Mengeluh adalah (bagian dari) adaptasi. Bahagia adalah (menikmati) depresi.
Jika hidup adalah pertempuran, maka mimpi adalah amunisi.

Berdoalah, doa menguatkan hati.

Tuesday, April 12, 2011

Hello Humans!

Wow,
rutinitas memang gila.

Di balik tumpukan draft layout yang harus saya lahap habis menjadikan hasil keratif melalui aplikasi Photoshop demi mendapatkan Final Approve di kantor,
saya seringkali kesulitan meluangkan waktu mengetik keyboard untuk mengisi postingan disini.

Do you miss me my blog? My blog lagiii aahhh, my blog lagii.
Kutakmauuu aah. My blog lagii.

Well, anyway,
i finally get a job. a real job.
Setahun dua bulan entah berapa hari,
saya jadi pengangguran,
dan sekarang udah resmi jadi orang kantoran.
Sekarang ngerasain tuh stuck di depan kompi,
dan menderitanya badan ini dilapisi kemeja resmi dan celana bahan katun plus sepatu kulit pantovel.
I need my jeans and sneakers!

Tapi menyenangkan kok,
sekarang gw mulai menjiwai,
seenggaknya sekarang status gw membaik,
ekonomi gw (pribadi) membaik.

Dan gw mulai membiasakan diri dengan kemeja dan celana bahan dan yeah,
melupakan sneakers dengan beralih ke leather boots.

Pendewasaan kali yah.

Gw juga menumbuhkan kumis,
dan berencana membeli chino pants (mau ganti gaya ceritanya...)

The job ain't so sucks anyway,
my division is one of the best.
I love the the atmosphere.
Yeah, meskipun ga semuanya menyenangkan,
seenggaknya tiap hari Jumat pagi gw bakal teriak,
"YEAAH GOOOD, THANK YOU SO MUCH IT'S FRIDAY!!"
haha.

Gw juga sangat menghargai weekend sekarang,
mencintai pukul 5 sore,
dan tentu saja, tanggal 25. I love it so much. Another haha.

Pendewasaan juga meliputi keharusan gw untuk cermat mengatur waktu,
even lima belas menit itu sangat berharga sekarang.

Time is money for anyone, but for me,
time is priceless.

Deadline ga usah diceritain ya,
males juga ngingetnya,
tapi yah, Deadline itu bener-bener nyita waktu.
Enerji, serta hati. Deadline menguras bak mandi, eh hati.
Berasa Vidi.

Back to the time thingy,
yeah gila emang si waktu,
gw kayak lagi naik jet tempur sambil sarapan,
susah banget ngaturnya.

Senin sampai jumat udah pasti penuh rutin,
mecet-macetan di jalan mah udah jadi semacam tabung oksigen,
can't live with it. fork.
Senin sampai jumat itu ga cuma kerja yang nyita waktu,
tapi juga kan gw masih merangkai mimpi sama brand clothing dan band gw.
Such a great mess,
meski nge-band jadi agak terbengkalai,
tapi clothing, Puji Tuhan,
masih lancar lah,
bisa buat nabung buat nongkrong di California (Fried Chicken).


Jumat malam itu semacam berhala,
dipersembahkan buat ngabisin waktu sampai maleeeemmmm,
demi ketemu si pacar.
Yeah si bocah ababil yang -sayangnya- gw cinta banget itu emang egois ga ketulungan,
giliran libur dia kabur sama geng kampaknya,
giliran gw libur, mesti berasa lembur demi ketemu tuh si kodok lumpur.
Tapi mau gimana ya,
schedule nya emang kacau,
susah kalo ga dipaksain.
Tapi tenang, gw udah nyiapin bom nuklir kalau sampe dia ga mau gantian susah payah buat nyari waktu ketemu gw,
siap banget nih gw sumpel hidungnya pake paku bumi.
Damn, i love you! Haha.

Sabtu?
Biasanya gw dirumah,
tapi belakangan gw suka ada kesibukan yang dibuat-buat,
haha
yeah sekedar jaga hubungan sama beberapa temen,
atau kolega. Malemnya pun kalo sempet ya jemput si kodok lumpur yang gw cinta itu. Grrr.

Minggu?
Ya gerejalah,
standar. Lagi-lagi sama si kodok lumpur,
kalo lagi "beruntung",
kita bakal pulang bareng,
dan ga diburu-buru waktu.
Kalo lagi "sial" ....
ya mesti balikin dia ke kantornya,
soalnya mesti nyambung shift. haha.

