan gue buat ngantor,
maklum, bosen make sepatu-sepatu formal so called "pantopel" itu haha.
Jujur aja, gue sempet menimbang-nimbang untuk batalin beli dan beralih ke DM Adrian, dengan harga retail yang sama, tapi dengan nama besar dan kayaknya emang lebih "kuat" hehe.
Let's just be honest, gue emang pernah punya Zevin sebelumnya, namanya Buttonquail, dan emang bagus, tapi daya tahan sol eva-nya udah pasti gak bisa dibandingin sama sepatu DM dengan sol khas mereka yang emang buat dihajar.
| Dr Martens Adrian - Ada warna hitam sama cherry setau gue. |
Setelah galau beberapa minggu, dan didorong oleh keinginan untuk lebih mengedepankan dukungan terhadap brand-brand lokal, gue akhirnya ngejebol budget gue untuk langsung ambil langsung dua warna Parakeet yang dirilis Zevin.
Budget yang sebenernya buat ngehajar inceran gue yang lain, Red Wing Boots. Huft.
Saat gue kontak, gak taunya size gue yang available cuma warna coklat, yang hitam masih dalam tahap restock. Makin galau. Haha.
Well, in the end, akhirnya gue mesti ngalah karena udah ngidam banget, yang coklat duluan meluncur, dan yang hitam mesti nunggu jeda 2 (dua) minggu.
Untung pihak Zevin dengan sangat baik hati ngasih gue special price yang amat sangat bersahabat karena niat gue untuk langsung meminang dua warna Parakeet ini. Yeah!
| Setelah dihajar beberapa bulan. |
Setelah beberapa bulan ngehajar mereka berdua secara bergantian, gue sih puas banget.
Seperti yang gue bilang diatas, bentuk sepatu ini bisa dipake di hampir semua occasion,
ngantor, kondangan, atau cuma nongkrong atau maen, kecuali buat lari atau jalan jongkok ya, sayang sepatunya.
Dua sepatu ini juga gue rotasi almost 7 days a week, bikin sepatu gue yang lain hampir gak pernah lagi kepake. Haha.
Dua warna ini juga netral banget, bisa pake celana apa aja, dan gak susah nyocokin baju-nya. Asli simple.
Patina untuk Parakeet yang brown juga seru warnanya, makin coklat dan garang, yang padahal pas nyampe warnanya adem hehe.
Ada kelemahannya kah?
Karena Hand painted, jadi beberapa bagian mid sole nya kena cat,
keliatan kurang rapih aja untuk sepatu harga segitu.
Parakeet gue yang warna coklat bagian sol depan nya mulai agak lemah lem-nya pas dipake beberapa minggu, dan mid sole nya gampang banget berkerut-kerut hehe.
Nilai gue 8/10 sih buat kualitasnya, tapi untuk modelnya gue bisa kasih 9/10.
Almost perfect.
| Dynamic Duo |
Harapannya sih, sepatu ini bisa awet dalam jangka waktu yang lama, dan ya, mudah-mudahan ada jasa free resole dari Zevin, remembering bentuk sol bagian depan nya agak mudah kelepas lem-nya haha.
Image Adidas dipinjam pakai dari
Adidas Originals Ransom - http://dailywhatnot.com/
Image Dr Martens Adrian dipinjam pakai dari
Dr Martens Adrian - http://www.legendfootwear.co.uk/
Monday, April 13, 2015
Homicide : Antara Guilty Pleasure, Aktualisasi Diri, dan Berhala Terkini.
Salah satu dosa terbesar yang harus gue akui adalah telat tahu menahu mengenai Homicide.
Selain memang gue selalu kurang maksimal saat menjadi Poser Zaman, pengetahuan gue soal musik-musik bawah tanah emang sangat amatlah tidak seberapa dibandingan anak gigs medio 90an hingga 2000an yang bersenjatakan nongkrong di setiap gigs dan akses internet menawan.
Lah gue? Internet gak punya, komputer gak punya, temen gak banyak, uang gak seberapa, gak gaul pula. Lengkap.
Hip hop bukan berhala buat gue, meskipun begitu, konsep rap adalah guilty pleasure buat gue yang lebih bangga dikenal sebagai pendengar nomor-nomor melodic punk kekinian ( baca: cemen ), gue pun membaptis diri sebagai penganut Delonge-isme yang terlalu pengecut untuk melangkah lebih jauh bersama kecerdasan Bad Religion, Dead Kennedys dan kawan-kawan.
