Berhati-hatilah dengan apa yang kau impikan, tak semua harganya sanggup kau bayar.
Jika engkau dijanjikan surga,
masihkah engkau menolaknya?
Meski bayarannya darah.
Bisakah engkau terlena?
Kita manusia,
kita hanyalah manusia.
Beban itu biasa,
menyerang kita sejak nafas pertama.
Masa depan ku telah terlihat,
Ia telah membuka semua rahasia,
tingkap langit yang menjadi milikNya,
telah diberikannya padaku.
Tapi aku cuma manusia,
aku tak punya daya.
Dagingku masih berupaya,
meminta dipuaskan.
Jiwaku masih terperdaya,
meminta dibakar menyala.
Adrenalin memompa meminta dipuja.
Namun keindahan dan segala kesukaan abadi berada disana,
menunggu aku dengan segala kemegahannya.
Bukan dongeng tentang segala dunia yang fana,
bukan harapan semu hasil berkeringat darah.
Ia menjanjikan aku semua yang bahkan tak sanggup orang lain bayangkan.
berdiri aku disini,
menatap langit,
sendiri.
Aku hanya ingin dia ada disini,
menemani dan berlari bersama aku sampai aku mati,
menikmati janji yang Engkau beri.
Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.
Berdoalah, doa menguatkan hati.
Monday, July 25, 2011
Tuesday, July 19, 2011
Where?
Got nothing to do at the office,
since i already finished all my deadline.
Tapi dengan flu dan batuk yang sekacau ini,
ga semangat rasanya mau ngapa-ngapain.
What should i write here?
Ga ada ide sebenernya,
yang ada ingus yang daritadi naik turun.
Anyway,
life was getting any harder day by day,
and i start to losing all my excitement.
Everything's not so fun anymore,
i don't know where i'm going now.
Di satu sisi,
banyak orang yang bilang ini kedewasaan,
kita disuruh belajar memahami hidup lebih dalam,
nyari arti hidup kita di dunia.
Searching. Waiting.
Loading.
Intinya,
ada begitu banyak tuntutan yang menghimpit leher gw,
ada begitu banyak tanggung jawab yang mulai berasa beratnya.
I don't know where i'm going right?
disuruh menjadi lebih baik,
saat kita merasa udah cukup baik itu gimana ya rasanya?
Nobody's perfect,
but everyone needs perfection.
Bingung juga,
gw mau nuntut siapa ya?
Salah sih awalnya gw emang bukan tipe yang suka nuntut,
emang semua salah awalnya,
gw selalu diem aja di dalem,
ngalah sama keadaan.
Gini-gini aja jadinya,
sekalinya nuntut,
malah nuntut sama diri sendiri.
Soalnya kalo nuntut sama orang lain,
satu sisi gw ga enak,
orang lain itu pasti kaget,
since in the beginning,
i'm not that kind of person.
Bingung.
Kita emang diciptain buat bingung kali ya?
Atau orang-orang aja yang bikin hidup riweuh?
Ga simpel.
Hidup emang ga simpel men,
gaya gw aje ga simple.
Pengen rasanya jadi orang yang biasa aja.
So i don't put too many wishes,
and people don't throw me so many hopes.
since i already finished all my deadline.
Tapi dengan flu dan batuk yang sekacau ini,
ga semangat rasanya mau ngapa-ngapain.
What should i write here?
Ga ada ide sebenernya,
yang ada ingus yang daritadi naik turun.
Anyway,
life was getting any harder day by day,
and i start to losing all my excitement.
Everything's not so fun anymore,
i don't know where i'm going now.
Di satu sisi,
banyak orang yang bilang ini kedewasaan,
kita disuruh belajar memahami hidup lebih dalam,
nyari arti hidup kita di dunia.
Searching. Waiting.
Loading.
Intinya,
ada begitu banyak tuntutan yang menghimpit leher gw,
ada begitu banyak tanggung jawab yang mulai berasa beratnya.
I don't know where i'm going right?
disuruh menjadi lebih baik,
saat kita merasa udah cukup baik itu gimana ya rasanya?
Nobody's perfect,
but everyone needs perfection.
Bingung juga,
gw mau nuntut siapa ya?
Salah sih awalnya gw emang bukan tipe yang suka nuntut,
emang semua salah awalnya,
gw selalu diem aja di dalem,
ngalah sama keadaan.