Back to Senin.
Fork.

Back to the routine.

Gituu aja terus nih, hahaha.

Thanks to online store yang punya website pribadi (bukan via social network),
dan beberapa forum yang ga di block di kantor.
You guys made my day!

Monday, March 7, 2011

Mengerti Waktu

Sekian lama,
rutinitas seperti mesin penghisap debu,
menarik waktu,
membiarkan kita tertatih meraih setiap detik,
menit untuk bertemu,
sampai kapan kau sadar semuanya dilakukan hanya untukmu?

Jika melihat kebelakang,
rentang hidup yang mungkin meregang,
hari-hari sempat menghantuiku seperti angin mati suri,
memebelai sunyi tanpa bekas,
meninggalkan luka yang senantiasa menganga.

Berapa kali aku terlupa,
dan senantiasa diharuskan mengerti?

Berapa kali aku merasa terhina,
mengingat yang kuhadapi adalah dunia yang tak mungkin mengerti?

Beban itu seringkali muncul di matamu.
Beban itu selalu ada di detik hidupku.

Berapa kali aku berada,
di sudut pintu kamar,
dari siang yang menjulang,
hingga malam tak bertahan,
menunggumu pulang,
hanya untuk berkata,
"Hai, sampai jumpa."

Itulah alasan mengapa hati ku pedih,
setiap kali kau memberikan waktu sedetik saja,
untuk kesenangan yang tak bisa kita nikmati bersama.

Kau dan duniamu.

Sedang aku berlari mengejar duniamu.
Aku menunggumu pulang.
Aku tak pernah tertidur.

Berapa kali ku ada saat kau jatuh,
terhempas,
dan tak berdaya?

Berapa kali kita hanya bisa saling mengirim pesan singkat saat ku terluka di dalam jiwa?

Rutinitas merebutmu dariku.

Pernahkah kau dengar aku mengeluh?
Pernahkah kau pergi menjauh?

Yah,
aku melipat segala beban di hati,
tertawa memenuhi imaji,
dan menyembunyikan pedih seperti kado ulang tahun kesebelas.
Indah dan istimewa.

Amarah itu mudah.
Ia terbawa dalam darah.
Emosi itu indah,
ia meledak disaat tercurah.

Muak adalah ujian,
kesendirian itu tak terbalas,
malam penuh kopi,
dimana aku duduk di luar halaman,
menunggu di kursi kayu di tepian jalan,
ini bukan tentang kewajiban,
tapi aroma bahagia dari tubuhmu yang memelukku sepanjang jalan pulang,
artinya lebih besar daripada yang kau pernah bayangkan.

Jangan pernah kau lepaskan pelukanmu lagi,
mengingat enerji yang dia berikan tak bisa terkatakan.

Kini waktu seperti berlian,
tak mungkin terbeli.

Aku memulai apa yang dulu kita minta dalam doa,
dan pengertianmu memegang peran penting dalam skenario hidup yang kita jaga.

Betapa seharusnya kau simpan rasa pedih,
amarah,
emosi,
demi waktu yang seharusnya senantiasa kita hargai,
demi peluk yang bisa membuatku bangkit kembali,
demi api yang kau jaga di dalam tungku hati.
Lelah mungkin hinggap dan tak berhenti bertanya,
namun bisakah kita sedikit menahan egoisme dalam prasangka?

Mengerti itu harta tak ternilai,
dan waktu adalah pelengkap hidup penuh sukacita.

Monday, February 14, 2011



"Beda" adalah bagian utama, 
yang diletakan pada kepingan paling akhir,
pada perjalanan melelahkan bernama "Replika Realita"
Konsep yang merangkum sebuah hubungan yang menghabiskan 
jutaan waktu,
jutaan perasaan dan prasangka,
jutaan tangis dan tawa,
dan berakhir pada pusaran lubang hitam bernama perpisahan.

Ditulis lebih dari setahun yang lalu,
dan diaransemen ulang di akhir 2010,
ini adalah saat yang tepat untuk mengunci pintu kamar malam ini,
matikan lampu,
berbaringlah,
pikirkan tentang segala perbedaan yang bergerak memenuhi ruangan.


Dinding itu tak terlihat
namun terasa,
begitu nyata.
Seakan jurang,
telah tercipta,
diantara kita, berdua.

Bila harus menangis,
menangislah.
Karna yang harus terjadi,

Meski kita sempurna,
di dalam inginku,
meski aku merasa hati kita tlah menyatu,
kita berbeda.

Kita berbeda.