Inti-nya sih, gue cemen. Haha.
Balik ke hip hop. Album yang gue tau cuma sebatas Iwa K untuk medio lokal, yah kalo pesta rap dkk sih ya mau gimana lah ya, tau gak tau pasti denger via "Delta" atau MTV Ampuh, atau 100% Indonesia.
Luar? Paling cuma Eminem. Haha.
Lalu karena Ucok bilang Hip Metal itu salah satu dosa besar juga, ada baiknya gue gak mengakui dan mengingkari fakta kalo gue pun mengikuti sepak terjang Linkin Park selama beberapa album, dan hafal pula lagu-lagunya. Haha.
As i told you before, that i'm cemen maksimal,
gue pun baru tahu mengenai Homicide ini sekitar tahun 2012-an, pertama kali denger itu "Semiotika Rajatega".
Gue shock. Haha.
On a side note, gue pernah denger sih beberapa rilisan unit hip hop lokal semacam Jahanam yang gue lupa lagunya gimana, atau apa tuh nama grup yang liriknya "Say Kontol" yang sempat jadi jawara ring tone di era Nokia N-Gage.
Tapi, ini Homicide kak! Kasar sekali kak!
Hahaha.
Pertama denger berasa lagi dimaki-maki, entah kenapa, gue sempet mikir ini grup hip hop ngapa marah-marah gini sih. Fuck. Haha.
Tapi, konsep marah-marah ini bukan meracau tanpa arah. Ada struktur murka yang entah kenapa, man, keren man. Yeah, ngerti juga kagak, tapi keren euy.
Pardon my IQ, tapi emang perlu waktu bagi gue untuk "memahami" Homicide, di satu sisi, gue tidak se-kritis dan se-mengerti itu mengenai politik, anarkisme dan ketidakberdayaan warga sipil.
Tumbuh kembang dari sekolah hingga kuliah hanya upaya mengemban pesan orang tua agar lulus secepatnya agar tidak membebani mereka, gue cukup bahagia bisa jajan kopi gelas pinggir jalan dan baca kutipan stensilan, tanpa berfikir luas mengenai ketidakadilan bagi petani, hutang negara, fasis yang berkedok agama hingga arti sebenarnya dibalik komunisme.
Nah, beda dengan sebagian orang yang sudah lebih dulu cerdas serta taqwa dan memilih Homicide sebagai salah satu karya yang memiliki visi untuk dinikmati,
gue adalah orang yang menjadikan Homicide sebagai buku pedoman utama untuk membuka cakrawala pikiran sempit dan kekanak-kanakan yang gue punya. Yes, kadar kecemenan gue emang segitu akut.
Jujur aja, dulu beberapa lagu Homicide gue gak tau konsep liriknya itu lagi ngebahas apa, gue mesti bolak balik browsing untuk tau maksudnya Sarkasz dan MV itu sebenernya apa, berasa ujian listening di LIA sih kadang-kadang.
Seiring waktu, semakin kesini, dan seringnya gue berkunjung ke gutterspit.com, sebagai satu-satunya jalur pencerahan menuju pengenalan lebih dalam tentang siapa itu Herry Sutresna ( yang ternyata sering gue baca kolom tulisan-nya di trax dan rolling stone pinjeman ) - selepas bubarnya Homicide dan sebelum dirilisnya Grimloc - gue akhirnya bisa dengan mudah menikmati amarah dan murka-nya lirik Homicide, tentu saja dengan bantuan googling sana sini untuk tahu arti-arti kata dan tokoh yang disebut di lagu-lagunya.
Perjalanan Homicide memang sudah berakhir 2007 silam, tapi ternyata karya-karya ( yang bisa disebut "usang" ) ternyata masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.
Entah MV dan Sarkasz yang revolusioner atau emang kehidupan sekarang saja yang berjalan di tempat dan cenderung mengalami kemunduran.
Terlepas dari semua itu, gue pun merasa harus menebus dosa.
Setelah dua kali melewatkan rilisan vynil mereka via kolaborasi mutakhir Grieve Records dan Grimloc Records, hanya karena gue gak punya player-nya, gue pun akhirnya lebih memilih membeli dua rilisan Homicide dalam bentuk kaset yang kali ini dihandle oleh unit bahaya Elevation Records.