Gini-gini aja jadinya,
sekalinya nuntut,
malah nuntut sama diri sendiri.
Soalnya kalo nuntut sama orang lain,
satu sisi gw ga enak,
orang lain itu pasti kaget,
since in the beginning,
i'm not that kind of person.
Bingung.
Kita emang diciptain buat bingung kali ya?
Atau orang-orang aja yang bikin hidup riweuh?
Ga simpel.
Hidup emang ga simpel men,
gaya gw aje ga simple.
Pengen rasanya jadi orang yang biasa aja.
So i don't put too many wishes,
and people don't throw me so many hopes.
Sunday, July 17, 2011
Ini Bukan Ujian Hidup, Ini Harga Yang Harus Dibayar
Seperti terjatuh menjelang sampai garis akhir,
tersandung,
jatuh dan hampir kehilangan nafas.
Lelah,
emosi,
penat,
memberangus dan membungkus,
menjadi satu.
Seiring rasa bersalah yang mengalir melalui darah,
meremukan hati sekeras baja.
Baru sesaat ternyata buku kehidupan tidak menulis apa yang selama saya katakan,
tidak ada ujian yang diberikan Sang Khalik,
ini semua adalah siklus yang saya ciptakan sendiri,
berputar,
harga yang harus dibayar.
Setiap mili kesalahan tidak begitu saja luput,
kita mengalami apa yang mereka sebut karma.
Karena hal ini lah terjadilah hal itu.
Karena hal itu lah terjadilah hal ini.
Semua karena kelemahan kita.
Emosi itu mudah.
Amarah itu megah.
Saya pernah menulisnya,
dan kini memecahkannya.
Kita membuka celah,
untuk iblis mengambil langkah,
melemahkan dan menghancurkan setiap sendi,
membuat kita jatuh tak sadarkan diri,
terbakar emosi.
Mencintai materi.
Mencintai harum ekspetasi.
Tulisan ini mengalir begitu saja,
jari tangan saya kembali lincah.
menikmati alunan gundah layaknya gairah nafsu bergejolak,
seakan rasa ini indah.
Seakan darah tak menetes keluar melalui luka.
Seolah saya tak merasakan apa-apa.
Kecewa itu biasa,
menyerang siapa aja,
yang menaruh harapan dan mempercayainya.
Semua memiliki harga yang harus dibayar,
semua memiliki akibat.
Terkadang begitu mahal sampai kita tak mampu melunasi,
terkadang begitu mahal hingga menghabisi.
Menikmatinya tak semudah memberikan saran.
Menerimanya sesulit memberikan motivasi pada terhukum mati.
Mari memulai semua dari sini,
di tempat dimana saya belum mengenali bumi,
dimana berdiri adalah hal yang luar biasa,
mengingat hari-hari kemarin,
membuka mata adalah hal yang mustahil.
Saya tidak gagal dalam ujian,
saya hanya membayar harga.
tersandung,
jatuh dan hampir kehilangan nafas.
Lelah,
emosi,
penat,
memberangus dan membungkus,
menjadi satu.
Seiring rasa bersalah yang mengalir melalui darah,
meremukan hati sekeras baja.
Baru sesaat ternyata buku kehidupan tidak menulis apa yang selama saya katakan,
tidak ada ujian yang diberikan Sang Khalik,
ini semua adalah siklus yang saya ciptakan sendiri,
berputar,
harga yang harus dibayar.
Setiap mili kesalahan tidak begitu saja luput,
kita mengalami apa yang mereka sebut karma.
Karena hal ini lah terjadilah hal itu.
Karena hal itu lah terjadilah hal ini.
Semua karena kelemahan kita.
Emosi itu mudah.
Amarah itu megah.
Saya pernah menulisnya,
dan kini memecahkannya.
Kita membuka celah,
untuk iblis mengambil langkah,
melemahkan dan menghancurkan setiap sendi,
membuat kita jatuh tak sadarkan diri,
terbakar emosi.
Mencintai materi.
Mencintai harum ekspetasi.
Tulisan ini mengalir begitu saja,
jari tangan saya kembali lincah.
menikmati alunan gundah layaknya gairah nafsu bergejolak,
seakan rasa ini indah.
Seakan darah tak menetes keluar melalui luka.
Seolah saya tak merasakan apa-apa.