"BEDA (NEW VERSION)" download link :

4shared (Blackberry direct download)

Mediafire

Wednesday, January 19, 2011

Membuang Mimpi, Demi Uang, Dimana Masa Depan?

Pada akhirnya, kita memang butuh uang.

Prinsip dan mimpi ternyata hanya omongan para pembual,
tak ada yang pernah benar-benar menang.
Omong kosong para bajak laut yang mabuk rum,
mimpi. Khayalan.
Persetan.
Saya ingin memaki keadaan,
ingin sekali mengeluarkan segala umpatan.

Tahu rasanya dieremehkan,
saat kalian datang dengan senyum penuh pengharapan?
Tahu rasanya ditendang dan disingkirkan?
Hanya karena tak punya uang,
dianggap gagal.
Jelas, karena tidak berpenghasilan,
kita selalu dianggap gagal.

Tak usah pura-pura tahu,
berlagak mengerti.

Perduli apa kau, hei masa depan?
Menunggu di balik pohon rindang kenyamanan,
keparat.
Tahukah kau rasanya saat orang bertanya tentang dirimu?
Sedangkan jangankan melihatmu,
aku saja tak tahu bagaimana wujudmu.
Jalang.

Masa depan.
Kata mereka kau cerah,
meskipun lebih banyak dari mereka menyebutmu suram.
Ingin sekali merobek-robek wajahmu.
Aku merasa amat bodoh percaya mimpi,
harapan,
khayalan,
yang menari dan membuatku bersemangat tinggi.
Kau tahu lututku lemas,
saat tahu bahwa aku tak miliki apa-apa,
selain sekotak besar penuh cerita legenda,
tentang indahnya memenangkan kehidupan.

Aku selalu kalah keparat!

Kau tahu rasanya,
ditanya tentang makanan apa yang ingin ku makan?
minuman apa yang ku pesan?
Sedangkan aku terdiam menelan ludah,
menyembunyikan penderitaaan dan air mata di pelipis mata.

Jalang.

Aku lapar! Aku haus!
Air liurku membanjiri usus!
Aku ingin makanan hangat itu,
aku ingin minuman dingin itu,
aku ingin terlibat di pembicaraan santai dan seru,
tapi apa?

Apa yang aku bicarakan?

Selalu soal mimpi!

Haha. Miris ya.

Kita tidak ke pesta orang besar,
dengan bermimpi.

Usaha?
Aku menaruh mimpi sebagai landasannya,
dan lihat?
Kau lihat bagaimana kenyataan membunuhnya,
menikam dan membakarnya tepat di depan mataku.

Aku butuh uang, hai masa depan.

Aku tak ingin menjadi terus-terusan menjadi masyarakat kelas bawah,
diremehkan,
tak dianggap.

Ajak aku duduk di restoran mewah itu,
aku ingin membayar sendiri tagihanku.
Aku ingin merasakan,
melunasi semua makanan termahal,
yang nantinya hanya akan terkirim melalu leher angsa,
berkubang menjadi tinja.

Oh ayolah masa depan,
semua butuh uang.

Aku tak ingin lagi menahan lapar,
menelan ludah,
aku butuh uang.

Aku berjanji,
kutinggalkan semua mimpi.
Aku berjanji,
kubuang semua harapan.
Aku berjanji,
kukubur semua khayalan.

Prinsip hanya milik kaum kaya,
pendapat hanya milik kaum berkuasa.

Aku butuh uang.

Saturday, January 8, 2011

Doa itu tak kunjung selesai..

Mengawali Januari dengan jutaan beban menghimpit sumsum tulang belakang,
jangankan berfikir jernih,
tidur pun menjadi kemewahan yang urung saya dapatkan.

Saya punya visi di depan,
saya mengemban misi di dalam,
namun visi tersebut menjadi bias dalam kilatan cahaya yang bersenandung menjadi makian selama setahun tanpa pekerjaan,
misi telah terkikis habis oleh kenyataan yang jelas-jelas menghina dan meludahi wajah dari prinsip.

Ironis,
sesaat saya menggigit bibir agar menahan laju otak untuk berfikir,
negatifitas akan menghujam hati tanpa ampun,
jika kita tak punya uang,
maka keteladanan hanyalah sampah,
ketulusan itu kotoran,
dan menjadi jahat adalah satu-satunya pilihan.

"Oh berhentilah berdoa tentang mimpi,
yang kita butuh hanya uang berjuta-juta!"