Kaset memang lebih lekat di kehidupan gue, dimana membeli kaset sempet jadi memori masa kecil yang ( sebenernya agak kurang ) menyenangkan.
Well at least, just like MV said,
"Merilis kaset dengan harapan format ini akan terus bertahan sebagai salah satu media mengkonsumsi, menikmati, dan mengapresiasi musik dengan cara yang dahulu kami alami".
Sempat tidak kebagian press pertama untuk Godzkilla,
untungnya Elevation Records berbaik hati menghadirkan
re-press nya.
Meskipun pas lihat booklet isi lirik-nya versi kaset bikin agak nyesel gak beli versi vynil-nya.
Selain artwork yang jadi berasa gambar liliput dibanding ukuran cover vynil yang emang segede cobaan hidup.
Versi kaset-nya "Barisan Nisan" juga minus gimmick seplastik tanah kuburan yang di-bundling sama vynil.
Walopun nyesel disana-sini, dua rilisan ini emang wajib punya buat gue bernostalgia buka packaging kaset, melototin artwork, baca ucapan "thanks to", dan menyiksa booklet lirik sampe lecek.
Anyway, thank you Homicide for pimping my mind! Nuhun.
Tuesday, March 31, 2015
Live Louder Now : Bulletproof Generation!
PROLOG
Banyak hal yang terjadi dibalik vakum-nya kegiatan
kreatif
di tubuh Alive&Aloud setahun belakangan.
Dari kesibukan dan deadline saya
sebagai in-house
designer yang menggunung,
hingga duit modal yang kemakan kebutuhan kehidupan
urban. Haha.
Sebenarnya, Alive&Aloud sendiri sudah akan menelurkan
beberapa artikel di pertengahan tahun kemarin.
Konsep sudah ada, design juga sudah,
tapi entah kenapa saya urung merilisnya.
Masih ada yang mengganjal di hati - dan malas - Haha.
Maklum, Alive&Aloud adalah satu-satunya media saya
mencurahkan ambisi dan ide bodoh saya tanpa campur tangan orang lain -saat
partner saya memutuskan berhenti di tahun 2011- praktis, saya cuma sendiri
mengurus segala tetek bengek brand ini, yang belakangan cenderung menjadi
pelampiasan ego dan ambisi semata. Haha.
Lalu apa yang saya dan Alive&Aloud lakukan selama akhir 2014?
Bertahan hidup.
Ya. Bertahan hidup.
Itulah mengapa saya kembali duduk di depan laptop -yang
sudah lunas dicicil-, menutup pintu kamar dan menulis ini serta merumuskan
kembali konsep dasar Alive&Aloud.
Bukan perkara mudah menelurkan artikel di tengah gempuran
brand-brand lokal lain yang hadir dengan jutaan ide cemerlang dan terobosan
mutakhir,
serta - hal yang paling berat - tentu saja melawan kemalasan saya.
Mengorbankan sedikit demi sedikit waktu
untuk bolak-balik merumuskan design,
berargumen dengan rekan,
dianggap mengada-ngada,
serta bercengkrama dengan sejawat vendor.
Ini bukan tentang hasil, baik atau buruk, ini tentang
melakukan sesuatu yang saya sukai.
Dari sisi teknis,
saya memuaskan ambisi saya
untuk menggunakan bahan t-shirt yang belum pernah saya pakai sebelumnya,
serta memaksakan diri menggunakan teknik sablon paling menyusahkan,
bahkan hingga akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan material lokal untuk koleksi tahun ini tanpa maksud mengesampingkan rasa nasionalis, hanya saja, namanya juga coba-coba. Haha.
Dari sisi konsep,
Saya terinspirasi dari banyak cerita;
Cerita teman,
sahabat, kenalan hingga obrolan pendek di sudut warung kopi pinggir jalan.
Entah berapa kali, kalian merasa.
Direndahkan.
Dipandang sebelah mata.
Diremehkan.
Dikucilkan.
Diasingkan.
Disingkirkan.
Namun kalian tetap bertahan.
Atas nama jantung kalian yang penuh luka namun tetap
mampu berdetak.
Yang tetap berani berdiri meski diterjang kata
berselubung peluru.
The Bulletproof Generation.
Click Link below if to download the catalog
Subscribe to:
Comments (Atom)