Kecewa itu biasa,
menyerang siapa aja,
yang menaruh harapan dan mempercayainya.
Semua memiliki harga yang harus dibayar,
semua memiliki akibat.
Terkadang begitu mahal sampai kita tak mampu melunasi,
terkadang begitu mahal hingga menghabisi.
Menikmatinya tak semudah memberikan saran.
Menerimanya sesulit memberikan motivasi pada terhukum mati.
Mari memulai semua dari sini,
di tempat dimana saya belum mengenali bumi,
dimana berdiri adalah hal yang luar biasa,
mengingat hari-hari kemarin,
membuka mata adalah hal yang mustahil.
Saya tidak gagal dalam ujian,
saya hanya membayar harga.
Saturday, April 23, 2011
Suara Para Pekerja
Belantara pencakar langit, keruh debu bertempur sengit. Dengarlah suara para pekerja, dengarlah kala penat menyiksa.
Tuesday, April 12, 2011
Hello Humans!
Wow,
rutinitas memang gila.
Di balik tumpukan draft layout yang harus saya lahap habis menjadikan hasil keratif melalui aplikasi Photoshop demi mendapatkan Final Approve di kantor,
saya seringkali kesulitan meluangkan waktu mengetik keyboard untuk mengisi postingan disini.
Do you miss me my blog? My blog lagiii aahhh, my blog lagii.
Kutakmauuu aah. My blog lagii.
Well, anyway,
i finally get a job. a real job.
Setahun dua bulan entah berapa hari,
saya jadi pengangguran,
dan sekarang udah resmi jadi orang kantoran.
Sekarang ngerasain tuh stuck di depan kompi,
dan menderitanya badan ini dilapisi kemeja resmi dan celana bahan katun plus sepatu kulit pantovel.
I need my jeans and sneakers!
Tapi menyenangkan kok,
sekarang gw mulai menjiwai,
seenggaknya sekarang status gw membaik,
ekonomi gw (pribadi) membaik.
Dan gw mulai membiasakan diri dengan kemeja dan celana bahan dan yeah,
melupakan sneakers dengan beralih ke leather boots.
Pendewasaan kali yah.
Gw juga menumbuhkan kumis,
dan berencana membeli chino pants (mau ganti gaya ceritanya...)
The job ain't so sucks anyway,
my division is one of the best.
I love the the atmosphere.
Yeah, meskipun ga semuanya menyenangkan,
seenggaknya tiap hari Jumat pagi gw bakal teriak,
"YEAAH GOOOD, THANK YOU SO MUCH IT'S FRIDAY!!"
haha.
Gw juga sangat menghargai weekend sekarang,
mencintai pukul 5 sore,
dan tentu saja, tanggal 25. I love it so much. Another haha.
Pendewasaan juga meliputi keharusan gw untuk cermat mengatur waktu,
even lima belas menit itu sangat berharga sekarang.
Time is money for anyone, but for me,
time is priceless.
Deadline ga usah diceritain ya,
males juga ngingetnya,
tapi yah, Deadline itu bener-bener nyita waktu.
Enerji, serta hati. Deadline menguras bak mandi, eh hati.
Berasa Vidi.
Back to the time thingy,
yeah gila emang si waktu,
gw kayak lagi naik jet tempur sambil sarapan,
susah banget ngaturnya.
Senin sampai jumat udah pasti penuh rutin,
mecet-macetan di jalan mah udah jadi semacam tabung oksigen,
can't live with it. fork.
Senin sampai jumat itu ga cuma kerja yang nyita waktu,
tapi juga kan gw masih merangkai mimpi sama brand clothing dan band gw.
Such a great mess,
meski nge-band jadi agak terbengkalai,
tapi clothing, Puji Tuhan,
masih lancar lah,
bisa buat nabung buat nongkrong di California (Fried Chicken).
Jumat malam itu semacam berhala,
dipersembahkan buat ngabisin waktu sampai maleeeemmmm,
demi ketemu si pacar.
Yeah si bocah ababil yang -sayangnya- gw cinta banget itu emang egois ga ketulungan,
giliran libur dia kabur sama geng kampaknya,
giliran gw libur, mesti berasa lembur demi ketemu tuh si kodok lumpur.
Tapi mau gimana ya,
schedule nya emang kacau,
susah kalo ga dipaksain.