Saya tak percaya ini dibicarakan,
menjalar melalui celah-celah jendela sempit rumah ini,
menghasut udara di dalamnya,
menyusutkan segala rasa optimis yang selama ini menghangatkannya.

Rumah ini dingin,
semakin dingin dengan kegetirannya,
doa-doa yang selama ini terdengar menghiasinya,
luntur dengan rasa lapar yang mendera,
lebur dengan prasangka buruk.

Saya tak percaya ini bergulir,
percakapan ini mengarah pada sebuah rasa frustasi,
membabi buta,
menampar segala sisi.

Depresi ada disini,
ia tersenyum manis di sudut ruangan.

Saya tak percaya ini di rumah,
ini lebih seperti ruangan penuh darah.

Saya tak percaya kamu masih disini,
mencintai dengan sepenuh hati,
di saat saya dibenci di rumah sendiri,
menangis, tertatih dan berdoa sepanjang hari.


doa ini tak akan kunjung selesai.

Wednesday, December 29, 2010

Depresi.

"To be on the edge of breaking down, and no one's there to save you.."

Dituntut.
Tuntutan.

Jika depresi itu bisa dilihat,
maka saya yakin dia mengalir dengan lincah di pembuluh darah saya.


jika kita dibebani dengan kecurigaan yang berjalan beriringan dengan rasa tak bersyukur,
maka tak ada kata lain selain keluhan dan penyesalan.

Saya orang yang jarang mengeluhkan keadaan,
karena tak ada gunanya melihat kebelakang,
segala kejayaan masa lalu hanyalah semu,
sejarah adalah omong kosong,
mengingatnya sama saja merendahkan masa depan.

saya percaya kesalahan adalah natural,
kesempurnaan sistem hanya mimpi,
penyesalan adalah hadiah setan.

Berapa kali kita menyesal dan tenggelam dalam kekalahan?
Saya merasa perlu menulis soal ini,
akan sangat sulit menerima kata penyesalan,
jika hal itu dihadapkan pada sebuah rasa bersyukur.

Persetan dengan gelimang harta,
dan apa yang sebaiknya kita lakukan.

Saya hidup mengejar kebahagiaan,
bukan persepsi yang ditekankan.

Uang adalah benda mati yang menjadi dewa,
tak ada uang kita mati.
Maka saya adalah hantu,
yang berkali-kali mati karena tak punya uang.

Meneyebut nama Tuhan,
namun mengukurnya dengan uang,
adalah kesalahan utama.

Berfikir rasionalis dan logis,
adalah sia-sia.

Tuhan tak pernah terbatas,
skenarionya tak pernah terbaca.

Menyesali langkah adalah tindakan menghujat jalan cerita hidup.

Saya percaya,
bahwa inilah kita yang semestinya,
bahwa tak ada yang salah,
tak ada yang benar-benar benar.

Pengalaman orang lain bukan pelajaran,
ia hanyalah buku panduan yang sudah usang,
karena perjalanan ini berbeda,
tiap detiknya,
tiap centimeternya.

saya menulis ini karena tak mampu bicara,
karena lidah adalah pembunuh berbahaya,
dan hati adalah tempat kita menyimpan rahasia.

Menghargai pendapat dibutuhkan hati yang besar,
namun perlu lebih dari sekedar hati yang besar,
saat kita menyimpan pendapat kita demi mengharagai pendapat orang lain.


Saya menyimpan pendapat saya, dan hati saya meledak tak bersisa.

Saturday, December 18, 2010

Berhasil Gagal

Koneksi internet dirumah kacau balau.
Sekacau bulan kemarau,
dan burung kutilang berhenti berkicau.

Desember itu aneh dan lucu,
berjalan sangat cepat,
sampai gw sendiri ga sadar ini udah diujung 2010.

Apa yang udah gw lakuin sepanjang tahun?
Not much.

I'm still blogging using this "bisu" PC,
and curse at the wall, "WHY DID I JOBLESS?"

Sebenernya,
ini lebih dari setahun gw nganggur,
dan belum menemukan apapun yang berarti,
selain pelajaran dan pengalaman hidup.

Mungkin orang bakal ketawa kalau denger gw bicara soal pengalaman hidup,
"PENGANGGURAN PUNYA PENGALAMAN?"
Mungkin itu yang bakal di benak orang-orang itu.
Ga peduli.
i've learned a lot.

Belum saatnya melakukan kaleidoskop atau re-cap sepanjang tahun 2010,
dan gw juga ga bakalan bikin hal itu,
capek jek. soli soli jek.