Tapi tenang, gw udah nyiapin bom nuklir kalau sampe dia ga mau gantian susah payah buat nyari waktu ketemu gw,
siap banget nih gw sumpel hidungnya pake paku bumi.
Damn, i love you! Haha.
Sabtu?
Biasanya gw dirumah,
tapi belakangan gw suka ada kesibukan yang dibuat-buat,
haha
yeah sekedar jaga hubungan sama beberapa temen,
atau kolega. Malemnya pun kalo sempet ya jemput si kodok lumpur yang gw cinta itu. Grrr.
Minggu?
Ya gerejalah,
standar. Lagi-lagi sama si kodok lumpur,
kalo lagi "beruntung",
kita bakal pulang bareng,
dan ga diburu-buru waktu.
Kalo lagi "sial" ....
ya mesti balikin dia ke kantornya,
soalnya mesti nyambung shift. haha.
Back to Senin.
Fork.
Back to the routine.
Gituu aja terus nih, hahaha.
Thanks to online store yang punya website pribadi (bukan via social network),
dan beberapa forum yang ga di block di kantor.
You guys made my day!
rutinitas memang gila.
Di balik tumpukan draft layout yang harus saya lahap habis menjadikan hasil keratif melalui aplikasi Photoshop demi mendapatkan Final Approve di kantor,
saya seringkali kesulitan meluangkan waktu mengetik keyboard untuk mengisi postingan disini.
Do you miss me my blog? My blog lagiii aahhh, my blog lagii.
Kutakmauuu aah. My blog lagii.
Well, anyway,
i finally get a job. a real job.
Setahun dua bulan entah berapa hari,
saya jadi pengangguran,
dan sekarang udah resmi jadi orang kantoran.
Sekarang ngerasain tuh stuck di depan kompi,
dan menderitanya badan ini dilapisi kemeja resmi dan celana bahan katun plus sepatu kulit pantovel.
I need my jeans and sneakers!
Tapi menyenangkan kok,
sekarang gw mulai menjiwai,
seenggaknya sekarang status gw membaik,
ekonomi gw (pribadi) membaik.
Dan gw mulai membiasakan diri dengan kemeja dan celana bahan dan yeah,
melupakan sneakers dengan beralih ke leather boots.
Pendewasaan kali yah.
Gw juga menumbuhkan kumis,
dan berencana membeli chino pants (mau ganti gaya ceritanya...)
The job ain't so sucks anyway,
my division is one of the best.
I love the the atmosphere.
Yeah, meskipun ga semuanya menyenangkan,
seenggaknya tiap hari Jumat pagi gw bakal teriak,
"YEAAH GOOOD, THANK YOU SO MUCH IT'S FRIDAY!!"
haha.
Gw juga sangat menghargai weekend sekarang,
mencintai pukul 5 sore,
dan tentu saja, tanggal 25. I love it so much. Another haha.
Pendewasaan juga meliputi keharusan gw untuk cermat mengatur waktu,
even lima belas menit itu sangat berharga sekarang.
Time is money for anyone, but for me,
time is priceless.
Deadline ga usah diceritain ya,
males juga ngingetnya,
tapi yah, Deadline itu bener-bener nyita waktu.
Enerji, serta hati. Deadline menguras bak mandi, eh hati.
Berasa Vidi.
Back to the time thingy,
yeah gila emang si waktu,
gw kayak lagi naik jet tempur sambil sarapan,
susah banget ngaturnya.
Senin sampai jumat udah pasti penuh rutin,
mecet-macetan di jalan mah udah jadi semacam tabung oksigen,
can't live with it. fork.
Senin sampai jumat itu ga cuma kerja yang nyita waktu,
tapi juga kan gw masih merangkai mimpi sama brand clothing dan band gw.
Such a great mess,
meski nge-band jadi agak terbengkalai,
tapi clothing, Puji Tuhan,
masih lancar lah,
bisa buat nabung buat nongkrong di California (Fried Chicken).
Jumat malam itu semacam berhala,
dipersembahkan buat ngabisin waktu sampai maleeeemmmm,
demi ketemu si pacar.
Yeah si bocah ababil yang -sayangnya- gw cinta banget itu emang egois ga ketulungan,
giliran libur dia kabur sama geng kampaknya,
giliran gw libur, mesti berasa lembur demi ketemu tuh si kodok lumpur.
Tapi mau gimana ya,
schedule nya emang kacau,
susah kalo ga dipaksain.