Tapi,
intinya,
Gw belajar soal dianggap gagal di satu sisi,
dan dianggap berhasil di sisi lain.

Gini ya,
siapa sih yang bakal memandang seorang pengangguran,
yang punya setumpuk sepatu mahal?
Hehe. Tapi ini serius,
people around me already thought i'm failed.
dan kenyataan nya, yep mungkin gw gagal.
Hey, i've been jobless since a year ago,
siapa sih yang ga nganggep itu gagal?

Orang yang otaknya normal bakal nganggep gw cuma bagian lain dari sampah,
kalo kasarnya ya,
nunggu waktu untuk dibuang dan dibakar.

So pathetic and shame on me.

Bahkan banyak sahabat yang mulai "merendahkan", dan gw sama sekali ga kesel,
hey, itu berarti dia normal. :D

Gw ngerasa kok banyak yang suka akan ke"gagal"an gw,
dan mulai menikmati hari-hari penderitaan gw,
mereka menyukai kalau kenyataan nya gw udah salah langkah,
dan gagal.

Di sisi lain.

Gw mencapai sebuah level aneh di hidup gw yang gagal ini.
You know that i already start my own clothing company,
sebuah mimpi kecil yang gw mulai di umur 15 tahun,
dan tepat 8 tahun kemudian,
gw bener-bener punya sebuah usaha clothing.

Jual kaos desain sendiri memang gw mulai pas punya band,
udah pernah ngerasain untung juga,
dan punya nama clothing sendiri (meskipun ga resmi :p),
but now,
i've made a huge step,
building a brand,
bahkan sebentar lagi gw bisa launch website clothing gw.

SUCH A PAIN IN EVERYONE'S ASSES.

Dan yang lebih kerennya,
gw mulai usaha clothing itu dengan sahabat gw dari SMA, yang juga partner di band gw.

kinda dream come true,
make some business with your own best friend.

Meskipun awalnya sulit,
but this is a passion man,
banyak yang mau ngelakuin apa yang gw mau,
tapi mereka ga bisa.

Gagal atau berhasil clothing ini?
God only knows.

Yang pasti, gw jual kaos gw dengan harga lumayan mahal untuk sebuah clothing baru yang berkonsep online store,
dan penjualan nya lumayan,
ya dengan catatan ya,
we're still the new kids on the block ;)

Daaannn, yang kocaknya,
banyak sahabat-sahabat, dan teman-teman baru,
yang paling baru kenal gw 1-6 tahun,
yang malah support banget sama clothing gw itu,
kemana sahabat-sahabat dan teman-teman lama?
Sebagian berada di belakang gw,
ngasih dukungan moral,
sebagian duduk diam mencemooh. oh come on, ngaku aja :D

Then what?
Yep, my band.
Buat yang belum tahu,
gw punya dua band,
Glory of Any Nation yang beraroma Melodic Minor Punk,
dan Astonia, a pop band.

Glory of Any Nation itu berumur hampir 6 tahun,
tapi bukan ini yang mau gw bahas.

Gw malah mau bahas Astonia.

Astonia itu emang baru beneran ada setahun lalu,
tapi sejarahnya lebih panjang dari jarak rumah gw dan pacar gw.

It was started a couple years ago.

Nope,
gw ga bakal ngebahas sejarahnya,
panjang men, males ngetiknya,
ntar aja kalo ketemu,
gw mw deh cerita.


Intinya gini,
i've started writing "pop" stuffs a couple years ago,
with a different style,
and different band name,
and also band member.

Gonta-ganti konsep,
lirik sampai tema band.

You name it,
Curigation, Silouette, Atmosphere, Addictive, sampai akhirnya,
Astonia.

Yang lucu,
gw ga pernah berhasil nyuruh temen gw buat suka sama band pop gw,
hampir semua milih ngedenger Glory of Any Nation,
but with Astonia,
some of them already download the song! :D
Banyak yang suka,
dan menghargai karya gw di Astonia.
Sumpah gw terharu pas banyak yang mau kasih komen,
ngedukung pas manggung,
Man, you don't know i'm talking about,
i feel huge man, HUGE!

Even pacar gw,
yang terkenal bawel soal lagu pop yang gw buat,
suka sama salah satu lagu Astonia.
Horray!

I DID IT!!

HIP HIP HURAAA!!

OKAY, STOP.

Masih inget kan apa yang gw bahas?
Gw gagal di satu sisi,
dan berhasil di sisi lain.

Dua sisi mata uang,
Is it weird?

Kinda. :)