Tapi tenang, gw udah nyiapin bom nuklir kalau sampe dia ga mau gantian susah payah buat nyari waktu ketemu gw,
siap banget nih gw sumpel hidungnya pake paku bumi.
Damn, i love you! Haha.
Sabtu?
Biasanya gw dirumah,
tapi belakangan gw suka ada kesibukan yang dibuat-buat,
haha
yeah sekedar jaga hubungan sama beberapa temen,
atau kolega. Malemnya pun kalo sempet ya jemput si kodok lumpur yang gw cinta itu. Grrr.
Minggu?
Ya gerejalah,
standar. Lagi-lagi sama si kodok lumpur,
kalo lagi "beruntung",
kita bakal pulang bareng,
dan ga diburu-buru waktu.
Kalo lagi "sial" ....
ya mesti balikin dia ke kantornya,
soalnya mesti nyambung shift. haha.
Back to Senin.
Fork.
Back to the routine.
Gituu aja terus nih, hahaha.
Thanks to online store yang punya website pribadi (bukan via social network),
dan beberapa forum yang ga di block di kantor.
You guys made my day!
Monday, March 7, 2011
Mengerti Waktu
Sekian lama,
rutinitas seperti mesin penghisap debu,
menarik waktu,
membiarkan kita tertatih meraih setiap detik,
menit untuk bertemu,
sampai kapan kau sadar semuanya dilakukan hanya untukmu?
Jika melihat kebelakang,
rentang hidup yang mungkin meregang,
hari-hari sempat menghantuiku seperti angin mati suri,
memebelai sunyi tanpa bekas,
meninggalkan luka yang senantiasa menganga.
Berapa kali aku terlupa,
dan senantiasa diharuskan mengerti?
Berapa kali aku merasa terhina,
mengingat yang kuhadapi adalah dunia yang tak mungkin mengerti?
Beban itu seringkali muncul di matamu.
Beban itu selalu ada di detik hidupku.
Berapa kali aku berada,
di sudut pintu kamar,
dari siang yang menjulang,
hingga malam tak bertahan,
menunggumu pulang,
hanya untuk berkata,
"Hai, sampai jumpa."
Itulah alasan mengapa hati ku pedih,
setiap kali kau memberikan waktu sedetik saja,
untuk kesenangan yang tak bisa kita nikmati bersama.
Kau dan duniamu.
Sedang aku berlari mengejar duniamu.
Aku menunggumu pulang.
Aku tak pernah tertidur.
Berapa kali ku ada saat kau jatuh,
terhempas,
dan tak berdaya?
Berapa kali kita hanya bisa saling mengirim pesan singkat saat ku terluka di dalam jiwa?
Rutinitas merebutmu dariku.
Pernahkah kau dengar aku mengeluh?
Pernahkah kau pergi menjauh?
Yah,
aku melipat segala beban di hati,
tertawa memenuhi imaji,
dan menyembunyikan pedih seperti kado ulang tahun kesebelas.
Indah dan istimewa.
Amarah itu mudah.
Ia terbawa dalam darah.
Emosi itu indah,
ia meledak disaat tercurah.
Muak adalah ujian,
kesendirian itu tak terbalas,
malam penuh kopi,
dimana aku duduk di luar halaman,
menunggu di kursi kayu di tepian jalan,
ini bukan tentang kewajiban,
tapi aroma bahagia dari tubuhmu yang memelukku sepanjang jalan pulang,
artinya lebih besar daripada yang kau pernah bayangkan.
Jangan pernah kau lepaskan pelukanmu lagi,
mengingat enerji yang dia berikan tak bisa terkatakan.
Kini waktu seperti berlian,
tak mungkin terbeli.
Aku memulai apa yang dulu kita minta dalam doa,
dan pengertianmu memegang peran penting dalam skenario hidup yang kita jaga.
Betapa seharusnya kau simpan rasa pedih,
amarah,
emosi,
demi waktu yang seharusnya senantiasa kita hargai,
demi peluk yang bisa membuatku bangkit kembali,
demi api yang kau jaga di dalam tungku hati.
Lelah mungkin hinggap dan tak berhenti bertanya,
namun bisakah kita sedikit menahan egoisme dalam prasangka?
Mengerti itu harta tak ternilai,
dan waktu adalah pelengkap hidup penuh sukacita.
rutinitas seperti mesin penghisap debu,
menarik waktu,
membiarkan kita tertatih meraih setiap detik,
menit untuk bertemu,
sampai kapan kau sadar semuanya dilakukan hanya untukmu?
Jika melihat kebelakang,
rentang hidup yang mungkin meregang,
hari-hari sempat menghantuiku seperti angin mati suri,
memebelai sunyi tanpa bekas,
meninggalkan luka yang senantiasa menganga.
Berapa kali aku terlupa,
dan senantiasa diharuskan mengerti?
Berapa kali aku merasa terhina,
mengingat yang kuhadapi adalah dunia yang tak mungkin mengerti?
Beban itu seringkali muncul di matamu.
Beban itu selalu ada di detik hidupku.
Berapa kali aku berada,
di sudut pintu kamar,
dari siang yang menjulang,
hingga malam tak bertahan,
menunggumu pulang,
hanya untuk berkata,
"Hai, sampai jumpa."
Itulah alasan mengapa hati ku pedih,
setiap kali kau memberikan waktu sedetik saja,
untuk kesenangan yang tak bisa kita nikmati bersama.
Kau dan duniamu.
Sedang aku berlari mengejar duniamu.
Aku menunggumu pulang.
Aku tak pernah tertidur.
Berapa kali ku ada saat kau jatuh,
terhempas,
dan tak berdaya?
Berapa kali kita hanya bisa saling mengirim pesan singkat saat ku terluka di dalam jiwa?
Rutinitas merebutmu dariku.
Pernahkah kau dengar aku mengeluh?
Pernahkah kau pergi menjauh?
Yah,
aku melipat segala beban di hati,
tertawa memenuhi imaji,
dan menyembunyikan pedih seperti kado ulang tahun kesebelas.
Indah dan istimewa.
Amarah itu mudah.
Ia terbawa dalam darah.
Emosi itu indah,
ia meledak disaat tercurah.
Muak adalah ujian,
kesendirian itu tak terbalas,
malam penuh kopi,
dimana aku duduk di luar halaman,
menunggu di kursi kayu di tepian jalan,
ini bukan tentang kewajiban,
tapi aroma bahagia dari tubuhmu yang memelukku sepanjang jalan pulang,
artinya lebih besar daripada yang kau pernah bayangkan.
Jangan pernah kau lepaskan pelukanmu lagi,
mengingat enerji yang dia berikan tak bisa terkatakan.
Kini waktu seperti berlian,
tak mungkin terbeli.
Aku memulai apa yang dulu kita minta dalam doa,
dan pengertianmu memegang peran penting dalam skenario hidup yang kita jaga.
Betapa seharusnya kau simpan rasa pedih,
amarah,
emosi,
demi waktu yang seharusnya senantiasa kita hargai,
demi peluk yang bisa membuatku bangkit kembali,
demi api yang kau jaga di dalam tungku hati.
Lelah mungkin hinggap dan tak berhenti bertanya,
namun bisakah kita sedikit menahan egoisme dalam prasangka?
Mengerti itu harta tak ternilai,
dan waktu adalah pelengkap hidup penuh sukacita.
Monday, February 14, 2011
"Beda" adalah bagian utama,
yang diletakan pada kepingan paling akhir,
pada perjalanan melelahkan bernama "Replika Realita"
Konsep yang merangkum sebuah hubungan yang menghabiskan
jutaan waktu,
jutaan perasaan dan prasangka,
jutaan tangis dan tawa,
dan berakhir pada pusaran lubang hitam bernama perpisahan.
Ditulis lebih dari setahun yang lalu,
dan diaransemen ulang di akhir 2010,
ini adalah saat yang tepat untuk mengunci pintu kamar malam ini,
matikan lampu,
berbaringlah,
pikirkan tentang segala perbedaan yang bergerak memenuhi ruangan.
Dinding itu tak terlihat
namun terasa,
begitu nyata.
Seakan jurang,
telah tercipta,
diantara kita, berdua.
Bila harus menangis,
menangislah.
Karna yang harus terjadi,
Meski kita sempurna,
di dalam inginku,
meski aku merasa hati kita tlah menyatu,
kita berbeda.
Kita berbeda.
"BEDA (NEW VERSION)" download link :
4shared (Blackberry direct download)
Mediafire
Subscribe to:
Posts (Atom)
